Rupiah Melemah, Harga Impor Naik: Apakah Anak Muda Beralih ke Lokal?

- Indeks harga impor triwulan II-2026 naik 25,45% tahunan saat rupiah mencapai Rp17.855 per dolar AS, namun inflasi konsumen Agustus tercatat 3,19%.
- Konsumen makin mencari value-for-money; harga dan promosi memengaruhi pilihan, tetapi data belum membuktikan anak muda berpindah langsung dari brand global ke lokal.
- Brand lokal dan global sama-sama menghadapi tekanan biaya impor; kualitas, inovasi, transparansi, kepercayaan, serta manfaat yang sepadan menjadi penentu pembelian ulang.
Harga barang impor Indonesia meningkat tajam dibandingkan tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Impor (IHM) triwulan II-2026 naik 25,45% secara tahunan (year-on-year) dan 14,19% dibandingkan triwulan sebelumnya. Di pasar valuta asing, Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS pada 18 Agustus 2026.
Bagi marketer, angka makro ini tidak berhenti di neraca perdagangan. Perubahan biaya impor pada akhirnya bisa masuk ke pricing, product mix, hingga keputusan konsumen di depan rak. Ketika produk dengan komponen impor menjadi lebih mahal, pertanyaannya kemudian bergeser: apakah konsumen muda mulai mencari alternatif lokal?
Data yang tersedia memberi jawaban yang lebih berlapis. Tekanan harga memang memperbesar pentingnya value-for-money, tetapi belum menunjukkan perpindahan konsumen muda dari brand global ke brand lokal secara langsung.
Harga Impor Naik, Tekanannya Sampai ke Konsumen
Kenaikan IHM tidak merata antar kelompok barang. BPS mencatat harga impor migas naik 37,97% secara tahunan, sementara harga impor nonmigas naik 23,10%. Kenaikan tersebut berlangsung di tengah tekanan harga komoditas global dan nilai tukar rupiah.
Mengutip Tinjauan Kebijakan Moneter Agustus 2026, BI menyebut perang di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dan komoditas dunia. Level rupiah pada 18 Agustus berarti harga satu dolar AS sekitar 6% lebih mahal dibandingkan kurs JISDOR akhir 2025 sebesar Rp16.782. BI juga menyatakan stabilisasi rupiah diarahkan untuk meredam rambatan imported inflation.
Namun, cost pressure di sisi impor tidak otomatis menjadi kenaikan harga di tingkat konsumen dengan besaran yang sama. Inflasi konsumen pada Juni 2026, bulan terakhir triwulan II, tercatat 3,34% secara tahunan. BPS kemudian mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19%, dengan inflasi inti 2,92%. Di tingkat perdagangan besar, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Juni 2026 naik 6,51%.
Perbedaan laju kenaikan antara harga impor dan harga konsumen menunjukkan bahwa kenaikan harga impor belum tercermin dengan besaran yang sama pada harga konsumen. Kontrak pembelian, stok lama, biaya distribusi, margin, dan strategi harga produsen dapat membuat sebagian kenaikan terserap atau tertunda.
Ketua Umum Aprindo, Solihin, dilansir CNBC Indonesia pada Mei 2026, menyebut kenaikan harga di tingkat produsen, misalnya akibat harga plastik, pada akhirnya disesuaikan ke harga jual konsumen.
Di sinilah persoalan pricing mulai menjadi relevan bagi brand. Pertanyaannya bukan sekadar apakah biaya naik, tetapi seberapa besar cost increase yang bisa diteruskan ke konsumen tanpa membuat produk kehilangan daya saing.
Ketika Harga Mulai Memengaruhi Value Equation
Sensitivitas harga konsumen Indonesia sudah terlihat sebelum lonjakan harga impor triwulan II. Worldpanel by Numerator dalam Indonesia FMCG Outlook 2026 menggambarkan rumah tangga yang berbelanja dengan orientasi value. Di kategori perawatan rumah, konsumen membeli lebih jarang dan memakai produk lebih hemat. Konsumsi FMCG di kota utama dan perdesaan menurun, sementara kota sekunder relatif lebih mampu menyerap kenaikan harga.
Survei PwC Voice of the Consumer 2026 terhadap 503 responden Indonesia pada Februari hingga Maret 2026 menemukan 77% konsumen mengutamakan manfaat yang sepadan dengan biaya ketika memilih produk kesehatan dan wellness. Dalam kategori yang sama, 64% responden menjadikan harga sebagai faktor utama. Survei ini berfokus pada kategori kesehatan, tetapi polanya sejalan dengan temuan Worldpanel.
Bagi marketer, ini berarti value proposition semakin diuji. Ketika konsumen lebih sensitif terhadap harga, selisih harga tidak berdiri sendiri. Konsumen juga mempertimbangkan manfaat apa yang mereka dapatkan dari setiap rupiah yang dibelanjakan.
Aprindo, dalam keterangan yang sama, melihat pergeseran ke produk yang lebih murah sudah berlangsung sejak akhir 2025. Konsumen yang dulu setia pada merek shampo tertentu kini memilih opsi yang lebih terjangkau.
Untuk Gen Z secara khusus, data publik 2026 di Indonesia yang mengukur sensitivitas harga masih terbatas. Data terdekat berasal dari survei Jakpat pada April 2025, yang menemukan promosi dan diskon menjadi pemicu kuat pembelian produk lokal bagi 65% responden Gen Z.
Artinya, tekanan harga 2026 hadir di tengah perilaku value-seeking yang sudah terbentuk. Konsumen tidak baru mulai berhitung tahun ini. Yang berubah adalah semakin pentingnya value equation dalam keputusan pembelian.
Apakah Brand Lokal Mendapat Peluang?
Produk lokal masuk ke tahun 2026 dengan basis pengguna yang sudah kuat. Survei Jakpat terhadap 1.394 responden pada 10–14 April 2025 mencatat 95% responden menggunakan produk lokal. Tiga dari lima sudah menggunakannya lebih dari tiga tahun. Keterjangkauan harga (72%) menjadi alasan utama memilih produk lokal, dan paling menonjol di kalangan Gen X.
Catatan ini penting untuk membaca peluang market switching. Harga memang menjadi alasan memilih produk lokal, tetapi pengaruhnya paling menonjol pada kelompok usia yang lebih tua. Asumsi bahwa Gen Z memilih lokal terutama karena harga masih perlu diuji.
Apakah kenaikan harga impor lalu menekan permintaan barang konsumsi impor? Data BPS belum memperlihatkan hal itu secara jelas. Pada Juni 2026, nilai impor barang konsumsi masih tumbuh 17,46% secara tahunan. Karena angka tersebut berbasis nilai, data ini tidak cukup untuk menyimpulkan permintaan terhadap barang impor meningkat. Namun, setidaknya belum terlihat kontraksi tajam pada nilai impor barang konsumsi. Pada Maret 2026, impor barang konsumsi sempat turun 10,81%, sehingga pergerakannya lebih tepat dibaca sebagai fluktuasi.
Ada satu faktor yang sering terlewat dalam pembahasan brand lokal versus global: cost structure keduanya tidak selalu berbeda sejauh yang terlihat dari label. Bahan baku dan bahan penolong merupakan kelompok impor terbesar Indonesia, dan nilainya naik 38,94% secara tahunan pada Juni 2026.
Bagi brand lokal yang bergantung pada input impor, seperti kemasan, bahan kimia, atau komponen, pelemahan rupiah dapat menjadi tekanan biaya yang sama. Dalam kondisi tersebut, price gap dengan brand global bisa menyempit.
Data yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan harga 2026 telah mendorong konsumen muda berpindah dari brand global ke brand lokal. Yang lebih jelas adalah perubahan competitive context: ketika konsumen semakin memperhatikan value-for-money, brand lokal mendapat ruang untuk merebut consideration konsumen, sementara brand global perlu memperkuat alasan di balik price premium-nya.
Murah Saja Tidak Cukup
Harga bisa menjadi entry point, tetapi belum tentu menjadi alasan konsumen bertahan. Jakpat mencatat kebanggaan pada produk dalam negeri (56%) dan kemudahan mendapatkan produk (56%) turut menjadi alasan memilih lokal. Di sisi lain, keraguan terhadap kualitas dan klaim yang berlebihan masih menjadi hambatan produk lokal.
Kategori perawatan kulit memberi contoh yang jelas, meski datanya berasal dari 2025. Survei Populix terhadap 1.100 milenial dan Gen Z yang dirilis Mei 2025 menemukan 87% responden menggunakan skincare lokal. Konsumen yang tertarik pada produk luar negeri menyebut inovasi dan teknologi (56%) serta bahan baku yang lebih baik (48%) sebagai alasan utama. Harga yang lebih kompetitif hanya disebut oleh 11% responden.
Di kategori ini, price advantage bukan satu-satunya sumber competitive advantage. Brand global masih memiliki ruang untuk mempertahankan price premium ketika konsumen melihat inovasi dan bahan sebagai manfaat yang sepadan dengan harga.
Kepercayaan juga menentukan retention. Dalam survei PwC 2026 yang sama, 88% responden menilai kepercayaan pada brand sama pentingnya dengan harga dan kualitas. Sebanyak 81% bersedia pindah ke brand yang lebih transparan. Di tingkat regional, YouGov melaporkan hampir sembilan dari sepuluh Gen Z di Asia Tenggara pernah berhenti membeli dari sebuah brand setelah kehilangan kepercayaan.
Persaingan pun makin padat. Laporan Brand Footprint 2026 dari Worldpanel mencatat hanya 44% merek FMCG yang tumbuh pada 2025, turun dari 62% pada tahun sebelumnya. Sekitar 80% merek yang tumbuh berhasil menambah pembeli baru.
Angka tersebut membuat customer acquisition menjadi bagian penting dari persaingan. Dalam kondisi ketika konsumen semakin aktif mengevaluasi pilihan, label lokal atau global saja tidak cukup untuk memenangkan consideration, apalagi menjaga repeat purchase.
Implikasi untuk Pelaku Industri
Kalau konsumen makin sensitif terhadap harga, setiap brand harus bisa menjawab satu pertanyaan: value apa yang konsumen dapat ketika memilih produk kita?
Pertanyaan ini bukan hanya soal pricing. Bagi marketer, jawabannya menyentuh value proposition, customer acquisition, retention, dan cara brand mempertahankan price position di tengah perubahan daya beli.
Untuk brand lokal
Pertama, gunakan harga sebagai entry point, lalu pertahankan konsumen lewat kualitas. Hambatan terbesar produk lokal adalah keraguan kualitas dan klaim berlebihan. Klaim yang terukur, informasi bahan yang jelas, dan bukti uji produk membantu mengubah trial menjadi repeat purchase.
Kedua, gunakan promosi sebagai alat customer acquisition. Promosi terbukti menarik Gen Z, dan data Worldpanel menunjukkan pertumbuhan merek banyak bergantung pada penambahan pembeli. Tantangannya kemudian bukan hanya mendapatkan first purchase, tetapi memastikan pengalaman produk cukup kuat untuk menghasilkan pembelian berikutnya.
Ketiga, petakan cost exposure sebelum menjadikan harga murah sebagai senjata utama. Jika bahan baku dan kemasan bergantung pada impor, keunggulan harga dapat menyusut ketika kurs bergerak. Low-price positioning perlu dibangun di atas struktur biaya yang mampu dipertahankan.
Untuk brand global
Pertama, buat alasan di balik price premium terlihat. Data Populix menunjukkan konsumen muda memilih produk luar negeri karena inovasi dan bahan. Ketika selisih harga melebar, keunggulan tersebut perlu dikomunikasikan secara konkret dengan klaim yang bisa dibuktikan.
Kedua, siapkan price architecture yang lebih lentur. Worldpanel menekankan pentingnya variasi ukuran kemasan dan struktur harga yang menyesuaikan kondisi pembeli. Varian ukuran kecil atau format hemat dapat menjaga brand tetap berada dalam consideration set konsumen yang sedang berhemat.
Ketiga, jangan mengandalkan brand equity sebagai satu-satunya pengaman. Bagi Gen Z, kepercayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan hubungan dengan brand. Data YouGov menunjukkan hilangnya kepercayaan dapat membuat mereka berhenti membeli.
Tekanan harga 2026 belum membuktikan bahwa anak muda meninggalkan brand global. Yang terlihat adalah konsumen yang semakin cermat menimbang apa yang mereka dapat dari setiap rupiah.
Bagi marketer, pertanyaannya kemudian bergeser dari sekadar “berapa harga produk kita?” menjadi “mengapa konsumen merasa harga tersebut layak dibayar?” Di tengah tekanan biaya dan persaingan yang semakin padat, kemampuan brand menerjemahkan harga menjadi perceived value menjadi bagian penting dari competitive strategy.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 September). Indeks Harga Ekspor dan Indeks Harga Impor Indonesia Triwulan II-2026 masing-masing naik sebesar 10,92% dan 14,19% dibandingkan triwulan sebelumnya [Berita Resmi Statistik]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/09/01/2613/indeks-harga-ekspor-dan-indeks-harga-impor-indonesia-triwulan-ii-2026-masing-masing-naik-sebesar-10-92-persen-dan-14-19-persen-dibandingkan-triwulan-sebelumnya.html
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 September). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen [Berita Resmi Statistik]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/09/01/2611/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-agustus-2026-sebesar-3-19-persen-.html
Badan Pusat Statistik. (2026, 31 Agustus). Statistik perdagangan luar negeri bulanan impor Juni 2026. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2026/08/31/0ce6cf7a4d238bc6da50fce1/statistik-perdagangan-luar-negeri-bulanan-impor-juni-2026.html
Badan Pusat Statistik. (2026). Berita resmi statistik [Indeks Harga Perdagangan Besar Juni 2026]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bps.go.id/en/pressrelease
Bank Indonesia. (2026, 21 Agustus). Tinjauan kebijakan moneter Agustus 2026. Diakses 23 September 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/TKM-Agustus-2026.aspx
CNBC Indonesia. (2026, 12 Mei). Diam-diam banyak warga RI mulai pilih beli barang murah, ada apa? Diakses 23 September 2026, dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20260512141218-4-734414/diam-diam-banyak-warga-ri-mulai-pilih-beli-barang-murah-ada-apa
CNN Indonesia. (2026, 3 Agustus). BPS catat impor RI tembus US$25,91 M per Juni 2026, ini penyebabnya. Diakses 23 September 2026, dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260803145742-532-1388036/bps-catat-impor-ri-tembus-us-2591-m-per-juni-2026-ini-penyebabnya
Fortune Indonesia. (2025, 16 Mei). Gen Z-milenial pilih skincare lokal, meski banjir produk impor. Diakses 23 September 2026, dari https://www.fortuneidn.com/business/survei-gen-z-milenial-pilih-skincare-lokal-meski-banjir-produk-impor-00-4pj81-w4v19z
Jakpat. (2025, 22 Agustus). Local products gain momentum in Indonesia. Diakses 23 September 2026, dari https://insight.jakpat.net/local-products-gain-momentum-in-indonesia/
Kontan. (2025, 30 Desember). Rupiah akhir 2025: Menguat 0,10% di perdagangan terakhir, pelemahan tahunan 3,96%. Diakses 23 September 2026, dari https://pusatdata.kontan.co.id/news/rupiah-akhir-2025-menguat-010-di-perdagangan-terakhir-pelemahan-tahunan-396
Kontan. (2026, 4 Mei). BPS: Impor barang konsumsi Maret turun 10,81%, bahan baku dan barang modal naik. Diakses 23 September 2026, dari https://nasional.kontan.co.id/news/bps-impor-barang-konsumsi-maret-turun-1081-bahan-baku-dan-barang-modal-naik
Media Asuransi. (2025, 17 Mei). Survei Populix: Meskipun dibanjiri produk luar, skincare lokal masih juara. Diakses 23 September 2026, dari https://mediaasuransinews.co.id/ekonomi-bisnis/survei-populix-meskipun-dibanjiri-produk-luar-skincare-lokal-masih-juara/
Periskop.id. (2026, 3 Agustus). BPS: Impor RI semester I 2026 capai US$136,24 miliar. Diakses 23 September 2026, dari https://periskop.id/ekonomi/20260803/bps-impor-ri-semester-i2026-capai-us13624-miliar
PwC Indonesia. (2026, 3 September). Masyarakat Indonesia semakin mengandalkan teknologi, sumber terpercaya dan komunitas dalam menjalani gaya hidup yang lebih sehat, menurut survei PwC [Siaran pers]. Diakses 23 September 2026, dari https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2026/indonesian/voice-of-the-consumer-survey-2026.html
RRI. (2026, 16 Juli). Laporan Brand Footprint 2026: Persaingan merek FMCG di Indonesia kian ketat. Diakses 23 September 2026, dari https://rri.co.id/ekonomi/bisnis/2572361/laporan-brand-footprint-2026-persaingan-merek-fmcg-di-indonesia-kian-ketat
Tabloid Bintang. (2026, Juli). Persaingan FMCG makin ketat, Worldpanel ungkap strategi agar merek terus tumbuh. Diakses 23 September 2026, dari https://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/216980-persaingan-fmcg-makin-ketat-worldpanel-ungkap-strategi-agar-merek-terus-tumbuh
Tempo. (2026, 1 September). Analis memprediksi rupiah melemah pada September. Diakses 23 September 2026, dari https://www.tempo.co/ekonomi/analis-memprediksi-rupiah-melemah-pada-september-2284847
Worldpanel by Numerator. (2026, 8 Juni). Shoppers' quest for value and inspiration is reshaping Indonesian FMCG. Diakses 23 September 2026, dari https://worldpanelbynumerator.com/insights/indonesia-fmcg-outlook-2026
YouGov. (2026, 18 Maret). APAC report: The Gen Z brand leaderboard. Diakses 23 September 2026, dari https://yougov.com/reports/54323-apac-report-the-gen-z-brand-leaderboard






















