Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install

Nostalgia Marketing: Kenapa Industri Kreatif Menjual Masa Lalu?

Nostalgia Marketing: Kenapa Industri Kreatif Menjual Masa Lalu?
Naykilla tampil dengan gaya fashion ala Y2K (instagram.com/naykillaaa)
Intinya Sih
  • Industri kreatif Indonesia menghidupkan kembali Y2K, Frutiger Aero, barang lawas, dan lagu lama karena referensi familiar lebih cepat menarik perhatian di tengah banjir konten digital.
  • Keakraban memudahkan audiens mengenali dan menyukai konten, sementara nostalgia membangun keterlibatan emosional yang dapat meningkatkan niat beli, bukan sekadar menjual kenangan.
  • Y2K telah berkembang menjadi kategori produk, tetapi efektivitas nostalgia bergantung pada relevansi aset budaya dan kedekatan brand dengan audiens, bukan sekadar mengikuti estetika populer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sepanjang satu tahun terakhir, berbagai tren yang tampaknya tidak saling berkaitan muncul hampir bersamaan di Indonesia. Pencarian Google untuk Y2K mencapai puncaknya pada Februari 2026, sementara estetika Frutiger Aero kembali ramai di TikTok. Dead stock store seperti Celebrate di Bandung menjadi destinasi berburu barang lawas. Di industri musik, RAN merilis ulang video musik Pandangan Pertama dengan merekonstruksi hampir setiap detail visual dari versi 2006, mulai dari wardrobe, sudut kamera, hingga tone warna. Pada periode yang sama, lagu-lagu seperti Sang Dewi dan Mencintaimu juga kembali hadir melalui interpretasi baru.

Sekilas, fenomena-fenomena tersebut tampak berdiri sendiri. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, semuanya mengarah pada pola yang sama: industri kreatif semakin sering menghidupkan kembali aset budaya yang pernah populer. Bukan hanya lagu, tetapi juga estetika, gaya berpakaian, hingga pengalaman berbelanja.

Yang menarik, tren ini muncul di industri dengan siklus bisnis yang sangat berbeda. Fashion bergerak mengikuti musim, musik bergantung pada katalog yang bisa berumur puluhan tahun, sementara tren media sosial berubah dalam hitungan hari. Meski begitu, semuanya tampak menuju arah yang sama, yakni memanfaatkan sesuatu yang sudah akrab di benak konsumen.

Mengapa? Bukankah teknologi justru membuat industri kreatif semakin mudah menciptakan sesuatu yang benar-benar baru? Mengapa, di tengah ledakan kreativitas digital, masa lalu justru kembali menjadi bahan baku yang paling banyak diperdagangkan?

Digital Nostalgia Marketing bisa Menjadi Jawaban di Tengah Kelangkaan Atensi

Teknologi membuat menciptakan konten menjadi semakin mudah. Musisi dapat merilis lagu tanpa label besar, brand dapat memproduksi iklan hanya dengan bantuan AI, dan kreator bisa menjangkau jutaan orang melalui media sosial. Hambatan untuk memproduksi dan mendistribusikan karya memang semakin rendah.

Namun, kemudahan tersebut juga menciptakan konsekuensi baru: jumlah konten bertambah jauh lebih cepat dibanding perhatian yang dimiliki konsumen.

Setiap hari konsumen dihadapkan pada ratusan video pendek, rekomendasi lagu, serial baru, hingga kampanye digital yang bersaing dalam ruang dan waktu yang sama. Dalam situasi seperti ini, tantangannya bukan lagi sekadar membuat sesuatu yang baru, tetapi membuat sesuatu yang langsung dikenali sebelum pengguna menggulir ke konten berikutnya.

Di sinilah kebaruan menghadapi tantangannya sendiri. Sesuatu yang benar-benar baru membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Konsumen perlu mengenali gaya visualnya, memahami referensinya, atau membangun ketertarikan dari awal. Sebaliknya, sesuatu yang terasa familiar dapat diproses lebih cepat karena sudah memiliki titik acuan di benak audiens.

Dengan kata lain, yang semakin langka hari ini bukan kreativitas, melainkan perhatian. Ketika perhatian menjadi sumber daya yang terbatas, sesuatu yang sudah akrab memperoleh keuntungan karena mampu mengurangi usaha yang dibutuhkan konsumen untuk mengenalinya.

Mengapa yang Familiar Lebih Cepat Menang

Perhatian yang semakin terbatas belum otomatis membuat nostalgia menjadi strategi yang efektif. Yang membedakannya adalah cara otak memproses sesuatu yang sudah dikenal. Di tengah banjir informasi, konsumen cenderung lebih cepat mengenali dan memahami hal-hal yang terasa akrab dibanding sesuatu yang benar-benar baru. 

Ketika konsumen melihat estetika Y2K, mendengar kembali lagu yang pernah populer, atau menemukan visual yang terasa akrab, mereka tidak perlu memahami semuanya dari awal. Mereka sudah memiliki referensi sebelumnya, sehingga proses mengenali dan memberi makna berlangsung lebih cepat. Dalam lingkungan digital yang serba cepat, keunggulan beberapa detik ini dapat menentukan apakah seseorang berhenti melihat sebuah konten atau langsung menggulir ke konten berikutnya.

Fenomena ini dijelaskan oleh Reber, Schwarz, dan Winkielman (2004) melalui konsep processing fluency. Mereka menemukan bahwa sesuatu yang lebih mudah diproses oleh otak cenderung menghasilkan respons yang lebih positif. Semakin akrab sebuah stimulus, semakin sedikit usaha mental yang dibutuhkan untuk memahaminya, sehingga peluang untuk disukai pun meningkat. Temuan tersebut juga sejalan dengan mere exposure effect yang diperkenalkan oleh Zajonc (1968), yaitu kecenderungan seseorang lebih menyukai sesuatu hanya karena pernah melihat atau mengalaminya berulang kali.

Artinya, keakraban bukan hanya membantu konsumen mengenali sebuah produk atau karya dengan lebih cepat. Keakraban juga membuat proses menyukainya menjadi lebih mudah. Inilah yang menjadikan aset budaya yang sudah dikenal memiliki nilai ekonomi, bukan sekadar nilai nostalgia.

Lapisan berikutnya adalah emosi. Penelitian Jain, Mishra, dan Kothari (2025) menunjukkan bahwa nostalgia tidak secara langsung mendorong niat beli. Nostalgia terlebih dahulu membangun keterlibatan emosional, dan keterlibatan emosional inilah yang kemudian meningkatkan niat konsumen untuk membeli. Dengan kata lain, yang dijual bukan semata-mata kenangan masa lalu, melainkan hubungan emosional yang muncul ketika konsumen merasa terhubung dengan pengalaman tersebut.

Nostalgia Tidak Selalu Berasal dari Ingatan

Data penelusuran di Indonesia justru membalik asumsi umum tentang nostalgia. Dalam kelompok kueri Y2K sepanjang Juli 2025 hingga Juli 2026, pencarian "what is y2k" meningkat 250 persen, "what is y2k fashion" naik 130 persen, dan "apa itu y2k style" meningkat 50 persen. Pada periode yang sama, pencarian "what is frutiger aero" juga naik 70 persen (Google Trends, 2026).

Temuan ini menunjukkan bahwa banyak orang tertarik pada estetika tersebut justru karena mereka belum mengenalnya. Tidak ada orang yang mencari definisi dari sesuatu yang ia ingat. Artinya, kebangkitan Y2K dan Frutiger Aero tidak sepenuhnya didorong oleh nostalgia personal.

Bagi brand, temuan ini membawa implikasi penting. Nilai Y2K bukan semata-mata terletak pada kemampuannya membangkitkan kenangan, melainkan karena ia telah menjadi referensi budaya yang dikenali secara luas. Ingatan pribadi hanyalah salah satu pintu masuk menuju referensi tersebut, bukan satu-satunya. Jain, Mishra, dan Kothari (2025) menyebut fenomena ini sebagai vicarious nostalgia, yaitu nostalgia yang terbentuk melalui paparan media terhadap masa yang tidak pernah dialami secara langsung.

Dengan kata lain, Y2K dan Frutiger Aero telah berkembang menjadi bahasa budaya yang dapat dipahami lintas generasi. Ketika brand menggunakan referensi tersebut, mereka tidak sekadar meminjam estetika masa lalu, tetapi juga memanfaatkan makna yang sudah hidup di benak audiens. Di tengah persaingan perhatian yang berlangsung dalam hitungan detik, strategi ini memungkinkan pesan dipahami lebih cepat tanpa harus membangun konteks dari awal.

Nostalgia Menjadi Aset yang Siap Digunakan

Teknologi digital tidak hanya membuat produksi konten menjadi lebih cepat, tetapi juga membuat estetika masa lalu semakin mudah digunakan kembali. Di Google Trends, pencarian seperti "y2k app", "y2k edit", "y2k font", "y2k filter", hingga "digicamfx" menunjukkan bahwa Y2K kini tidak lagi sekadar menjadi inspirasi, tetapi telah tersedia sebagai kumpulan aset yang siap dipakai (Google Trends, 2026).

Artinya, brand dan kreator tidak perlu lagi membangun ulang estetika tersebut dari nol. Elemen visual, filter, font, hingga preset telah tersedia dan dapat diadaptasi hanya dalam hitungan menit. Hal ini menurunkan biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali sebuah referensi budaya.

Namun, kemudahan ini juga menciptakan paradoks. Ketika semua orang dapat memproduksi konten dengan cepat, jumlah konten meningkat jauh lebih cepat daripada perhatian audiens. Dalam kondisi tersebut, menggunakan referensi yang sudah dikenal menjadi cara yang lebih efisien untuk memperoleh perhatian dibanding membangun identitas baru dari awal.

Logika yang sama terlihat di industri hiburan. Lagu Mencintaimu telah dikomersialisasikan dalam beberapa versi selama lebih dari dua dekade. Bagi rumah produksi, menggunakan lagu yang sudah memiliki pengenalan publik berarti mengurangi risiko membangun kedekatan emosional dari nol. Yang dipinjam bukan hanya lagunya, tetapi juga perhatian dan asosiasi yang telah lebih dulu dimiliki audiens.

Implikasi untuk Brand

Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa nostalgia bukan sekadar pilihan estetika, melainkan strategi untuk mempercepat proses pengenalan di tengah persaingan perhatian yang semakin padat. Namun, tidak semua bentuk nostalgia menghasilkan nilai bisnis yang sama.

Data Google Trends memperlihatkan bahwa Y2K berkembang hingga menjadi kategori produk. Pencarian seperti "y2k shirt", "baju y2k", hingga "nike y2k" menunjukkan bahwa estetika tersebut telah diterjemahkan menjadi niat membeli. Sebaliknya, Frutiger Aero masih didominasi pencarian yang bersifat dekoratif, seperti wallpaper dan ikon. Artinya, tidak semua tren budaya memiliki jalur yang jelas menuju transaksi.

Selain itu, efektivitas nostalgia juga bergantung pada hubungan yang sudah dimiliki brand dengan audiensnya. Jain, Mishra, dan Kothari (2025) menemukan bahwa nostalgia memberikan dampak yang lebih besar pada brand yang telah memiliki kedekatan dengan konsumennya. Dengan kata lain, nostalgia lebih efektif memperkuat hubungan yang sudah ada daripada membangun hubungan dari nol.

Karena itu, tantangan terbesar bagi brand bukan sekadar mengikuti tren nostalgia, tetapi memilih aset budaya yang benar-benar relevan dengan identitas mereka. Ketika sebuah estetika dapat digunakan oleh siapa saja, keunggulan kompetitif tidak lagi berasal dari estetika itu sendiri, melainkan dari bagaimana brand memberi makna baru terhadapnya.

RAN menunjukkan salah satu contoh yang menarik. Alih-alih sekadar mengulang video musik lama, mereka merekonstruksi Pandangan Pertama dalam konteks baru sehingga menghubungkan kembali karya lama dengan audiens masa kini. Nilai yang dibangun bukan hanya berasal dari nostalgia, tetapi juga dari kemampuan menghidupkan kembali aset yang memang sudah menjadi bagian dari identitas mereka.

Pada akhirnya, nostalgia bukanlah komoditas yang langka. Yang langka adalah perhatian konsumen. Ketika semakin banyak brand menggunakan referensi budaya yang sama, diferensiasi tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengikuti tren, tetapi oleh siapa yang mampu memberikan makna baru pada memori yang sudah dimiliki audiens.

Penutup

Bagi brand, nostalgia bukan tujuan akhir, melainkan salah satu strategi untuk membuat pesan lebih cepat dikenali di tengah persaingan perhatian yang semakin ketat. 

Namun, justru karena strategi ini semakin mudah dilakukan, keunggulannya juga semakin cepat berkurang. Estetika Y2K, filter bergaya digicam, hingga referensi visual lain kini dapat diakses dan digunakan oleh siapa saja. Ketika semakin banyak brand menggunakan kode budaya yang sama, nostalgia perlahan berubah menjadi komoditas.

Karena itu, pertanyaan strategis bagi brand bukan lagi apakah perlu memanfaatkan nostalgia, melainkan aset apa yang sebenarnya layak dihidupkan kembali. Brand yang hanya mengikuti estetika yang sedang populer akan berbagi perhatian dengan banyak kompetitor. Sebaliknya, brand yang menghidupkan kembali aset miliknya sendiri, baik berupa produk ikonik, kampanye lama, identitas visual, maupun cerita yang telah menjadi bagian dari perjalanan brand, memiliki peluang membangun hubungan yang lebih autentik dan sulit ditiru.

Dengan kata lain, keunggulan bukan lagi berasal dari masa lalu yang dipilih, melainkan dari cara brand memberi makna baru pada aset yang sebelumnya sudah ada.

Daftar Pustaka

Antara. (2023, 28 April). Kris Dayanti rilis ulang lagu hit "Mencintaimu". Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/3511224/kris-dayanti-rilis-ulang-lagu-hit-mencintaimu

Google Trends. (2026). Kueri penelusuran terkait "Y2K" dan "Frutiger Aero", Indonesia, 27 Juli 2025 sampai 27 Juli 2026 [Kumpulan data]. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://trends.google.com/

Jain, T., Mishra, V. K., & Kothari, D. (2025). Digital nostalgia marketing: How past-centric ads affect Gen Z consumption. Advances in Consumer Research, 2(4), 4279–4291. https://acr-journal.com/article/digital-nostalgia-marketing-how-past-centric-ads-affect-gen-z-consumption-1527/

KapanLagi.com. (2022, 12 Agustus). Lyodra dan Andi Rianto remake lagu "Sang Dewi", begini respon Titi DJ. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/lyodra-dan-andi-rianto-remake-lagu-sang-dewi-begini-respon-titi-dj-886f39.html

Liputan6.com. (2024, 11 Desember). Mahalini rekam ulang lagu Mencintaimu hit lawas Krisdayanti, soundtrack film 2nd Miracle in Cell No. 7. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.liputan6.com/showbiz/read/5830936/mahalini-rekam-ulang-lagu-mencintaimu-hit-lawas-krisdayanti-soundtrack-film-2nd-miracle-in-cell-no-7

Reber, R., Schwarz, N., & Winkielman, P. (2004). Processing fluency and aesthetic pleasure: Is beauty in the perceiver's processing experience? Personality and Social Psychology Review, 8(4), 364–382.

RRI. (2026). Fenomena hipdut dinilai ubah cara generasi muda mengapresiasi budaya lokal. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://rri.co.id/singaraja/hiburan/2577090/fenomena-hipdut-dinilai-ubah-cara-generasi-muda-mengapresiasi-budaya-lokal

RRI. (2026). Tren busana ala Naykilla ramai di-recreate warganet TikTok, ini ciri khas gayanya. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://rri.co.id/sorong/hiburan/2577936/tren-busana-ala-naykilla-ramai-di-recreate-warganet-tiktok-ini-ciri-khas-gayanya

Tempo.co. (2026, 26 Mei). Cerita RAN di balik remake video musik Pandangan Pertama. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.tempo.co/teroka/cerita-ran-di-balik-remake-video-musik-pandangan-pertama-2138323

Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Journal of Personality and Social Psychology, 9(2, Pt. 2), 1–27.

Share Article
Editorial Team