Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bubble Padel Indonesia 2026: Sisi Mana yang Sebenarnya Pecah
A young woman practices padel on an indoor court. Photo by Anhelina Vasylyk via Pexels
  • Jumlah lapangan padel Indonesia melonjak 295% menjadi 947 unit pada 2025, sementara ekspansi, promo gratis, okupansi per venue, biaya, dan regulasi memicu tekanan antaroperator.
  • Belum ada data independen tentang jumlah pemain aktif. Estimasi 20.000 pemain dan okupansi 76% dinilai tidak konsisten dengan kapasitas 947 lapangan, sehingga permintaan belum dapat diverifikasi.
  • Kasus Swedia memperlihatkan koreksi dapat menghantam operator saat infrastruktur tumbuh melampaui pemain, tanpa menurunkan minat olahraga; Indonesia belum terbukti mengikuti pola tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jumlah lapangan padel di Indonesia naik 295 persen dalam setahun. Sepanjang 2026, muncul berbagai sinyal tekanan: sebuah lapangan dijual seharga Rp199 juta, Pemerintah Provinsi Jakarta menghentikan penerbitan izin lapangan baru di zona perumahan, klub-klub baru menawarkan uji coba gratis, dan sebagian operator mulai melaporkan okupansi yang menurun. Perkembangan tersebut memunculkan anggapan bahwa bubble padel mulai pecah.

Namun, kesimpulan itu masih terlalu dini. Untuk menyatakan sebuah bubble pecah, kita perlu mengetahui lebih dulu variabel apa yang sebelumnya tumbuh secara berlebihan. Dalam industri padel Indonesia, justru di situlah persoalannya. Data tentang jumlah lapangan, transaksi, dan kapasitas tersedia dengan cukup lengkap. Sebaliknya, data tentang jumlah orang yang benar-benar bermain padel belum pernah diukur secara independen.

Artikel ini membahas mengapa hampir seluruh sinyal tekanan yang muncul sepanjang 2026 berasal dari sisi pasokan, sementara kondisi permintaannya masih belum dapat dipastikan.

Ekspansi Lapangan Berlangsung Sangat Cepat

Empat tahun lalu, Indonesia hanya memiliki 15 lapangan padel. Menurut Indonesia Padel Report 2025 yang disusun Core & Court bersama Growell, jumlahnya mencapai 947 unit pada 2025, naik 295 persen dari 240 unit pada tahun sebelumnya. Laporan yang sama juga memproyeksikan tambahan 1.580 lapangan sepanjang 2026 (Core & Court & Growell, 2025).

Pertumbuhan bisnisnya juga terlihat dari sisi pendapatan. Melansir Global Padel Report 2025 yang disusun Playtomic bersama PwC Strategy&, pendapatan kotor per lapangan padel di Indonesia naik dari 2.300 euro per bulan pada 2023 menjadi 6.300 euro per bulan pada 2024. Pada periode yang sama, Spanyol sebagai pasar padel paling matang di dunia hanya mencatat pertumbuhan 16 persen (Playtomic & PwC Strategy&, 2025).

Seluruh angka tersebut menggambarkan sisi pasokan. Jumlah lapangan, tarif sewa, dan pendapatan per lapangan mudah dicatat karena semuanya merupakan bagian dari operasional harian. Padel Indonesia juga tumbuh bersamaan dengan platform pemesanan digital, sehingga setiap lapangan yang beroperasi langsung tercatat beserta harga sewa dan jadwalnya.

Sebaliknya, jumlah pemain tidak otomatis ikut tercatat. Satu pemesanan hanya mencatat satu transaksi, bukan empat orang yang bermain. Ketika sebuah komunitas menyewa lapangan setiap Sabtu, sistem hanya merekam akun yang melakukan pemesanan, bukan seluruh anggota komunitas yang hadir.

Akibatnya, ketika investor menilai prospek pasar padel Indonesia, hampir seluruh data yang tersedia berasal dari sisi pasokan. Kita mengetahui dengan cukup baik berapa banyak lapangan yang dibangun dan berapa besar pendapatannya, tetapi belum mengetahui secara pasti berapa banyak orang yang benar-benar bermain padel.

Sinyal yang Membuat Bubble Padel Terlihat Pecah

Beberapa peristiwa sepanjang 2025 hingga 2026 membuat banyak orang menyimpulkan bahwa bisnis padel mulai memasuki fase koreksi. Namun, masing-masing sinyal tersebut perlu dilihat dalam konteksnya.

Dilansir Tempo, klub-klub padel baru gencar menawarkan uji coba gratis untuk menarik pemain. Namun, seiring bertambahnya jumlah lapangan, promosi tersebut justru dimanfaatkan pemain untuk berpindah-pindah venue dan bermain tanpa biaya (Tempo, 2025). Fenomena ini menunjukkan persaingan antaroperator yang semakin ketat, bukan berkurangnya minat masyarakat untuk bermain padel.

Laporan yang sama juga mencatat penurunan okupansi di sejumlah venue. Seorang pelaku usaha menyebut bertambahnya jumlah lapangan membuat pemain memiliki lebih banyak pilihan lokasi, sehingga tingkat keterisian di setiap venue menurun. Ia juga menduga penurunan pada November hingga Desember lebih dipengaruhi musim liburan akhir tahun. Dengan kata lain, data yang tersedia baru menunjukkan penurunan okupansi per venue. Belum ada bukti bahwa jumlah pemain padel secara keseluruhan ikut menurun.

Tekanan juga datang dari sisi biaya. Sejak pertengahan 2025, sewa lapangan padel di Jakarta masuk objek Pajak Barang dan Jasa Tertentu dengan tarif 10 persen. Mengutip Detik, pengelola Padel Pro Indonesia di Kemang menyatakan kebijakan tersebut tidak berdampak signifikan karena pajak sudah dimasukkan ke harga sewa sejak awal (Detik, 2025). Meski demikian, kondisi ini membuat ruang operator untuk menurunkan harga menjadi semakin terbatas.

Faktor lain berasal dari regulasi. Pada 24 Februari 2026, Pemerintah Provinsi Jakarta menghentikan penerbitan izin pembangunan lapangan padel baru di zona perumahan dan membatasi jam operasional lapangan di permukiman hingga pukul 20.00 WIB. Dari 397 lapangan padel di Jakarta per 23 Februari 2026, sebanyak 185 belum memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (Tempo, 2026). Kebijakan ini dipicu keluhan warga terkait kebisingan, bukan karena pemerintah menilai pasar padel sudah jenuh. Selain itu, tidak tersedia data pembanding mengenai tingkat kepatuhan perizinan pada kategori usaha komersial lain di Jakarta, sehingga angka 185 dari 397 belum dapat diperlakukan sebagai karakteristik khusus industri padel.

Kasus penjualan lapangan seharga Rp199 juta juga perlu ditempatkan secara proporsional. Melansir laporan yang mengangkatnya, belum ada data resmi yang menunjukkan penurunan jumlah pemain padel di Indonesia. Sejumlah pelaku industri justru menilai kondisi saat ini merupakan fase normalisasi setelah lonjakan popularitas pada beberapa tahun sebelumnya (Suara, 2026).

Jika seluruh indikator tersebut dilihat bersama, polanya cukup jelas. Semuanya menggambarkan tekanan di sisi operator: persaingan yang meningkat, okupansi venue, biaya operasional, perizinan, dan penjualan aset. Belum ada satu pun indikator yang secara langsung mengukur apakah jumlah orang yang bermain padel ikut menurun.

Swedia Menunjukkan Seperti Apa Bubble Padel Pecah

Swedia sering dijadikan contoh karena siklus pertumbuhan dan koreksinya sudah terjadi lebih dulu. Karena itu, kasusnya dapat membantu membedakan apakah yang benar-benar runtuh adalah minat bermain padel atau bisnis pengelolaan lapangannya.

Melansir European Business Magazine, antara 2019 dan 2022 jumlah lapangan padel di Swedia meningkat dari beberapa ratus unit menjadi lebih dari 4.200 dalam waktu 36 bulan. Hingga akhir 2024, lebih dari 100 fasilitas tutup dan 90 perusahaan padel mengajukan kepailitan, dengan total modal hangus mendekati 500 juta euro. Operator We Are Padel juga menutup 50 dari 63 klubnya (European Business Magazine, 2026).

Namun, jumlah pemain tidak ikut runtuh. Menurut data Federasi Padel Internasional yang dikutip laporan tersebut, lebih dari 600.000 warga Swedia masih bermain padel pada awal 2024. Angka itu menjadikan Swedia sebagai negara dengan tingkat partisipasi padel per kapita tertinggi kedua di Eropa setelah Spanyol.

Artinya, yang mengalami tekanan adalah bisnis pengelolaan lapangan, bukan olahraganya. European Business Magazine menyimpulkan kondisi tersebut dipicu ekspansi infrastruktur yang tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan basis pemain. Lonjakan jumlah pemain dibaca sebagai kebutuhan membangun lapangan baru secara permanen, padahal laju pertumbuhan permintaan akhirnya melambat.

Meski demikian, pengalaman Swedia tidak bisa disamakan begitu saja dengan Indonesia.

Pertama, harga listrik di Swedia bagian selatan rata-rata hampir lima kali lipat dibandingkan sebelum 2020. Kondisi tersebut membuat biaya pemanas dan penerangan venue indoor meningkat tajam hingga menjadi tidak berkelanjutan (Padel Tonic, 2025). Indonesia tidak menghadapi biaya pemanas, dan sebagian lapangan padelnya beroperasi di ruang terbuka.

Kedua, sekitar 5,7 persen penduduk Swedia bermain padel. Jika tingkat partisipasi yang sama diterapkan ke Indonesia, jumlah pemainnya akan mendekati 16 juta orang. Dari sisi ukuran populasi, potensi tersebut tersedia. Menurut BPS dalam Statistik Sosial Budaya 2024, sebanyak 37,16 persen penduduk berusia lima tahun ke atas berolahraga dalam sepekan sebelum survei (BPS, 2025). Tantangannya bukan jumlah penduduk, melainkan berapa banyak yang bersedia memilih padel dibandingkan olahraga lain dengan biaya yang lebih rendah.

Dengan kata lain, pengalaman Swedia lebih tepat dibaca sebagai peringatan tentang risiko ekspansi lapangan yang melampaui pertumbuhan basis pemain. Kasus tersebut tidak otomatis berarti Indonesia akan mengalami pola yang sama.

Sisi Permintaan Indonesia Belum Bisa Diukur

Untuk mengetahui apakah Indonesia sedang mengikuti pola Swedia, kita perlu melihat satu hal: apakah jumlah pemain padel masih bertumbuh atau justru mulai menurun. Masalahnya, data yang tersedia belum bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Indonesia Padel Report 2025 memperkirakan basis pemain padel di Indonesia berada di kisaran 20.000 orang. Laporan yang sama juga mencatat tingkat okupansi pasar sebesar 76 persen.

Sepintas kedua angka tersebut terlihat masuk akal. Namun, ketika dihitung bersama, muncul ketidaksesuaian.

Padel selalu dimainkan oleh empat orang. Artinya, setiap satu jam lapangan yang terisi merepresentasikan empat sesi pemain. Dengan 947 lapangan yang beroperasi sekitar 10 jam per hari dan okupansi 76 persen, jumlah sesi pemain secara nasional mencapai sekitar 28.000 per hari.

Basis 20.000 pemain hanya dapat menghasilkan volume tersebut apabila setiap orang bermain lebih dari sekali setiap hari tanpa jeda. Asumsi itu sulit dibayangkan terjadi dalam praktik. Dengan frekuensi bermain yang lebih realistis, misalnya dua kali per minggu, volume tersebut justru membutuhkan sekitar 100.000 pemain aktif.

Perhitungan ini merupakan estimasi turunan kami dengan asumsi jam operasional dan frekuensi bermain yang masih dapat diperdebatkan. Namun, selisih antara kedua skenario mencapai sekitar lima kali lipat. Perubahan asumsi tidak cukup untuk menutup jarak tersebut.

Karena itu, setidaknya salah satu dari dua angka tersebut perlu ditinjau kembali. Jika okupansi 76 persen mencerminkan kondisi sebenarnya, jumlah pemain padel di Indonesia kemungkinan jauh lebih besar daripada 20.000 orang. Sebaliknya, jika estimasi basis pemain lebih mendekati kenyataan, maka tingkat okupansi pasar kemungkinan lebih rendah daripada yang dilaporkan.

Ada satu petunjuk yang mengarah ke kemungkinan kedua. Indonesia Padel Report 2025 mencantumkan tingkat okupansi sekitar 76–77 persen di tujuh pasar yang karakteristiknya sangat berbeda, meskipun kepadatan lapangan di masing-masing wilayah tidak sama. Pola yang sangat seragam ini tidak otomatis berarti angkanya keliru. Namun, pola tersebut membuka kemungkinan bahwa angka okupansi merupakan hasil estimasi model, bukan pengukuran langsung di lapangan.

Temuan ini tidak menunjukkan bahwa pasar padel Indonesia sedang melemah. Temuannya justru lebih mendasar: hingga saat ini belum ada data independen yang dapat memastikan berapa banyak orang yang benar-benar bermain padel di Indonesia. Tanpa survei pemain atau data keanggotaan yang dipublikasikan, kondisi sisi permintaan masih belum dapat diverifikasi.

Yang Masih Bisa Dibaca dari Sisi Permintaan

Belum ada data yang dapat memastikan berapa banyak orang bermain padel di Indonesia. Namun, beberapa indikator perilaku masih dapat memberi gambaran mengenai kondisi permintaannya. Sejauh ini, indikator-indikator tersebut belum menunjukkan bahwa minat bermain padel sedang menurun.

Salah satunya adalah tingkat retensi pemain. Global Padel Report 2025 mencatat retensi pemain di pasar dengan pertumbuhan tercepat, termasuk Indonesia, mencapai 92 persen (Playtomic & PwC Strategy&, 2025). Artinya, pemain yang sudah mencoba padel cenderung tetap bermain.

Pola pemesanan juga menunjukkan karakteristik yang serupa.

Sumber: Core & Court & Growell (2025)

Di lima dari tujuh pasar yang diteliti, pemesanan melalui komunitas lebih besar dibandingkan pemesanan individu. Laporan yang sama juga menyebut satu pengelola komunitas biasanya membawa tiga hingga empat pemain dalam setiap sesi. Pola seperti ini cenderung menghasilkan permintaan yang lebih stabil karena keputusan berpindah lapangan melibatkan banyak orang sekaligus.

Jika ada faktor yang lebih berpotensi membatasi pertumbuhan pemain, faktor tersebut adalah harga. Karena padel dimainkan oleh empat orang, biaya yang benar-benar dipertimbangkan konsumen bukan tarif sewa lapangan, melainkan biaya yang harus dibayar setiap pemain.

Tarif dari Core & Court & Growell (2025) Biaya per orang merupakan hitungan turunan kami dengan membagi tarif sewa kepada empat pemain, di luar biaya transportasi dan peralatan.

Menariknya, provinsi dengan biaya bermain paling rendah justru memiliki jumlah lapangan yang relatif sedikit. Sebaliknya, ekspansi lapangan paling agresif terjadi di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Bali, yang juga memiliki tarif sewa tertinggi. Dengan kata lain, kapasitas terbesar belum tentu berada di wilayah dengan hambatan biaya terendah.

Data partisipasi olahraga nasional memperkuat gambaran tersebut. Analisis Litbang Kompas atas Statistik Sosial Budaya 2024 menunjukkan bahwa senam serta lari atau jalan masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia, sementara olahraga yang membutuhkan fasilitas khusus, seperti bulu tangkis, bola voli, dan sepak bola, lebih sedikit dipilih oleh kelompok berpendidikan rendah (Litbang Kompas, 2026).

Padel berada pada kategori yang lebih menuntut lagi. Selain memerlukan lapangan khusus dan raket, olahraga ini juga mengharuskan pemain datang bersama tiga orang lain yang bersedia membayar biaya serupa.

Di antara berbagai olahraga, bulu tangkis tetap menjadi jalur konversi yang paling masuk akal karena sama-sama menggunakan raket dan umumnya dimainkan secara ganda. Namun, BPS mencatat fasilitas bulu tangkis telah tersebar hingga tingkat desa dan kelurahan melalui Pendataan Potensi Desa (BPS, 2024). Ketersediaan yang jauh lebih luas dengan biaya bermain yang lebih rendah membuat bulu tangkis bukan hanya menjadi pintu masuk potensial bagi padel, tetapi juga pesaing terdekatnya. Selisih biaya bermain menjadi hambatan utama, terutama di kota-kota yang justru mengalami ekspansi lapangan padel paling pesat.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?

Hampir seluruh sinyal tekanan yang muncul sepanjang 2026 berasal dari sisi pasokan: jumlah lapangan yang terus bertambah, persaingan antaroperator, biaya operasional, dan regulasi. Sebaliknya, indikator permintaan yang tersedia belum menunjukkan penurunan minat bermain. Masalahnya, indikator yang paling menentukan, yaitu jumlah orang yang benar-benar bermain padel, belum pernah diukur secara independen.

Kondisi ini mengingatkan pada pengalaman Swedia, tetapi bukan berarti Indonesia akan mengikuti jalur yang sama. Di Swedia, yang mengalami koreksi adalah bisnis pengelolaan lapangan setelah ekspansi berlangsung lebih cepat daripada pertumbuhan basis pemain. Olahraga padelnya sendiri tetap memiliki tingkat partisipasi yang tinggi. Jika pola serupa terjadi di Indonesia, tekanan kemungkinan lebih dulu dirasakan operator yang masuk belakangan dengan kapasitas besar dan diferensiasi yang terbatas.

Upaya untuk menutup kesenjangan data tersebut sebenarnya sudah mulai berjalan. Indonesia Padel Report 2025 mencatat lima program PBPI, yaitu lisensi pemain nasional, liga nasional terstruktur, sirkuit pemanduan bakat, sertifikasi pelatih dan fasilitas, serta integrasi data. Laporan yang sama juga mencatat terdapat 439 pemain profesional terdaftar sebagai indikator kedalaman jalur kompetisi pada satu titik waktu. Dari seluruh program tersebut, lisensi pemain dan integrasi data menjadi yang paling penting karena berpotensi menghasilkan data jumlah pemain yang selama ini belum tersedia.

Namun, urutan waktunya perlu diperhatikan. Sebagian besar program tersebut baru berjalan pada 2025 dan 2026, sementara ekspansi lapangan sudah dimulai sejak 2023. Artinya, pembangunan kapasitas berlangsung lebih cepat daripada pembangunan sistem yang mengukur siapa penggunanya.

Itulah sebabnya perdebatan mengenai apakah bubble padel Indonesia sudah pecah masih belum memiliki jawaban yang pasti. Industri ini memiliki data yang cukup rinci mengenai jumlah lapangan dan aktivitas bisnisnya, tetapi belum memiliki ukuran yang sama baiknya untuk mengetahui berapa banyak orang yang benar-benar bermain. Selama kesenjangan itu masih ada, membedakan antara fase koreksi bisnis dan penurunan permintaan akan tetap menjadi tantangan.

Implikasi untuk Brand

Temuan dalam artikel ini tidak hanya relevan untuk memahami kondisi pasar padel. Cara membaca data yang sama juga dapat diterapkan ketika brand mengevaluasi kategori lain yang sedang tumbuh cepat. Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil. 

Periksa sisi mana yang sebenarnya sedang tertekan. Tekanan pada operator tidak selalu berarti minat konsumen ikut melemah. Berita tentang penutupan venue, penjualan aset, atau perang promo lebih banyak menggambarkan kondisi penyedia layanan. Itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa audiens yang ingin dijangkau brand juga sedang menyusut.

Bedakan data infrastruktur dari data audiens. Pada kategori berbasis venue, data yang paling mudah dikumpulkan biasanya berasal dari sisi pasokan, seperti jumlah lokasi, tingkat okupansi, atau nilai transaksi. Data tersebut menunjukkan skala industri, tetapi belum menjelaskan berapa banyak orang yang benar-benar menjadi calon konsumen brand.

Periksa definisi di balik setiap angka. Ketika sebuah mitra menyebut jumlah pengguna, pastikan yang dimaksud adalah akun terdaftar, pengguna aktif bulanan, atau pelanggan yang benar-benar melakukan transaksi. Hal yang sama berlaku untuk okupansi. Angka rata-rata industri belum tentu mencerminkan kondisi venue yang akan menjadi lokasi aktivasi.

Uji apakah setiap angka saling konsisten. Data jumlah pengguna, tingkat okupansi, dan kapasitas seharusnya dapat saling menjelaskan. Jika tidak, salah satunya perlu diverifikasi sebelum digunakan sebagai dasar investasi atau belanja pemasaran. Pemeriksaan seperti ini sering kali hanya membutuhkan perhitungan sederhana.

Hitung biaya yang benar-benar dibayar konsumen. Pada kategori yang dimainkan secara berkelompok, tarif yang terpampang belum tentu mencerminkan hambatan masuk yang sebenarnya. Membagi biaya berdasarkan jumlah peserta memberikan gambaran yang lebih dekat dengan cara konsumen mengambil keputusan.

Manfaatkan fase koreksi sebagai posisi tawar. Ketika kapasitas tumbuh lebih cepat daripada permintaan, operator cenderung lebih terbuka terhadap negosiasi. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh biaya aktivasi yang lebih efisien atau skema kerja sama yang lebih fleksibel, tanpa mengurangi akses ke audiens.

Kenali siapa yang mengumpulkan audiens. Pada olahraga berbasis komunitas, pemain biasanya berkumpul sebelum datang ke venue. Karena itu, komunitas sering kali menjadi mitra yang lebih strategis dibandingkan pemilik lapangan. Memahami struktur ini dapat membantu brand menjangkau audiens dengan biaya yang lebih efisien.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2024). Banyaknya desa/kelurahan menurut ketersediaan lapangan olahraga [Tabel statistik]. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/OTc0IzI=/banyaknya-desa-kelurahan-menurut-ketersediaan-lapangan-olahraga.html (diakses 28 Juli 2026)

Badan Pusat Statistik. (2025, 28 Mei). Statistik sosial budaya 2024. https://www.bps.go.id/id/publication/2025/05/28/1b5cdf50f49c754c3b581bd2/statistik-sosial-budaya-2024.html (diakses 28 Juli 2026)

Core & Court, & Growell. (2025). Indonesia padel report 2025 [Presentasi]. SlideShare. https://www.slideshare.net/slideshow/indonesia-padel-report-2025-presentation/284682956 (diakses 28 Juli 2026)

Detik. (2025, 18 Juli). Dikenai pajak 10%, lapangan padel masih jadi rebutan. https://news.detik.com/berita/d-8018334/dikenai-pajak-10-lapangan-padel-masih-jadi-rebutan (diakses 28 Juli 2026)

European Business Magazine. (2026, 9 Mei). Sweden burned €500 million on padel. The UK is next. https://europeanbusinessmagazine.com/sweden-padel-mania-bankruptcies/ (diakses 28 Juli 2026)

Litbang Kompas. (2026). Tingkat pendidikan pengaruhi pemilihan jenis olahraga. Kompas Data. https://data.kompas.id/data-detail/kompas_statistic/695c9194c97bbc4e90c46b15 (diakses 28 Juli 2026)

Padel Tonic. (2025, 7 Oktober). Sweden's padel collapse offers a global lesson for the sport's future. https://padel.tennistonic.com/padel-news/9930/swedens-padel-collapse-offers-a-global-lesson-for-the-sports-future/ (diakses 28 Juli 2026)

Playtomic, & PwC Strategy&. (2025). Global padel report 2025. Dilansir dari Campaign Indonesia. https://www.campaignindonesia.id/article/padel-bakal-bernasib-seperti-zumba-data-bicara-lain/1941682 (diakses 28 Juli 2026)

Suara. (2026, 12 Mei). Lapangan padel dijual Rp199 juta, tanda bisnis gaya hidup urban mulai kolaps? https://yoursay.suara.com/news/2026/05/12/163401/lapangan-padel-dijual-rp199-juta-tanda-bisnis-gaya-hidup-urban-mulai-kolaps (diakses 28 Juli 2026)

Tempo. (2025). Outlook ekonomi 2026: Bisnis padel setelah lapangan menjamur. https://www.tempo.co/ekonomi/outlook-ekonomi-2026-bisnis-padel-setelah-lapangan-menjamur-2099147 (diakses 28 Juli 2026)

Tempo. (2026, 26 Februari). Aturan terbaru pembangunan lapangan padel di Jakarta. https://www.tempo.co/hukum/aturan-terbaru-pembangunan-lapangan-padel-di-jakarta-2118026 (diakses 28 Juli 2026)


Curated For You

Editorial Team

Related Article