Bayangkan kamu membuka aplikasi bank di akhir bulan. Deretan potongan langganan berbaris rapi: streaming, musik, tools desain, penyimpanan cloud. Total tagihannya lebih besar dari yang kamu ingat. Lalu kamu sadar bahwa dua dari lima layanan itu sudah berminggu-minggu tidak kamu buka.
Situasi semacam ini bukan cuma tentang keborosan. Ia mencerminkan sebuah pergeseran nyata dalam cara anak muda Indonesia berhubungan dengan layanan digital berbayar. Riset IDN Research Institute terhadap 505 responden Millennial dan Gen Z di wilayah urban dan suburban Indonesia menemukan bahwa 48% dari mereka tidak berlangganan satu pun layanan berbayar. Bukan karena tidak tahu, bukan karena tidak mampu secara teknis, tetapi karena mereka memilih tidak.
Angka ini layak dibaca dengan serius, terutama oleh brand dan pembuat kebijakan yang selama ini berasumsi bahwa digitalisasi otomatis berarti adopsi berbayar.
