34% Orang Indonesia Kini Mengandalkan TikTok untuk Berita

- Penggunaan TikTok sebagai sumber berita di Indonesia melonjak dari 11 persen pada 2021 menjadi 34 persen pada 2025, menjadikannya platform dengan pertumbuhan tercepat untuk konsumsi informasi.
- Sebanyak 51 persen anak muda lebih mempercayai kreator konten dibanding media konvensional, seiring meningkatnya konsumsi berita berbasis video pendek yang dianggap lebih relevan dan autentik.
- Laporan menunjukkan 92 persen pengguna media sosial pernah terpapar hoaks, sementara kepercayaan terhadap media tradisional menurun, menandakan tantangan besar bagi literasi digital dan verifikasi informasi.
Lima tahun lalu, hanya 11 persen orang Indonesia mendapatkan berita dari TikTok. Hari ini, angkanya mencapai 34 persen.
Menurut Reuters Institute Digital News Report 2025 yang dianalisis oleh News and Media Research Centre, Universitas Canberra, lebih dari 60 persen orang Indonesia tidak mempercayai atau bersikap ambivalen terhadap berita yang mereka baca atau tonton. Dalam periode yang sama, penggunaan TikTok sebagai sumber berita naik dari 11 persen pada 2021 menjadi 34 persen pada 2025. Kenaikan 23 poin persentase dalam empat tahun ini menjadi yang tercepat dibandingkan platform lain.
Data lima tahun terakhir menunjukkan bahwa pergeseran ini sudah berlangsung cukup lama dan tidak bisa dijelaskan hanya oleh viralitas konten.
Bayangkan kamu mendengar kabar banjir besar di kota asalmu. Alih-alih membuka situs berita, kamu membuka TikTok terlebih dahulu.
Ini bukan sekadar ilustrasi. Setidaknya tiga lembaga riset berbeda mencatat pola yang sama dalam lima tahun terakhir: semakin banyak orang mencari informasi melalui media sosial, khususnya TikTok.
Table of Content
Bukan Tren Baru, tapi Tren yang Sudah Lama Berjalan
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Katadata Insight Center telah mencatat gejala ini sejak 2020. Dalam Laporan Status Literasi Digital Indonesia 2022, lebih dari 70 persen responden menyebut media sosial sebagai sumber informasi utama. Sebaliknya, hanya sekitar 30 persen yang masih mengandalkan media cetak dan media online.
Media cetak dan radio bahkan hanya dipercaya oleh kurang dari 1 persen responden. Televisi masih menjadi sumber informasi penting, tetapi porsinya turun menjadi 43,5 persen pada 2022.
Kenaikan TikTok sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum menjadi perbincangan publik. Pengguna yang memanfaatkan TikTok sebagai sumber informasi meningkat dari 17 persen pada 2020 menjadi 40 persen pada 2022, hampir dua kali lipat hanya dalam dua tahun.
Temuan ini menunjukkan bahwa pergeseran perilaku informasi masyarakat bukan terjadi secara tiba-tiba. Perubahan tersebut berlangsung secara konsisten sejak awal dekade.
Kecepatan yang Mengejutkan
Data Reuters Institute 2025 memperkuat temuan tersebut. Sebanyak 57 persen orang Indonesia menggunakan media sosial untuk mendapatkan berita, dan 40 persen menjadikannya sumber berita utama.
Pada saat yang sama, 75 persen konsumen berita Indonesia mengaku kadang atau sering menghindari berita mainstream. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata 42 negara dalam survei yang sama (71 persen) maupun Australia (69 persen).
Mereka tidak menghindari berita karena tidak peduli. Reuters Institute menemukan bahwa alasan utama di balik fenomena ini adalah kelelahan. Banyak responden merasa berita terlalu dipenuhi isu politik dan konflik, serta terasa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari mereka.
WhatsApp masih digunakan oleh 43 persen masyarakat Indonesia untuk mengakses berita, tetapi angkanya turun 17 poin persentase dibanding lima tahun sebelumnya. Facebook berada di angka 39 persen, sementara TikTok telah mencapai 34 persen sebagai sumber berita dan informasi, bukan sekadar platform hiburan.
Mengapa Audience Berpindah Figur Kepercayaan?
Reuters Institute Digital News Report 2026 memberikan petunjuk yang lebih jelas. Sebanyak 51 persen responden berusia 18–24 tahun mengaku lebih memperhatikan kreator konten dan figur personal dibanding media konvensional, yang hanya dipilih oleh 39 persen responden. Menurut Amy Ross-Arguedas dari Reuters Institute for the Study of Journalism, anak muda cenderung memandang kreator sebagai sosok yang lebih dekat, relevan, dan autentik.
Perubahan ini tidak hanya terkait siapa yang menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana informasi disampaikan. Secara global, konsumsi berita berbasis video meningkat dari 52 persen pada 2020 menjadi 65 persen pada 2025. Kenaikan ini lebih kuat di negara-negara Asia seperti Indonesia, India, dan Thailand dibandingkan negara-negara Eropa. Format yang singkat, audiovisual, dan personal semakin sesuai dengan cara generasi muda mengonsumsi informasi.
Reuters Institute 2026 juga mencatat menurunnya minat terhadap berita. Hanya 35 persen anak muda yang mengaku memiliki minat tinggi terhadap berita, turun dari sekitar 60 persen satu dekade lalu. Sebanyak 42 persen bahkan mengaku sering atau sesekali menghindari berita sama sekali.
Paradoks yang Sulit Diabaikan
Laporan Status Literasi Digital Indonesia 2022 menunjukkan bahwa 92 persen pengguna media sosial pernah menemukan hoaks di platform tersebut. Sebaliknya, hanya 16 persen yang mengaku menemukannya di media online.
Dengan kata lain, platform yang paling sering digunakan untuk mencari informasi juga menjadi tempat di mana pengguna paling sering menemukan informasi palsu.
Fenomena ini mencerminkan cara kepercayaan bekerja di era media sosial. Orang tidak selalu memilih sumber yang paling akurat. Mereka lebih sering memilih sumber yang terasa dekat, relevan, dan mudah diakses.
Penelitian ISEAS pada 2025 mengenai Pemilu Presiden 2024 menambahkan lapisan penjelasan lain. Algoritma TikTok cenderung memperkuat keyakinan yang sudah dimiliki pengguna melalui mekanisme echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang lebih banyak terpapar informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri.
Dalam konteks politik, kondisi ini dapat mempercepat penyebaran disinformasi karena pengguna merasa informasi yang mereka terima sudah cukup mewakili kenyataan.
Algoritma sebagai Infrastruktur Informasi
Indonesia menjadi pasar pengguna TikTok terbesar kedua di dunia pada Februari 2025 dengan 107,7 juta pengguna. Jumlah ini bahkan melampaui pengguna Facebook di Indonesia.
Besarnya skala tersebut membuat TikTok tidak lagi sekadar platform hiburan. Bagi sebagian masyarakat, platform ini telah menjadi salah satu infrastruktur utama distribusi informasi.
Konsekuensinya meluas ke berbagai sektor yang bergantung pada informasi yang akurat, mulai dari politik dan kesehatan publik hingga perlindungan konsumen.
Yang perlu dicatat, angka 92 persen paparan hoaks berasal dari 2022, ketika jumlah pengguna TikTok di Indonesia masih jauh lebih kecil dibanding sekarang. Data terbaru mengenai tingkat paparan hoaks pada skala pengguna saat ini memang belum tersedia. Namun sejauh ini belum ada indikasi bahwa risiko tersebut menurun.
Verifikasi: Yang Tidak Bisa Direplikasi Algoritma
Di tengah pergeseran cara masyarakat mengakses informasi, ada satu fungsi yang belum benar-benar berpindah ke platform media sosial: verifikasi.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, dalam peringatan World Press Freedom Day 2026 di Jakarta, menyatakan bahwa media mainstream masih menjadi rujukan publik ketika terjadi krisis atau peristiwa besar yang membutuhkan informasi akurat. Ketika masyarakat perlu memastikan apakah sebuah informasi benar atau tidak, standar verifikasi dan akuntabilitas redaksional tetap menjadi pembeda utama.
Hal ini menunjukkan bahwa pergeseran konsumsi berita tidak selalu berarti hilangnya kebutuhan terhadap jurnalisme. Yang berubah adalah cara audiens menemukan informasi tersebut.
Tantangannya bukan lagi sekadar menghasilkan informasi yang akurat, tetapi menghadirkannya dalam format dan platform yang digunakan audiens saat ini. Reuters Institute 2026 mencatat bahwa format berita yang analitis dan berimbang kini bersaing dengan konten yang lebih personal, emosional, dan menghibur. Dalam lanskap seperti ini, kualitas informasi tetap penting, tetapi tidak lagi cukup untuk menjamin perhatian audiens.
Implikasi bagi Brand, Media, dan Pembuat Kebijakan
Bagi brand, perubahan yang terjadi bukan hanya perpindahan dari satu platform ke platform lain. Yang berubah adalah pola kepercayaan audiens. Semakin banyak orang mendapatkan informasi melalui figur personal yang mereka ikuti sehari-hari, mulai dari kreator konten hingga influencer yang dianggap dekat dengan pengalaman mereka.
Kondisi ini membuat kreator tidak lagi berperan semata sebagai saluran promosi. Dalam banyak kasus, mereka juga berfungsi sebagai penyampai informasi dan pembentuk opini. Karena itu, pertanyaan bagi brand bukan lagi apakah perlu bekerja sama dengan kreator, melainkan bagaimana memastikan informasi yang disampaikan tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi industri media, tantangannya berbeda. Data menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap informasi yang terverifikasi masih ada, tetapi perhatian audiens semakin tersebar ke berbagai platform dan format. Persaingan tidak hanya terjadi antarorganisasi media, melainkan juga dengan kreator independen, algoritma rekomendasi, dan berbagai bentuk konten yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.
Sementara itu, bagi pembuat kebijakan, perkembangan ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital perlu bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Indeks Literasi Digital Indonesia memang meningkat dari 3,49 pada 2021 menjadi 3,54 pada 2022. Namun, dalam periode yang sama, pola konsumsi informasi masyarakat berubah jauh lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan kemampuan untuk menilai kualitas informasi tersebut.
Ketika sebagian besar masyarakat memperoleh informasi melalui platform yang sangat dipengaruhi algoritma, kemampuan membedakan informasi yang akurat, menyesatkan, atau sengaja dimanipulasi menjadi semakin penting. Tantangannya bukan hanya memastikan akses terhadap informasi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk menilai informasi yang mereka terima.
Pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan lagi apakah TikTok akan menjadi sumber berita yang semakin dominan. Data menunjukkan proses itu sudah berlangsung. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kemampuan masyarakat untuk memverifikasi informasi dapat berkembang secepat perubahan cara mereka mengonsumsinya.
Sumber:
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) & Katadata Insight Center. Status Literasi Digital Indonesia 2022. Dipublikasikan 1 Februari 2023. Metodologi: survei nasional. Dilaporkan oleh Asia News Network / The Jakarta Post.
Park, Sora, Fisher, Caroline & Mardjianto, Lilik. "Social media dominates news consumption in Indonesia as TikTok surges." 360info, 16 Juli 2025. Berdasarkan Reuters Institute Digital News Report 2025, dianalisis oleh News and Media Research Centre, Universitas Canberra. Metodologi: survei YouGov, Januari–Februari 2025.
Aranditio, Stephanus. "Young People Now Trust Content Creators More Than Media Analytics." Kompas.id, 14 Mei 2026. Berdasarkan diskusi online Reuters Institute, "From Creators to Newsrooms: How Young Audiences Interact with News," 14 Mei 2026, dan Reuters Institute Digital News Report 2026.
Jalli, Nuurrianti, Unggraini, Ika Ningtyas & Setianto, Yearry Panji. "How TikTok's Visual Politics Shaped Indonesia's 2024 Election." ISEAS Perspective, No. 52, 21 Juli 2025. Institut Southeast Asian Studies, Singapura.
Newman, Nic et al. Digital News Report 2025: Overview and Key Findings. Reuters Institute for the Study of Journalism, Universitas Oxford.
