Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install
For
You

46% Kelas Menengah Indonesia Punya Side Job

46% Kelas Menengah Indonesia Punya Side Job
Ilutsrasi Karyawan Yang Tertekan (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya Sih
  • Sebanyak 46% kelas menengah Indonesia kini memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama mereka.
  • Laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) menunjukkan lebih dari separuh responden bekerja sampingan karena penghasilan utama tidak mencukupi kebutuhan harian.
  • Survei dilakukan oleh Katadata Insight Center terhadap 1.000 responden kelas menengah pada kuartal IV 2025 hingga kuartal I 2026, menandakan tekanan finansial yang semakin meluas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Hampir separuh kelas menengah Indonesia kini memiliki pekerjaan sampingan. Bagi lebih dari separuh dari mereka, alasannya sederhana: penghasilan utama tidak lagi cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Temuan ini muncul dalam laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) yang dirilis Katadata Insight Center (KIC) pada April 2026. KIC mensurvei 1.000 responden kelas menengah pada kuartal keempat 2025 hingga kuartal pertama 2026. Hasilnya, 46% responden mengaku memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama mereka. Angka ini bukan sekadar menunjukkan tren karier baru, melainkan menjadi sinyal meluasnya tekanan finansial.

Table of Content

Satu Sumber Penghasilan Tidak Lagi Terasa Aman

Satu Sumber Penghasilan Tidak Lagi Terasa Aman

KIC mendefinisikan responden berdasarkan kategori kelas menengah Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu individu berusia 18–60 tahun dengan rata-rata pengeluaran rumah tangga Rp2 juta–Rp10 juta per bulan. Dari 1.000 responden, sebanyak 463 orang mengaku memiliki pekerjaan sampingan dan menjadi dasar analisis lanjutan.

Alasan terbesar mereka cukup jelas. Sebanyak 53,1% menjalankan side job untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Angka ini penting dibaca secara tepat. Motivasinya bukan gaya hidup atau peningkatan konsumsi. Banyak dari mereka hanya berusaha mencukupi kebutuhan hingga akhir bulan.

Selain itu, 41,5% responden mengatakan mereka ingin menambah tabungan, sedangkan 27,4% secara eksplisit ingin mengurangi ketergantungan pada pekerjaan utama. Jika ketiga alasan ini dibaca bersama, polanya menjadi jelas: kelas menengah Indonesia sedang melakukan manajemen risiko secara mandiri. Mereka tidak menunggu sistem menyediakan kepastian, melainkan membangun bantalan pengaman sendiri.

KIC menyebut fenomena ini sebagai economic buffer. Dalam konteks tersebut, pekerjaan sampingan berfungsi sebagai penyangga ketika penghasilan utama dianggap tidak cukup stabil.

Kelas Menengah yang Menyusut Tidak Bisa Diabaikan

Temuan KIC tidak muncul tanpa konteks. Ada dinamika struktural yang perlu dibaca bersamaan.

Data Mandiri Institute menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta pada 2025. Dalam satu tahun, jumlahnya menyusut 2,5%. Jika dibandingkan dengan puncaknya pada 2019 yang mencapai 57,33 juta orang, berarti lebih dari 10 juta orang telah keluar dari kelompok kelas menengah dalam enam tahun terakhir. Pada periode yang sama, kelompok aspiring middle class bertambah 4,5 juta orang dan kini mencakup 50,4% populasi Indonesia.

Artinya, banyak orang tidak jatuh jauh ke bawah, tetapi juga belum mampu kembali ke atas. Mereka berada di zona rentan, satu langkah di bawah kelas menengah, sambil menunggu peluang untuk naik atau risiko untuk turun.

Mandiri Institute juga mencatat bahwa tekanan ini tidak tersebar merata. Sumatera Selatan kehilangan 693.000 orang dari kelompok kelas menengah pada 2025, sementara DKI Jakarta kehilangan 119.000 orang. Menurut Mandiri Institute, pola ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap kelas menengah bersifat asimetris dan sangat dipengaruhi kondisi ekonomi daerah.

Bagi mereka yang masih bertahan di kelas menengah, risiko turun satu tingkat terasa sangat nyata. Karena itu, side hustle menjadi respons yang rasional. Motivasinya bukan keserakahan, melainkan kekhawatiran kehilangan status yang dibangun melalui kerja keras.

Dua Kelompok di Balik Satu Angka

Angka 46% sebenarnya menyimpan dua cerita yang berbeda.

Kelompok pertama adalah mereka yang bertahan. Motif mereka didominasi tekanan finansial: kebutuhan harian, tabungan yang belum memadai, hingga utang yang perlu dilunasi. Sebanyak 10,8% responden KIC secara khusus menyebut utang sebagai alasan. Bagi kelompok ini, side hustle merupakan respons terhadap ketidakcukupan dan sering kali dipilih karena tidak ada alternatif yang lebih baik.

Di sisi lain, ada kelompok yang membangun. Sebanyak 35,4% responden menjalankan pekerjaan sampingan untuk mengembangkan minat dan bakat. Kemudian, 30% menggunakannya untuk membangun jaringan bisnis, sedangkan 28,1% menjadikannya persiapan menuju wirausaha. Bagi kelompok ini, side hustle berfungsi sebagai strategi untuk mengakumulasi keterampilan dan relasi sebelum mengambil risiko yang lebih besar.

Kedua kelompok tersebut berada dalam statistik yang sama, tetapi kebutuhan dan respons yang relevan bagi masing-masing sebenarnya sangat berbeda.

Side Hustle sebagai Cara Mengurangi Stres

Di antara berbagai alasan dalam survei KIC, ada satu angka yang menarik perhatian: 14% responden mengatakan side hustle membantu mereka mengurangi stres.

Sekilas, temuan ini terdengar kontradiktif. Pekerjaan tambahan biasanya identik dengan beban tambahan. Namun, kerangka psikologis tertentu dapat membantu menjelaskan fenomena ini.

Dalam literatur kesehatan mental, istilah peniaphobia digunakan untuk menggambarkan kecemasan finansial yang intens dan terus-menerus. Ketakutan terhadap kemiskinan ini tidak selalu sebanding dengan kondisi keuangan aktual seseorang. Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu penia yang berarti kemiskinan dan phobos yang berarti ketakutan. Meski belum tercantum secara formal dalam Diagnostic and Statistical Manual (DSM) maupun International Classification of Diseases (ICD), para psikolog mengakui bahwa pengalaman di baliknya nyata.

Menurut platform kesehatan mental Amaha, peniaphobia sering kali tidak berakar pada kondisi finansial yang buruk, melainkan pada keyakinan bahwa kegagalan finansial sama dengan kegagalan pribadi. Mereka yang telah bekerja keras membangun stabilitas setelah titik awal yang sulit justru kerap lebih rentan terhadap rasa ini karena takut tergelincir kembali.

Berbagai laporan juga menunjukkan bahwa psikolog melihat fenomena ini menguat di kalangan anak muda yang tumbuh melewati krisis finansial global 2008 dan pandemi Covid-19. Kedua peristiwa tersebut memperlihatkan secara langsung bahwa stabilitas dapat hilang dalam waktu singkat.

Dalam konteks ini, side hustle memiliki fungsi psikologis yang berbeda dari fungsi ekonominya. Ketika seluruh penghasilan hanya bergantung pada satu sumber, setiap tanda ketidakstabilan di pekerjaan utama dapat terasa mengancam keseluruhan hidup. PHK massal di perusahaan lain, kabar perampingan, atau evaluasi kinerja yang buruk bisa langsung memicu kecemasan. Sebaliknya, memiliki sumber penghasilan kedua mengubah kalkulasi tersebut. Ketika satu sumber goyah, situasinya tidak otomatis berubah menjadi krisis total.

Karena itu, temuan KIC menjadi masuk akal. Sebanyak 14% responden bukan sekadar mencari lebih banyak uang untuk lebih banyak konsumsi. Mereka sedang mencari rasa aman.

Fenomena Global dengan Konteks Lokal yang Berbeda

Fenomena side hustle tidak hanya terjadi di Indonesia. Bank Dunia memperkirakan sekitar 40% tenaga kerja global menggunakan pekerjaan berbasis platform sebagai sumber penghasilan sekunder pada 2024. Di Australia, sekitar 61% pekerja menjalankan bisnis sampingan bersamaan dengan pekerjaan penuh waktu mereka. Angka ini naik dari 54% pada 2022 dan sebagian besar dipicu kenaikan biaya pangan serta hunian. Sementara itu, di Amerika Serikat, angkanya berada di kisaran 36% pada 2024.

Meski demikian, angka-angka tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan data KIC. Survei Indonesia hanya mencakup kelas menengah yang telah memiliki pekerjaan utama, sedangkan data negara lain umumnya menggunakan definisi dan cakupan populasi yang berbeda. Karena itu, yang lebih relevan dibandingkan bukan besaran angkanya, melainkan arah perubahannya.

Dan arah itu terlihat konsisten. Ketika biaya hidup tumbuh lebih cepat dibanding upah, semakin banyak orang mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama. Inflasi yang melampaui pertumbuhan upah riil menjadi pola yang berulang, baik di Melbourne, Manila, maupun Jakarta.

Indonesia memiliki konteks yang berbeda, bukan hanya karena skalanya yang mencapai 270 juta penduduk dan penetrasi digital yang terus meningkat, tetapi juga karena cepatnya perubahan struktur kelas sosial. Ketika lebih dari 10 juta orang meninggalkan kelas menengah dalam enam tahun, tekanan untuk bertahan tidak lagi sekadar soal ekonomi. Tekanan itu juga menyangkut identitas sosial.

Implikasi bagi Brand dan Kebijakan

Bagi eksekutif brand, kelas menengah yang memiliki dua atau lebih sumber pendapatan menunjukkan perilaku yang berbeda dari kelas menengah konvensional. Mereka cenderung lebih sensitif terhadap biaya, lebih selektif dalam pengeluaran diskresi, dan menghabiskan lebih banyak waktu di ekosistem digital, baik sebagai konsumen maupun produsen. Memahami segmen ini berarti memahami individu yang sekaligus menjadi pembeli dan penjual, karyawan dan pengusaha kecil, serta pengguna sekaligus mitra platform.

Sementara itu, bagi pembuat kebijakan, pertanyaannya lebih mendasar. Jika hampir separuh kelas menengah merasa membutuhkan cadangan penghasilan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, maka ada aspek struktural yang perlu diperiksa, bukan sekadar perilaku individu.

Side hustle memang dapat menjadi pilihan yang memperluas peluang. Namun, ketika berubah menjadi satu-satunya cara untuk merasa aman secara finansial, kondisi tersebut layak diperlakukan sebagai sinyal yang perlu ditindaklanjuti.

Catatan Metodologi

Survei Katadata Indonesia Middle Class Insights dilaksanakan Katadata Insight Center pada Q4 2025 hingga Q1 2026 dengan melibatkan 1.000 responden kelas menengah berusia 18–60 tahun. Analisis mengenai pekerjaan sampingan berbasis pada 463 responden yang memiliki side job. Definisi kelas menengah mengacu pada BPS, yaitu rumah tangga dengan rata-rata pengeluaran Rp2 juta–Rp10 juta per bulan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nadia Agatha Pramesthi
EditorNadia Agatha Pramesthi

Related Articles

See More