Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install

47,8 Juta Orang Punya QRIS Tap, Kenapa Cuma Jadi 634 Ribu Transaksi?

47,8 Juta Orang Punya QRIS Tap, Kenapa Cuma Jadi 634 Ribu Transaksi?
Ilustrasi pembayaran melalui aplikasi (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Bank Indonesia mencatat 47,8 juta pengguna telah mengaktifkan QRIS Tap, namun hingga Mei 2026 hanya terjadi sekitar 634 ribu transaksi nyata, menunjukkan kesenjangan besar antara akses dan penggunaan.
  • Data QRIS Tap menegaskan pentingnya membedakan metrik distribusi, aktivasi, dan adopsi; banyak organisasi keliru menilai keberhasilan produk hanya dari angka aktivasi tanpa melihat perubahan perilaku pengguna.
  • Perluasan akses pembayaran digital perlu diimbangi peningkatan literasi keuangan dan keamanan agar masyarakat tidak sekadar memiliki fitur, tetapi juga mampu menggunakannya secara aman dan berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anda mungkin sudah biasa membayar dengan memindai kode QR di kasir lewat aplikasi bank atau dompet digital. QRIS Tap memangkas langkah itu. Alih-alih memindai, Anda cukup menempelkan ponsel ke mesin di kasir, mirip kartu uang elektronik di gerbang tol, dan pembayaran selesai dalam waktu sekitar 0,3 detik (Tempo, 2025). Teknologinya disebut near-field communication (NFC), sama seperti yang dipakai kartu tap di transportasi umum.

Bank Indonesia baru saja menerbitkan dua angka yang jarang muncul bersamaan. Sampai Juni 2025, sebanyak 47,8 juta orang sudah mengaktifkan fitur ini di ponsel mereka (Antara News, 2025). Namun sampai Mei 2026, transaksi yang benar-benar terjadi baru 634.498 (Kontan, 2026). Puluhan juta orang memegang fitur ini, dan sangat sedikit yang memakainya.

Jarak antara kedua angka itu adalah inti tulisan ini, dan pelajarannya jauh melampaui soal pembayaran. Siapa pun yang merancang atau memasarkan sebuah produk menghadapi jarak yang sama, hanya saja biasanya tidak bisa melihatnya sejelas ini.

Yang Perlu Menjadi Catatan

Banyak laporan bisnis berhenti pada angka adopsi: berapa orang yang sudah mendaftar, mengaktifkan fitur, atau memperoleh akses. Padahal angka tersebut belum menunjukkan apakah perilaku konsumen benar-benar berubah. Yang lebih penting justru berapa banyak pengguna yang kembali memakai fitur, menukar poin loyalty, mempertahankan membership, atau memanfaatkan limit paylater hingga menjadi transaksi yang selesai. Jarak antara "memiliki akses" dan "benar-benar menggunakan" inilah yang sering luput dari laporan perusahaan.

Jarak antara "sudah punya" dan "benar-benar memakai" itu selalu ada. Yang jarang terjadi adalah kesempatan mengukurnya, karena tim biasanya hanya menerbitkan angka distribusi yang lebih menyenangkan. Di sinilah QRIS Tap berguna melampaui statusnya sebagai berita pembayaran. Bank Indonesia menerbitkan dua angka sekaligus, yaitu berapa orang yang sudah punya fitur dan berapa transaksi yang benar-benar terjadi, sehingga jarak yang di produk lain tersembunyi bisa dibaca terang.

Empat pertanyaan menuntun pembahasan berikutnya. Seberapa besar infrastruktur yang sudah dibangun. Apakah transaksi berkecepatan tinggi terbukti mengubah perilaku belanja. Apa yang harus diubah marketer dari cara membaca angka peluncuran. Dan siapa yang menanggung risiko ketika kecepatan akses melampaui kecepatan literasi.

Mengapa Angka Besar Belum Tentu Berarti Adopsi

Salah satu penyebab laporan produk sering disalahartikan adalah karena metrik yang berbeda diperlakukan seolah mengukur hal yang sama. Angka pengguna, angka aktivasi, dan angka transaksi sama-sama bisa terlihat besar, padahal masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda. Akibatnya, organisasi mudah menganggap perilaku pelanggan sudah berubah, padahal yang meningkat baru distribusi atau kesiapan menggunakan produk.

QRIS menjadi contoh yang menarik karena tersedia tiga jenis data yang menggambarkan tahapan tersebut secara terpisah.

Pertama, pengguna QRIS total. Angka ini menunjukkan berapa banyak orang yang menggunakan QRIS berbasis pemindaian kode QR secara umum. Per April 2026, QRIS memiliki sekitar 63 juta pengguna dan lebih dari 45 juta merchant. Data Kuartal I 2026 juga menunjukkan angka yang sejalan, yakni 61,7 juta pengguna dan lebih dari 44 juta merchant. Angka ini menggambarkan besarnya ekosistem QRIS secara keseluruhan, bukan penggunaan QRIS Tap (Tempo, 2026; Emitennews, 2026.

Kedua, QRIS Tap provisioning. Metrik ini mengukur berapa kali fitur QRIS Tap berbasis NFC sudah diaktifkan pada aplikasi pembayaran. Per Juni 2025, tercatat 47,8 juta aktivasi pengguna dan 648.034 merchant. Namun angka ini belum menunjukkan bahwa fitur tersebut benar-benar digunakan. Satu pengguna yang mengaktifkan QRIS Tap di dua aplikasi berbeda juga berpotensi tercatat lebih dari satu kali. Karena itu, metrik ini lebih tepat dibaca sebagai ukuran kesiapan atau distribusi fitur, bukan adopsi perilaku.

Ketiga, QRIS Tap adoption. Berbeda dengan dua metrik sebelumnya, angka ini mengukur penggunaan nyata, yaitu transaksi QRIS Tap yang benar-benar terjadi. Hingga Mei 2026, tercatat 634.498 transaksi dengan nilai Rp6,29 miliar. Di sinilah perubahan perilaku mulai terlihat karena pengguna tidak hanya memiliki akses, tetapi benar-benar memanfaatkan fitur tersebut.

Ketiga angka tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung karena masing-masing mengukur hal yang berbeda. Pengguna QRIS menggambarkan ukuran ekosistem pembayaran QRIS, provisioning menunjukkan berapa banyak fitur yang sudah tersedia untuk digunakan, sedangkan adoption menunjukkan apakah fitur tersebut benar-benar dipakai. Ketika ketiganya dicampur dalam satu narasi, angka aktivasi mudah terbaca sebagai keberhasilan adopsi, padahal belum tentu diikuti perubahan perilaku.

Kesalahan membaca metrik seperti ini tidak hanya terjadi pada QRIS Tap. Banyak laporan produk juga lebih sering menampilkan angka distribusi atau aktivasi karena naik lebih cepat dan lebih mudah dicapai. Padahal pertanyaan yang lebih penting bagi marketer adalah apakah pelanggan benar-benar mengubah perilakunya. Tanpa membedakan ketiga jenis metrik tersebut, laporan yang terlihat impresif belum tentu mencerminkan keberhasilan produk di mata pengguna.

Infrastruktur Sudah Siap, Perilaku Belum

Perkembangan QRIS Tap menunjukkan bahwa menyediakan akses tidak otomatis mengubah perilaku pengguna. Per Juni 2025, sekitar 47,8 juta pengguna sudah memiliki akses ke fitur QRIS Tap melalui aplikasi pembayaran mereka (Antara News, 2025). Namun hingga Mei 2026, transaksi QRIS Tap yang benar-benar terjadi baru mencapai 634.498 transaksi (Kontan, 2026). Dengan kata lain, fitur sudah tersedia bagi puluhan juta pengguna, tetapi penggunaan nyatanya masih jauh lebih rendah.

Pertumbuhan transaksi memang terlihat sangat tinggi. Pada Desember 2025, misalnya, transaksi QRIS Tap tercatat sekitar 508 ribu atau meningkat 1.200% secara bulanan setelah fitur tap-in dan tap-out diperkenalkan (Antara News, 2025). Namun persentase tersebut berasal dari basis awal yang sangat kecil. Karena itu, pertumbuhan yang terlihat spektakuler belum berarti penggunaan QRIS Tap sudah menjadi kebiasaan baru.

Bank Indonesia juga menyampaikan kesimpulan yang sama. Tantangan utama QRIS Tap bukan lagi menyediakan teknologi, melainkan mendorong pengguna yang sudah terbiasa memindai QR Code agar beralih ke pembayaran berbasis NFC (Kontan, 2026). Hambatannya berada pada perubahan perilaku, bukan pada ketersediaan fitur.

Hal ini juga terlihat dari sisi infrastruktur. Jumlah merchant QRIS terus bertambah, dari sekitar 12 juta pada 2021 menjadi lebih dari 45 juta pada 2026, sementara pengguna QRIS meningkat menjadi sekitar 63 juta pada April 2026, bahkan melampaui target Bank Indonesia lebih cepat dari rencana (Alto, 2025; Tempo, 2026). Di sisi lain, jaringan merchant penerima QRIS Tap juga berkembang pesat, dari 646 merchant saat uji coba menjadi sekitar 3,2 juta merchant pada Mei 2026. Infrastruktur terus bertumbuh, tetapi perubahan perilaku pengguna berlangsung jauh lebih lambat  (QRIS Tap; Kontan, 2026).

Bagi marketer, pelajarannya sederhana. Distribusi dan kesiapan akses dapat meningkat dalam waktu singkat karena dikendalikan oleh organisasi. Sebaliknya, penggunaan berulang dan perubahan kebiasaan hanya bisa terjadi ketika pelanggan melihat alasan untuk mengubah perilakunya. Itulah sebabnya angka aktivasi sering naik lebih cepat daripada angka penggunaan.

Yang Belum Bisa Dijelaskan oleh Data

QRIS Tap memberikan gambaran yang jelas tentang perbedaan antara distribusi fitur dan penggunaan nyata. Namun, data ini tidak otomatis membuktikan apa yang terjadi setelah transaksi berlangsung.

Misalnya, data yang tersedia belum menunjukkan bahwa pembayaran yang lebih cepat menyebabkan belanja impulsif. Memang, QRIS Tap memangkas waktu transaksi menjadi sekitar 0,3 detik, sementara survei menunjukkan 64% Gen Z Indonesia mengalami stres finansial, dengan pemicu seperti kenaikan biaya hidup, keinginan memperbaiki suasana hati, dan utang impulsif (Republika, 2025; Infobanknews, 2026). Kedua fakta tersebut menarik untuk dibaca berdampingan, tetapi belum membuktikan hubungan sebab akibat. Menyimpulkan bahwa QRIS Tap memicu doom spending akan melampaui bukti yang tersedia.

Data yang ada juga belum dapat menjelaskan apakah penggunaan QRIS Tap menggantikan transaksi tunai, meningkatkan nilai rata-rata transaksi, memperbaiki literasi keuangan, atau diikuti kesiapan keamanan yang sebanding dengan perluasan penggunaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jenis data yang berbeda.

Justru karena temuan mengenai kesenjangan antara akses dan penggunaan cukup kuat, interpretasinya perlu dijaga agar tidak melebar ke kesimpulan yang belum didukung data. Bagi marketer, pelajaran utamanya tetap sama: jangan menyamakan keberhasilan distribusi dengan perubahan perilaku pelanggan.

Apa Artinya bagi Brand dan Marketer

Insight terbesar dari QRIS Tap bukanlah seberapa cepat teknologi baru diadopsi, melainkan bagaimana membedakan antara akses dan penggunaan. Bagi brand, perbedaan ini menentukan cara membaca peluang pasar sekaligus mengukur keberhasilan produk.

Pertama, pembayaran digital bukan lagi pembeda. Ketika lebih dari 45 juta merchant telah menerima QRIS dan sekitar 3,2 juta merchant sudah menerima QRIS Tap (Kontan, 2026), menerima pembayaran nontunai tidak lagi menjadi keunggulan kompetitif. Diferensiasi justru bergeser ke pengalaman pelanggan di sekitar transaksi, mulai dari kemudahan pembayaran, kecepatan proses, hingga pengalaman setelah pembelian.

Kedua, perluasan limit membuka peluang kategori baru. Dengan batas transaksi hingga Rp20 juta per pembayaran, QRIS tidak lagi terbatas pada transaksi bernilai kecil (QRIS Interactive, 2026). Brand di kategori seperti elektronik, furnitur, otomotif, atau layanan premium kini memiliki alasan lebih kuat untuk menempatkan QRIS sebagai bagian dari alur pembelian utama, bukan sekadar alternatif pembayaran.

Ketiga, bedakan metrik akuisisi dari metrik penggunaan. Data provisioning menunjukkan berapa banyak pengguna yang sudah memiliki akses terhadap suatu fitur, tetapi belum menunjukkan apakah mereka benar-benar memakainya. Menggunakan angka ini sebagai ukuran pasar berisiko membuat proyeksi terlalu optimistis. Karena itu, target akuisisi pengguna sebaiknya dipisahkan dari target pengguna aktif, begitu pula kampanye distribusi fitur dari kampanye yang mendorong penggunaan.

Terakhir, rancang strategi untuk membentuk kebiasaan, bukan sekadar meluncurkan fitur. Akses hanyalah langkah awal. Perubahan perilaku biasanya terjadi melalui pengingat, pengaturan bawaan (default settings), insentif, atau pemicu pada momen yang tepat. Karena itu, ukuran keberhasilan yang lebih bermakna bukan hanya berapa banyak pengguna yang mengaktifkan fitur, melainkan berapa banyak yang kembali menggunakannya secara berulang.

Apa Artinya bagi Kebijakan Publik

Perluasan akses pembayaran digital perlu diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan. Data nasional menunjukkan bahwa inklusi keuangan di Indonesia terus tumbuh lebih cepat daripada literasi. Dalam SNLIK 2024, tingkat literasi keuangan mencapai 65,43%, sementara tingkat inklusi sudah mencapai 75,02% (OJK). Pola ini juga terlihat pada survei sebelumnya. Pada 2019, literasi keuangan tercatat 38,03% dengan inklusi 76,19%, sedangkan pada 2025 literasi mencapai 66,46% dan inklusi 80,51% berdasarkan metode keberlanjutan (SNLIK 2019 dan 2025; Fiskalpedia Kemenkeu, 2021; GoodStats, 2025). Artinya, semakin banyak masyarakat yang sudah memiliki akses ke layanan keuangan digital, tetapi tidak semuanya memiliki pemahaman yang memadai untuk menggunakannya secara aman dan bertanggung jawab.

Perlu dicatat bahwa hasil SNLIK 2024 tidak dapat dibandingkan langsung dengan survei 2022 karena Badan Pusat Statistik menyatakan terdapat perubahan metode pengambilan sampel (Kontan, 2024). Oleh karena itu, perbedaan angka inklusi lebih mencerminkan perubahan metodologi dibandingkan perubahan kondisi yang sebenarnya.

Jika dibandingkan menggunakan sumber yang sama, posisi Indonesia di kawasan ASEAN juga masih tertinggal. World Bank Global Findex 2025 mencatat tingkat inklusi keuangan Indonesia sebesar 52,39%, lebih rendah dibandingkan Singapura (97,82%), Thailand (91,12%), Malaysia (87,18%), dan Vietnam (69,85%) (Global Findex 2025; Bisnis.com, 2025). Namun angka Global Findex tidak dapat disandingkan langsung dengan SNLIK karena menggunakan definisi dan metodologi yang berbeda.

Kesenjangan antara akses dan literasi tersebut membuka sejumlah risiko kebijakan. Dari sisi keuangan, akses yang semakin mudah berpotensi mendorong perilaku konsumsi impulsif, yang dalam kondisi tertentu dapat berlanjut pada penggunaan pinjaman daring ilegal atau aktivitas berisiko lainnya. Rantai risiko ini masih bersifat konseptual dan memerlukan penelitian lanjutan untuk membuktikan hubungan sebab akibatnya, tetapi arahnya sejalan dengan tingginya tingkat stres finansial Gen Z di Indonesia (Republika, 2025).

Risiko lain muncul dari sisi keamanan digital. Kebiasaan memindai kode QR tanpa melakukan verifikasi membuat pengguna lebih rentan terhadap QR palsu maupun serangan phishing (QRIS Interactive, 2026). Ketika batas transaksi QRIS meningkat hingga Rp20 juta, potensi kerugian dalam setiap insiden juga menjadi lebih besar. Karena itu, peningkatan literasi keamanan digital menjadi semakin penting.

Temuan ini mengarah pada satu implikasi kebijakan yang jelas. Perluasan akses sebaiknya diikuti dengan upaya membangun kemampuan pengguna. Regulator dapat mempertimbangkan langkah seperti verifikasi tambahan untuk transaksi bernilai besar, edukasi keamanan di titik transaksi, serta program literasi yang berkembang seiring percepatan inklusi. Arah ini juga sejalan dengan pengakuan Bank Indonesia bahwa tantangan utama QRIS Tap saat ini bukan lagi ketersediaan teknologi, melainkan kesadaran dan perubahan perilaku pengguna (Kontan, 2026).

Membedakan Potensi Pasar dari Perilaku Pasar

QRIS Tap menunjukkan bahwa membangun infrastruktur jauh lebih cepat daripada membentuk kebiasaan. Bank Indonesia menjadi salah satu contoh yang menarik karena menerbitkan dua sisi sekaligus: berapa banyak orang yang sudah memiliki akses, dan berapa banyak yang benar-benar menggunakan fitur tersebut. Pada banyak produk lain, kesenjangan yang sama tetap ada, hanya saja tidak selalu terlihat dalam laporan.

Bagi brand dan marketer, pelajarannya sederhana. Angka distribusi menunjukkan seberapa besar potensi pasar, sedangkan angka penggunaan menunjukkan seberapa besar pasar yang benar-benar berhasil dijangkau. Keduanya sama penting, tetapi tidak bisa diperlakukan sebagai metrik yang setara.

Pada akhirnya, keunggulan bukan datang dari siapa yang paling cepat memperluas akses, melainkan dari siapa yang paling berhasil mengubah akses menjadi kebiasaan. Itulah perbedaan antara memiliki jutaan pengguna yang bisa memakai produk dan memiliki jutaan pengguna yang benar-benar memilih memakainya.

Daftar Pustaka

Alto. (2025). BI targetkan 60 juta pengguna QRIS pada 2026. Alto. Diakses 15 Juli 2026, dari https://www.alto.id/alto-update/detail/blog/bi-nbsp-targetkan-nbsp-60-juta-nbsp-pengguna-nbsp-qris-pada-2026-nbsp

Antara News. (2025). BI catat jumlah pengguna QRIS Tap tembus 47,8 juta orang. Antara News. Diakses 15 Juli 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/4909609/bi-catat-jumlah-pengguna-qris-tap-tembus-478-juta-orang?page=all

Antara News. (2025). BI sebut transaksi QRIS Tap cetak pertumbuhan 1.200 persen. Antara News. Diakses 15 Juli 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/5309974/bi-sebut-transaksi-qris-tap-cetak-pertumbuhan-1200-persen

Bisnis.com. (2025). Inklusi keuangan RI 52,39%, tertinggal dari Singapura, Thailand, dan Malaysia. Bisnis.com. Diakses 15 Juli 2026, dari https://finansial.bisnis.com/read/20250907/90/1909007/inklusi-keuangan-ri-5239-tertinggal-dari-singapura-thailand-dan-malaysia

Emitennews. (2026). Hingga April 2026, QRIS digunakan 45 juta merchant mayoritas UMKM. Emitennews. Diakses 15 Juli 2026, dari https://www.emitennews.com/news/hingga-april-2026-qris-digunakan-45-juta-merchant-mayoritas-umkm

Fiskalpedia Kemenkeu. (2021). Keuangan inklusif. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Diakses 15 Juli 2026, dari https://fiskal.kemenkeu.go.id/fiskalpedia/2021/06/08/132003945795316-keuangan-inklusif

GoodStats. (2025). Indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia naik pada 2025. GoodStats. Diakses 15 Juli 2026, dari https://data.goodstats.id/statistic/indeks-literasi-dan-inklusi-keuangan-indonesia-naik-pada-2025-9SVqr

IDX Channel. (2025). Sebulan meluncur, QRIS Tap gaet 20,8 juta pengguna. IDX Channel. Diakses 15 Juli 2026, dari https://www.idxchannel.com/banking/sebulan-meluncur-qris-tap-gaet-208-juta-pengguna

Infobanknews. (2026). BTN dan Unair jalin kemitraan strategis, soroti tingginya stres finansial Gen Z. Infobanknews. Diakses 15 Juli 2026, dari https://infobanknews.com/btn-dan-unair-jalin-kemitraan-strategis-soroti-tingginya-stres-finansial-gen-z

Investing.com Indonesia. (2026). Transaksi digital RI tembus Rp51 ribu triliun, QRIS melonjak 116% di awal 2026. Investing.com Indonesia. Diakses 15 Juli 2026, dari https://id.investing.com/news/stock-market-news/transaksi-digital-ri-tembus-rp51-ribu-triliun-qris-melonjak-116-di-awal-2026-2952499

Kontan. (2024). Hasil SNLIK: Indeks literasi keuangan Indonesia capai 65,43%. Kontan.co.id. Diakses 15 Juli 2026, dari https://investasi.kontan.co.id/news/hasil-snlik-indeks-literasi-keuangan-indonesia-capai-6543

Kontan. (2026). BI catat nilai transaksi QRIS Tap capai Rp6,29 miliar hingga Mei 2026. Kontan.co.id. Diakses 15 Juli 2026, dari https://keuangan.kontan.co.id/news/bi-catat-nilai-transaksi-qris-tap-capai-rp-629-miliar-hingga-mei-2026

Kumparan. (2026). Transaksi QRIS melejit 133 persen per Februari 2026. Kumparan. Diakses 15 Juli 2026, dari https://kumparan.com/kumparanbisnis/transaksi-qris-melejit-133-persen-per-februari-2026-271lkyM75bL

Otoritas Jasa Keuangan. (2024). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024. OJK. Diakses 15 Juli 2026, dari https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-(SNLIK)-2024.aspx

QRIS Interactive. (2026). QRIS antarnegara resmi diluncurkan: transaksi digital Indonesia melonjak tajam di 2026. QRIS Interactive. Diakses 15 Juli 2026, dari https://qris.interactive.co.id/homepage/blog-detail.php?lang=en&page=MzE4-qris-antarnegara-resmi-diluncurkan-transaksi-digital-indonesia-melonjak-tajam-di-2026

Republika. (2025). 64 persen Gen Z Indonesia disebut alami stres finansial. Republika. Diakses 15 Juli 2026, dari https://ekonomi.republika.co.id/berita/tgjkpu425/64-persen-gen-z-indonesia-disebut-alami-stres-finansial

Tempo. (2026). QRIS digunakan 63 juta pengguna hingga April 2026. Tempo. Diakses 15 Juli 2026, dari https://www.tempo.co/foto/arsip/qris-digunakan-63-juta-pengguna-hingga-april-2026-2138165

Share Article
Editorial Team