Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Produksi Rokok Turun, Ke Mana Konsumen Berpindah?
ilustrasi asap rokok (magnific.com/nensuria)
  • Produksi rokok nasional turun 4,2 persen dan penerimaan cukai menyusut, tapi pangsa pengeluaran rokok kretek filter dalam Garis Kemiskinan tetap di urutan kedua setelah beras.

  • Yang bergerak adalah komposisinya, bukan jumlah konsumennya. Golongan I turun 10 persen, Golongan III naik 7 persen, SKT naik 13,3 persen. Volume yang turun tidak otomatis berarti orang keluar dari kategori.

  • Data produksi mencakup seluruh pasar nasional, sedangkan Garis Kemiskinan disusun dari konsumsi penduduk referensi. Apakah perpindahan tingkat harga juga terjadi di rumah tangga berpendapatan rendah, belum ada yang mengukur.

  • Angkanya berbeda jauh antarwilayah, dari 6,15 persen di perdesaan DIY sampai 15,30 persen di perkotaan Bengkulu. Pola nasional tidak bisa langsung dipakai untuk merencanakan per daerah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Produksi rokok nasional sedang turun. Mengutip Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, produksi sampai Maret 2025 turun 4,2 persen dibanding tahun sebelumnya (Antara, 2025). INDEF mencatat produksi 2025 sekitar 307,9 miliar batang, terendah dalam beberapa tahun terakhir, dan trennya sudah menurun sejak 2019 (Tribunnews, 2026). Penerimaan Cukai Hasil Tembakau ikut turun, dari Rp216 triliun ke Rp212 triliun.

Sementara itu, pada Maret 2026 Badan Pusat Statistik mencatat 22,93 juta penduduk miskin atau 8,07 persen dari total populasi, dengan Garis Kemiskinan nasional Rp669.235 per kapita per bulan. Setelah beras, komoditas dengan pangsa pengeluaran terbesar kedua dalam Garis Kemiskinan adalah rokok kretek filter: 10,83 persen di perkotaan dan 10,18 persen di perdesaan (BPS, 2026). Jaraknya dengan urutan berikutnya cukup jauh. Telur ayam ras tercatat 4,69 persen dan daging ayam ras 4,42 persen di perkotaan.

Di satu sisi, volume yang keluar dari pabrik berkurang. Di sisi lain, rokok kretek filter tetap menempati posisi kedua dalam komponen Garis Kemiskinan.

Angka 10,83 persen ini perlu dibaca dengan hati-hati karena cukup mudah disalahartikan. BPS menghitung pangsa sebuah komoditas dalam nilai rupiah Garis Kemiskinan, bukan seberapa besar komoditas tersebut menyebabkan seseorang jatuh miskin. Nilai Garis Kemiskinan sendiri disusun dari pola konsumsi penduduk referensi, yaitu kelompok 20 persen di atas Garis Kemiskinan Sementara. Jadi, angka tersebut juga bukan gambaran langsung tentang belanja penduduk miskin.

Penyebutnya adalah Garis Kemiskinan secara keseluruhan, yang mencakup komponen makanan dan bukan makanan. Itu sebabnya beras, rokok kretek filter, dan perumahan bisa muncul dalam daftar yang sama.

Lalu, bagaimana rokok bisa masuk ke dalam perhitungan kebutuhan dasar tersebut?

Garis Kemiskinan Makanan dihitung sebagai nilai rupiah untuk memenuhi kebutuhan energi minimal 2.100 kilokalori per kapita per hari, dan diturunkan dari 52 jenis komoditas hasil Susenas (BPS, 2015). Rokok kretek filter termasuk di dalamnya, meski tentu saja tidak menyumbang satu kalori pun.

Kuncinya ada pada cara keranjang tersebut disusun. Komoditas di dalamnya berasal dari pola belanja nyata penduduk referensi. BPS tidak sedang menentukan apa yang seharusnya dibeli masyarakat. Yang dicatat adalah apa yang benar-benar dibeli.

Selama hampir satu dekade, rokok tetap di posisi kedua

Pangsa pengeluaran rokok kretek filter dalam Garis Kemiskinan (%)

Periode

Perkotaan

Perdesaan

Maret 2017

11,79

11,53

Maret 2018

11,07

10,21

September 2018

10,39

10,06

Maret 2019

12,22

11,36

September 2019

11,17

10,37

September 2024

10,67

9,76

Maret 2025

10,72

9,99

September 2025

10,41

9,11

Maret 2026

10,83

10,18

Sumber: BPS, berbagai periode.

Dalam publikasi BPS, ukuran ini disebut peranan atau sumbangan komoditi terhadap nilai Garis Kemiskinan. Data Maret 2020 sampai Maret 2024 belum tersedia dalam kompilasi ini.

Angkanya memang naik turun, tetapi masih berada di kisaran 9 sampai 12 persen. Pada setiap periode yang tercatat dalam tabel, rokok kretek filter berada di posisi kedua, baik di kota maupun di desa.

Namun, ada batas yang perlu disebutkan. Data Maret 2020 sampai Maret 2024 tidak tersedia dalam kompilasi ini. Jadi, kita bisa mengatakan posisi rokok berada di urutan kedua pada titik-titik yang tercatat, tetapi tidak bisa memastikan posisinya tidak pernah berubah di antara periode tersebut.

Ada pula perubahan pada nilai rupiahnya. Garis Kemiskinan nasional naik dari Rp440.538 per kapita per bulan pada September 2019 menjadi Rp669.235 pada Maret 2026. Artinya, persentase yang terlihat mirip di dua titik waktu tersebut sebenarnya mewakili nilai rupiah yang berbeda cukup jauh.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya apakah rokok masih menempati posisi kedua dalam keranjang Garis Kemiskinan, tetapi apakah pola tersebut juga terlihat dalam pengeluaran rumah tangga.

Paparan BPS Rokok dan Kemiskinan memuat tabulasi Susenas menurut kuintil pengeluaran. Seluruh rumah tangga dibagi menjadi lima kelompok dengan ukuran yang sama, mulai dari kelompok dengan pengeluaran paling rendah hingga paling tinggi.

Konsumsi rokok terhadap total pengeluaran makanan, Maret 2015

Kelompok pengeluaran (kuintil)

%

Q1 (terbawah)

17,17

Q3

19,10

Q5 (teratas)

15,43

Sumber: BPS, Susenas Maret 2015.

Konsumsi rokok terhadap total pengeluaran makanan dan non-makanan, Mar

Kuintil

%

Q1 (terbawah)

11,15

Q3

11,29

Q5 (teratas)

5,45

Sumber: BPS, Susenas Maret 2015.

Hasilnya berbeda tergantung apa yang dijadikan pembanding. Jika dibandingkan dengan belanja makanan, proporsi konsumsi rokok relatif berdekatan di semua kelompok. Tetapi ketika pembandingnya seluruh pengeluaran, kelompok terbawah mengalokasikan proporsi sekitar dua kali lipat kelompok teratas.

Perbedaannya berkaitan dengan hukum Engel: ketika pendapatan rumah tangga meningkat, porsi pengeluaran yang dialokasikan untuk makanan secara keseluruhan cenderung mengecil.

Jadi, pola tersebut memang terlihat sampai ke tingkat rumah tangga. Hanya saja, ada dua catatan penting. Datanya berasal dari Maret 2015, sehingga sudah berumur sebelas tahun, dan perhitungannya mencakup seluruh rumah tangga dalam kelompok tersebut, termasuk rumah tangga yang tidak merokok.

Produksi turun karena konsumen tidak hanya punya pilihan berhenti atau tetap merokok

Penurunan produksi dan posisi rokok yang tetap tinggi dalam Garis Kemiskinan terlihat bertentangan kalau pilihan konsumen hanya dibaca sebagai dua kemungkinan: tetap merokok atau berhenti.

Data produksi menunjukkan perubahan yang lebih spesifik. Penurunannya tidak terjadi secara merata di semua segmen.

Dilansir Antara (2025), Direktur Jenderal Bea dan Cukai Askolani memaparkan bahwa penurunan produksi sampai Maret 2025 terutama terjadi di segmen dengan tarif cukai tertinggi:

  • Golongan I: turun 10 persen

  • Golongan II: naik 1,3 persen

  • Golongan III: naik 7 persen

Perubahan juga terlihat dari jenis produknya. Bea Cukai mencatat adanya pergeseran dari sigaret kretek mesin ke sigaret kretek tangan dan produk dengan harga yang lebih murah (CNBC Indonesia, 2025).

Produksi SKT yang padat karya naik 13,3 persen pada 2024. Pada saat yang sama, jumlah pekerja pabrik rokok naik menjadi 301.113 orang, tertinggi dalam sepuluh tahun, meskipun volume produksi total turun.

Di industri, perpindahan konsumen dari produk yang lebih mahal ke produk yang lebih murah seperti ini dikenal sebagai downtrading.

Karena itu, penurunan volume produksi nasional belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumen meninggalkan kategori rokok. Sebagian perubahan yang terlihat bisa berupa perpindahan dari satu segmen harga ke segmen lainnya.

Tapi data produksi belum bisa menjawab apa yang terjadi pada konsumen berpendapatan rendah

Di titik ini, dua kelompok data tadi perlu dipisahkan.

Data produksi mencakup seluruh pasar nasional dan semua lapisan pendapatan. Sementara itu, Garis Kemiskinan menggambarkan pola konsumsi penduduk referensi yang digunakan BPS untuk menyusun garis tersebut. Populasi yang diukur tidak sama.

Artinya, perpindahan segmen yang terlihat dalam data produksi menggambarkan pasar secara keseluruhan. Apakah rumah tangga berpendapatan rendah melakukan hal yang sama ketika harga bergerak, belum bisa dijawab dari data tersebut.

Askolani sendiri mengatakan penurunan produksi tidak sepenuhnya disebabkan downtrading, tetapi juga berkaitan dengan daya beli dan kebijakan kesehatan (Tempo, 2025).

Ada kemungkinan lain yang juga perlu diperhitungkan: sebagian penurunan produksi resmi bisa saja bukan penurunan konsumsi, melainkan perpindahan ke produk yang berada di luar sistem cukai. Persoalannya, estimasi mengenai besarnya konsumsi ilegal tersebut masih sangat beragam.

Sumber

Estimasi pangsa

Periode

Kementerian Keuangan

7 sampai 10%

November 2025

Perhitungan potential loss Kemenkeu

13,9%

Juni 2026

CISDI (survei enam kota besar)

10,77%

April 2025

Center for Market Education

10,8%

April 2026

Indodata

46,95%

2024

Rentangnya mencapai 7 sampai 47 persen. Selisih sebesar itu tidak otomatis berarti salah satunya benar dan yang lain salah, karena definisi, cakupan, dan metode pengambilan sampelnya berbeda.

Yang perlu diperhatikan adalah jarak antara estimasi tertinggi dan estimasi lainnya sangat lebar. Angka tersebut juga kerap digunakan dalam argumen yang menolak kenaikan cukai. Karena itu, angka mana pun yang dipakai sebaiknya selalu dibaca bersama metodologinya.

Soal harga juga perlu dibedakan dari tarif cukai. Pemerintah tidak menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau pada 2025 maupun 2026. Keputusan untuk 2026 diumumkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2025, dan ini kali keempat dalam 15 tahun terakhir, setelah 2014, 2019, dan 2025 (Kumparan, 2025).

Meski tarif cukai tidak naik, Harga Jual Eceran hampir semua produk hasil tembakau tetap naik rata-rata sekitar 10 persen mulai 1 Januari 2025 melalui PMK 96/2024 dan PMK 97/2024 (Kompas, 2025).

Jadi, tarif cukai dan harga eceran adalah dua instrumen berbeda. Keduanya tidak bisa diperlakukan sebagai hal yang sama ketika membaca perubahan konsumsi.

Pangsa rokok ternyata berbeda jauh antar daerah

Budaya sering menjadi penjelasan paling mudah ketika membicarakan mengapa konsumsi rokok tetap tinggi di Indonesia. Kretek sudah lama melekat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ketika konsumsinya bertahan, penjelasannya pun sering dikembalikan ke faktor budaya.

Data BPS provinsi untuk Maret 2026 menunjukkan gambaran yang lebih beragam.

Pangsa pengeluaran rokok kretek filter dalam Garis Kemiskinan provinsi

Provinsi

Perkotaan

Perdesaan

Bengkulu

15,30

12,52

Lampung

12,79

11,39

Jawa Barat

10,63

6,88

Jawa Tengah

9,50

8,51

D.I. Yogyakarta

9,04

6,15

Sumber: BPS provinsi, rilis Agustus 2026

Pangsa tersebut berkisar dari 6,15 persen di perdesaan DIY sampai 15,30 persen di perkotaan Bengkulu. Selisihnya lebih dari dua kali lipat.

Di Bengkulu, pangsa rokok di perkotaan bahkan mendekati pangsa beras yang sebesar 19,38 persen. Pola seperti ini tidak terlihat di provinsi lain dalam kompilasi tersebut (BPS Provinsi Bengkulu, 2026).

Artinya, posisi rokok yang tinggi secara nasional tidak berarti tingkat kepentingannya sama di setiap daerah. Ada perbedaan yang cukup besar antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Perbedaan ini juga penting untuk membaca kembali dugaan downtrading. Jika perpindahan tingkat harga memang terjadi pada rumah tangga berpendapatan rendah, polanya belum tentu sama di setiap daerah.

Data yang ada belum bisa menunjukkan apa yang dilakukan konsumen ketika harga berubah

Data pengeluaran agregat bisa menunjukkan bahwa sebuah kategori masih bertahan. Yang belum bisa dijawab adalah bagaimana konsumen mempertahankannya.

Ketika harga naik, misalnya, konsumen bisa mengurangi jumlah batang yang dibeli, berpindah ke produk yang lebih murah, mengganti merek dengan produk di tingkat harga yang sama, mengubah tempat membeli, atau tetap merokok seperti biasa sambil mengurangi pengeluaran lain.

Kelima kemungkinan tersebut bisa menghasilkan angka pengeluaran agregat yang terlihat serupa. Tanpa data di tingkat individu, kita tidak bisa membedakan mana yang sebenarnya terjadi.

Hal yang sama berlaku ketika kita bertanya mengapa konsumen tetap membeli rokok. Kemudahan memperoleh produk, keterjangkauan harga yang berjenjang, kelekatan sosial, dan kebiasaan adalah beberapa faktor yang bisa diperiksa. Perbedaan antarprovinsi menunjukkan bahwa bobot masing-masing faktor kemungkinan tidak sama di setiap wilayah. Tetapi untuk saat ini, semuanya masih berupa dugaan.

Di sinilah batas data yang tersedia. Perpindahan segmen sudah terlihat dalam data pasar nasional. Posisi rokok dalam pengeluaran juga masih bertahan. Namun, data yang menghubungkan keduanya belum tersedia: ketika harga rokok berubah, apa yang sebenarnya dilakukan konsumen berpendapatan rendah?

Pertanyaan itu penting karena penurunan produksi tidak dengan sendirinya berarti penurunan jumlah perokok. Bisa ada perpindahan produk, perubahan jumlah konsumsi, perubahan tempat membeli, atau bahkan perpindahan ke pasar yang tidak tercatat.

Tanpa data di tingkat konsumen, kita belum bisa tahu perpindahan mana yang paling besar.

Referensi

Antara. (2025, 30 April). DJBC sebut downtrading memengaruhi penurunan produksi rokok. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/4805997/djbc-sebut-downtrading-memengaruhi-penurunan-produksi-rokok

Badan Pusat Statistik. (2015). Rokok dan kemiskinan [Paparan]. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. https://komnaspt.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Paparan_Rokok-dan-Kemiskinan_BPS-RI_2015-1.pdf

Badan Pusat Statistik. (2018, 16 Juli). Persentase penduduk miskin Maret 2018 turun menjadi 9,82 persen. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2018/07/16/1483/Persentase-Penduduk-Miskin-maret-2018-turun-menjadi-9-82-persen.html

Badan Pusat Statistik. (2026). Profil kemiskinan di Indonesia Maret 2026. Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. (2026, 5 Agustus). Siaran pers BPS Provinsi Bengkulu 5 Agustus 2026. https://bengkulu.bps.go.id/id/news/2026/08/05/1012/siaran-pers-bps-provinsi-bengkulu-5-agustus-2026.html

CNBC Indonesia. (2025, 28 Desember). Fenomena rokok murah & pengusaha yang bisa kembali bernapas. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20251228194824-4-697739/fenomena-rokok-murah-pengusaha-yang-bisa-kembali-bernapas

Kompas. (2025, 27 September). Industri tembakau tertekan, pemerintah putuskan cukai rokok tak naik 2026. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/industri-tembakau-tertekan-pemerintah-pilih-tidak-naikkan-cukai-2026

Kumparan. (2025, 6 Oktober). Siasat perangi rokok ilegal yang merajalela. Kumparan. https://kumparan.com/kumparannews/siasat-perangi-rokok-ilegal-yang-merajalela-25zd1tjNikJ

Suara.com. (2026, 26 Juni). Hitung-hitungan kerugian negara dari peredaran rokok ilegal. Suara.com. https://www.suara.com/bisnis/2026/06/26/192159/hitung-hitungan-kerugian-negara-dari-peredaran-rokok-ilegal

Tempo. (2025). Apa itu downtrading yang disebut jadi pemicu penurunan produksi rokok. Tempo.co. https://www.tempo.co/ekonomi/apa-itu-downtrading-yang-disebut-jadi-pemicu-penurunan-produksi-rokok--1334476

Tribunnews. (2026, 28 Juni). INDEF ungkap produksi rokok terus turun, rokok ilegal kian marak. Tribunnews.com. https://www.tribunnews.com/bisnis/7847652/indef-ungkap-produksi-rokok-terus-turun-rokok-ilegal-kian-marak

Curated For You

Editorial Team

Related Article