Belanja Konsumen Naik 5,62%: Tantangan Pertumbuhan FMCG pada 2027

- Pengeluaran konsumen naik 5,62% pada Maret 2026, tetapi setelah inflasi 3,48%, pertumbuhan riil sekitar 2,1%; konsumsi kalori justru turun 0,29%.
- Pangsa anggaran pangan naik di semua kuintil, terutama kelompok menengah bawah, sehingga kategori nonpokok menghadapi persaingan belanja lebih ketat di tengah ruang anggaran terbatas.
- Menjelang Ramadan 2027, brand FMCG perlu membedakan pertumbuhan dari harga, bauran, dan unit terjual; makanan-minuman jadi menyerap 57,8% kenaikan belanja pangan.
Rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia mencapai Rp1.657.281 per kapita per bulan pada Maret 2026, naik 5,62 persen dibandingkan Maret 2025 (BPS, 2026a, 2026b). Namun, kenaikan nominal ini tidak sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan konsumsi. Inflasi tahunan mencapai 3,48 persen pada Maret 2026. Jika angka tersebut digunakan sebagai penyesuaian harga secara sederhana, pertumbuhan pengeluaran riil berada di kisaran 2,1 persen. Pada periode yang sama, konsumsi kalori per kapita justru turun 0,29 persen menjadi 2.067,36 kkal per hari.
Bagi brand fast-moving consumer goods (FMCG), ini adalah sinyal utama: nilai belanja tumbuh, tetapi nilai saja tidak cukup untuk membaca kekuatan permintaan. Pertumbuhan penjualan bisa berasal dari harga atau perubahan bauran produk, bukan semata-mata dari bertambahnya unit yang dibeli. Data agregat ini tidak membuktikan bahwa volume seluruh kategori FMCG turun, tetapi cukup menunjukkan mengapa pertumbuhan nominal perlu dibedah lebih jauh.
Narasi konsumen yang makin terencana juga perlu dibaca dalam konteks tersebut. Survei Ramadan 2026 dari Moonfolks dan Havas Moonfolks, yang dilansir Marketech APAC, mencatat 62 persen konsumen merencanakan pengeluaran lebih awal dan 58 persen mengurangi pembelian impulsif. Sebanyak 54 persen memprioritaskan kebutuhan pokok, tetapi tetap menyisakan setidaknya satu hadiah untuk diri sendiri (Carmona, 2026). Temuan ini menggambarkan niat konsumen selama musim belanja Ramadan, bukan bukti langsung perubahan pembelian sepanjang tahun. Namun, ketika dibaca bersama data pengeluaran rumah tangga, survei tersebut menguatkan satu agenda bagi brand: memahami bagaimana konsumen mengalokasikan uang, bukan hanya berapa banyak yang dibelanjakan.
Porsi anggaran pangan meningkat di seluruh kuintil, nilai belanja beras naik saat kuantitas konsumsinya turun, dan 57,8 persen kenaikan belanja makanan berasal dari kelompok makanan dan minuman jadi. Untuk menuju Ramadan 2027, tantangan FMCG bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan penjualan. Tantangannya adalah mengetahui bagian pertumbuhan yang benar-benar berasal dari volume, menentukan kategori yang masih memperoleh ruang dalam anggaran rumah tangga, dan bersaing di antara pilihan konsumsi yang makin beragam.
Porsi Anggaran Pangan Naik, Ruang untuk Kategori Lain Makin Diperebutkan
Pangsa pengeluaran pangan nasional naik dari 49,42 persen pada Maret 2025 menjadi 49,80 persen pada Maret 2026. Belanja makanan per kapita tumbuh 6,42 persen, lebih cepat daripada belanja nonmakanan yang tumbuh 4,84 persen. Kenaikan pangsa pangan terjadi di kelima kuintil pengeluaran (BPS, 2026a).
Kenaikan terbesar tercatat pada kuintil 2 dan kuintil 3, masing-masing 0,69 dan 0,65 poin persentase menurut perhitungan IDNR. Sebaliknya, pangsa pangan kuintil 5 hanya naik 0,06 poin persentase. Pola ini menunjukkan bahwa porsi anggaran untuk kebutuhan pangan bertambah lebih besar pada kelompok menengah ke bawah, yang memang sudah mengalokasikan lebih dari separuh pengeluarannya untuk pangan. Ketika kebutuhan dasar menyerap porsi anggaran yang lebih besar, kategori di luar kebutuhan pokok harus bersaing lebih ketat untuk mendapatkan belanja konsumen.
BPS menyebut dua penjelasan atas kenaikan pangsa pangan: rumah tangga menyesuaikan anggaran karena harga atau keterbatasan sumber daya, atau beralih ke konsumsi pangan yang lebih berkualitas dan bergizi (BPS, 2026b). Kenaikan belanja telur dan susu sebesar 12,46 persen sejalan dengan kemungkinan kedua, tetapi nilai belanja saja tidak menunjukkan apakah kualitas gizi benar-benar membaik. Data beras justru memperlihatkan bahwa pengeluaran dapat meningkat ketika kuantitas konsumsi menurun.
Di sisi nonmakanan, sejumlah pos yang dekat dengan belanja diskresioner tumbuh jauh di bawah kenaikan pengeluaran total sebesar 5,62 persen. Belanja barang tahan lama naik 0,63 persen, keperluan pesta dan upacara 0,65 persen, serta pakaian, alas kaki, dan tutup kepala 1,90 persen. Perumahan dan fasilitas rumah tangga menyerap dua pertiga kenaikan belanja nonmakanan, berdasarkan perhitungan IDNR dari data BPS (2026a).
Perbandingan kuintil menunjukkan pergeseran komposisi pengeluaran antarperiode, bukan perubahan pada rumah tangga yang sama, karena keanggotaan setiap kuintil disusun ulang setiap tahun. Meski begitu, arah agregatnya jelas: porsi anggaran pangan meningkat di seluruh kelompok pengeluaran, sementara sejumlah kategori nonmakanan tumbuh lebih lambat daripada total pengeluaran.
Pengeluaran Riil, Upah, dan Ruang Anggaran Konsumen
Inflasi tahunan pada Maret 2026 mencapai 3,48 persen, dibandingkan 1,03 persen pada Maret 2025 (BPS, 2026c; Bank Indonesia, 2025, 2026d). Dengan memakai inflasi Maret 2026 sebagai pendekatan penyesuaian harga, kenaikan pengeluaran nominal 5,62 persen setara dengan pertumbuhan sekitar 2,1 persen secara riil. Ini merupakan estimasi agregat, bukan ukuran langsung perubahan volume barang yang dibeli setiap rumah tangga, karena keranjang IHK tidak persis sama dengan komposisi pengeluaran Susenas.
Data upah memberi konteks tambahan. Rata-rata upah buruh naik dari Rp3,09 juta pada Februari 2025 menjadi Rp3,29 juta pada Februari 2026, atau sekitar 6,5 persen berdasarkan angka yang dibulatkan (BPS, 2025; BPS, 2026d). Angka ini lebih tinggi daripada kenaikan pengeluaran nominal 5,62 persen, tetapi periodenya berbeda satu bulan dan cakupannya tidak sama: upah buruh tidak mewakili seluruh sumber pendapatan rumah tangga. Karena itu, perbandingan tersebut tidak membuktikan bahwa pendapatan seluruh konsumen tumbuh lebih cepat daripada pengeluaran. Ia menegaskan pentingnya membedakan pertumbuhan upah buruh dari dinamika anggaran rumah tangga secara keseluruhan.
Tekanan anggaran juga terlihat pada kelompok berpengeluaran Rp1–2 juta per bulan. Survei Konsumen Bank Indonesia September 2026 menunjukkan kelompok ini mengalokasikan 77,2 persen pendapatannya untuk konsumsi dan menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang pesimistis terhadap kondisi pendapatannya saat ini (Hariyanto, 2026; IDN Research Institute, 2026). Angka ini bukan rata-rata nasional dan diukur pada September, sehingga bukan pembanding langsung untuk data pengeluaran Maret. Namun, angka tersebut memperlihatkan betapa kecilnya ruang anggaran yang tersisa bagi sebagian rumah tangga setelah kebutuhan konsumsi dipenuhi.
Bagi FMCG, implikasinya bukan bahwa semua konsumen akan mengurangi pembelian. Implikasinya adalah peluang pertumbuhan tidak tersebar merata: kategori kebutuhan dasar, kategori diskresioner, dan produk dengan tingkat harga berbeda akan menghadapi kondisi anggaran yang berbeda. Brand perlu membaca kenaikan penjualan bersama perubahan harga, bauran produk, unit yang terjual, serta kemampuan konsumen mempertahankan frekuensi pembelian.
Nilai Naik, Volume Tidak Selalu Ikut
Beras menjadi contoh paling konkret dari perbedaan antara nilai pengeluaran dan kuantitas konsumsi. Rata-rata konsumsi beras turun 3,02 persen, dari 6,45 kg menjadi 6,26 kg per kapita per bulan, sementara pengeluaran untuk beras naik 3,23 persen, dari Rp19.689 menjadi Rp20.324 per kapita per minggu (BPS, 2026b). Beras dikonsumsi oleh 99,09 persen rumah tangga. Artinya, pola ini terjadi pada komoditas yang hampir universal, meski tidak berarti setiap rumah tangga mengubah konsumsinya dengan cara yang sama.
Pola serupa terlihat pada indikator pangan secara agregat. Belanja makanan naik 6,42 persen, sementara konsumsi kalori turun 0,29 persen dan konsumsi protein hanya naik 0,13 persen menjadi 62,86 gram per kapita per hari. Di perdesaan, konsumsi kalori turun 0,61 persen dan protein turun 0,37 persen. Kalori dan protein bukan ukuran jumlah unit barang yang dibeli, tetapi memperlihatkan bahwa pertumbuhan nilai belanja tidak otomatis berjalan searah dengan indikator asupan pangan. BPS juga menegaskan bahwa besarnya pengeluaran tidak selalu mencerminkan kecukupan konsumsi kalori dan protein (BPS, 2026b).
Tekanan harga pangan berlanjut setelah Maret. Inflasi kelompok volatile food naik menjadi 5,03 persen secara tahunan pada September 2026, dari 4,06 persen pada Agustus. Kenaikan terutama disumbang cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Harga rata-rata cabai rawit naik dari Rp56.803 menjadi Rp70.746 per kilogram dalam sebulan. Pada saat yang sama, Bank Indonesia mencatat permintaan cabai, daging ayam ras, daging sapi, bawang merah, dan bawang putih pada September lebih rendah dibandingkan Agustus (Bank Indonesia, 2026a).
Bagi brand FMCG, implikasinya tegas: pertumbuhan nilai tidak boleh dipakai sendirian sebagai bukti bahwa permintaan menguat. Data Susenas tidak menyediakan perbandingan kuantitas tahunan untuk seluruh produk kemasan, sehingga data ini tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa volume FMCG secara keseluruhan turun. Namun, contoh beras cukup untuk menunjukkan risiko salah membaca pasar ketika kenaikan pengeluaran dianggap sama dengan pertumbuhan konsumsi.
Makanan dan Minuman Jadi Menyerap 57,8% Kenaikan Belanja Pangan
Dari kenaikan belanja makanan sebesar Rp49.792 per kapita per bulan, Rp28.801 atau 57,8 persen berasal dari kelompok makanan dan minuman jadi, berdasarkan perhitungan IDNR atas tabel Susenas. Belanja kelompok ini naik 11,59 persen menjadi Rp277.302, sementara porsinya dalam belanja makanan naik dari 32,04 persen menjadi 33,60 persen (BPS, 2026a).
Inilah salah satu titik pertumbuhan terbesar yang terlihat pada data pengeluaran rumah tangga. Namun, bagi brand FMCG, komposisi pertumbuhan sama pentingnya dengan besarnya angka. Kelompok makanan dan minuman jadi mencakup makanan siap santap seperti nasi campur dan bakso, sekaligus produk kemasan seperti air kemasan, air teh kemasan, dan sari buah kemasan. Data agregatnya belum memisahkan kontribusi keduanya. Porsi kelompok ini meningkat di setiap kuintil, dari 28,83 persen pada kuintil 1 hingga 36,96 persen pada kuintil 5 (BPS, 2026b). BPS mengaitkan pola tersebut dengan preferensi terhadap kepraktisan, layanan pesan-antar berbasis aplikasi, dan fungsi sosial makan bersama.
Perubahan tingkat partisipasi konsumsi, yakni persentase rumah tangga yang mengonsumsi suatu komoditas dalam seminggu terakhir, juga menunjukkan arah yang beragam. Partisipasi roti manis naik dari 64,46 menjadi 68,14 persen, kue kering dan biskuit dari 45,31 menjadi 47,56 persen, serta minuman jadi dari 60,90 menjadi 61,83 persen. Sebaliknya, partisipasi air teh kemasan dan minuman bersoda turun dari 19,85 menjadi 17,67 persen, sari buah kemasan dan minuman berenergi dari 17,37 menjadi 15,93 persen, serta mi bakso dari 67,86 menjadi 65,86 persen (BPS, 2026a). Angka partisipasi menunjukkan proporsi rumah tangga yang mengonsumsi tiap komoditas, bukan jumlah, frekuensi pembelian, atau nilai belanjanya.
Sejumlah lonjakan partisipasi perlu dibaca bersama konteks pengumpulan data. Anggur naik dari 3,89 menjadi 16,71 persen, kelengkeng dari 3,43 menjadi 14,68 persen, nasi campur dari 48,71 menjadi 68,75 persen, dan susu cair pabrik dari 10,11 menjadi 36,98 persen. Perbedaan waktu Lebaran, yang jatuh lebih awal pada Maret 2026 dibandingkan 2025, dapat memengaruhi konsumsi musiman. Susenas juga mencatat makanan yang diperoleh dari pemberian, termasuk bantuan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena pengaruh kalender pencacahan dan pencatatan bantuan belum dipisahkan, angka-angka tersebut belum cukup untuk disebut sebagai bukti pergeseran konsumsi yang struktural. Namun, angka itu menegaskan satu kebutuhan analitis: pertumbuhan kelompok makanan dan minuman jadi perlu diurai menurut jenis produk sebelum brand menentukan peluang investasinya.
Konsumen Mengaku Lebih Terencana; Brand Perlu Mengukur Perilaku Aktual
Whitepaper From Resilience to Revival dari Moonfolks dan Havas Moonfolks melaporkan bahwa 62 persen konsumen Indonesia merencanakan pengeluaran lebih awal selama Ramadan 2026, 58 persen mengurangi pembelian impulsif, dan 54 persen memprioritaskan kebutuhan pokok sambil tetap menyisakan setidaknya satu hadiah untuk diri sendiri. Laporan itu juga menyebut konsumen mencari nilai melalui paket (bundling) dan garansi produk, serta mencatat kenaikan 31 persen pada pembelian berkelompok dan skema buy now pay later (BNPL) (Carmona, 2026).
Angka tersebut menunjukkan niat dan pengakuan responden pada satu musim belanja. Artikel Marketech APAC yang melaporkannya tidak mencantumkan jumlah responden, metode, atau periode survei secara terperinci. Karena itu, survei ini paling tepat digunakan sebagai sinyal arah perilaku selama Ramadan, bukan ukuran pembelian aktual sepanjang tahun. Bagi brand, tugasnya bukan menerima narasi “konsumen makin terencana” sebagai fakta menyeluruh, melainkan memeriksa apakah pencarian nilai benar-benar mengubah isi keranjang, frekuensi pembelian, pilihan merek, serta respons terhadap promosi.
Pola pencarian nilai juga terlihat pada kategori kesehatan. Survei Voice of the Consumer 2026 dari PwC terhadap 503 responden Indonesia pada Februari–Maret 2026 menunjukkan bahwa 77 persen konsumen mengutamakan manfaat yang sepadan dengan biaya saat memilih produk atau layanan kesehatan, sementara 64 persen menjadikan harga sebagai faktor utama. Hanya 35 persen yang secara aktif mengalokasikan anggaran khusus untuk aktivitas kesehatan dan kesejahteraan (PwC Indonesia, 2026). Walau berasal dari kategori berbeda, temuan ini sejalan dengan tantangan lebih luas bagi brand: konsumen menilai manfaat terhadap biaya, sementara ruang anggaran khusus tidak selalu tersedia.
Tiga Arah yang Perlu Diantisipasi Menuju Ramadan 2027
Berdasarkan data 2026, skenario dasar untuk FMCG menuju Ramadan 2027 bukanlah berhentinya belanja konsumen, melainkan pertumbuhan yang makin selektif dan lebih sulit dibaca dari nilai penjualan saja. Tiga dinamika berikut paling relevan untuk strategi brand.
Dinamika
Sinyal dari 2026
Implikasi untuk Ramadan 2027
Indikator yang dipantau
Anggaran pangan menekan ruang kategori lain
Pangsa pangan naik menjadi 49,80%; kenaikan terbesar terjadi pada kuintil 2 dan 3. Inflasi volatile food mencapai 5,03% yoy pada September 2026.
Jika tekanan harga pangan bertahan, kategori di luar kebutuhan pokok akan menghadapi persaingan lebih ketat untuk anggaran rumah tangga, terutama pada segmen dengan porsi konsumsi tinggi terhadap pendapatan.
Inflasi pangan bulanan; Panel Harga Bapanas; pangsa pangan per kuintil pada Susenas Maret 2027.
Pertumbuhan nilai tidak menjamin volume tumbuh
Pengeluaran nominal naik 5,62%; estimasi pertumbuhan setelah penyesuaian IHK sekitar 2,1%. Pada beras, pengeluaran naik 3,23% sementara kuantitas turun 3,02%.
Brand yang mengandalkan nilai penjualan sebagai indikator tunggal akan berisiko salah membaca kekuatan permintaan. Perencanaan 2027 perlu memisahkan pertumbuhan harga, bauran produk, dan unit.
Harga jual rata-rata; volume unit; bauran SKU; ukuran kemasan; pembelian ulang.
Makanan siap santap dan produk kemasan berebut pertumbuhan pada kelompok yang sama
Makanan dan minuman jadi menyerap 57,8% kenaikan belanja makanan, tetapi kategori ini mencampur makanan siap santap dan produk kemasan.
Komposisi pertumbuhan akan menentukan medan kompetisi. Jika makanan siap santap menjadi pendorong utama, brand pangan kemasan harus memenangkan kembali anggaran dan momen konsumsi. Jika produk kemasan yang dominan, prioritasnya adalah mengenali kategori dan kanal yang menyerap belanja tambahan.
Rincian Susenas per komoditas; pangsa produk siap santap versus kemasan; kanal dan momen konsumsi.
Risiko tersebut tidak berarti seluruh prospek konsumsi melemah. Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis pada 118,1 pada September 2026. Bank Indonesia juga memperkirakan inflasi 2026 tetap dalam sasaran 2,5±1 persen; Consensus Forecast memperkirakan inflasi akhir tahun 3,20 persen, lebih rendah daripada perkiraan bulan sebelumnya; dan stok Cadangan Beras Pemerintah masih tinggi (Bank Indonesia, 2026a, 2026c). Artinya, skenario dasar bukan kontraksi konsumsi secara menyeluruh, melainkan konsumen yang tetap berbelanja dengan prioritas dan respons yang berbeda antarsegmen serta kategori. Penilaian kondisi ekonomi saat ini turun dari 109,4 menjadi 107,5 pada Agustus–September 2026, sementara ekspektasi konsumen naik dari 127,6 menjadi 128,7. Pergerakan satu bulan belum membentuk tren, tetapi perbedaan arah kedua indeks layak dipantau hingga awal 2027 (Bank Indonesia, 2026b, 2026c).
For Brands
Data 2026 belum membuktikan bahwa seluruh konsumen menjadi lebih terencana atau bahwa volume FMCG secara agregat turun. Namun, data ini cukup untuk menetapkan empat prioritas keputusan bagi brand yang menyiapkan strategi Ramadan 2027.
1. Jadikan pertumbuhan unit sebagai pasangan wajib pertumbuhan nilai. Jangan menilai kekuatan permintaan dari omzet saja. Pisahkan kontribusi harga, bauran produk, dan unit terjual untuk mengetahui apakah pertumbuhan datang dari kenaikan harga, pergeseran ke SKU bernilai lebih tinggi, atau pembelian yang benar-benar bertambah.
2. Pertajam arsitektur harga dan kemasan berdasarkan ruang anggaran. Kenaikan pangsa pangan paling besar pada kuintil 2 dan 3 menunjukkan bahwa ruang belanja kategori lain makin diperebutkan pada kelompok ini. Brand perlu menilai apakah titik harga masuk dan pilihan ukuran kemasan sesuai dengan batas pengeluaran konsumen, sambil mengukur konsekuensinya terhadap harga per unit dan margin.
3. Petakan persaingan berdasarkan momen konsumsi, bukan label kategori semata. Data makanan dan minuman jadi menyatukan produk kemasan dengan makanan siap santap. Brand pangan perlu mengidentifikasi kapan konsumen membeli produk kemasan, kapan memilih makanan siap santap, serta kanal mana yang mengambil bagian terbesar dari anggaran makan. Tanpa pemisahan tersebut, pertumbuhan kategori agregat mudah disalahartikan sebagai peluang yang merata untuk semua pemain.
4. Nilai promosi Ramadan dari pembelian inkremental. Pencarian paket bernilai dalam survei konsumen tidak otomatis membuktikan bundling menghasilkan pertumbuhan tambahan. Evaluasi promosi harus memisahkan unit tambahan, pembelian yang hanya dimajukan waktunya, perpindahan dari produk sendiri, dan pembelian ulang setelah promosi selesai.
Pertanyaan keputusan: Berapa bagian pertumbuhan brand tahun ini yang berasal dari harga dan bauran, dan berapa yang berasal dari unit yang benar-benar dibeli konsumen?
Sinyal utama hingga awal 2027: inflasi pangan dan perubahan pangsa pengeluaran pangan kuintil 2 dan 3 pada Susenas Maret 2027. Bagi brand FMCG, keduanya akan membantu membaca seberapa ketat anggaran rumah tangga diperebutkan sebelum musim belanja Ramadan berikutnya.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026a). Pengeluaran untuk konsumsi penduduk Indonesia Maret 2026. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2026/10/05/4e167126f0dc9e67c8e602b2/pengeluaran-untuk-konsumsi-penduduk-indonesia-maret-2026.html
Badan Pusat Statistik. (2026b). Ringkasan eksekutif pengeluaran dan konsumsi penduduk Indonesia Maret 2026 (Vol. 19, No. 2). Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2026/10/05/836ea8d96b2b79d62b88c066/ringkasan-eksekutif-pengeluaran-dan-konsumsi-penduduk-indonesia-maret-2026.html
Badan Pusat Statistik. (2026c, 1 April). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/04/01/2564/perkembangan-indeks-harga-konsumen.html
Badan Pusat Statistik. (2025, 5 Mei). Tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,76 persen. Rata-rata upah buruh sebesar 3,09 juta rupiah. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/05/05/2432/labour-situation.html
Badan Pusat Statistik. (2026d, 5 Mei). Tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen. Rata-rata upah buruh sebesar 3,29 juta rupiah. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2574/tingkat-pengangguran-terbuka--tpt--sebesar-4-68-persen--rata-rata-upah-buruh-sebesar-3-29-juta-rupiah-.html
Bank Indonesia. (2025, 15 April). Analisis inflasi Maret 2025. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Analisis-Inflasi-TPIP-Maret-2025.aspx
Hariyanto. (2026, 9 Oktober). Keyakinan konsumen RI turun tipis ke 118,1 pada September 2026, belanja justru meningkat. Industry.co.id. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.industry.co.id/read/157190/keyakinan-konsumen-ri-turun-tipis-ke-1181-pada-september-2026-belanja-justru-meningkat
IDN Research Institute. (2026, 26 Oktober). 77,2% pendapatan untuk konsumsi: Tantangan brand menarik kelas bawah. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.idnresearchinstitute.com/economy/77-2-pendapatan-untuk-konsumsi-tantangan-brand-menarik-kelas-bawah-00-314l1-zf550x
Bank Indonesia. (2026d, 14 April). Analisis inflasi Maret 2026. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Analisis-Inflasi-TPIP-Maret-2026.aspx
Bank Indonesia. (2026a, 15 Oktober). Analisis inflasi September 2026. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Analisis-Inflasi-TPIP-September-2026.aspx
Bank Indonesia. (2026b, 9 September). Survei Konsumen Agustus 2026: Keyakinan konsumen meningkat [Siaran pers No. 28/183/DKom]. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2818326.aspx
Bank Indonesia. (2026c, 8 Oktober). Survei Konsumen September 2026: Keyakinan konsumen tetap terjaga [Siaran pers No. 28/216/DKom]. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2821626.aspx
Carmona, A. (2026, 5 Maret). Indonesian consumers spend more intentionally during Ramadan 2026, prioritising trust and value: Report. Marketech APAC. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://marketech-apac.com/indonesian-consumers-spend-more-intentionally-during-ramadan-2026-prioritising-trust-and-value-report/
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh. (2025, 30 Maret). Pemerintah tetapkan 1 Syawal 1446 H jatuh pada 31 Maret 2025. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://aceh.kemenag.go.id/baca/pemerintah-tetapkan-1-syawal-1446-h-jatuh-pada-31-maret-2025
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. (2026, 20 Maret). Pemerintah tetapkan 1 Syawal 1447 H bertepatan 21 Maret 2026. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://jateng.kemenag.go.id/pemerintah-tetapkan-1-syawal-1447-h-bertepatan-21-maret-2026/
PwC Indonesia. (2026, 3 September). Masyarakat Indonesia semakin mengandalkan teknologi, sumber terpercaya dan komunitas dalam menjalani gaya hidup yang lebih sehat, menurut survei PwC [Siaran pers]. Diakses 29 Oktober 2026, dari https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2026/indonesian/voice-of-the-consumer-survey-2026.html






















