Ketika Event Makin Ramai, Apakah Nilainya Juga Makin Besar?

Indonesia sedang memasuki periode ketika event semakin sering diposisikan bukan sekadar sebagai hiburan atau aktivitas promosi, tetapi sebagai penggerak ekonomi. Kalender Event Indonesia 2026–2027 yang dirilis pemerintah memuat agenda olahraga, budaya, musik, dan pameran dari Agustus 2026 hingga Februari 2027. Melalui Karisma Event Nusantara (KEN), Kementerian Pariwisata juga menargetkan 125 event terkurasi di 38 provinsi pada 2026, meningkat dari 98 kegiatan pada 2025.
Skalanya terlihat dari angka yang dihasilkan. Kementerian Pariwisata mencatat event sepanjang semester I 2026 menghasilkan perputaran ekonomi sedikitnya Rp858,12 miliar. Angka tersebut berasal dari 28 event KEN yang dampaknya telah dievaluasi sebesar Rp196,97 miliar, serta 17 event nasional dan delapan event internasional yang didukung kementerian sebesar Rp661,15 miliar.
Di sektor ritel, Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026 menargetkan transaksi Rp38 triliun di 407 mal, naik dari sekitar Rp25 triliun pada 2025. Sebagian kenaikan target tersebut datang dari durasi penyelenggaraan yang diperpanjang dari 11 hari menjadi 17 hari. Sementara itu, Prambanan Jazz Festival 2026 dilaporkan menarik sekitar 85.000 penonton selama tiga hari, tertinggi sepanjang 12 tahun penyelenggaraannya.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang tercipta melalui event semakin besar. Namun, ada pertanyaan yang lebih penting bagi brand, tenant, sponsor, penyelenggara, maupun pemerintah: ketika traffic membesar, bagaimana sebenarnya nilai ekonomi tersebut diciptakan dan ditangkap oleh masing-masing pihak?
Sebab, jumlah pengunjung, nilai transaksi, revenue, dan profit bukanlah hal yang sama.






















