Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install
For
You

Unicorn Indonesia Mandek 3 Tahun Walau Ekonomi Digital Naik

Unicorn Indonesia Mandek 3 Tahun Walau Ekonomi Digital Naik
Ilustrasi ekonomi digital dengan konsep e-commerce, fintech, dan layanan on-demand. (freepik.com)
Intinya Sih
  • Ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat dengan GMV mendekati US$100 miliar pada 2025, namun tidak ada unicorn baru selama tiga tahun terakhir, membuat posisi Indonesia stagnan di peringkat ke-17 dunia.
  • Pendanaan startup di Indonesia anjlok lebih dari 95% sejak puncak 2021, bergeser ke tahap lanjut dan menekan peluang lahirnya unicorn baru, diperparah oleh skandal tata kelola seperti kasus eFishery.
  • Sektor AI muncul sebagai peluang baru dengan pertumbuhan pendapatan 127% dan tingkat penggunaan tinggi di masyarakat, berpotensi menjadi sumber lahirnya unicorn berikutnya jika ekosistem riset dan regulasi diperkuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Indonesia memiliki ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, dengan gross merchandise value (GMV) mendekati US$100 miliar pada 2025 menurut laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company, dan angka ini tumbuh 14 persen dari tahun sebelumnya. Tapi di tengah pertumbuhan itu, Indonesia tidak melahirkan satu pun unicorn baru sepanjang tiga tahun terakhir. Unicorn termuda, eFishery, bergabung pada 25 Mei 2023, dan sejak itu tidak ada nama baru yang menyusul.

Kondisi ini jadi titik berangkat ketika Crunchbase merilis data terbaru per 29 Juni 2026: dari 1.803 startup berstatus unicorn (perusahaan swasta dengan valuasi di atas US$1 miliar) yang tersebar di berbagai negara, Indonesia bertahan di peringkat ke-17 dunia dengan 10 unicorn, yaitu sejajar dengan Irlandia, Swiss, dan Swedia. Tracxn, dengan metodologi berbeda karena menghitung total unicorn yang pernah lahir sepanjang sejarah dan bukan yang masih aktif, mencatat angka 13 unicorn untuk Indonesia, namun tetap menempatkannya di peringkat yang sama, yaitu ke-17.

Pertanyaan yang lebih relevan sekarang adalah kenapa pasar sebesar ini berhenti melahirkan unicorn baru.

Table of Content

Tertinggal dari Negara Tetangga

Tertinggal dari Negara Tetangga

Jawabannya mulai terlihat begitu Indonesia dibandingkan dengan tetangga terdekatnya. Singapura, negara dengan populasi sekitar enam juta jiwa, mencatatkan 22 unicorn per data Crunchbase per 29 Juni 2026, yaitu lebih dari dua kali lipat capaian Indonesia yang berpenduduk sekitar 280 juta jiwa. Jika dilihat dari rasio unicorn terhadap ukuran populasi, kesenjangannya sangat besar. Satu negara kecil dengan status negara-kota mampu menghasilkan unicorn jauh lebih banyak dibanding negara dengan pasar dan basis pengguna digital yang jauh lebih besar.

Pola serupa berulang begitu perbandingan diperluas ke skala global. Israel dan Swiss, dua negara berpenduduk relatif kecil, tetap masuk jajaran 20 besar dunia dengan 22 dan 10 unicorn. Sementara itu, dominasi Amerika Serikat (916 unicorn) dan China (307 unicorn) di puncak daftar menegaskan pola lama, yaitu kekuatan modal ventura, kedalaman pasar teknologi, dan ukuran populasi kelas menengah digital tetap jadi variabel utama kelahiran unicorn.

Namun, kehadiran negara-negara kecil seperti Israel, Singapura, dan Swiss di jajaran atas menunjukkan bahwa kebijakan pro-inovasi dan kematangan ekosistem investasi bisa mengimbangi keterbatasan skala pasar domestik, dan hal ini belum sepenuhnya terjadi di Indonesia meski basis pasarnya jauh lebih besar.

Dengan kata lain, kalau mengejar rasio per kapita di kawasan sendiri saja sudah timpang, maka mengejar posisi di level global otomatis jadi tantangan yang lebih besar lagi.

Pendanaan Justru Mengalir ke Startup Lama

Pola ini penting untuk membaca data pendanaan berikut. Pergeseran ke pendanaan tahap lanjut yang tercatat di seluruh Asia Tenggara semestinya menekan seluruh negara di kawasan secara merata. Kenyataan bahwa Singapura tetap mempertahankan laju kelahiran unicorn di tengah tren yang sama menunjukkan ekosistem yang matang cenderung lebih tahan terhadap tekanan pendanaan semacam ini, sementara ekosistem yang lebih muda seperti Indonesia tampak lebih rentan terdampak 

Salah satu penjelasan langsung ada di data pendanaan. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat pendanaan swasta di Asia Tenggara memang naik 15 persen dalam 12 bulan hingga Juni 2025, dari US$6,8 miliar menjadi US$7,7 miliar. Tapi kenaikan ini dibarengi pergeseran komposisi yang signifikan, yaitu porsi pendanaan tahap lanjut (Series C ke atas) naik dari sekitar 70 persen menjadi 80 persen dari total transaksi, sementara porsi pendanaan tahap awal semakin kecil.

Di Indonesia, efeknya lebih terlihat. Nilai pendanaan swasta domestik anjlok dari puncaknya US$9,1 miliar pada 2021 (angka tahunan penuh) menjadi hanya US$0,1 miliar pada semester pertama 2025 saja, dengan jumlah transaksi turun dari 649 kesepakatan sepanjang 2021 menjadi hanya 20 kesepakatan di paruh pertama 2025. Perbandingan ini memang timpang dari sisi basis periode, karena membandingkan angka tahun penuh dengan angka setengah tahun.

Namun, ini pula cara Bain & Company sendiri membingkai penurunan tersebut dalam e-Conomy SEA 2025, yaitu menyebut kondisi H1 2025 "jauh di bawah puncak 2021 sebesar US$9,1 miliar", merujuk pada puncak historis dan bukan H1 2021. Bahkan jika angka H1 2025 dianualisasikan secara kasar (dikali dua menjadi sekitar US$0,2 miliar), penurunannya tetap lebih dari 95 persen dari puncak 2021. Jadi arah dan besaran penurunannya kemungkinan tetap valid, hanya saja perbandingan mentahnya perlu dibaca dengan catatan ini.

Ini menandai pergeseran ekspektasi investor yang cukup fundamental. Pertumbuhan pengguna yang cepat, faktor utama era ekspansi agresif 2019 hingga 2021, sudah tidak lagi cukup untuk menembus status unicorn. Profitabilitas dan model bisnis yang berkelanjutan kini jadi syarat yang jauh lebih diperhitungkan, sehingga startup baru yang justru paling butuh modal di fase paling rentan menjadi pihak yang paling dirugikan oleh pergeseran ini.

Ketika Status Unicorn Tidak Menjamin Fundamental yang Sehat

Ada satu lapis persoalan lain yang membuat situasi ini lebih rumit dari sekadar soal pendanaan, yaitu tata kelola. Kasus eFishery jadi pengingat penting di sini. Investigasi independen oleh FTI Consulting menemukan penggelembungan revenue hingga sekitar US$600 juta selama sembilan bulan pertama 2024, yaitu dari nilai aktual US$157 juta menjadi diklaim US$752 juta. Penggelembungan ini berlangsung sejak 2018, dan auditor besar seperti PwC dan Grant Thornton tidak mendeteksinya, hingga akhirnya terbongkar lewat laporan whistleblower pada Desember 2024. Pengadilan Negeri Bandung menjatuhkan vonis sembilan tahun penjara kepada pendiri sekaligus eks-CEO eFishery pada 29 April 2026.

Kasus ini mendorong seruan dari kalangan hukum, termasuk firma hukum SSEK, agar Indonesia menetapkan aturan disclosure keuangan wajib bagi startup di atas skala tertentu, serta kewajiban pengungkapan konflik kepentingan ketika eksekutif memiliki kepemilikan di perusahaan terafiliasi. Pelajarannya sederhana tapi penting, yaitu status unicorn tidak selalu sejalan dengan kesehatan fundamental bisnis. Hal ini perlu dipegang setiap kali statistik jumlah unicorn dibaca sebagai indikator kematangan ekosistem, termasuk saat memaknai stagnasi tiga tahun terakhir. 

Jeda tiga tahun ini kemungkinan besar mencerminkan pengetatan modal yang sudah berlangsung sejak 2021, jauh sebelum skandal eFishery terbongkar. Kasus ini lebih tepat dibaca sebagai alasan tambahan bagi investor untuk memperketat due diligence ke depan, terlepas dari jeda yang sudah terjadi lebih dulu.

Peluang Belum Tergarap: Sektor AI

Di tengah stagnasi ini, ada satu sinyal yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Berdasarkan data Tracxn per 29 Juni 2026, dari 13 unicorn Indonesia, sektor consumer masih menyumbang unicorn terbanyak (7), diikuti fintech (6) dan retail (4). Ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar modal terhadap potensi skala besar di Indonesia masih terkonsentrasi pada dua kategori lama tersebut.

Tapi e-Conomy SEA 2025 mencatat Indonesia justru mengalami momentum komersial AI terkuat di Asia Tenggara, dengan pendapatan aplikasi berbasis AI tumbuh 127 persen secara tahunan. Temuan ini selaras dengan survei Katadata Insight Center (KIC) terhadap 1.255 responden di 38 provinsi akhir 2024, yang mencatat 64,7 persen responden mengaku pernah menggunakan AI, dengan mayoritas (81,2 persen) untuk mencari informasi. Survei terpisah dari Google dan Milieu terhadap 7.200 konsumen di ASEAN-10, yang dikutip dalam e-Conomy SEA 2025, bahkan mencatat pola yang lebih intens di kalangan pengguna AI Indonesia, yaitu 80 persen mengaku berinteraksi dengan alat AI setiap hari, dan 68 persen rutin bertanya kepada chatbot AI. Kedua survei ini punya basis responden yang berbeda (panel online lintas ASEAN-10 dibanding survei tatap muka representatif di 38 provinsi), sehingga angkanya tidak sepenuhnya sebanding. Namun, arahnya sama, yaitu penetrasi AI di Indonesia sudah masuk fase penggunaan harian yang konsisten. 

Sektor AI belum melahirkan satu pun unicorn asal Indonesia. Tapi justru di situ letak peluangnya. Unicorn berikutnya berpotensi datang dari kategori yang sama sekali berbeda dibanding e-commerce dan fintech sebelumnya, asalkan insentif riset dan pengembangan, kerangka regulasi yang mendukung eksperimen (regulatory sandbox), serta dukungan bagi talenta AI domestik bisa dikonsolidasikan sebelum negara lain di kawasan lebih dulu mengambil posisi dominan.

Melampaui Sekadar Peringkat

Posisi ke-17 dunia sebenarnya tergolong capaian yang solid. Angka ini menunjukkan bahwa fondasi ekosistem digital Indonesia sudah terbentuk. Tapi kalau dibaca lewat rasio dan bukan lewat peringkat mentah saja, gambarannya berubah, yaitu pasar sebesar ini seharusnya punya potensi yang jauh lebih besar dibanding negara-negara kecil yang justru mengungguli Indonesia dari sisi rasio per kapita.

Apakah stagnasi tiga tahun terakhir ini sekadar jeda sebelum lahirnya unicorn baru, mungkin dari sektor AI, atau justru tanda koreksi yang lebih dalam setelah masa ekspansi agresif 2019 hingga 2021, masih terlalu dini untuk disimpulkan. Yang jelas, jarak antara besarnya ekonomi digital Indonesia dan jumlah unicorn yang dihasilkannya kini menjadi pertanyaan yang tidak bisa lagi dijawab hanya dengan menyebut besarnya pasar domestik.

Catatan Metodologi

Data peringkat dan jumlah unicorn dunia dalam artikel ini bersumber dari Crunchbase, per 29 Juni 2026, yang mendefinisikan unicorn sebagai perusahaan rintisan swasta dengan valuasi di atas US$1 miliar yang masih aktif berstatus swasta.

Data spesifik jumlah dan sektor unicorn Indonesia turut merujuk Tracxn, per 29 Juni 2026, sebagai pembanding karena adanya perbedaan cakupan dan metodologi. Tracxn menghitung total unicorn yang pernah lahir sepanjang sejarah (unicorns created), sedangkan Crunchbase menghitung unicorn yang masih aktif hingga saat ini, sehingga kedua angka tidak selalu bisa dibandingkan secara langsung.

Data ekonomi digital (GMV, pendanaan swasta, tren AI) bersumber dari laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, dipublikasikan November 2025.

Angka pendanaan swasta Indonesia (US$9,1 miliar pada 2021 dan US$0,1 miliar pada H1 2025) mengikuti cara e-Conomy SEA 2025 membandingkan puncak historis tahunan dengan data semester terakhir yang tersedia. Pembaca perlu memperhatikan bahwa ini adalah perbandingan tahun penuh dengan setengah tahun, bukan periode yang setara.

Data penggunaan AI oleh masyarakat Indonesia bersumber dari survei Katadata Insight Center (KIC), dilakukan secara tatap muka di 38 provinsi pada 25 September hingga 15 November 2024 terhadap 1.255 responden.

Data kasus eFishery bersumber dari pemberitaan dan dokumen investigasi publik, termasuk temuan FTI Consulting (Januari 2025) dan putusan Pengadilan Negeri Bandung (29 April 2026).

Karena perbedaan metodologi dan waktu pengambilan data antar sumber, angka-angka di atas mencerminkan arah tren umum (directional), dengan tingkat presisi yang bervariasi antar sumber.

Sumber data: 

Crunchbase (29 Juni 2026), Tracxn (29 Juni 2026), e-Conomy SEA 2025 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company (November 2025), Katadata Insight Center (2024).

Crunchbase News. (2026). Crunchbase unicorn company list. Retrieved June 29, 2026, from https://news.crunchbase.com/unicorn-company-list/

Google, Temasek, & Bain & Company. (2025). e-Conomy SEA 2025: From digital decade to AI reality in ASEAN. https://economysea.withgoogle.com/

Katadata Insight Center. (2025, January 30). Ini jenis layanan AI yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/teknologi-telekomunikasi/statistik/679b51a605dce/ini-jenis-layanan-ai-yang-banyak-digunakan-masyarakat-indonesia

Tracxn. (2029). Unicorns in Indonesia. Retrieved June 29, 2026, from https://tracxn.com/d/unicorns/unicorns-in-indonesia/

CNBC. (2025, February 7). EFishery: The impact a scandal has on ecosystem already in deep water. https://www.cnbc.com/2025/02/07/efishery-the-impact-a-scandal-has-on-ecosystem-already-in-deep-water.html

Career Candour. (2026, May 5). The eFishery scandal explained: Fraud, fallout, and the 9-year sentence. https://careercandour.com/p/efishery-scandal-fraud-fallout-9-year-sentence

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nadia Agatha Pramesthi
EditorNadia Agatha Pramesthi

Related Articles

See More