48% Anak Muda Indonesia Tidak Berlangganan Layanan Digital Berbayar

- Riset IDN Research Institute dan Jakpat menunjukkan 48% anak muda Indonesia tidak berlangganan layanan digital berbayar, dengan Gen Z mencatat tingkat non-berlangganan tertinggi sebesar 51%.
- Sebagian besar pengguna berbayar bersikap fleksibel: 46% hanya berlangganan sementara, 33% berpindah ke layanan lebih murah, dan hanya 23% yang tergolong pelanggan setia.
- Nilai fungsional menjadi faktor utama keputusan berlangganan; 63% responden menilai kelengkapan fitur lebih penting daripada harga atau promosi, menandakan fokus pada manfaat nyata dan fleksibilitas penggunaan.
Bayangkan kamu membuka aplikasi bank di akhir bulan. Deretan potongan langganan berbaris rapi: streaming, musik, tools desain, penyimpanan cloud. Total tagihannya lebih besar dari yang kamu ingat. Lalu kamu sadar bahwa dua dari lima layanan itu sudah berminggu-minggu tidak kamu buka.
Situasi semacam ini bukan cuma tentang keborosan. Ia mencerminkan sebuah pergeseran nyata dalam cara anak muda Indonesia berhubungan dengan layanan digital berbayar. Riset IDN Research Institute terhadap 505 responden Millennial dan Gen Z di wilayah urban dan suburban Indonesia menemukan bahwa 48% dari mereka tidak berlangganan satu pun layanan berbayar. Bukan karena tidak tahu, bukan karena tidak mampu secara teknis, tetapi karena mereka memilih tidak.
Angka ini layak dibaca dengan serius, terutama oleh brand dan pembuat kebijakan yang selama ini berasumsi bahwa digitalisasi otomatis berarti adopsi berbayar.
Table of Content
Separuh Pasar Tidak Tersentuh
Dari 505 responden, 48% tidak menggunakan satu pun layanan berbayar, baik itu streaming video, platform musik, tools produktivitas, maupun fitur premium media sosial. Di ujung lain spektrum, hanya 5% yang berlangganan lebih dari empat layanan sekaligus.
Kesenjangan ini tidak merata antargenerasi. Gen Z mencatat tingkat non-berlangganan sebesar 51%, lebih tinggi dari Millennial yang berada di angka 46%. Perbedaan ini kecil secara statistik, tetapi arahnya konsisten: semakin muda, semakin besar kemungkinan seseorang tidak berlangganan sama sekali.
Satu bacaan yang terlalu cepat adalah menyebut ini sebagai "masalah daya beli." Data berikutnya menunjukkan gambaran yang lebih kompleks dari itu.
Bukan Tidak Mau Bayar, Tapi Tidak Mau Terikat
Di antara 262 responden yang memang menggunakan layanan berbayar, polanya jauh dari komitmen penuh. Hampir separuh, yaitu 46%, mengaku hanya berlangganan secara temporer; aktif ketika ada kebutuhan spesifik, lalu berhenti setelahnya. Sebanyak 33% pernah berpindah ke layanan yang lebih murah. Sementara 19% memilih berhenti berlangganan sama sekali, dan 18% berbagi akun dengan orang lain.
Yang menarik adalah hanya 23% yang belum pernah melakukan salah satu perilaku di atas, artinya hanya satu dari empat pengguna berbayar yang bisa disebut pelanggan setia dalam pengertian konvensional.
Gen Z menunjukkan fleksibilitas yang lebih tinggi dibanding Millennial. Sebanyak 38% dari mereka pernah berpindah ke layanan lebih murah, dibanding 29% Millennial. Dalam hal berlangganan temporer, Gen Z juga lebih aktif: 49% berbanding 43%. Pola ini bukan sekadar soal harga. Ia mencerminkan cara berpikir yang berbeda tentang kepemilikan dan nilai: bayar hanya untuk yang benar-benar dipakai, selama dipakai.
Nilai, Bukan Harga, yang Memutuskan
Meski bersikap selektif, anak muda Indonesia tidak anti membayar. Mereka hanya memiliki standar yang lebih tinggi tentang kapan sebuah layanan layak dibayar.
Ketika ditanya kapan sebuah layanan berbayar terasa sepadan, 63% responden menjawab ketika fiturnya lengkap dan sesuai kebutuhan. Angka ini jauh melampaui faktor lain: pengalaman pengguna yang nyaman dan minim gangguan (59%), adanya promo atau manfaat tambahan (50%), serta kemampuan layanan untuk benar-benar mempermudah aktivitas sehari-hari (48%).
Faktor harga dan promosi memang masuk dalam daftar, tetapi keduanya bukan penentu utama. Artinya, strategi akuisisi yang bertumpu pada diskon dan trial gratis berpotensi mendatangkan pengguna yang tidak akan bertahan begitu periode promosi berakhir.
Satu temuan yang patut digarisbawahi adalah soal rekomendasi: hanya 16% yang menyebut rekomendasi dari orang yang dipercaya sebagai faktor yang membuat layanan terasa sepadan. Angka ini rendah secara relatif, dan menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap rekomendasi sosial dalam konteks pembelian digital berbayar tidak sekuat yang sering diasumsikan.
Ketika Berhenti Berlangganan, Uang Itu Tidak Lenyap
Temuan yang sering luput dari diskusi tentang subscription fatigue adalah ke mana anggaran pergi setelah seseorang berhenti berlangganan. Data Jakpat x IDN Research Institute menjawab pertanyaan ini dengan cukup jelas.
Sebanyak 55% responden menyatakan mereka akan mengalihkan anggaran ke tools yang bersifat produktivitas setelah berhenti dari layanan premium. Artinya, lebih dari separuh pengguna yang churn dari satu layanan tidak benar-benar keluar dari ekosistem digital berbayar. Mereka hanya berpindah ke kategori yang berbeda.
Millennial sedikit lebih cenderung melakukan realokasi ini (57%) dibanding Gen Z (53%), kemungkinan karena tuntutan pekerjaan membuat nilai tools produktivitas lebih mudah dirasakan secara langsung. Namun perbedaannya tipis, dan pola umumnya konsisten di kedua kelompok.
Bagi brand dan pengembang produk, temuan ini membuka ruang berpikir yang menarik. Segmen yang tampaknya "hilang" dari satu kategori belum tentu kehilangan niat beli. Mereka sedang memilih ulang.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Bawah Angka Ini
Subscription fatigue di Indonesia tidak bisa dipahami hanya sebagai fenomena ekonomi. Ia adalah cerminan dari cara anak muda Indonesia mengevaluasi nilai dalam konteks ketidakpastian ekonomi yang lebih luas.
Riset yang sama merekam bahwa tekanan ekonomi secara nyata mempengaruhi pola konsumsi anak muda, mulai dari pilihan makanan, kepemilikan asuransi, hingga langganan digital. Dalam lingkungan semacam itu, pengeluaran rutin yang terasa "tidak terlihat" seperti langganan otomatis bulanan menjadi target pertama yang ditinjau ulang.
Selain itu, ada perubahan dalam cara anak muda memandang kepemilikan. Model berlangganan seumur hidup yang dulu menjadi standar industri kini bersaing dengan preferensi akses fleksibel: bayar ketika butuh, berhenti ketika tidak. Model ini bukan cerminan ketidaksetiaan, melainkan respons rasional terhadap kondisi yang memang berubah.
Bagi industri layanan digital, ini berarti metrik seperti jumlah subscriber aktif perlu dimaknai ulang. Yang lebih penting dari sekadar jumlah adalah seberapa sering pengguna benar-benar membuka dan menggunakan layanan tersebut, karena di situlah nilai yang sesungguhnya dirasakan atau tidak dirasakan.
Implikasi untuk Brand dan Pembuat Kebijakan
Bagi eksekutif brand yang menyasar anak muda Indonesia, data ini memberikan beberapa sinyal yang konkret.
Pertama, strategi retensi lebih penting dari strategi akuisisi. Dengan hanya 23% pengguna berbayar yang bisa dikategorikan loyal, mempertahankan pengguna yang sudah ada jauh lebih bernilai daripada terus mengejar pengguna baru yang rentan churn setelah promosi habis.
Kedua, nilai fungsional harus bisa dirasakan sejak awal. Sebanyak 63% responden menyebut kelengkapan fitur sebagai faktor utama, sementara 59% menyebut kenyamanan penggunaan. Keduanya adalah hal yang dirasakan dalam penggunaan pertama dan kedua, bukan setelah sebulan berlangganan. Onboarding yang lemah adalah tempat di mana retensi mulai bocor.
Ketiga, fleksibilitas model berlangganan layak dipertimbangkan secara serius. Dengan 46% pengguna yang berlangganan hanya secara temporer, ada peluang di model pay-as-you-go atau paket yang bisa dijeda dan diaktifkan kembali tanpa gesekan.
Bagi pembuat kebijakan yang bekerja di ranah ekonomi digital, angka 48% non-subscriber ini bisa menjadi titik masuk untuk mengevaluasi sejauh mana infrastruktur dan literasi digital yang ada sudah benar-benar mendukung partisipasi anak muda Indonesia dalam ekosistem digital berbayar, bukan hanya yang gratis.
Metodologi: Riset dilakukan oleh Jakpat bekerja sama dengan IDN Research Institute pada April 2026, menggunakan panel mobile Jakpat. Total responden sebanyak 505 orang, terdiri dari Gen Z (16–30 tahun, n=255) dan Millennial (31–45 tahun, n=250), dengan proporsi gender seimbang (masing-masing 50%) dan distribusi wilayah urban-suburban yang sama (masing-masing 50%). Distribusi kelas sosial ekonomi: Kelas Atas 6%, Kelas Menengah 17%, Kelas Bawah 48%, Di Bawah Kelas Bawah 30%.




