- Kanal emosional mengandalkan panggilan suara, video call, dan grup keluarga di aplikasi pesan. Kanal ini paling murah dan paling sering digunakan, tetapi efektivitasnya bergantung pada kemampuan lansia mengoperasikan perangkat digital.
- Kanal finansial berjalan melalui transfer bank dan dompet digital. Kanal ini paling andal karena dana tetap dapat diterima tanpa menuntut tingkat literasi digital yang tinggi dari penerima, selama uang masih dapat dicairkan secara tunai.
- Kanal medis memanfaatkan layanan telekonsultasi dan platform home care. CarePro, misalnya, menyediakan layanan pemesanan perawat kunjung, caregiver live-in, dan dokter kunjung melalui aplikasi. Namun, kanal ini menuntut ketersediaan tenaga kesehatan di lokasi orang tua berada, sehingga jangkauannya mengikuti sebaran mitra layanan di masing-masing daerah.
Indonesia Menua Lebih Cepat dari Kesiapan Sistemnya

- Indonesia telah memasuki fase populasi menua: 11,97% penduduk berusia 60 tahun ke atas, sementara keluarga menjadi sumber dukungan utama bagi 48,56% lansia.
- Anak rantau semakin mengoordinasikan keuangan, kesehatan, dan komunikasi orang tua dari jauh, tetapi layanan geriatri, jaminan formal, serta akses digital lansia masih terbatas dan timpang.
- Beban caregiver jarak jauh belum banyak tercatat dalam data, riset, maupun kebijakan, meski mereka menjalankan peran finansial, koordinasi layanan, dan dukungan emosional.
Setiap akhir bulan, jutaan rekening di Indonesia bergerak ke arah yang sama: dari kota besar menuju kampung halaman. Anak yang bekerja di Jakarta mengirim sejumlah uang kepada ibunya di Klaten. Anak yang merantau ke Surabaya menelepon ayahnya di Jember setiap Minggu malam. Grup WhatsApp keluarga menyala setiap pagi dengan pesan singkat dan foto sarapan.
Pola ini terlihat rapi. Uang sampai, telepon terangkat, kabar tersampaikan. Namun bagi banyak anak rantau, semua itu sering terasa belum cukup. Mereka membayar biaya kontrol dokter tanpa pernah menemani ke poliklinik. Mereka mengetahui jadwal obat orang tuanya, tetapi lupa kapan terakhir kali menggenggam tangannya.
Seiring Indonesia memasuki era populasi menua, semakin banyak anak yang merawat orang tua dari jarak jauh. Dukungan finansial, koordinasi layanan kesehatan, hingga komunikasi sehari-hari dilakukan tanpa tinggal serumah. Meski praktik ini semakin umum, perhatian kebijakan, layanan, maupun riset masih lebih banyak berfokus pada lansia sebagai penerima perawatan daripada pada anak yang menopangnya dari kejauhan.
Artikel ini menelusuri bagaimana perawatan jarak jauh menjadi konsekuensi baru dari penuaan penduduk Indonesia, tantangan yang dihadapi anak rantau dalam menjalankannya, serta mengapa kelompok ini masih hampir tidak terlihat dalam data, kebijakan, maupun inovasi layanan.
Keluarga Tetap Menjadi Penopang Utama di Era Populasi Menua
Status Indonesia sebagai negara dengan populasi menua kini tidak lagi menjadi proyeksi, melainkan kenyataan. Melansir Berita Resmi Statistik BPS (2026) berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, persentase penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97% dari total 284,67 juta jiwa. Angka tersebut telah melampaui ambang 10% yang menjadi penanda fase aging population.
Dalam rilis yang sama, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut rasio ketergantungan nasional berada pada 45,05. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menopang sekitar 45 penduduk usia nonproduktif, yang mencakup anak-anak dan lansia.
Proses penuaan penduduk juga berlangsung tidak merata. BPS (2026) mencatat 16 dari 38 provinsi telah memasuki fase aging population. Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki proporsi lansia tertinggi, yakni 17,83%, diikuti Jawa Timur sebesar 15,45% dan Bali sebesar 15,07%. Sebaliknya, provinsi dengan proporsi lansia terendah seluruhnya berada di Papua, mulai dari Papua Tengah sebesar 6,71% hingga Papua sebesar 7,96%.
Meski demikian, SUPAS 2025 bukanlah titik awal perubahan demografi tersebut. Mengutip Kemenko PMK (2025), Indonesia sebenarnya telah memasuki era populasi menua sejak 2021 berdasarkan data BPS. Bahkan, transisi demografi Indonesia berlangsung lebih cepat dibandingkan rata-rata global, dengan waktu pelipatgandaan proporsi lansia hanya 24 tahun. Kemenko PMK juga mengutip proyeksi yang memperkirakan proporsi penduduk lanjut usia akan mencapai 19,9% pada 2045.
Perubahan ini menjadi tantangan karena kesiapan sistem penyangganya belum berkembang dengan kecepatan yang sama. Kemenko PMK (2025) mencatat angka harapan hidup Indonesia mencapai 71,85 tahun, sementara harapan hidup sehat hanya 62,8 tahun. Dengan kata lain, rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan sekitar sembilan tahun terakhir hidupnya dalam kondisi tidak sehat. Periode inilah ketika kebutuhan akan pendampingan dan perawatan sehari-hari cenderung meningkat.
Pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang menopang sembilan tahun tersebut?
Data SUPAS 2025 memberikan jawaban yang cukup jelas. Berdasarkan rilis BPS (2026), sebanyak 48,56% lansia di Indonesia memperoleh uang atau barang terutama dari keluarga, baik pasangan, anak, menantu, maupun saudara lainnya. Sebanyak 37,72% masih mengandalkan pekerjaan sebagai sumber penghasilan utama. Sementara itu, proporsi yang bergantung pada instrumen formal jauh lebih kecil, yaitu dana pensiun sebesar 8,82%, jaminan sosial dan bantuan sosial 2,42%, sumber lainnya 1,35%, serta tabungan dan investasi 1,13%.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa keluarga masih menjadi penyangga utama kehidupan lansia di Indonesia. Instrumen formal yang dirancang untuk menopang hari tua, seperti pensiun dan jaminan sosial, hanya menjadi sumber penghidupan utama bagi sekitar 11% lansia. Sebaliknya, keluarga menopang empat kali lebih banyak.
Kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab. Kemenko PMK (2025) mencatat 84,75% lansia yang masih bekerja berada di sektor informal, sehingga tidak memiliki jaminan pensiun yang memadai. Cakupan BPJS Kesehatan pada kelompok lansia juga baru sekitar 70%. Di sisi layanan, hanya 11,01% rumah sakit yang menyediakan layanan geriatri terpadu pada 2024. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 20% pada 2025 dan 50% pada 2029.
Dengan kata lain, keluarga masih mengisi ruang yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh sistem formal.
Persoalannya, anggota keluarga yang menjadi penopang itu semakin sering tidak tinggal di rumah yang sama. Merujuk Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 (BPS, 2025b), sebanyak 5,03% lansia Indonesia tinggal sendirian, sementara 22,90% tinggal hanya bersama pasangan. Artinya, hampir tiga dari sepuluh lansia menjalani kehidupan sehari-hari tanpa anggota rumah tangga dari generasi yang lebih muda, meskipun secara finansial mereka tetap memperoleh dukungan dari keluarga.
Perubahan ini turut mengubah cara perawatan diberikan. Anak yang tinggal serumah dapat memberikan bantuan secara spontan dan situasional, seperti mengantar orang tua ke puskesmas ketika mengeluh pusing atau lebih banyak menemani ketika kondisi emosinya menurun. Sebaliknya, anak yang merantau lebih sering memberikan dukungan secara terjadwal: mengirim uang pada tanggal yang sama setiap bulan, menelepon pada waktu yang sama setiap pekan, atau mengatur kebutuhan dari kejauhan. Bentuk dukungan ini lebih mudah direncanakan dan dipantau, tetapi memiliki keterbatasan dalam merespons kebutuhan yang muncul di luar jadwal.
Kanal Digital Menopang Perawatan Jarak Jauh dengan Jangkauan yang Timpang
Teknologi kini menjadi tulang punggung perawatan jarak jauh. Namun, data menunjukkan bahwa kemampuan teknologi dalam menjembatani jarak belum dinikmati secara merata oleh kedua belah pihak.
Melansir Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 (BPS, 2025a), sebanyak 72,78% penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas pernah mengakses internet sepanjang 2024, meningkat dari 69,21% pada tahun sebelumnya. Angka ini merepresentasikan populasi secara umum, sementara anak rantau yang berada pada kelompok usia produktif merupakan kelompok dengan tingkat penetrasi internet yang relatif tinggi.
Situasi di kalangan orang tua mereka berbeda. Berdasarkan Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 (BPS, 2025b) yang mengolah data Susenas Maret 2025, hanya 34,13% lansia yang mengakses internet, naik dari 26,42% pada 2024. Penggunaan telepon seluler di kelompok lansia tercatat sebesar 52,23%, sedangkan penggunaan komputer masih berada di angka 1,63%.
Membandingkan kedua kelompok pada tahun yang sama memperlihatkan jarak yang lebih tajam. Pada 2024, penetrasi internet nasional mencapai 72,78%, sementara penetrasi internet di kalangan lansia baru 26,42%. Selisihnya mencapai 46,36 poin persentase.
Kanal digital yang selama ini dipandang mampu menjembatani jarak pada praktiknya masih berjalan secara asimetris: anak terhubung hampir sepenuhnya, sementara orang tua hanya terhubung sebagian. Bahkan, hampir separuh populasi lansia Indonesia belum memiliki telepon seluler sendiri.
Perbedaan tersebut juga tercermin pada jenis dukungan yang tersedia.
Ketergantungan pada mitra di lokasi tersebut memperlihatkan bahwa perawatan jarak jauh tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada ketersediaan layanan di daerah tempat orang tua tinggal. CarePro, misalnya, masih memusatkan layanannya di kota-kota besar, sementara provinsi dengan proporsi lansia tertinggi menurut BPS (2026) adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.
Kesenjangan tersebut diperlebar oleh kesiapan digital penerima layanan. Berdasarkan Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 (BPS, 2025b), akses internet lansia di perkotaan mencapai 42,52%, sedangkan di perdesaan baru 23,18%. Kondisi ini membuat koordinasi perawatan dari jarak jauh menjadi lebih sulit, terutama ketika orang tua tinggal di wilayah dengan pilihan layanan yang terbatas sekaligus memiliki akses digital yang rendah.
Upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut mulai bermunculan dari kalangan akademisi. Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengembangkan aplikasi Caregiver Lansia berbasis Android yang memuat panduan perawatan jangka panjang serta instrumen pemeriksaan mandiri, seperti deteksi dini demensia, depresi, risiko jatuh, dan status gizi (Universitas Airlangga, 2021). Meski demikian, aplikasi ini dirancang untuk pendamping yang berada di sisi lansia. Artinya, anak rantau tetap memerlukan anggota keluarga atau pendamping di lokasi agar layanan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Beban Caregiver Jarak Jauh yang Belum Terukur
Seluruh data di atas menggambarkan bagaimana sumber daya mengalir kepada lansia. Namun, perhatian terhadap orang yang menyediakan dukungan tersebut masih sangat terbatas.
Sejauh ini, statistik resmi banyak mencatat kondisi lansia sebagai penerima dukungan, mulai dari sumber penghasilan, kondisi kesehatan, hingga akses terhadap layanan. Yang belum banyak terlihat adalah pengalaman anggota keluarga, terutama anak rantau, yang menjalankan perawatan dari jarak jauh sekaligus mengoordinasikan berbagai kebutuhan orang tuanya.
Instrumen untuk mengukur beban caregiver sebenarnya telah tersedia dan telah diuji pada konteks Indonesia. Larantukan dan Yudiarso (2025) menguji Zarit Burden Interview pada 305 caregiver di Indonesia menggunakan Model Rasch dan memperoleh nilai alfa Cronbach sebesar 0,93, yang menunjukkan reliabilitas tinggi. Studi tersebut juga menemukan adanya bias item berdasarkan gender, usia, lama perawatan, dan lokasi geografis tempat tinggal responden.
Namun, penerapannya pada caregiver jarak jauh masih belum banyak dieksplorasi. Validasi tersebut dilakukan pada populasi caregiver secara umum, dan sebagian besar respondennya merawat orang tua, yakni 57,37%. Dimensi jarak sama sekali tidak masuk sebagai variabel dalam analisis. Sejumlah item dalam instrumen tersebut juga menyiratkan kehadiran fisik, misalnya pertanyaan mengenai perasaan responden ketika berada di sekitar anggota keluarga yang sakit.
Sementara itu, pengalaman anak rantau yang mengoordinasikan perawatan dari kota lain menghadirkan tantangan yang berbeda, seperti tidak dapat memverifikasi kondisi orang tua secara langsung atau harus mengambil keputusan terkait layanan kesehatan dari jarak ratusan kilometer. Hingga saat ini, dimensi-dimensi tersebut belum banyak terpetakan dalam pengukuran caregiver di Indonesia.
Riset Kelanjutusiaan Masih Berfokus pada Lansia
Kajian di Indonesia mengenai hubungan jarak jauh dalam keluarga masih lebih banyak melihat dukungan yang mengalir dari orang tua kepada anak.
Najmudin, Khotima, dan Lubis (2023), misalnya, menyusun kajian pustaka mengenai peran orang tua dalam menopang kesejahteraan psikologis anak rantau melalui komunikasi jarak jauh. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa teknologi komunikasi efektif menjaga hubungan antara orang tua dan anak. Dalam kerangka ini, anak rantau diposisikan sebagai penerima dukungan.
Di sisi lain, riset kelanjutusiaan di Indonesia umumnya menjadikan lansia sebagai unit analisis utama, mulai dari kondisi kesehatan, sumber penghasilan, hingga akses terhadap layanan. Statistik resmi juga mengikuti pola serupa. Publikasi BPS mencatat dari mana lansia memperoleh uang atau barang, tetapi belum menggambarkan pengalaman anggota keluarga yang menjadi sumber dukungan tersebut.
Akibatnya, peran anak usia produktif yang menopang orang tua dari kejauhan masih relatif jarang menjadi fokus kajian. Padahal, mereka kerap menjalankan beberapa peran sekaligus, mulai dari penyedia dukungan finansial, koordinator layanan kesehatan, hingga sumber dukungan emosional bagi orang tua yang tinggal ratusan kilometer jauhnya. Dalam statistik kependudukan, mereka tercatat sebagai bagian dari penduduk usia produktif yang menopang rasio ketergantungan sebesar 45,05. Namun, pengalaman mereka sebagai caregiver jarak jauh belum banyak terlihat dalam data maupun penelitian.
Implikasi untuk Pembuat Kebijakan
Temuan dalam artikel ini menunjukkan bahwa sistem penyangga lansia di Indonesia masih bertumpu pada keluarga, sementara struktur keluarga sendiri semakin tersebar secara geografis. Kondisi tersebut memunculkan tantangan baru dalam perawatan lansia dan membuka sejumlah arah kebijakan yang layak dipertimbangkan.
Perluasan layanan geriatri terpadu ke daerah asal. Saat ini baru 11,01% rumah sakit yang memiliki layanan geriatri terpadu (Kemenko PMK, 2025). Di sisi lain, provinsi dengan proporsi lansia tertinggi berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali, termasuk wilayah di luar kawasan metropolitan. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan distribusi layanan yang dapat diatasi melalui insentif pembangunan fasilitas kesehatan lansia di luar kota besar. Target cakupan 50% pada 2029 akan lebih bermakna apabila pertumbuhan layanan juga menjangkau daerah dengan konsentrasi lansia yang tinggi.
Skema jaminan sosial yang menjangkau lansia sektor informal. Sebanyak 84,75% lansia yang masih bekerja berada di sektor informal tanpa jaminan pensiun yang memadai (Kemenko PMK, 2025). Kebijakan berupa subsidi maupun perlindungan sosial bagi kelompok ini berpotensi lebih mudah diakses apabila memanfaatkan kanal yang telah digunakan keluarga, termasuk transfer perbankan dan dompet digital yang selama ini menjadi sarana utama dukungan dari anak rantau.
Dukungan bagi caregiver, termasuk yang merawat dari jarak jauh. Program kelanjutusiaan saat ini lebih banyak menempatkan lansia sebagai penerima manfaat utama. Padahal, anggota keluarga yang mengoordinasikan perawatan dari kota lain juga menghadapi tantangan yang belum banyak diperhitungkan. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengadaptasi instrumen seperti Zarit Burden Interview untuk konteks caregiver jarak jauh, sehingga beban yang mereka alami dapat dipetakan sebelum dirancang bentuk dukungan atau intervensi yang lebih tepat.
Seiring bertambahnya jumlah lansia dan semakin tersebarnya anggota keluarga, kebijakan kelanjutusiaan tidak hanya perlu memperhatikan penerima layanan, tetapi juga anggota keluarga yang menopang perawatan dari kejauhan.
Implikasi untuk Brand
Dari sisi pasar, meningkatnya praktik perawatan orang tua dari jarak jauh menunjukkan munculnya segmen konsumen dengan kebutuhan yang masih belum terlayani secara utuh. Saat ini, anak rantau masih harus merakit sendiri sistem perawatan orang tuanya dari berbagai layanan yang berdiri sendiri, mulai dari aplikasi pesan untuk berkomunikasi, dompet digital untuk mengirim uang, hingga platform kesehatan yang digunakan secara terpisah.
Fintech dan dompet digital memiliki ruang untuk mengembangkan fitur recurring care transfer yang menghadirkan konteks, bukan sekadar transaksi. Transfer otomatis yang disertai notifikasi bermakna bagi penerima, misalnya informasi bahwa dana tersebut dialokasikan untuk kontrol dokter minggu ini, dapat mengubah aktivitas transfer menjadi bagian dari komunikasi keluarga. Nilai tambahnya tidak terletak pada penambahan fitur teknis, melainkan pada penguatan makna di balik transaksi tersebut.
Healthtech dan platform elder care memiliki peluang untuk melakukan repositioning dengan memandang anak rantau sebagai pembeli utama layanan, sementara lansia menjadi pengguna akhirnya. Dashboard pemantauan kondisi orang tua dari jarak jauh, laporan kunjungan perawat yang terkirim otomatis kepada anak, serta jalur eskalasi darurat yang jelas dapat menjadi pembeda di pasar. Tantangan utamanya tetap berada pada distribusi, mengingat layanan seperti ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara kebutuhan perawatan terus meningkat di daerah asal.
Telco dan brand perangkat menghadapi kesenjangan akses digital yang masih lebar. Penggunaan telepon seluler di kalangan lansia baru mencapai 52,23%, sementara akses internet berada di angka 34,13% (BPS, 2025b). Paket data maupun perangkat family connect yang menyederhanakan proses video call bagi lansia berpotensi menjangkau hampir separuh populasi lansia yang saat ini belum terhubung melalui kanal komunikasi digital.
Seiring bertambahnya jumlah lansia dan semakin banyak keluarga yang hidup terpisah secara geografis, kebutuhan akan solusi yang mampu menghubungkan anak rantau dengan orang tua mereka juga akan terus meningkat. Brand yang mampu menjawab kebutuhan tersebut memiliki peluang untuk membangun relevansi di segmen pasar yang diperkirakan akan semakin besar seiring Indonesia memasuki era populasi menua.
Penutup
Rasio ketergantungan 45,05 adalah angka yang bersih dan rapi. Ia menunjukkan berapa banyak penduduk usia nonproduktif yang ditopang oleh setiap 100 penduduk usia produktif. Namun, angka tersebut belum menggambarkan bagaimana proses menopang itu dijalankan.
Perawatan orang tua dari jarak jauh bukan lagi sekadar persoalan logistik. Di dalamnya ada koordinasi layanan kesehatan, pengambilan keputusan, pengiriman dukungan finansial, hingga upaya menjaga kedekatan emosional dari ratusan kilometer. Peran-peran tersebut semakin penting seiring Indonesia memasuki era populasi menua, tetapi masih belum banyak terlihat dalam statistik, riset, maupun kebijakan.
Selama sistem formal baru menjadi penopang utama bagi sekitar 11% lansia, keluarga akan tetap menjadi jaring pengaman utama. Di saat yang sama, semakin banyak anak rantau yang mengambil peran sebagai caregiver dari kejauhan.
Ketika Indonesia membahas masa depan masyarakat yang menua, perhatian tidak hanya perlu diberikan kepada lansia sebagai penerima perawatan, tetapi juga kepada mereka yang setiap hari memastikan perawatan itu tetap berjalan, meski dari ratusan kilometer jauhnya.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik penduduk lanjut usia 2023. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. (2025a). Statistik telekomunikasi Indonesia 2024. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/publication/2025/08/29/beaa2be400eda6ce6c636ef8/statistik-telekomunikasi-indonesia-2024.html (Diakses pada 4 Agustus 2026)
Badan Pusat Statistik. (2025b). Statistik penduduk lanjut usia 2025. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/12/868d335b088dcddc3ddee052/statistik-penduduk-lanjut-usia-2025.html (Diakses pada 4 Agustus 2026)
Badan Pusat Statistik. (2026, 5 Mei). SUPAS 2025: Angka kelahiran total (TFR) sebesar 2,13, angka kematian bayi (IMR) sebesar 14,12, dan persentase lansia mencapai 11,97% (Berita Resmi Statistik No. 2645). https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2645/supas-2025--angka-kelahiran-total--tfr--sebesar-2-13---angka-kematian-bayi--imr--sebesar-14-12--dan-persentase-lansia-mencapai-11-97-persen-.html (Diakses pada 4 Agustus 2026)
CarePro. (2026). Jasa perawat home care 24 jam: Layanan perawat profesional di rumah. https://carepro.co.id/layanan/perawat-livein (Diakses pada 4 Agustus 2026)
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (2025, 6 Maret). Kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat mobilitas penduduk lanjut usia. https://www.kemenkopmk.go.id/kolaborasi-lintas-sektor-untuk-memperkuat-mobilitas-penduduk-lanjut-usia (Diakses pada 4 Agustus 2026)
Larantukan, A. M. F., & Yudiarso, A. (2025). Validitas alat ukur Zarit Burden Interview (ZBI) menggunakan Model Rasch pada populasi Indonesia. Humanitas, 9(1), 18–40. https://doi.org/10.28932/humanitas.v9i1.11007
Najmudin, M. F., Khotima, N. A., & Lubis, R. F. (2023). Peran orang tua terhadap psikologis anak rantau melalui komunikasi jarak jauh. JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan), 10(1), 88–99. https://doi.org/10.21009/JKKP.101.08
Universitas Airlangga. (2021, 20 Agustus). Pengabdian masyarakat aplikasi Caregiver Lansia berbasis Android: Inovasi dalam membantu perawatan lansia di komunitas. UNAIR News. https://news.unair.ac.id/2021/08/20/pengabdian-masyarakat-aplikasi-caregiver-lansia-berbasis-android-inovasi-dalam-membantu-perawatan-lansia-di-komunitas/?lang=id (Diakses pada 4 Agustus 2026)


















