Produksi rokok nasional sedang turun. Mengutip Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, produksi sampai Maret 2025 turun 4,2 persen dibanding tahun sebelumnya (Antara, 2025). INDEF mencatat produksi 2025 sekitar 307,9 miliar batang, terendah dalam beberapa tahun terakhir, dan trennya sudah menurun sejak 2019 (Tribunnews, 2026). Penerimaan Cukai Hasil Tembakau ikut turun, dari Rp216 triliun ke Rp212 triliun.
Sementara itu, pada Maret 2026 Badan Pusat Statistik mencatat 22,93 juta penduduk miskin atau 8,07 persen dari total populasi, dengan Garis Kemiskinan nasional Rp669.235 per kapita per bulan. Setelah beras, komoditas dengan pangsa pengeluaran terbesar kedua dalam Garis Kemiskinan adalah rokok kretek filter: 10,83 persen di perkotaan dan 10,18 persen di perdesaan (BPS, 2026). Jaraknya dengan urutan berikutnya cukup jauh. Telur ayam ras tercatat 4,69 persen dan daging ayam ras 4,42 persen di perkotaan.
Di satu sisi, volume yang keluar dari pabrik berkurang. Di sisi lain, rokok kretek filter tetap menempati posisi kedua dalam komponen Garis Kemiskinan.
Angka 10,83 persen ini perlu dibaca dengan hati-hati karena cukup mudah disalahartikan. BPS menghitung pangsa sebuah komoditas dalam nilai rupiah Garis Kemiskinan, bukan seberapa besar komoditas tersebut menyebabkan seseorang jatuh miskin. Nilai Garis Kemiskinan sendiri disusun dari pola konsumsi penduduk referensi, yaitu kelompok 20 persen di atas Garis Kemiskinan Sementara. Jadi, angka tersebut juga bukan gambaran langsung tentang belanja penduduk miskin.
Penyebutnya adalah Garis Kemiskinan secara keseluruhan, yang mencakup komponen makanan dan bukan makanan. Itu sebabnya beras, rokok kretek filter, dan perumahan bisa muncul dalam daftar yang sama.
Lalu, bagaimana rokok bisa masuk ke dalam perhitungan kebutuhan dasar tersebut?
Garis Kemiskinan Makanan dihitung sebagai nilai rupiah untuk memenuhi kebutuhan energi minimal 2.100 kilokalori per kapita per hari, dan diturunkan dari 52 jenis komoditas hasil Susenas (BPS, 2015). Rokok kretek filter termasuk di dalamnya, meski tentu saja tidak menyumbang satu kalori pun.
Kuncinya ada pada cara keranjang tersebut disusun. Komoditas di dalamnya berasal dari pola belanja nyata penduduk referensi. BPS tidak sedang menentukan apa yang seharusnya dibeli masyarakat. Yang dicatat adalah apa yang benar-benar dibeli.
