- Singles (Open/Pro): Rp2.500.000 per orang
- Doubles: Rp4.700.000 per pasang
- Relay (tim empat orang): Rp7.500.000 per tim
Bayar Jutaan untuk “Menyiksa Raga”: Fenomena Kebugaran Kelas Menengah

- Fenomena Hyrox dan Siksorogo mencerminkan tren baru kelas menengah Indonesia yang rela membayar mahal demi kebugaran ekstrem, menjadikannya simbol pencapaian sosial sekaligus bentuk self-care di tengah tekanan hidup urban.
- Lonjakan partisipasi event lari hingga ratusan ribu peserta memicu dampak ekonomi besar, dari perputaran miliaran rupiah di daerah seperti Tawangmangu hingga kontribusi triliunan pada sektor sport tourism nasional.
- Pemerintah dan brand mulai melihat olahraga ketahanan sebagai aset strategis, mendorong kolaborasi lintas sektor untuk keamanan peserta, keberlanjutan lingkungan, serta pemerataan akses agar manfaatnya lebih inklusif.
Sore itu di linimasa Instagram, foto-foto race bib bertuliskan "HYROX JAKARTA" mulai memenuhi feed banyak orang. Bukan foto liburan ke luar negeri atau tas baru, tapi foto keringat, otot kram, dan caption panjang soal journey tujuh minggu latihan. Melalui Katadata, Dedi Setiawan (44), salah satu peserta kategori Men's Singles Open di Hyrox Jakarta 2026, mengaku perkenalannya dengan olahraga ini justru berawal dari rasa penasaran melihat teman-temannya mengunggah pengalaman serupa di media sosial. Ia mendaftar pada Maret 2026, beberapa bulan sebelum hari-H.
Dedi bukan satu-satunya. Hamida Dwiningtias (26), peserta kategori Mixed Doubles Open, punya cerita yang mirip: awalnya hanya ingin mencoba suasana gym baru, ternyata itu adalah training club khusus persiapan Hyrox. Setelah beberapa kali simulasi latihan yang ia sebut "menyiksa", ia justru merasa tertantang dan akhirnya mendaftar race kurang dari sebulan sebelum kompetisi berlangsung.
Soal biaya, baik Dedi maupun Hamida sama-sama tidak menganggapnya sebagai beban. Bagi mereka, pengeluaran untuk tiket, sepatu khusus, dan program latihan adalah investasi yang sepadan dengan hobi dan kesehatan jangka panjang. Cerita semacam ini, yang terjadi berkali-kali pada periode yang sama, menunjukkan ada sesuatu yang lebih besar sedang berlangsung di kalangan kelas menengah-atas urban Indonesia. Fenomena ini melibatkan dua dorongan yang bisa berjalan bersamaan: kebutuhan menjaga kesehatan di tengah tekanan hidup yang tidak pasti, dan cara baru menunjukkan pencapaian lewat ketahanan tubuh.
Table of Content
Booming yang Tidak Kebetulan
Lonjakan minat ini punya fondasi data yang jelas. Mengutip data Garmin Connect, aktivitas lari pengguna di Indonesia melonjak dari 56.463 pada Januari 2024 menjadi 242.627 pada Mei 2025 (Tabloid Pulsa). GoodStats menghitung lonjakan itu setara kenaikan sekitar 330 persen (GoodStats). Pola yang sama terbaca di sisi komunitas. Melansir data Strava, jumlah klub lari di Indonesia tumbuh hingga enam kali lipat sepanjang 2025 (Okezone).
Volume penyelenggaraannya pun ikut meledak. Sepanjang 2025, GoodStats mencatat sekitar 558 event lari di seluruh Indonesia, jumlah terbesar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pembanding pertumbuhan, Liputan6 melaporkan ada 257 event lari sepanjang 2024, naik 60 persen dari tahun sebelumnya, dengan dominasi peserta dari kalangan Gen Z dan milenial pada rasio sekitar 2:1 (Liputan6). Di atas fondasi inilah Hyrox dan Siksorogo Lawu Ultra muncul, sebagai dua wajah berbeda dari tren yang sama: olahraga ketahanan ekstrem yang menuntut komitmen waktu, uang, dan rasa sakit fisik, lalu dipamerkan sebagai pencapaian.
Hyrox, format fitness race global yang memadukan lari 8x1 km dengan delapan stasiun latihan fungsional seperti sled push, rowing, dan wall balls, baru pertama kali digelar di Indonesia pada 27-28 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK2. Hasilnya di luar ekspektasi: sekitar 11.500 peserta dari berbagai latar belakang ambil bagian, menjadikan Hyrox Jakarta sebagai penyelenggaraan dengan partisipasi tertinggi se-Asia Pasifik. Tiket bahkan sudah terjual habis beberapa minggu sebelum acara berlangsung. Tingginya permintaan terbaca sampai ke sisi penonton, dengan tiket spectator seharga Rp238.000 per hari yang juga ludes sebelum hari pelaksanaan (Fenesia).
Skala "terbesar se-Asia Pasifik" itu terasa lebih konkret bila dibandingkan dengan kota lain. Melansir Liputan6, race pertama Hyrox di Singapura diikuti sekitar 3.500 peserta dan Bangkok sekitar 9.000, sementara Jakarta langsung menembus 11.500. Sekitar 4.000 peserta atau lebih dari 35 persen total bahkan datang dari luar negeri, sebuah indikator potensi sport tourism yang nyata (Liputan6).
Di sisi lain, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, Siksorogo Lawu Ultra (SLU) di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, sudah lebih dulu jadi tradisi tahunan sejak beberapa tahun terakhir. Penyelenggaraan 2025 pada 6-7 Desember mencatat 5.700 pelari dari dalam dan luar negeri, melonjak signifikan dari 4.500 peserta pada 2023. Sekitar 100 di antaranya adalah pelari asing dari 12 negara berbeda, termasuk Jepang dan Malaysia (Espos.id).
Pada 2026, Siksorogo memperluas formatnya lewat event baru bernama Ring of Lawu (ROL), yang digelar 25-26 Juli 2026. Selain mempertahankan kategori ultra trail 100K, ROL menambahkan kategori road run yang lebih ramah pemula, yaitu 5K, 10K, dan 21K, seolah ingin menjangkau audiens yang lebih luas tanpa kehilangan identitas ekstremnya di kategori atas (Siksorogo).
Angka yang Bicara: Berapa Sebenarnya Harga "Capek" Ini?
Kalau ditelusuri lebih dalam, struktur harga kedua event ini cukup mengungkap siapa target pasarnya.
Hyrox Jakarta 2026:
(Sumber: Fenesia)
Itu baru tiket. Total pengeluaran riil jauh lebih besar. Estimasi biaya keseluruhan Hyrox pada 2025 berkisar Rp3 juta hingga Rp7 juta untuk peserta lokal, dan bisa menembus Rp20 juta jika harus terbang ke event di luar negeri. Komponennya meliputi perlengkapan olahraga (Rp1,5 juta hingga Rp4 juta), jasa personal trainer (Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per sesi), hingga program latihan online berbayar (Rp200 ribu hingga Rp800 ribu per bulan) (Suara.com).
Siksorogo / Ring of Lawu (2025-2026)
Kategori | Harga (WNI) |
|---|---|
7K (2025) / Road 5K (2026) | Rp450.000 / Rp400.000 |
Road 10K (2026) | Rp550.000 |
15K (2025) / Road 21K (2026) | Rp750.000 |
30K (2025) | Rp950.000 |
50K (2025) | Rp1.300.000 |
80K (2025) | Rp1.650.000 |
120K (2025) | Rp1.900.000 |
100K Individu (2026) | Rp1.500.000 |
100K Relay 2 (2026) | Rp2.250.000/tim (≈Rp1.125.000/orang) |
100K Relay 5 (2026) | Rp3.870.000/tim (≈Rp774.000/orang) |
Dari sisi tiket murni, Siksorogo jelas jauh lebih terjangkau dibanding Hyrox. Tapi total biaya sesungguhnya tidak berhenti di situ. Peserta dari luar Solo Raya harus menanggung transportasi, akomodasi di Tawangmangu (yang penuh dipesan hingga tiga bulan sebelumnya), serta gear trail running yang juga tidak murah. Skema relay 100K yang baru di ROL 2026 menarik dicermati: dengan membagi biaya ke dua atau lima orang, harga per kepala turun signifikan menjadi Rp774 ribu hingga Rp1,1 juta, strategi yang efektif menjaring partisipasi kelompok atau komunitas, sekaligus membuat tantangan ultra 100K terasa lebih accessible tanpa harus solo penuh.
Siapa yang Sebenarnya Mampu Ikut?
Baik Hyrox maupun Siksorogo sama-sama membutuhkan dua sumber daya yang tidak dimiliki semua orang: uang dan waktu luang untuk latihan terstruktur.
Laporan Katadata mencatat bahwa biaya yang harus dikeluarkan peserta Hyrox tidak sedikit, mulai dari tiket, sepatu, hingga program latihan khusus, belum termasuk biaya keanggotaan gym dan kebutuhan nutrisi tambahan (MSN/Katadata). Ini bukan beban finansial yang bisa ditanggung sembarang kelompok pendapatan. Munculnya gym-gym dengan fasilitas functional training dan komunitas "Hyrox-friendly" di kota besar makin mempertegas siapa target pasarnya: pekerja kantoran dan profesional urban dengan penghasilan dan waktu luang yang cukup untuk berlatih intensif satu hingga dua bulan sebelum race.
Pola ini terlihat lebih jelas kalau dua event dibandingkan berdampingan. Dengan tiket mulai Rp2,5 juta dan total pengeluaran yang bisa tembus Rp7 juta, bahkan Rp20 juta jika ke luar negeri, Hyrox jelas berbicara ke segmen menengah-atas: eksekutif muda, profesional urban, hingga selebritas dengan disposable income besar.
Siksorogo berbeda karakter. Tiket termurahnya mulai Rp400 ribu, jauh di bawah Hyrox. Profil peserta yang lebih luas ini mengindikasikan bahwa audiens Siksorogo menjangkau kelas menengah dalam pengertian yang lebih general, meski tetap membutuhkan biaya tambahan untuk transportasi dan akomodasi ke Tawangmangu. Perlu dicatat, perbedaan profil sosial-ekonomi peserta antara Hyrox dan Siksorogo ini adalah pengamatan awal, bukan kesimpulan terverifikasi soal motivasi masing-masing kelompok. Dorongan status sosial berpotensi hadir di kedua event dengan penanda yang berbeda, dan pembacaan ini belum diuji lewat riset primer.
Brand-brand besar pun ikut masuk membaca peluang ini. PUMA, sebagai mitra global Hyrox, meluncurkan program "Road to AirAsia HYROX Jakarta" lengkap dengan pembentukan tim seleksi terbuka yang diikuti lebih dari 100 pendaftar, serta merilis sepatu khusus kompetisi bernama Deviate Elite HYROX (Media Indonesia). Lapisan aspirasionalnya juga terlihat dari kehadiran figur publik. Sejumlah selebritas seperti Luna Maya, Cinta Laura, dan Irfan Bachdim ikut berlaga di berbagai kategori, sebagaimana dilaporkan Popmama dan Detik (Popmama, Detik). Kehadiran nama-nama dengan basis pengikut besar ini menambah daya tarik aspirasional pada keseluruhan paket olahraga tersebut.
Yang menarik, profil "siapa yang mampu" ini justru bergerak di tengah tekanan ekonomi pada kelas menengah itu sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS), dan dibahas juga melalui IMGR 2027, mencatat penurunan populasi kelas menengah dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024. Dari sisi belanja, kelas menengah bersama kelompok menuju kelas menengah masih menyumbang sekitar 81,22 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional, meski kelas menengah sendiri hanya menyumbang sekitar 38,66 persen (Susenas BPS, Maret 2025).
Artinya kelas menengah menyusut secara jumlah, tetapi daya belanja agregat dua kelompok ini tetap menjadi penopang utama konsumsi, dan sebagian dari belanja itu kini mengalir ke pengalaman seperti race.
Pergeseran motifnya pun layak dicatat. Studi Sei-katsu-sha Lab 2025 dari Hakuhodo bertajuk "Navigating the In Between" menemukan bahwa kelas menengah Indonesia kini berbelanja untuk memprioritaskan diri dan bertahan di tengah ketidakpastian, bukan semata untuk menunjukkan status (Bisnis.com). Temuan ini penting karena menempatkan tren olahraga ekstrem di persimpangan dua dorongan yang bisa hidup bersamaan: hasrat untuk diakui dan kebutuhan untuk merawat diri.
Medali Finisher: Status Symbol yang Baru
Ini yang menarik untuk direnungkan: jika dulu kelas menengah-atas menunjukkan pencapaian lewat barang seperti tas branded, mobil, dan liburan ke luar negeri, kini sebagian dari mereka menunjukkannya lewat ketahanan tubuh yang dipamerkan di Strava dan Instagram Stories.
Finisher patch, race bib, dan foto keringat di garis finish menjadi mata uang sosial baru. Tidak heran jika salah satu peserta Hyrox, Hamida Dwiningtias, menegaskan bahwa motivasinya bukan sekadar mengejar medali. Baginya, kompetisi ini menjadi ajang pembuktian bahwa kebugaran fisik harus menyeluruh, mencakup kekuatan angkat beban sekaligus kemampuan berlari (MSN/Katadata). Ia bahkan mengingatkan agar orang tidak asal ikut karena FOMO tanpa fondasi kebugaran yang memadai. Pengingat ini menegaskan bahwa di balik tren ada risiko nyata bagi peserta yang ikut-ikutan tanpa persiapan.
Fenomena ini bisa dibaca sebagai bentuk wellness flexing, yaitu penderitaan yang dipilih sendiri seperti kelelahan, nyeri otot, dan kurang tidur demi jadwal latihan subuh, yang dikonversi menjadi bukti disiplin dan kapital sosial. Secara konseptual, polanya mengingatkan pada gagasan conspicuous leisure yang diperkenalkan ekonom Thorstein Veblen pada 1899 lewat The Theory of the Leisure Class. Jika conspicuous consumption memamerkan apa yang dibeli, conspicuous leisure menonjolkan kemampuan seseorang menyisihkan waktu dan tenaga untuk kegiatan yang secara ekonomi tidak produktif sebagai penanda status. Berbeda dengan barang mewah yang bisa dibeli instan, finisher medal membutuhkan investasi waktu yang tidak bisa dipalsukan, dan justru di situlah nilainya sebagai penanda status terasa lebih otentik bagi sebagian orang.
Perlu dicatat, pembacaan psikologis dan sosial ini masih bersifat interpretatif. Ia berguna sebagai lensa untuk memahami pola, tetapi belum diverifikasi lewat riset primer terhadap peserta, sehingga sebaiknya dibaca sebagai hipotesis, bukan kesimpulan final.
Sisi Gelap yang Jarang Disorot: Ketika Tubuh Tidak Kompromi
Namun optimisme soal wellness flexing dan status simbol baru ini punya sisi yang tak selalu masuk unggahan Instagram. Mengutip GPriority, di Hyrox Jakarta, tim medis event melaporkan masih banyak ditemukan peserta yang tumbang selama kompetisi, salah satu penyebabnya adalah heat stroke, kondisi yang menurut dokter spesialis olahraga yang bertugas di ajang tersebut terasa kontradiktif karena race digelar di dalam ruangan yang sejatinya sejuk. Dokter yang sama mengingatkan publik agar tidak asal ikut karena FOMO tanpa persiapan fisik memadai, mengingat kombinasi lari jarak jauh dan latihan beban intensitas tinggi menuntut fondasi kardio yang kuat. (GPriority)
Peringatan semacam ini bukan tanpa alasan. Di Siksorogo Lawu Ultra 2025, dua peserta kategori Fun Run 15K meninggal dunia saat perlombaan berlangsung pada 7 Desember, satu akibat gangguan pernapasan yang dipicu asma di cuaca dingin pegunungan, satu lagi akibat serangan jantung. Menurut keterangan resmi Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah, keduanya memiliki riwayat penyakit bawaan yang tidak disampaikan saat pemeriksaan kesehatan pra-lomba. Insiden tersebut mendorong panitia mengevaluasi jalur lomba dan menambah tenaga medis di titik-titik rawan.
Kejadian ini juga membuka celah yang jarang dibahas: perlindungan finansial bagi peserta olahraga ketahanan ternyata masih sangat terbatas. Panitia SLU mengonfirmasi bahwa polis asuransi yang disediakan hanya mencakup kecelakaan fisik seperti terjatuh ke jurang atau tertimpa pohon, bukan kejadian medis seperti serangan jantung, sehingga kedua keluarga korban hanya menerima santunan dari panitia, bukan klaim asuransi. Dengan kata lain, semakin besar ambisi tubuh dipertaruhkan di ajang-ajang ini, semakin jelas pula bahwa jaring pengamannya belum sepenuhnya mengikuti.
Merespons hal ini, penyelenggara tampaknya mulai berbenah. Untuk edisi 2026, Siksorogo Ring of Lawu menggandeng BPJS Ketenagakerjaan sebagai penyedia asuransi bagi seluruh peserta, mulai dari kategori road run 5K hingga ultra 100K, sebagaimana tercantum dalam fasilitas resmi di setiap kategori pendaftaran. Langkah ini sejalan dengan tren yang lebih luas, mengingat BPJS Ketenagakerjaan belakangan memang mulai merambah ke ranah sport tourism dan event lari nasional. Sejauh mana skema ini menjawab celah yang muncul di edisi sebelumnya masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut ke penyelenggara.
Bukan Cuma Soal Pamer: Dampak Ekonomi yang Nyata
Namun, tren ini tidak melulu soal kritik kelas sosial. Khusus untuk Siksorogo, dampaknya pada ekonomi lokal Tawangmangu cukup signifikan untuk dicatat.
Perputaran uang selama penyelenggaraan SLU 2025 diperkirakan mencapai hampir Rp20 miliar, melonjak tajam dari sekitar Rp12 miliar pada tahun sebelumnya, didorong oleh kenaikan jumlah peserta dari 4.500 menjadi 5.700 orang. Dengan jumlah peserta sebanyak itu, seluruh penginapan di sekitar lokasi penuh dipesan, dan dampaknya dirasakan mulai dari hotel, vila, hingga pelaku UMKM setempat (Espos.id).
Bahkan Kementerian Pariwisata telah menandai Siksorogo Lawu Ultra sebagai salah satu ajang sport tourism yang potensial untuk terus dikembangkan, dengan rencana dukungan lebih lanjut pada penyelenggaraan berikutnya. Warga sekitar pun dilibatkan langsung. Sejak dua pekan sebelum acara, mereka bergotong royong memperbaiki jalur, membersihkan pos, dan menyiapkan konsumsi lokal untuk peserta. Sebagian bahkan membuka rumah pribadi sebagai tempat menginap dadakan ketika seluruh hotel formal penuh.
Skalanya pun tidak berhenti di Tawangmangu. Di level event lari urban, dampak ekonominya bisa jauh lebih besar. Melansir GoodStats, BTN Jakarta International Marathon 2025 menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp127,1 miliar dengan 31.000 peserta dari 53 negara, menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga retail olahraga (GoodStats). Secara agregat, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memproyeksikan nilai ekonomi sport tourism nasional pada 2024 mencapai sekitar Rp18,79 triliun, dengan kontribusi 25 hingga 30 persen terhadap total event pariwisata (Kemenpora). Sebagai pembanding global, UN Tourism mencatat sport tourism menyumbang sekitar 10 persen belanja wisata dunia, sementara survei Expedia menemukan 44 persen wisatawan bersedia bepergian ke luar negeri demi event olahraga dengan rata-rata pengeluaran sekitar 1.500 dolar AS per kunjungan (Laksara).
Artinya, di balik narasi "olahraga mahal untuk kelas atas", ada redistribusi ekonomi nyata, baik ke daerah yang selama ini jarang mendapat sorotan wisata besar maupun ke ekosistem industri yang lebih luas. Ini nuansa yang patut diakui di tengah kritik soal eksklusivitas tren ini.
Insight untuk Brand: Audiens Premium yang Berkumpul Sukarela
Bagi pelaku pemasaran, fenomena ini menawarkan sesuatu yang langka: audiens bernilai tinggi yang menyaring dirinya sendiri. Tiket jutaan rupiah dan komitmen latihan berminggu-minggu otomatis menyeleksi peserta menjadi profesional urban dengan disposable income, kesadaran kesehatan, dan kebiasaan dokumentasi digital. Kelompok ini sulit dijangkau lewat iklan konvensional, tetapi berkumpul sukarela di satu lokasi dan satu momen.
Pola sponsorship yang sudah berjalan memberi peta yang jelas. Di Hyrox Jakarta, ION Water dari Amerta Indah Otsuka masuk sebagai mitra hidrasi, AirAsia menunggangi angle sport tourism lewat penamaan event, dan PUMA membangun komunitas lewat program "Road to AirAsia HYROX Jakarta" sekaligus merilis sepatu khusus. Di ekosistem lari reguler, model serupa dijalankan ISOPLUS dari WINGS Group dan Herbalife. Benang merahnya: di ruang ini, sponsorship berfungsi sebagai community building, bukan sekadar penempelan logo. Brand yang membangun training club atau program persiapan mendapat akses ke audiens jauh sebelum hari lomba.
Kansnya pun masih lebar. Kategori yang sudah ramai mencakup hidrasi, nutrisi, sepatu, apparel, dan wearable seperti Garmin serta platform seperti Strava. Yang masih terbuka antara lain layanan recovery, solusi finansial dan paylater untuk gear dan tiket, hospitality untuk tren runcation, serta produk kecantikan tahan keringat untuk segmen peserta perempuan yang terus tumbuh.
Asuransi jadi salah satu ruang yang masih terbuka lebar, terutama karena polis event olahraga ketahanan di Indonesia umumnya dirancang untuk kecelakaan fisik semacam terjatuh atau tertimpa benda, sementara risiko medis seperti serangan jantung atau heat stroke, dua hal yang justru paling relevan di olahraga intensitas tinggi, masih jarang tercakup.
Insiden di berbagai event olahraga, terutama lari, di mana ada peserta yang meninggal akibat kondisi jantung dan pernapasan tidak mendapat klaim asuransi, sempat menunjukkan celah ini secara telak. Siksorogo sendiri merespons dengan menggandeng BPJS Ketenagakerjaan di edisi 2026, langkah yang patut diapresiasi.
Namun, pertanyaannya kini bergeser ke seluruh industri: berapa banyak dari 558 event lari lain sepanjang tahun yang punya skema perlindungan serupa? Brand asuransi atau insurtech yang berani merancang produk khusus untuk olahraga ketahanan, semacam proteksi berbasis pemeriksaan kesehatan pra-lomba atau cover kondisi kardiovaskular, punya ruang mengisi kekosongan yang selama ini luput dari sponsorship hidrasi, sepatu, dan nutrisi.
Pelajaran strategis paling dalam justru ada pada karakter "status sebagai usaha" yang jadi tesis tulisan ini. Karena nilai sosial finisher medal berasal dari proses yang tidak bisa dibeli instan, brand yang menang adalah yang ikut memuliakan perjalanan, bukan sekadar produk akhirnya. Konten journey peserta adalah pabrik user-generated content yang otentik, dan lencana yang "harus diperjuangkan" lebih bernilai dibanding hadiah yang sekadar dibagikan.
Terakhir, ada dimensi kedaerahan dan tanggung jawab. Model Siksorogo menunjukkan event ketahanan membuka pintu untuk brand lokal dan UMKM, bukan hanya brand nasional, sehingga aktivasi regional punya ruang nyata. Di sisi lain, audiens ini sensitif terhadap sponsorship yang terasa palsu, dan ada risiko reputasi bila brand mendorong FOMO tanpa konteks keamanan. Seperti diingatkan salah satu peserta sendiri, ikut tanpa fondasi kebugaran membawa risiko cedera. Brand yang memposisikan diri di sisi edukasi dan kredibilitas akan menua lebih baik dibanding yang hanya menumpang hype.
Implikasi untuk Kebijakan: Dari Tren Gaya Hidup ke Aset Pembangunan
Jika brand membaca tren ini sebagai pasar, pembuat kebijakan punya alasan untuk membacanya sebagai instrumen pembangunan yang sudah mulai bergerak. Arah pemerintah cukup jelas. Pada penghujung 2025, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pemuda dan Olahraga menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat sinergi pengembangan sport tourism (HetaNews). Kemenpora bahkan tengah menyusun Road Map Wisata Olahraga Indonesia sebagai panduan nasional bagi pengembangan destinasi dan event yang berkelanjutan (Kemenpora). Angka-angka dalam tulisan ini, dari Rp20 miliar di Tawangmangu hingga Rp127,1 miliar di Jakarta dan Rp18,79 triliun secara nasional, menegaskan bahwa event ketahanan sudah melampaui status gaya hidup dan mulai berfungsi sebagai infrastruktur ekonomi. Namun menerjemahkan tren ini menjadi nilai publik yang berkelanjutan menuntut perhatian kebijakan pada beberapa titik.
Keberlanjutan dan keterkaitan ekonomi lokal. Dampak ekonomi tren ini paling terasa ketika manfaatnya mengalir ke masyarakat setempat. Pocari Sweat Run Mandalika 2025, misalnya, menarik lebih dari 9.000 peserta dengan 70 persen di antaranya datang dari luar Lombok, dan menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp85,5 miliar yang menggerakkan akomodasi, restoran, transportasi, hingga UMKM (Laksara). Tantangannya, sebagaimana ditekankan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, ada pada konsistensi, karena event semacam ini perlu berkelanjutan agar manfaat ekonominya dirasakan terus-menerus, bukan sekali lewat. Kebijakan yang baik akan mendorong rancangan event yang memaksimalkan keterkaitan lokal, mulai dari pelibatan vendor dan tenaga kerja setempat hingga penginapan warga, seperti yang sudah terjadi secara organik di Tawangmangu.
Standar dan keselamatan peserta. Sisi lain dari ledakan 558 event lari sepanjang 2025 adalah kualitas penyelenggaraan yang belum merata dan risiko cedera yang nyata, persis seperti yang diingatkan peserta soal bahaya ikut karena FOMO tanpa fondasi kebugaran. Menteri Pariwisata sendiri mendorong penyelenggara meningkatkan standar agar setara kelas dunia (Laksara), sementara Kemenpora menyoroti perlunya peningkatan kapasitas SDM penyelenggara event (Kemenpora). Bagi kebijakan, ini ruang yang konkret: standar medis dan keselamatan minimum, sertifikasi penyelenggara, serta protokol evakuasi, terutama untuk kategori ultra dan trail di kawasan terpencil seperti lereng gunung yang akses pertolongannya terbatas.
Daya dukung lingkungan. Banyak event ketahanan justru menjual keindahan alam, dari Gunung Lawu hingga Danau Toba, yang sebagian berada di ekosistem rentan. Pertumbuhan jumlah peserta yang cepat perlu diimbangi penilaian daya dukung lingkungan, manajemen sampah, dan perlindungan jalur, agar aset alam yang menjadi daya tarik utama tidak rusak oleh popularitasnya sendiri.
Pemerataan akses dan kesehatan publik. Ini titik yang paling dekat dengan tesis tulisan ini. Survei Nielsen 2025 mencatat 86 persen masyarakat Indonesia kini proaktif menjaga kesehatan, jauh di atas rata-rata global 70 persen (Laksara). Ini peluang kesehatan publik yang besar. Namun, ada risiko bahwa kebugaran terorganisir berubah menjadi penanda kelas, sementara infrastruktur publik yang gratis atau murah tertinggal. Jika tiket jutaan rupiah dan waktu latihan terstruktur jadi syarat, manfaat kesehatan bisa tersegmentasi mengikuti kemampuan ekonomi, di tengah populasi kelas menengah yang justru sedang menyusut. Kebijakan yang menyeimbangkan tren ini akan menjaga ruang publik untuk aktivitas gratis seperti Car Free Day dan lintasan lari komunitas, sekaligus memasangkan promosi gaya hidup aktif dengan edukasi soal partisipasi yang aman.
Pemerintah sudah memosisikan sport tourism sebagai mesin ekonomi baru, dan kolaborasi lintas kementerian yang dipimpin Menpora Erick Thohir menegaskan arah itu (Republika). Nilai tambah dari kacamata independen justru ada pada memastikan mesin ini tumbuh secara inklusif, aman, dan berkelanjutan, sehingga manfaatnya menjangkau lebih luas dari sekadar mereka yang sejak awal sudah mampu membayar tiket masuk.
Penutup: Soal Kesehatan, atau Soal Pengakuan?
Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apakah olahraga ekstrem ini baik untuk kesehatan", karena jawabannya jelas iya, asal dilakukan dengan persiapan yang memadai. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apakah dorongan untuk ikut serta benar-benar berasal dari keinginan menjaga tubuh, atau dari kebutuhan untuk diakui dalam lingkaran sosial tertentu?
Mungkin jawabannya tidak hitam-putih. Temuan Hakuhodo soal belanja sebagai self-care dan teori conspicuous leisure sama-sama bisa benar pada saat yang sama. Seseorang bisa tulus ingin sehat sekaligus menikmati validasi sosial yang menyertainya. Yang pasti, baik Hyrox maupun Siksorogo menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia sedang mencari cara baru untuk menunjukkan pencapaian, bukan lagi lewat apa yang mereka miliki, tapi lewat apa yang sanggup mereka tahan.
Tren ini kemungkinan tidak akan berhenti di Hyrox dan Siksorogo saja. Dengan makin banyak event serupa direncanakan masuk ke Indonesia, pertanyaan berikutnya barangkali bukan "olahraga ekstrem apa lagi yang akan booming", melainkan "siapa lagi yang akan mampu, dan mau, membayar untuk merasakannya".
Sumber
Bisnis.com. (2025). Tren baru kelas menengah Indonesia, belanja jadi bentuk self-care. https://foto.bisnis.com/view/20251105/1926859/tren-baru-kelas-menengah-indonesia-belanja-jadi-bentuk-self-care
DOKU. (2025). Katadata Indonesia Middle Class Report 2025. https://www.doku.com/en-us/blog/kelas-menengah-indonesia
Espos.id. (2025). Siksorogo Lawu Ultra Karanganyar sedot 5.700 pelari, perputaran uang Rp20 miliar. https://solopos.espos.id/siksorogo-lawu-ultra-karanganyar-sedot-5700-pelari-perputaran-uang-rp20-miliar-2170195
EventGuide. (2025). Indonesia Sports Summit 2025: Langkah perkuat pengembangan wisata olahraga. https://eventguide.id/2025/12/08/indonesia-sports-summit-2025-langkah-perkuat-pengembangan-wisata-olahraga/
Fenesia. (2025). Hyrox Jakarta pecahkan rekor, 11 ribu peserta ramaikan kompetisi terbesar. https://www.fenesia.com/hyrox-jakarta-pecahkan-rekor-11-ribu-peserta-ramaikan-kompetisi-terbesar/
GoodStats. (n.d.). Peningkatan tren lari di Indonesia: Bagaimana manfaatnya bagi ekonomi nasional. https://goodstats.id/article/peningkatan-tren-lari-di-indonesia-bagaimana-manfaatnya-bagi-ekonomi-nasional-6s7oI
HetaNews. (2025). Potensi sports tourism di Indonesia. https://www.hetanews.com/article/305022/potensi-sports-tourism-di-indonesia
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. (2025). Sport tourism: Cara baru mempromosikan citra daerah dan produk lokal. https://deputi4.kemenpora.go.id/detail/392/sport-tourism-cara-baru-mempromosikan-citra-daerah-dan-produk-lokal
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. (2025). Kemenpora dorong sport tourism jadi penggerak ekonomi, ajak daerah perkuat sinergi. https://deputi4.kemenpora.go.id/detail/527/kemenpora-dorong-sport-tourism-jadi-penggerak-ekonomi-ajak-daerah-perkuat-sinergi
Laksara. (2025). Kementerian Pariwisata perkuat pengembangan wisata olahraga sebagai mesin ekonomi baru. https://laksara.id/2025/12/08/kementerian-pariwisata-perkuat-pengembangan-wisata-olahraga-sebagai-mesin-ekonomi-baru/
Liputan6. (2025). Event lari, antara tren sehat atau cuma ikut-ikutan Gen Z? https://www.liputan6.com/hot/read/6145588/event-lari-antara-tren-sehat-atau-cuma-ikut-ikutan-gen-z
Liputan6. (2025). Jakarta bakal gelar lomba Hyrox terbesar di Asia Pasifik, targetkan 11.500 peserta. https://www.liputan6.com/lifestyle/read/7661277/jakarta-bakal-gelar-lomba-hyrox-terbesar-di-asia-pasifik-targetkan-11500-peserta
Media Indonesia. (2025). Ajang kebugaran global HYROX hadir perdana di Jakarta pada 2026. https://mediaindonesia.com/olahraga/904836/ajang-kebugaran-global-hyrox-hadir-perdana-di-jakarta-pada-2026
MSN Indonesia. (2025). Demam Hyrox: Mengapa ribuan orang rela merogoh jutaan rupiah demi bertanding? https://www.msn.com/id-id/ekonomi/ekonomi/demam-hyrox-mengapa-ribuan-orang-rela-merogoh-jutaan-rupiah-demi-bertanding/ar-AA26JsDs
Okezone. (n.d.). Tren lari melejit 330 persen: 17.000 pelari siap unlock your greatness di Jakarta dan Surabaya. https://justforkids.okezone.com/read/tren-lari-melejit-330-persen-17000-pelari-siap-unlock-your-greatness-di-jakarta-dan-surabaya-8Nc4j8
Popmama. (2025). Deretan artis yang ikut HYROX Jakarta 2026. https://www.popmama.com/life/health/deretan-artis-yang-ikut-hyrox-jakarta-2026-00-ffxgk-y76411
Republika. (2025). Kemenpora–Kemenpar perkuat sinergi sport tourism, digenjot pada 2026. https://news.republika.co.id/berita/t7oat7348/kemenporakemenpar-perkuat-sinergi-sport-tourism-digenjot-pada-2026-pantai-dan-gunung-jadi-andalan
Siksorogo. (n.d.). Situs resmi Siksorogo. https://siksorogo.id/
Suara.com. (2025). Berapa biaya HYROX? Olahraga yang booming dan banyak dicari sepanjang 2025. https://www.suara.com/lifestyle/2025/12/05/200000/berapa-biaya-hyrox-olahraga-yang-booming-dan-banyak-dicari-sepanjang-2025?page=2
Suara.com. (2025). Berapa biaya pendaftaran Siksorogo Lawu Ultra? https://www.suara.com/lifestyle/2025/12/09/115416/berapa-biaya-pendaftaran-siksorogo-lawu-ultra-trail-run-skala-internasional-yang-viral?page=2
Tabloid Pulsa. (2025). Global Running Day 2025: Garmin Connect ungkap tren lari di Indonesia. https://tabloidpulsa.id/global-running-day-2025-garmin-connect-ungkap-tren-lari-di-indonesia/














