Kalau konsumen makin sensitif terhadap harga, setiap brand harus bisa menjawab satu pertanyaan: value apa yang konsumen dapat ketika memilih produk kita?
Pertanyaan ini bukan hanya soal pricing. Bagi marketer, jawabannya menyentuh value proposition, customer acquisition, retention, dan cara brand mempertahankan price position di tengah perubahan daya beli.
Untuk brand lokal
Pertama, gunakan harga sebagai entry point, lalu pertahankan konsumen lewat kualitas. Hambatan terbesar produk lokal adalah keraguan kualitas dan klaim berlebihan. Klaim yang terukur, informasi bahan yang jelas, dan bukti uji produk membantu mengubah trial menjadi repeat purchase.
Kedua, gunakan promosi sebagai alat customer acquisition. Promosi terbukti menarik Gen Z, dan data Worldpanel menunjukkan pertumbuhan merek banyak bergantung pada penambahan pembeli. Tantangannya kemudian bukan hanya mendapatkan first purchase, tetapi memastikan pengalaman produk cukup kuat untuk menghasilkan pembelian berikutnya.
Ketiga, petakan cost exposure sebelum menjadikan harga murah sebagai senjata utama. Jika bahan baku dan kemasan bergantung pada impor, keunggulan harga dapat menyusut ketika kurs bergerak. Low-price positioning perlu dibangun di atas struktur biaya yang mampu dipertahankan.
Untuk brand global
Pertama, buat alasan di balik price premium terlihat. Data Populix menunjukkan konsumen muda memilih produk luar negeri karena inovasi dan bahan. Ketika selisih harga melebar, keunggulan tersebut perlu dikomunikasikan secara konkret dengan klaim yang bisa dibuktikan.
Kedua, siapkan price architecture yang lebih lentur. Worldpanel menekankan pentingnya variasi ukuran kemasan dan struktur harga yang menyesuaikan kondisi pembeli. Varian ukuran kecil atau format hemat dapat menjaga brand tetap berada dalam consideration set konsumen yang sedang berhemat.
Ketiga, jangan mengandalkan brand equity sebagai satu-satunya pengaman. Bagi Gen Z, kepercayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan hubungan dengan brand. Data YouGov menunjukkan hilangnya kepercayaan dapat membuat mereka berhenti membeli.
Tekanan harga 2026 belum membuktikan bahwa anak muda meninggalkan brand global. Yang terlihat adalah konsumen yang semakin cermat menimbang apa yang mereka dapat dari setiap rupiah.
Bagi marketer, pertanyaannya kemudian bergeser dari sekadar “berapa harga produk kita?” menjadi “mengapa konsumen merasa harga tersebut layak dibayar?” Di tengah tekanan biaya dan persaingan yang semakin padat, kemampuan brand menerjemahkan harga menjadi perceived value menjadi bagian penting dari competitive strategy.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 September). Indeks Harga Ekspor dan Indeks Harga Impor Indonesia Triwulan II-2026 masing-masing naik sebesar 10,92% dan 14,19% dibandingkan triwulan sebelumnya [Berita Resmi Statistik]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/09/01/2613/indeks-harga-ekspor-dan-indeks-harga-impor-indonesia-triwulan-ii-2026-masing-masing-naik-sebesar-10-92-persen-dan-14-19-persen-dibandingkan-triwulan-sebelumnya.html
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 September). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen [Berita Resmi Statistik]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/09/01/2611/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-agustus-2026-sebesar-3-19-persen-.html
Badan Pusat Statistik. (2026, 31 Agustus). Statistik perdagangan luar negeri bulanan impor Juni 2026. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2026/08/31/0ce6cf7a4d238bc6da50fce1/statistik-perdagangan-luar-negeri-bulanan-impor-juni-2026.html
Badan Pusat Statistik. (2026). Berita resmi statistik [Indeks Harga Perdagangan Besar Juni 2026]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/en/pressrelease
Bank Indonesia. (2026, 21 Agustus). Tinjauan kebijakan moneter Agustus 2026. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/TKM-Agustus-2026.aspx
CNBC Indonesia. (2026, 12 Mei). Diam-diam banyak warga RI mulai pilih beli barang murah, ada apa? Diakses 23 September 2026, dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20260512141218-4-734414/diam-diam-banyak-warga-ri-mulai-pilih-beli-barang-murah-ada-apa
CNN Indonesia. (2026, 3 Agustus). BPS catat impor RI tembus US$25,91 M per Juni 2026, ini penyebabnya. Diakses 23 September 2026, dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260803145742-532-1388036/bps-catat-impor-ri-tembus-us-2591-m-per-juni-2026-ini-penyebabnya
Fortune Indonesia. (2025, 16 Mei). Gen Z-milenial pilih skincare lokal, meski banjir produk impor. Diakses 23 September 2026, dari https://www.fortuneidn.com/business/survei-gen-z-milenial-pilih-skincare-lokal-meski-banjir-produk-impor-00-4pj81-w4v19z
Jakpat. (2025, 22 Agustus). Local products gain momentum in Indonesia. Diakses 23 September 2026, dari https://insight.jakpat.net/local-products-gain-momentum-in-indonesia/
Kontan. (2025, 30 Desember). Rupiah akhir 2025: Menguat 0,10% di perdagangan terakhir, pelemahan tahunan 3,96%. Diakses 23 September 2026, dari https://pusatdata.kontan.co.id/news/rupiah-akhir-2025-menguat-010-di-perdagangan-terakhir-pelemahan-tahunan-396
Kontan. (2026, 4 Mei). BPS: Impor barang konsumsi Maret turun 10,81%, bahan baku dan barang modal naik. Diakses 23 September 2026, dari https://nasional.kontan.co.id/news/bps-impor-barang-konsumsi-maret-turun-1081-bahan-baku-dan-barang-modal-naik
Media Asuransi. (2025, 17 Mei). Survei Populix: Meskipun dibanjiri produk luar, skincare lokal masih juara. Diakses 23 September 2026, dari https://mediaasuransinews.co.id/ekonomi-bisnis/survei-populix-meskipun-dibanjiri-produk-luar-skincare-lokal-masih-juara/
Periskop.id. (2026, 3 Agustus). BPS: Impor RI semester I 2026 capai US$136,24 miliar. Diakses 23 September 2026, dari https://periskop.id/ekonomi/20260803/bps-impor-ri-semester-i2026-capai-us13624-miliar
PwC Indonesia. (2026, 3 September). Masyarakat Indonesia semakin mengandalkan teknologi, sumber terpercaya dan komunitas dalam menjalani gaya hidup yang lebih sehat, menurut survei PwC [Siaran pers]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2026/indonesian/voice-of-the-consumer-survey-2026.html
RRI. (2026, 16 Juli). Laporan Brand Footprint 2026: Persaingan merek FMCG di Indonesia kian ketat. Diakses 23 September 2026, dari https://rri.co.id/ekonomi/bisnis/2572361/laporan-brand-footprint-2026-persaingan-merek-fmcg-di-indonesia-kian-ketat
Tabloid Bintang. (2026, Juli). Persaingan FMCG makin ketat, Worldpanel ungkap strategi agar merek terus tumbuh. Diakses 23 September 2026, dari https://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/216980-persaingan-fmcg-makin-ketat-worldpanel-ungkap-strategi-agar-merek-terus-tumbuh
Tempo. (2026, 1 September). Analis memprediksi rupiah melemah pada September. Diakses 23 September 2026, dari https://www.tempo.co/ekonomi/analis-memprediksi-rupiah-melemah-pada-september-2284847
Worldpanel by Numerator. (2026, 8 Juni). Shoppers' quest for value and inspiration is reshaping Indonesian FMCG. Diakses 23 September 2026, dari https://worldpanelbynumerator.com/insights/indonesia-fmcg-outlook-2026
YouGov. (2026, 18 Maret). APAC report: The Gen Z brand leaderboard. Diakses 23 September 2026, dari https://yougov.com/reports/54323-apac-report-the-gen-z-brand-leaderboard