Sepanjang 2025, Bali menerima 6.948.754 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), sementara ekonominya tumbuh 5,82 persen, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali. Kunjungan wisman juga naik 9,72 persen dibandingkan 2024, sementara perjalanan wisatawan nusantara ke Bali tumbuh 17,53 persen. Pada triwulan IV-2025, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menghasilkan nilai tambah Rp18,80 triliun atau 22,10 persen dari PDRB Bali.
Angka-angka tersebut menunjukkan pasar yang sedang tumbuh. Namun, bagi bisnis, ukuran pertumbuhan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
Pertanyaan yang lebih strategis adalah: ketika demand baru masuk ke Bali, ke mana pengeluarannya mengalir, siapa yang sudah memiliki hubungan dengan konsumen, dan siapa yang paling siap menangkap nilainya?
Digital nomad menjadi salah satu lens untuk membaca perubahan tersebut. Jumlahnya relatif kecil dibandingkan keseluruhan wisatawan, tetapi pola tinggal dan konsumsinya memperlihatkan bagaimana wisatawan yang menetap lebih lama dapat menciptakan demand yang menyebar ke berbagai kategori bisnis.
Dengan kata lain, peluangnya bukan semata-mata pada siapa konsumennya, tetapi pada ekosistem konsumsi yang terbentuk di sekitar mereka.
