Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install

Indonesia Banyak Pengusaha, Tapi Apakah Pertanda Baik untuk Ekonomi?

17 min read
Indonesia Banyak Pengusaha, Tapi Apakah Pertanda Baik untuk Ekonomi?
ilustrasi pedagang makanan dan minuman (unsplash.com/Anton)
  • Status berusaha sendiri bertambah 1,38 juta orang dari Februari ke Mei 2026, menandakan pergeseran ke kerja mandiri di tengah dominasi pekerja informal.
  • Usaha makan-minum terus bertambah, sementara konsumsi dan sektor akomodasi-makan minum tumbuh kuat; namun pertumbuhan permintaan belum menunjukkan pembagian manfaat bagi tiap pelaku.
  • Artikel menekankan perlunya mengukur produktivitas, daya tahan usaha, dan permintaan tambahan; bukan sekadar jumlah pengusaha, gerai, atau paket kemitraan yang dibuka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika lapangan kerja formal belum cukup menampung angkatan kerja, saran yang paling sering terdengar juga yang paling sederhana: buka usaha sendiri. Berjualan makanan, menjadi reseller, membuka booth minuman, atau mengambil paket kemitraan dianggap jalan tercepat untuk punya penghasilan. Logika ini masuk akal. Usaha sendiri memang menjadi salah satu pintu masuk terbesar ke pasar kerja Indonesia, dan jutaan rumah tangga bergantung padanya.

Data terbaru menunjukkan pintu itu makin ramai dilewati. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk bekerja berstatus berusaha sendiri bertambah 1,38 juta orang hanya dalam tiga bulan, dari Februari ke Mei 2026 (Antara, 2026b). Pada periode yang hampir sama, istilah "Republik Tepung" ramai di media sosial untuk menggambarkan deretan penjual seblak, cilok, dan cireng dengan menu nyaris serupa di ruas jalan yang sama.

Di titik ini pertanyaannya bergeser. Setiap penjual baru membutuhkan pembeli. Jika jumlah penjual tumbuh lebih cepat daripada belanja konsumen, pasar tidak ikut membesar; yang bertambah hanyalah jumlah pemain yang berbagi permintaan yang sama. Artikel ini menguji pertanyaan tersebut dengan data 2023 hingga 2026. Hasilnya tidak hitam putih: permintaan di sejumlah kategori, termasuk makan minum, tumbuh kencang tahun ini. Namun data yang sama juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan kategori belum tentu berarti pertumbuhan bagi setiap pemainnya.

Pertanyaan besarnya sederhana: kalau semakin banyak orang didorong menjadi penjual, apakah ekonomi juga sedang menciptakan cukup banyak pembeli?

  1. Ketika "Berusaha Sendiri" Menjadi Jalan Masuk ke Pasar Kerja

    Pada Februari 2026, Indonesia memiliki 147,67 juta penduduk bekerja. Sebanyak 87,74 juta orang atau 59,42 persen di antaranya bekerja pada kegiatan informal, sedangkan pekerja formal berjumlah 59,93 juta orang atau 40,58 persen, dilansir CNN Indonesia (2026a). Dalam setahun, pekerja informal bertambah dari 86,58 juta menjadi 87,74 juta orang, sementara pekerja formal naik dari 59,19 juta menjadi 59,93 juta orang (Antara, 2026a). Kedua kelompok sama-sama tumbuh, tetapi tambahan pekerja informal lebih besar.

    Angka ini perlu dibaca dengan definisi yang tepat. BPS memasukkan empat status ke dalam pekerja informal: berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap atau pekerja keluarga, pekerja bebas, serta pekerja keluarga atau tidak dibayar. Artinya, 87 juta pekerja informal mencakup petani, buruh harian lepas, pengemudi, hingga anggota keluarga yang membantu usaha rumah tangga. Mereka tidak bisa disamakan dengan pedagang. Kelompok yang paling dekat dengan gambaran "membuka usaha sendiri" adalah pekerja berstatus berusaha sendiri, yang mencakup 20,57 persen penduduk bekerja pada Februari 2026 (CNN Indonesia, 2026a), atau sekitar 30,4 juta orang menurut perhitungan IDNR.

    Perdagangan menjadi salah satu tempat terbesar mereka berlabuh. Mengutip BPS, sektor perdagangan besar dan eceran menyerap 17,95 persen tenaga kerja nasional pada Februari 2026, kedua setelah pertanian (CNN Indonesia, 2026b). Dalam hitungan kasar IDNR, porsi itu setara sekitar 26,5 juta orang.

    Lalu datang data Mei 2026. Total penduduk bekerja naik menjadi 148,19 juta orang, pekerja formal menjadi 60,31 juta, dan pekerja informal menjadi 87,88 juta atau 59,30 persen. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menyebut status berusaha sendiri sebagai status dengan penambahan terbanyak, yaitu 1,38 juta orang dibanding Februari (Antara, 2026b).

    Ada detail yang mudah terlewat di sini. Total penduduk bekerja hanya bertambah sekitar 520 ribu orang dalam periode yang sama. Jika status berusaha sendiri bertambah 1,38 juta, status lain secara neto berkurang. Dengan kata lain, lonjakan ini lebih mencerminkan pergeseran komposisi, yaitu makin banyak orang bekerja dengan menanggung risiko usahanya sendiri, ketimbang tambahan orang baru ke pasar kerja. Karena perbandingannya antartriwulan, pola musiman juga bisa ikut memengaruhi. Angka ini paling aman dibaca sebagai sinyal arah.

    Sinyal ini membawa kita ke pertanyaan produktivitas. Jumlah orang yang bekerja, jumlah usaha, nilai tambah yang dihasilkan, dan pendapatan yang dibawa pulang adalah empat hal yang berbeda. Perdagangan memberikan gambaran jaraknya. Sektor ini menampung 17,95 persen tenaga kerja, tetapi menyumbang 13,28 persen PDB pada triwulan I 2026 (BPS, 2026). Porsi tenaga kerja perdagangan bahkan lebih besar daripada kontribusinya terhadap PDB, sehingga besarnya penyerapan tenaga kerja tidak otomatis berarti kontribusi nilai tambahnya tumbuh dalam proporsi yang sama. Sektornya sendiri tumbuh sehat, 6,39 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 (Kompas.com, 2026). Pertanyaannya adalah bagaimana pertumbuhan itu terbagi ketika jumlah orang yang ikut berbagi terus bertambah.

    Untuk pebisnis, bertambahnya pelaku usaha kecil adalah sinyal sisi penawaran. Angka ini menjelaskan berapa banyak orang yang masuk ke pasar, belum menjelaskan berapa banyak uang yang tersedia untuk mereka perebutkan.

  2. Dari Banyak Usaha ke Banyak Pemain di Pasar yang Sama

    Usaha penyediaan makan minum, atau F&B, adalah contoh paling konkret dari sektor dengan hambatan masuk rendah. Menurut BPS, jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia mencapai 5,28 juta usaha pada 2024 (BPS, 2025). Setahun sebelumnya angkanya 4,85 juta usaha (BPS, 2024). Dalam satu tahun, ada tambahan sekitar 430 ribu usaha, atau naik 8,9 persen. Perlu dicatat, data jumlah usaha terbaru memang masih tahun 2024, sementara data pasar kerja sudah tersedia hingga Mei 2026. Karena itu, kedua angka ini tidak dibaca seolah berasal dari tahun yang sama.

    Data jangka panjang memberi gambaran yang lebih berguna. BPS mencatat jumlah usaha F&B naik 21,13 persen antara 2016 dan 2023, dari 4,01 juta menjadi 4,85 juta usaha. Tenaga kerjanya naik 20,48 persen menjadi 9,80 juta orang. Nilai penjualannya melonjak 48,04 persen, dari Rp674,38 triliun menjadi Rp998,37 triliun (BPS, 2024). Pasar F&B jelas membesar.

    Namun jika dibagi per usaha, ceritanya lebih moderat. Perhitungan IDNR menunjukkan rata-rata penjualan per usaha naik dari sekitar Rp168 juta menjadi Rp206 juta per tahun, atau sekitar 22 persen dalam tujuh tahun. Artinya, meskipun jumlah usaha bertambah 21,13 persen, nilai penjualan tidak hanya tumbuh karena bertambahnya jumlah pemain; penjualan rata-rata per usaha juga meningkat. Namun kenaikan tersebut masih bersifat nominal dan belum memperhitungkan inflasi. Dengan kata lain, pasar memang membesar, tetapi pertumbuhan jumlah pemain menjadi bagian penting dari cerita tersebut.

    Bagaimana dengan 2026? Di sisi permintaan, datanya cukup kuat. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen pada triwulan I 2026 (Bank Indonesia, 2026) dan 5,06 persen pada triwulan II (Fortune Indonesia, 2026). Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen pada triwulan I dan 10,60 persen pada triwulan II. Kemenko Perekonomian mengaitkan pertumbuhan ini dengan perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan naiknya okupansi hotel (Kemenko Perekonomian, 2026).

    Pada ritel barang, gambarnya lebih tipis. Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) terkontraksi 3,0 persen secara tahunan pada Juni 2026, lalu tumbuh 1,1 persen pada Juli (CNBC Indonesia, 2026). Untuk Agustus 2026, BI memprakirakan pertumbuhan 0,5 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya tumbuh 0,7 persen (Antara, 2026c).

    Jika disusun berdampingan, indikator penawaran dan permintaan terlihat seperti ini:

    Sisi

    Indikator

    Angka terbaru

    Periode

    Penawaran

    Penduduk bekerja berstatus berusaha sendiri

    bertambah 1,38 juta orang

    Februari ke Mei 2026

    Penawaran

    Usaha penyediaan makanan dan minuman

    5,28 juta usaha (naik 8,9%)

    2024 dibanding 2023

    Penawaran

    Pemberi waralaba ber-STPW

    327 pemberi waralaba (naik 5,1%)

    Februari 2026 dibanding Februari 2025

    Permintaan

    Konsumsi rumah tangga

    tumbuh 5,06% yoy

    Triwulan II 2026

    Permintaan

    PDB penyediaan akomodasi dan makan minum

    tumbuh 10,60% yoy

    Triwulan II 2026

    Permintaan

    Indeks Penjualan Riil, makanan, minuman, dan tembakau

    tumbuh 0,7% yoy (prakiraan)

    Agustus 2026

    Tabel ini tidak membuktikan bahwa pasar sudah jenuh. Permintaan agregat untuk makan minum tumbuh cepat pada 2026, dan sebagian besar didorong program pemerintah yang mengalir lewat jasa boga. Yang belum bisa dijawab data adalah pertanyaan distribusi: siapa yang menangkap pertumbuhan itu. Dapur penyedia MBG, restoran berjaringan, dan pedagang kaki lima berada di kategori yang sama dalam statistik, tetapi melayani kanal permintaan yang sangat berbeda. Data jumlah usaha untuk 2025 dan 2026 juga belum tersedia. Hasil Sensus Ekonomi 2026, yang pendataan lapangannya berakhir 31 Agustus 2026, akan menjadi alat uji yang jauh lebih tajam.

    Apa artinya untuk brand? Kategori yang tumbuh dan jumlah pemain yang bertambah bisa terjadi bersamaan. Pertumbuhan kategori 10 persen terasa sangat berbeda bagi sebuah outlet jika jumlah pesaing di sekitarnya ikut naik 10 persen.

  3. Mengapa Bisnis yang Mudah Dimasuki Bisa Cepat Menjadi Crowded?

    Sejak pertengahan 2026, istilah "Republik Tepung" beredar luas di media sosial. Sebagian warganet memakainya untuk menyindir deretan penjual jajanan berbahan tepung dengan menu yang mirip satu sama lain. Pakar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membahasnya dari sisi kesehatan, karena makanan berbasis tepung murah, mudah dijangkau, dan kini menjadi bagian dari pola makan sehari-hari (UMY, 2026). Istilah ini jelas hiperbola dan tidak bisa dipakai sebagai bukti statistik. Tetapi sebagai ilustrasi, ia menangkap logika pasar yang nyata.

    Mengapa produk berbasis tepung begitu sering dipilih sebagai usaha pertama? Bahan bakunya familiar dan tersedia di pasar mana pun. Proses produksinya relatif sederhana. Modalnya kecil. Produknya bisa dijual di berbagai titik harga, lewat gerobak, booth, pesan antar, atau etalase rumah. Konsumen pun sudah mengenal kategorinya, sehingga penjual tidak perlu mengedukasi pasar dari nol.

    Minat terhadap kategori ini juga tinggi. Survei daring Jakpat pada Februari 2026 mencatat 45 persen responden pelaku dan calon pelaku usaha tertarik atau sudah menjalankan bisnis makanan dan minuman, tertinggi dibanding sektor lain (GoodStats, 2026). Struktur usia usaha F&B mengarah ke pola yang sama. Mengutip BPS, 13,06 persen usaha makan minum pada 2023 baru berjalan setahun dan 39,14 persen berumur satu hingga lima tahun (Databoks, 2024). Lebih dari separuh pemain di kategori ini tergolong muda.

    Di sinilah mekanisme crowding bekerja. Ketika hambatan masuk rendah, banyak pemain bisa masuk dalam waktu singkat. Ketika produk mudah ditiru, keunggulan rasa atau menu cepat kehilangan daya pembeda. Begitu pembeda produk menipis, persaingan cenderung bergeser ke hal yang paling mudah digerakkan: harga, lokasi, dan kecepatan mengikuti tren viral. Pola ini berpotensi menekan margin, terutama bagi pemain kecil yang tidak punya skala untuk menurunkan biaya.

    Pola tersebut belum tentu terjadi merata di semua kategori atau semua kota. Kategori yang permintaannya tumbuh cepat bisa menampung banyak pemain baru tanpa gejala kejenuhan. Namun bagi brand, pelajarannya sudah jelas sejak sekarang: ketika sebuah kategori mudah dimasuki, keunggulan produk yang mudah ditiru semakin sulit menjadi satu-satunya pembeda.

  4. Ketika Franchise Membuat Entry Barrier Semakin Rendah

    Jika usaha tepung menurunkan hambatan modal, waralaba menurunkan hambatan pengetahuan. Calon pengusaha tidak perlu merancang produk, menyusun SOP, mencari pemasok, atau membangun merek dari awal. Semua itu datang dalam satu paket. Pemerintah pun melihatnya sebagai akselerator. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menyebut sifat waralaba yang terstandardisasi dan mudah direplikasi sangat potensial bagi UMKM (Kemendag, 2026).

    Data Kemendag menunjukkan ekosistem waralaba resmi tumbuh stabil. Hingga Februari 2026, Kemendag menerbitkan 165 Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) untuk pemberi waralaba dalam negeri dan 162 STPW untuk pemberi waralaba luar negeri, atau total 327 (Kemendag, 2026). Setahun sebelumnya, angkanya 157 dan 154, atau total 311. Pada periode itu Kemendag juga mencatat F&B mendominasi dengan porsi 47,77 persen, disusul jasa kecantikan, pendidikan nonformal, dan ritel. Berdasarkan laporan kegiatan usaha 2024, waralaba menyerap 97.872 tenaga kerja dengan omzet Rp143,25 triliun, dengan 34.503 gerai dikelola sendiri dan 17.786 gerai diwaralabakan (CNN Indonesia, 2025).

    Angka-angka ini perlu dibaca dengan satu catatan penting. STPW menghitung pemberi waralaba, belum menghitung berapa banyak gerai atau mitra yang lahir dari setiap merek. Di luar ekosistem resmi, pasar juga dipenuhi paket kemitraan dan business opportunity yang tidak tercatat sebagai waralaba. Kemendag sendiri pernah mengingatkan bahwa banyak penawaran usaha mengaku sebagai waralaba padahal belum memiliki STPW (Kemendag, 2024). Paket kemitraan booth minuman atau jajanan dengan modal beberapa juta rupiah kemungkinan besar berada di wilayah ini. Karena itu, data resmi belum bisa menunjukkan seberapa besar model siap pakai ikut mempercepat kepadatan di kategori tertentu.

    Yang bisa dilakukan adalah memahami mekanismenya. Waralaba dan kemitraan menjawab masalah di sisi penawaran: bagaimana membuat lebih banyak orang mampu membuka usaha dengan risiko belajar yang lebih kecil. Keduanya tidak otomatis menjawab masalah di sisi permintaan: apakah ada cukup konsumen baru untuk setiap gerai yang dibuka. Model yang sudah terbukti di satu lokasi belum tentu menemukan permintaan yang sama di lokasi berikutnya, terutama ketika model serupa dipakai banyak orang pada saat yang sama.

    Maka pertanyaan yang lebih relevan untuk ekosistem waralaba adalah: apa yang terjadi ketika semakin banyak pelaku usaha memakai model yang sama untuk masuk ke kategori yang sama? Jawabannya bergantung pada satu variabel yang jarang muncul di brosur kemitraan, yaitu permintaan tambahan di titik lokasi.

  5. Apa Artinya untuk Brand?

    Bagi marketer dan pengambil keputusan bisnis, data di atas mengarah ke satu disiplin sederhana: pisahkan pertumbuhan pasar dari pertumbuhan jumlah pemain. Keduanya sering muncul bersamaan dan mudah tertukar.

    Market growth dan outlet growth adalah dua metrik yang berbeda. Bertambahnya gerai di sebuah kategori belum menandakan market size ikut bertambah. Brand yang melacak penjualan total saja bisa terkecoh: omzet naik karena gerai baru dibuka, sementara penjualan per gerai lama stagnan. Metrik seperti same-store sales growth dan penjualan per gerai lebih jujur memperlihatkan apakah brand sedang tumbuh bersama pasar atau hanya memperluas jangkauan di pasar yang sama.

    Setiap gerai baru perlu menghasilkan incremental demand. Penjualan sebuah gerai baru selalu berasal dari tiga sumber: konsumen yang sebelumnya tidak membeli di kategori itu, konsumen yang pindah dari pesaing, dan konsumen yang pindah dari gerai milik brand sendiri. Sumber ketiga adalah kanibalisasi. Gerai yang ramai belum tentu menambah bisnis jika sebagian besar pembelinya berasal dari gerai tetangga dengan logo yang sama.

    Kepadatan pesaing sama pentingnya dengan ketersediaan lokasi. Untuk ekspansi waralaba, pertanyaan "masih ada lokasi kosong?" perlu diganti dengan "apakah masih ada permintaan tambahan di lokasi ini?" Beberapa pertanyaan berikut bisa menjadi alat uji sebelum membuka gerai:

    Pertanyaan sebelum membuka gerai

    Data yang bisa dipakai

    Apakah target konsumen di area ini bertambah?

    Pertumbuhan hunian, kampus, perkantoran, atau lalu lintas pejalan kaki

    Apakah transaksi kategori di area ini meningkat?

    Data platform pesan antar, data POS gerai terdekat, survei konsumen

    Seberapa padat pesaing sejenis dalam radius jangkauan?

    Pemetaan gerai dan listing di aplikasi peta dan pesan antar

    Apakah daya beli area cocok dengan titik harga produk?

    Data pengeluaran per kapita daerah dan profil pekerjaan penduduk

    Seberapa sering konsumen membeli kategori ini?

    Frekuensi pembelian dari data loyalitas atau riset konsumen

    Berapa porsi penjualan yang akan diambil dari gerai sendiri?

    Tumpang tindih area layanan dan data alamat pelanggan pesan antar

    Ketika produk mudah ditiru, brand equity menjadi aset pertahanan. Di kategori dengan hambatan masuk rendah, resep bisa disalin dalam hitungan minggu. Yang jauh lebih sulit disalin adalah alasan konsumen memilih: kepercayaan terhadap kebersihan dan konsistensi rasa, kemudahan akses, pengalaman di gerai, komunitas, serta distinctive brand assets seperti nama, warna, kemasan, atau cara penyajian yang langsung dikenali. Pembeda tidak harus berarti premium. Harga terjangkau yang konsisten, lokasi yang selalu dekat, atau layanan yang paling cepat juga merupakan positioning yang sah, asalkan dijalankan dengan disiplin.

    Perang harga adalah respons paling mudah, tetapi jarang paling sehat. Ketika jumlah pemain bertambah, menurunkan harga terasa sebagai jalan pintas untuk mempertahankan volume. Dalam jangka pendek konsumen diuntungkan. Jika berlangsung terus, margin menipis, kualitas bahan berisiko turun, dan usaha hanya bertahan tanpa ruang untuk berinvestasi. Brand yang punya pembeda jelas memiliki ruang untuk tidak ikut dalam perlombaan ini.

    Di kategori yang semakin ramai, perhatian konsumen juga menjadi ruang kompetisi. Ketika semakin banyak pemain beriklan di platform yang sama, brand perlu mempertimbangkan apakah terus mengejar pelanggan baru masih seefisien mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Pertanyaan strategisnya berubah dari "bagaimana menjangkau lebih banyak orang?" menjadi "mengapa konsumen memilih kita ketika alternatifnya ada di sebelah?"

  6. Apa Artinya untuk Kebijakan?

    Pemerintah tetap perlu membuka jalan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan, dan kewirausahaan adalah salah satu jalan yang sah. Pertanyaannya ada pada desain: jika kewirausahaan diposisikan sebagai salah satu solusi pasar kerja, apakah kebijakannya juga memperhitungkan kapasitas pasar dan kualitas usaha yang tercipta?

    Dari menciptakan pengusaha ke menciptakan usaha yang produktif. Keberhasilan kebijakan kewirausahaan tidak cukup diukur dari berapa banyak orang yang membuka usaha. Pertanyaan berikutnya adalah berapa banyak usaha yang bertahan, tumbuh, meningkatkan produktivitas, dan akhirnya mampu menciptakan pekerjaan untuk orang lain. Data Sakernas memberi gambaran jaraknya. Mengutip dokumen Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2026, penduduk bekerja berstatus berusaha dibantu buruh tetap hanya 3,60 persen, kelompok terkecil di antara semua status pekerjaan (Asatunews, 2026). Bandingkan dengan 20,57 persen yang berusaha sendiri. Artinya, sangat sedikit usaha yang tumbuh sampai mampu mempekerjakan orang lain secara tetap. Satu orang yang membuka usaha untuk dirinya sendiri belum sama dengan satu pekerjaan baru yang tercipta untuk orang lain. Program kewirausahaan bisa diukur dengan indikator yang lebih tajam: tingkat bertahan usaha setelah satu hingga tiga tahun, pertumbuhan omzet, produktivitas per pekerja, pendapatan pelaku usaha, kemampuan merekrut, serta perpindahan dari informal ke formal.

    Diversifikasi jalur kewirausahaan. Jika pelatihan, bantuan modal, dan program pendampingan secara tidak sengaja mengarahkan banyak orang ke jenis usaha yang sama karena hambatan masuknya paling rendah, kebijakan ikut menambah kepadatan di kategori yang sudah ramai. Program bisa dipetakan berdasarkan kebutuhan pasar lokal, celah dalam rantai nilai, komoditas unggulan daerah, kebutuhan industri, serta peluang di jasa, manufaktur kecil, pemasok bahan baku, layanan digital, dan ekspor. Untuk sebagian orang, jalur paling produktif mungkin berada di rantai pasok atau pekerjaan formal, di luar peran sebagai penjual.

    Memperluas permintaan, di samping memperbanyak penjual. Kebijakan yang hanya menambah jumlah pelaku usaha tanpa memperluas permintaan berisiko membuat mereka berebut konsumen yang sama. Tahun 2026 memberi contoh bagaimana belanja pemerintah bisa menggerakkan permintaan: lapangan usaha akomodasi dan makan minum tumbuh dua digit, sebagian karena program MBG (Kemenko Perekonomian, 2026). Pertanyaan lanjutannya adalah seberapa luas usaha kecil lokal, dari pemasok sayur dan telur hingga produsen bumbu, bisa masuk ke rantai pasok program semacam ini. Hal yang sama berlaku untuk pengadaan barang dan jasa pemerintah, kemitraan dengan rantai pasok perusahaan besar, akses pasar antardaerah, dan ekspor. Kebijakan kewirausahaan perlu menjawab dua pertanyaan sekaligus: bagaimana membuat orang membuka usaha, dan kepada siapa usaha tersebut akan menjual produknya.

    Persaingan berbasis produktivitas. Pemerintah tidak perlu melindungi usaha kecil dari kompetisi. Yang perlu dibangun adalah kondisi agar kompetisi terjadi lewat kualitas, inovasi, dan diferensiasi, sehingga tidak berhenti pada siapa yang bisa menjual paling murah. Dukungan pada standar keamanan pangan, sertifikasi, pembiayaan untuk peningkatan kapasitas, dan keterampilan pemasaran bisa membantu usaha kecil bersaing di luar harga. Transparansi juga penting: dengan banyaknya penawaran kemitraan yang belum terdaftar (Kemendag, 2024), calon pengusaha perlu informasi yang lebih jelas sebelum menanamkan tabungannya.

    Mengukur kepadatan pasar. Hasil Sensus Ekonomi 2026 akan memberi peta usaha paling lengkap dalam satu dekade. Jika data jumlah usaha per kategori dan per wilayah dipublikasikan secara mudah diakses, calon pengusaha, pemerintah daerah, dan lembaga pendamping bisa melihat kategori mana yang sudah padat dan mana yang masih kekurangan pemain.

  7. Siapa yang Menjadi Pembeli?

    Data 2026 memperlihatkan dua cerita yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, makin banyak orang bekerja dengan menanggung risiko usahanya sendiri, dan kategori seperti makan minum terus menarik pemain baru. Di sisi lain, permintaan agregat tetap tumbuh, bahkan cukup kencang di beberapa sektor. Kedua cerita itu tidak saling membatalkan. Keduanya bertemu pada satu pertanyaan yang belum bisa dijawab tuntas oleh statistik yang tersedia hari ini: bagaimana pertumbuhan permintaan itu terbagi di antara pemain yang jumlahnya terus bertambah.

    Untuk brand, pertanyaan ini mengubah cara membaca pasar. Ramainya sebuah kategori bisa menjadi tanda peluang, dan bisa pula menjadi tanda bahwa peluang itu sedang dibagi ke terlalu banyak tangan. Untuk pembuat kebijakan, pertanyaan ini menggeser ukuran keberhasilan dari berapa banyak orang yang membuka usaha ke berapa banyak usaha yang tumbuh, bertahan, dan mampu menghidupi lebih dari pemiliknya.

    Pada akhirnya, ekonomi tidak otomatis menjadi lebih produktif hanya karena semakin banyak orang memiliki usaha. Ia menjadi lebih produktif ketika usaha-usaha itu menemukan pembeli, menciptakan nilai tambah, dan punya ruang untuk naik kelas. Maka setiap kali kita mendorong seseorang menjadi penjual, ada pertanyaan kedua yang layak ikut diajukan: di mana pembelinya?

    Referensi

    Antara. (2026a, 5 Mei). BPS sebut jumlah pengangguran turun jadi 7,24 juta orang. Diakses 28 September 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/5554353/bps-sebut-jumlah-pengangguran-turun-jadi-724-juta-orang

    Antara. (2026b, 5 Agustus). BPS: Jumlah pekerja informal alami penurunan tipis per Mei 2026. Diakses 28 September 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/5680643/bps-jumlah-pekerja-informal-alami-penurunan-tipis-per-mei-2026

    Antara. (2026c, 10 September). BI prakirakan kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 tetap tumbuh. Diakses 28 September 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/5734725/bi-prakirakan-kinerja-penjualan-eceran-pada-agustus-2026-tetap-tumbuh

    Asatunews. (2026, 6 Mei). BPS catat pekerja informal Indonesia dominasi lapangan kerja 2026. Diakses 28 September 2026, dari https://www.asatunews.co.id/pekerja-informal-indonesia-mendominasi-2026

    Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik penyediaan makanan dan minuman 2023. BPS. Diakses 28 September 2026, dari https://www.bps.go.id/en/publication/2024/12/23/f2c7743c4712aaeaa4abf694/statistik-penyediaan-makanan-dan-minuman-2023.html

    Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik penyediaan makanan minuman 2024. BPS. Diakses 28 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/31/e46a55af756331ede8016b91/statisti

    Badan Pusat Statistik. (2026, 6 Mei). Ekonomi Indonesia resilien dan tumbuh solid pada triwulan 1-2026. Diakses 28 September 2026, dari https://www.bps.go.id/en/news/2026/05/06/910/ekonomi-indonesia-resilien-dan-tumbuh-solid--pada-triwulan-1-2026.html

    Bank Indonesia. (2026, Mei). Ekonomi Indonesia triwulan I 2026 tumbuh 5,61%. Diakses 28 September 2026, dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_289426.aspx

    CNBC Indonesia. (2026, 10 September). BI: Penjualan eceran Juli 2026 tumbuh 1,1%. Diakses 28 September 2026, dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20260910104949-4-766833/bi-penjualan-eceran-juli-2026-tumbuh-11

    CNN Indonesia. (2025, 12 Maret). 311 pemberi waralaba beroperasi di RI, cetak omzet Rp143,25 T. Diakses 28 September 2026, dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20250312193727-92-1208137/311-pemberi-waralaba-beroperasi-di-ri-cetak-omzet-rp14325-t

    CNN Indonesia. (2026a, 5 Mei). Pekerja informal di RI capai 87 juta orang, mayoritas wirausaha. Diakses 28 September 2026, dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260505185105-92-1355431/pekerja-informal-di-ri-capai-87-juta-orang-mayoritas-wirausaha

    CNN Indonesia. (2026b, 6 Mei). BPS: Penyerapan tenaga kerja capai 147,67 juta, pengangguran turun. Diakses 28 September 2026, dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260506134950-537-1355723/bps-penyerapan-tenaga-kerja-capai-14767-juta-pengangguran-turun

    Databoks. (2024, 24 Desember). Jumlah usaha makanan dan minuman di provinsi Indonesia 2023. Katadata. Diakses 28 September 2026, dari https://databoks.katadata.co.id/produk-konsumen/statistik/676a37fe6df35/jumlah-usaha-makanan-dan-minuman-di-provinsi-indonesia-2023

    Fortune Indonesia. (2026, 6 Agustus). Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen, apa penopang utamanya? Diakses 28 September 2026, dari https://www.fortuneidn.com/news/ekonomi-indonesia-tumbuh-5-29-persen-d7w02-00-lflgw-xwsjq7

    GoodStats. (2026, 29 Maret). Simak 7 sektor bisnis paling diminati di Indonesia 2026. Diakses 28 September 2026, dari https://data.goodstats.id/statistic/simak-7-sektor-bisnis-paling-diminati-di-indonesia-2026-UYMWb

    Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian [Kemenko Perekonomian]. (2026, 5 Agustus). Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada triwulan II-2026, semester I catat pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun. Diakses 28 September 2026, dari https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/7044/ekonomi-indonesia-tumbuh-529-pada-triwulan-ii-2026-semester-i-catat-pertumbuhan-tertinggi-dalam-5-tahun

    Kementerian Perdagangan [Kemendag]. (2024, 19 Agustus). Pemerintah berikan perlindungan waralaba lokal dari serbuan waralaba asing. Diakses 28 September 2026, dari https://www.kemendag.go.id/berita/pojok-media/pemerintah-berikan-perlindungan-waralaba-lokal-dari-serbuan-waralaba-asing

    Kementerian Perdagangan [Kemendag]. (2026, 17 April). Wamendag Roro: Waralaba jadi akselerator pengembangan UMKM. Diakses 28 September 2026, dari https://www.kemendag.go.id/berita/siaran-pers/wamendag-roro-waralaba-jadi-akselerator-pengembangan-umkm

    Kompas.com. (2026, 5 Agustus). BPS: Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,29 persen pada kuartal II 2026. Diakses 28 September 2026, dari https://money.kompas.com/read/2026/08/05/114132726/bps-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-529-persen-pada-kuartal-ii-2026

    Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (2026, 10 Juli). Pakar UMY soroti dampak Republik Tepung bagi kesehatan. Diakses 28 September 2026, dari https://www.umy.ac.id/republik-tepung/

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More