Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install

Olahraga Tumbuh, Komunitas dan Konsumsi Ikut Bergerak

Olahraga Tumbuh, Komunitas dan Konsumsi Ikut Bergerak
ilustrasi komunitas lari (magnific.com/freepik)
  • Klub lari, jumlah pelari, dan event olahraga di Indonesia meningkat pesat; pada 2025 tercatat 558 event lari, sementara lebih dari 500 event digelar di 34 provinsi pada 2026.
  • Olahraga kini juga menjadi ruang sosial: sebagian responden Populix berkumpul setelah berolahraga, dan 91 persen menilai aktivitas fisik dapat membangun relasi atau networking.
  • Pertumbuhan olahraga mendorong konsumsi perlengkapan, layanan kebugaran, dan perjalanan event; 64 persen responden membayar aktivitas olahraga, sementara sejumlah marathon mencatat dampak ekonomi besar bagi kota penyelenggara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jumlah klub dan event lari meningkat, sementara survei Populix menunjukkan olahraga juga terhubung dengan aktivitas sosial dan pengeluaran untuk perlengkapan, kelas, hingga gym.

Olahraga tidak lagi hanya soal berapa sering seseorang berlari, pergi ke gym, atau mengikuti kelas kebugaran. Di sekitarnya tumbuh komunitas, agenda olahraga, dan berbagai bentuk konsumsi yang ikut membentuk rutinitas baru. Ketika jumlah klub dan event bertambah, aktivitas olahraga juga semakin terhubung dengan cara orang menghabiskan waktu, bertemu orang lain, dan mengeluarkan uang.

Perkembangan ini terlihat dari pertumbuhan komunitas dan event lari dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah klub meningkat, jumlah pelari yang tercatat bertambah, dan kalender event semakin padat. Survei Populix juga menunjukkan bahwa aktivitas olahraga tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan aktivitas sosial serta pengeluaran untuk perlengkapan olahraga, kelas, hingga keanggotaan gym.

  1. Klub, Pelari, dan Event Tumbuh Bersamaan

    Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga dan sport event berkembang menjadi bagian dari rutinitas sosial di banyak kota Indonesia. Aktivitas fisik hadir bersamaan dengan urusan kesehatan, kebugaran, dan waktu luang. Pertumbuhannya paling mudah dibaca pada infrastruktur komunitasnya. Data Strava yang dikutip The Jakarta Post menunjukkan jumlah klub lari di Indonesia pada 2025 mendekati enam kali lipat angka 2024 (Hermanus, 2026). Pada rentang yang berdekatan, jumlah pelari yang tercatat naik dari sekitar 56 ribu pada Januari 2024 menjadi 242.627 pada Mei 2025, atau sekitar 330 persen (Zakia, 2025).

    Kalender ikut memanjang. GoodStats mencatat 558 event lari sepanjang 2025, angka tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, dengan November sebagai bulan tersibuk yang menampung 112 event. Data Jadwal Lari Indonesia yang dikutip pada laporan yang sama mencatat 458 acara pada 2024 (Zakia, 2025). Untuk 2026, The Jakarta Post melaporkan lebih dari 500 event lari berlangsung di 34 provinsi dan lebih dari 200 kota, sekitar lima kali lipat jumlah pada 2022 (Hermanus, 2026). Kedua penghitungan memakai basis yang berbeda sehingga tidak dapat dijajarkan langsung. Yang konsisten dari keduanya adalah sebaran geografisnya.

    Tiga angka di atas mengukur hal yang berbeda: orang yang berlari, klub yang menampung mereka, dan acara yang mereka datangi. Ketiganya bergerak ke arah yang sama pada periode yang sama. Pertanyaan yang lebih berguna daripada seberapa cepat pertumbuhannya adalah apa saja yang ikut tumbuh di sekitarnya.

  2. Olahraga Menjadi Alasan untuk Berkumpul

    Survei Populix terhadap 840 pekerja Indonesia pada 23 sampai 30 Maret 2026 merekam apa yang terjadi setelah sesi olahraga selesai. Dari 809 responden yang berolahraga, 39 persen biasanya nongkrong atau minum kopi, 37 persen makan bersama teman atau komunitas, dan 22 persen melanjutkan aktivitas sosial pada malam harinya. Enam puluh persen tetap langsung pulang, sehingga kebiasaan ini berlaku pada sebagian, belum pada mayoritas.

    Alasan orang berolahraga terbagi antara urusan pribadi dan urusan relasi. Pada survei yang sama, 60 persen responden menyebut me time, 53 persen menyebut waktu bersama pasangan atau keluarga, 40 persen menyebut membangun relasi profesional, dan 33 persen menyebut keaktifan di komunitas. Sebanyak 91 persen setuju bahwa olahraga dapat menjadi sarana membangun relasi atau networking. Angka-angka itu menjelaskan mengapa pertumbuhan klub berjalan seiring pertumbuhan pelari. Sebagian orang datang untuk berolahraga, sebagian datang karena ada orang lain di sana.

    Kebiasaan berolahraga bersama juga muncul pada data pelari. The Jakarta Post menyebut sekitar sepertiga pelari kini memilih berlari bersama komunitas, dengan porsi terbesar pada Gen Z, sementara rata-rata pelari Indonesia menempuh sekitar 16 kilometer per minggu (Hermanus, 2026).

    Sebagai konteks, Strava mencatat jumlah klub baru di platformnya hampir empat kali lipat pada 2025 sehingga totalnya mencapai satu juta klub, dengan klub hiking tumbuh 5,8 kali dan klub lari 3,5 kali. Aktivitas yang diorganisir klub naik 1,5 kali dibanding tahun sebelumnya (Strava, 2025). Angka ini mengukur seluruh basis pengguna Strava di lebih dari 185 negara dan tidak berlaku khusus untuk Indonesia.

  3. Lari Ramai di Event, Aktivitas Harian Lebih Beragam

    Kalender yang padat dan komunitas yang tumbuh membuat lari menjadi bentuk olahraga yang paling terlihat. Aktivitas harian yang tercatat pada survei bergerak lebih luas dari itu.

    Ketika Populix menanyakan jenis olahraga yang biasa dilakukan kepada 809 responden yang berolahraga, dengan maksimal tiga jawaban, kategori running dan outdoor memimpin di 67 persen. Isinya terdiri atas jogging 45 persen dan jalan kaki 33 persen, sementara event lari resmi seperti 5K, 10K, half, dan full marathon tercatat 2 persen. Angka 2 persen itu mengukur seberapa sering event lari menjadi olahraga rutin seseorang. Tingkat partisipasi event diukur lewat pertanyaan terpisah pada survei yang sama, dan hasilnya 65 persen responden pernah ikut minimal sekali dalam setahun terakhir.

    Kategori lain terisi cukup merata. Olahraga tim 32 persen, bersepeda 30 persen dengan sepeda santai 26 persen, raket dan lapangan 29 persen dengan bulu tangkis 21 persen, latihan di rumah lewat video gratis 21 persen, gym dan latihan beban 25 persen, serta yoga dan pilates 14 persen. Padel tercatat 4 persen, sedikit di atas event lari (2 persen) dan road bike (3 persen).

    Pola serupa terlihat pada data global Strava. Lebih dari 54 persen penggunanya mencatat lebih dari satu jenis olahraga sepanjang 2025, dan jalan kaki menempati posisi kedua sebagai aktivitas yang paling banyak direkam (Strava, 2025). Aktivitas yang paling sering dilakukan adalah yang paling murah dan paling dekat dengan rumah.

  4. Sudah Masuk Kalender Mingguan, Belum Sepenuhnya Stabil

    Populix mengelompokkan 81 persen respondennya sebagai regular exerciser, 14 persen occasional, dan 5 persen non-exerciser. Frekuensi tipikalnya rendah tetapi rutin: 62 persen berolahraga satu sampai dua kali seminggu dan 22 persen tiga sampai empat kali, dengan rata-rata 2,23 sesi per minggu. Durasi rata-rata satu sesi 49,75 menit, dan 65 persen berada di rentang 30 sampai 60 menit.

    Rutinitas itu masih mudah terganggu. Ketika ditanya perubahan kebiasaan selama Ramadan dan setelah Idulfitri, 49 persen menyatakan tetap berolahraga tanpa perubahan, sementara 51 persen mengalami pengurangan, jeda, atau baru mulai pada periode tersebut. Survei dilakukan tepat setelah periode itu, sehingga angkanya merekam gangguan rutinitas yang masih segar dalam ingatan responden.

    Niat ke depan tetap tinggi. Sebanyak 67 persen responden yang berolahraga berencana menambah frekuensi dalam enam bulan berikutnya, 31 persen mempertahankan, dan 82 persen terbuka mencoba jenis olahraga baru. Perlu dicatat bahwa sampel Populix terdiri atas pekerja, 84 persen di antaranya tinggal di Jawa, dengan 47 persen berada di kelompok SES atas. Gambaran rutinitas di atas berlaku untuk kelompok tersebut.

  5. Uang yang Keluar di Sekitar Olahraga

    Bagian paling konkret dari pertumbuhan ini terbaca pada pengeluaran. Dari 809 responden Populix yang berolahraga, 64 persen membayar sesuatu untuk berolahraga dalam tiga bulan terakhir: 29 persen keanggotaan gym, 24 persen pembayaran sesekali untuk kelas, sewa lapangan, atau event, 16 persen langganan studio, dan 15 persen langganan aplikasi kebugaran. Sisanya, 36 persen, menyatakan seluruh aktivitas olahraganya gratis. Rata-rata pengeluaran bulanan kelompok ini Rp391.844.

    Belanja barang bergerak lebih luas daripada belanja aktivitas. Dalam 12 bulan terakhir, 72 persen membeli pakaian olahraga, 67 persen sepatu, 44 persen aksesori seperti tas, topi, dan botol minum, 30 persen wearable, dan 28 persen alat latihan. Hanya 3 persen tidak membeli apa pun. Konsumsi produk kesehatan mengikuti pola yang sama. Dari 840 responden, 60 persen mengonsumsi vitamin dan suplemen bermerek, 53 persen minuman probiotik, dan 47 persen minuman isotonik, dengan alasan utama daya tahan tubuh (63 persen), energi (49 persen), dan pemulihan setelah aktivitas (44 persen).

    Di level pasar, analisis Mandiri Institute yang dimuat The Jakarta Post memperkirakan nilai pasar sportswear Indonesia sekitar Rp38,5 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan 8 persen per tahun dan proyeksi Rp58,6 triliun pada 2030. Sepatu lari menyumbang sekitar 42 persen penjualan alas kaki olahraga di marketplace terbesar Indonesia pada 2025, dan satu merek lokal menguasai 36 persen penjualan di antara sepuluh sepatu lari terlaris di sana (Hermanus, 2026).

  6. Event sebagai Alasan Berkumpul dan Bepergian

    Survei Snapcart terhadap 1.361 responden Indonesia yang dipublikasikan pada 12 Mei 2026 memetakan siapa yang datang ke event lari dan untuk apa. Sebanyak 39 persen belum pernah ikut, 24 persen pernah sekali, 15 persen sering ikut, dan 13 persen berencana ikut. Respondennya didominasi perempuan (75 persen) dan usia 25 sampai 34 tahun (41 persen).

    Format yang paling banyak diikuti adalah fun run (61 persen), jauh di atas kategori kompetitif. Lebih dari separuh (53 persen) datang bersama teman, 20 persen sendirian, 14 persen bersama keluarga, dan 7 persen bersama pasangan. Alasan terbesar mengikuti event adalah bersenang-senang (34 persen), disusul kesehatan (26 persen), sementara motivasi kompetitif seperti medali dan hadiah berada jauh di bawah. Ketika ditanya target utama di lokasi, 46 persen menjawab bersenang-senang dan 20 persen menyelesaikan lomba. Cara orang menemukan event mengikuti jalur yang sama sosialnya: 56 persen mengetahui event dari media sosial, 27 persen dari rekomendasi teman, dan 12 persen dari komunitas lari.

    Dampak ekonominya terukur pada level kota. Selama Mandiri Jogja Marathon 2026 yang diikuti 10.200 pelari, naik dari sekitar 6.000 pada edisi perdana 2017, Mandiri Spending Index di Yogyakarta dan sekitarnya naik 7,4 persen pada pekan lomba, atau 1,6 kali kenaikan pada edisi 2025. Pertumbuhan belanja mingguan yang sebelumnya sekitar 0,5 persen melompat ke 7,3 persen. Belanja transportasi naik 21,9 persen, restoran 10,1 persen, dan hotel 6,4 persen (Hermanus, 2026). GoodStats mencatat pola serupa pada event lain: BTN Jakarta International Marathon 2025 dengan 31.000 peserta dari 53 negara menghasilkan perputaran ekonomi Rp127,1 miliar, sementara Maybank Marathon 2025 di Bali mencatat dampak ekonomi langsung Rp170,8 miliar, naik dari Rp125 miliar pada tahun sebelumnya (Zakia, 2025).

  7. Bagi Gen Z, Teman Ikut Menentukan

    Hambatan terbesar Gen Z untuk hadir di event olahraga berkaitan dengan orang lain. Dari 409 responden Gen Z berusia 17 sampai 29 tahun yang belum atau jarang ikut event, 25 persen menyatakan tidak akan hadir tanpa teman atau komunitas dan 21 persen khawatir cedera atau kelelahan. Pada 323 responden Milenial berusia 30 sampai 45 tahun, hambatan terbesar adalah jadwal yang tidak cocok (46 persen), sementara alasan sosial disebut 18 persen.

    Alasan hadirnya juga berbeda. Di antara 247 responden Gen Z yang pernah ikut event, 43 persen datang untuk menjaga motivasi berolahraga, 41 persen untuk keseruan acara, dan 29 persen untuk target pribadi. Pada 249 responden Milenial, 34 persen menyebut menjaga motivasi, 29 persen target pribadi, dan 18 persen rasa menjadi bagian dari komunitas. Secara keseluruhan, 86 persen responden Populix menyatakan kemungkinan besar akan ikut event olahraga dalam enam bulan ke depan, dan Gen Z mencatat rata-rata kemungkinan tertinggi.

    Data Strava tentang Gen Z berasal dari survei global terhadap lebih dari 30.000 responden yang mencakup pengguna dan bukan pengguna. Sebanyak 30 persen Gen Z pada survei itu berencana menambah pengeluaran kebugaran pada 2026, dan 64 persen memilih mengalokasikan uang untuk perlengkapan olahraga dibanding untuk berkencan, meski 65 persen mengaku terdampak inflasi (Strava, 2025). Angka ini menggambarkan responden global Strava dan tidak dapat dibaca sebagai gambaran Gen Z Indonesia.

  8. Aktivitas Fisik Berbeda Antarwilayah

    Data langkah harian Strava untuk Indonesia menunjukkan aktivitas fisik tidak terpusat di Jawa. Sulawesi Utara mencatat median langkah harian tertinggi secara nasional (5.392 langkah), disusul Banten (5.342) dan Sulawesi Selatan (5.308). Pejalan kaki tercepat tercatat di Sulawesi Tenggara dengan pace rata-rata 12 menit 37 detik per kilometer, sementara jarak per sesi terjauh tercatat di Nusa Tenggara Timur (3,9 kilometer). Yogyakarta menjadi kota dengan pengguna paling banyak bergerak pada pagi hari, dengan 55,4 persen aktivitas berlangsung antara pukul 04.00 dan 07.00 (Strava, 2025).

    Angka-angka itu mengukur pengguna Strava, kelompok yang tidak mewakili penduduk secara umum. Perbandingannya tetap berguna untuk satu hal. Lapisan berbayar dan lapisan komunitas yang terekam pada survei Populix dan Snapcart terdokumentasi terutama di kota-kota Jawa, sementara aktivitas fisik hariannya tersebar jauh lebih luas. Data yang tersedia belum cukup untuk menjawab apakah pertumbuhan klub, event, dan belanja berlangsung dalam bentuk yang sama di luar Jawa.

  9. For Brands

    Temuan

    Implikasi untuk brand

    Sumber

    56% mengetahui event lari dari media sosial, 27% dari rekomendasi teman, 12% dari komunitas lari

    Informasi event beredar lewat kanal sosial dan rekomendasi personal, sehingga kanal resmi penyelenggara bukan satu-satunya titik jangkauan

    Snapcart (2026)

    53% ikut event bersama teman; 25% Gen Z menyatakan tidak akan hadir tanpa teman atau komunitas

    Mekanisme pendaftaran kelompok, harga tim, dan aktivasi berbasis komunitas menyentuh hambatan yang paling sering disebut kelompok termuda

    Snapcart (2026); Populix (2026)

    39% nongkrong atau minum kopi dan 37% makan bersama setelah berolahraga

    Terdapat titik konsumsi setelah sesi selesai, di luar durasi aktivitas olahraganya sendiri

    Populix (2026)

    Pendorong belanja olahraga: fasilitas lengkap 35%, lokasi mudah dijangkau 34%, jadwal fleksibel 29%

    Akses dan kelengkapan disebut lebih sering daripada pertimbangan lain dalam keputusan belanja kelompok ini

    Populix (2026)

    Hambatan event: jadwal tidak cocok 46%, lokasi terlalu jauh 39%, biaya registrasi 19%

    Format waktu dan pemilihan lokasi disebut sebagai hambatan lebih sering daripada harga tiket

    Populix (2026)

    12% menyebut ketertarikan pada brand sponsor sebagai alasan hadir; 12% menyebut kurang tertarik pada sponsor sebagai alasan tidak hadir

    Merek sponsor jarang menjadi alasan utama kehadiran, sehingga nilai sponsorship perlu diukur di luar metrik kehadiran

    Populix (2026)

    Pendorong belanja produk kesehatan: manfaat jelas dan terbukti 44%, izin BPOM 35%, kesesuaian dengan kebutuhan pribadi 35%

    Klaim manfaat dan legalitas produk disebut lebih sering daripada atribut gaya hidup pada kategori ini

    Populix (2026)

    Sepatu lari menyumbang 42% penjualan alas kaki olahraga di marketplace terbesar; satu merek lokal menguasai 36% dari sepuluh terlaris

    Merek lokal sudah memegang pangsa besar pada kategori ini di kanal e-commerce

    Hermanus (2026)

    Selama pekan Mandiri Jogja Marathon 2026: transportasi +21,9%, restoran +10,1%, hotel +6,4%

    Kenaikan belanja pada pekan event tercatat di kategori di luar olahraga, termasuk hospitality, F&B, dan transportasi

    Hermanus (2026)

    82% terbuka mencoba jenis olahraga baru; padel 4%, di atas road bike 3%

    Terdapat keterbukaan terhadap kategori baru pada kelompok yang sudah rutin berolahraga

    Populix (2026)

  10. Penutup

    Membaca pertumbuhan olahraga di Indonesia dari jumlah orang yang berolahraga saja akan melewatkan bagian terbesarnya. Yang bergerak bersamaan adalah klub yang menampung mereka, kalender event yang mereka datangi, belanja perlengkapan dan suplemen yang menyertainya, serta agenda sosial yang muncul setelah sesi selesai.

    Lari berfungsi sebagai pintu masuk yang paling terlihat. Aktivitas yang lebih sering dilakukan mencakup jogging, jalan kaki, bulu tangkis, sepeda santai, gym, dan latihan di rumah. Di sekeliling aktivitas itu muncul pengeluaran bulanan, pertemanan, event akhir pekan, perjalanan ke kota lain, dan konsumsi yang berlanjut setelah olahraga selesai.

    Data yang tersedia mendokumentasikan lapisan itu dengan cukup baik untuk pekerja kota di Jawa dan untuk peserta event lari. Untuk kelompok di luar keduanya, gambarannya masih terbuka.

    Daftar Pustaka

    Hermanus, B. (2026, 11 Agustus). The economics of running: When a free sport becomes big business. The Jakarta Post. Diakses 21 Agustus 2026, dari https://www.thejakartapost.com/business/2026/08/11/the-economics-of-running-when-a-free-sport-becomes-big-business

    Populix. (2026). How sport is becoming part of work and regular activity among Indonesian workers [Laporan riset]. Populix. Diakses 21 Agustus 2026, dari https://info.populix.co/data-hub

    Snapcart. (2026, 12 Mei). Understanding running lifestyle trends in Indonesia. Snapcart Insight Hub. Diakses 21 Agustus 2026, dari https://snapcart.global/understanding-running-lifestyle-trends-in-indonesia/

    Strava. (2025, 2 Desember). Strava rilis edisi ke-12 laporan Year in Sport Trend, ungkap olahraga gantikan doomscrolling sebagai aktivitas generasi muda [Siaran pers]. Strava Press. Diakses 21 Agustus 2026, dari https://press.strava.com/id/articles/strava-releases-12th-annual-year-in-sport-trend-report-2025

    Zakia, E. (2025, 28 Oktober). Peningkatan tren lari di Indonesia, bagaimana manfaatnya bagi ekonomi nasional? GoodStats. Diakses 21 Agustus 2026, dari https://goodstats.id/article/peningkatan-tren-lari-di-indonesia-bagaimana-manfaatnya-bagi-ekonomi-nasional-6s7oI

Share Article
Editorial Team

Latest in Economy

See More