Konsumen Sudah Melihat, Kenapa Belum Tentu Membeli?

- Jangkauan creator marketing tidak otomatis menghasilkan pembelian; paparan, pertimbangan, dan transaksi merupakan tahapan berbeda yang perpindahannya tidak selalu terjadi.
- Survei mencatat 83% responden pernah melihat atau membuka affiliate link, tetapi sekitar 40% di antaranya membeli; pendapatan turut membedakan pola pembelian.
- Live shopping menarik lewat promo, harga, dan interaksi informasi. Brand perlu mengevaluasi conversion per format serta menelusuri kebutuhan konsumen selama tahap pertimbangan.
Banyak strategi creator marketing mengandalkan asumsi bahwa semakin banyak orang melihat konten, semakin besar peluang produk dipertimbangkan dan dibeli. Karena itu, reach menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kinerja kreator. Namun, jangkauan hanya memberi gambaran tentang seberapa banyak konsumen yang berhasil dijangkau, bukan seberapa jauh mereka bergerak menuju pembelian.
Dikenal tidak selalu berarti dipertimbangkan, dan dipertimbangkan tidak selalu berujung pada pembelian. Paparan (exposure) terjadi ketika konsumen melihat konten atau menemukan tautan produk. Pertimbangan (consideration) berlangsung ketika mereka menilai relevansi produk dengan kebutuhan, kesesuaian harga, dan kelayakannya untuk dibeli. Sementara itu, pembelian (purchase) merupakan tindakan yang dapat diamati. Ketiganya saling berkaitan, tetapi perpindahan dari satu tahap ke tahap berikutnya tidak terjadi secara otomatis.
Di sinilah paradoks creator marketing muncul. Konten kreator dan tautan produk dapat menjangkau konsumen secara luas, tetapi jangkauan tersebut belum tentu menghasilkan transaksi. Data mengenai affiliate link dan live shopping memperlihatkan jarak antara paparan dan pembelian. Keduanya juga membuka pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika konsumen sudah mengenal produk, tetapi belum mengambil keputusan.
Banyak yang Terpapar, Lebih Sedikit yang Membeli
Affiliate link memungkinkan konsumen berpindah dari konten kreator menuju halaman produk. Namun, seberapa jauh tautan tersebut berujung pada pembelian?
Mengutip GoodStats, survei Jakpat pada 25 November hingga 3 Desember 2025 mencatat bahwa 83% responden, atau 886 dari 1.069 orang, pernah melihat atau membuka affiliate link. Dari kelompok responden yang pernah terpapar tersebut, sekitar 40% melaporkan pernah membeli melalui affiliate link dalam enam bulan terakhir.
Artinya, sebagian besar responden yang pernah melihat atau membuka tautan tersebut tidak melaporkan pembelian melalui kanal itu dalam periode yang sama.
Tingkat pembelian juga relatif serupa antargenerasi. GoodStats mencatat angka berkisar dari 35% pada Gen X hingga 41% pada Milenial. Menurut laporan Jakpat yang dikutip GoodStats, pendapatan turut membedakan pola pembelian, dengan tingkat pembelian yang turun tajam pada konsumen berpendapatan rendah.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa luasnya paparan saja belum cukup untuk menjelaskan pola pembelian. Siapa yang dijangkau juga perlu diperhatikan, sebab konsumen dengan kondisi pendapatan berbeda dapat menunjukkan respons yang berbeda terhadap konten yang mereka temui.
Data tersebut belum menjelaskan alasan sebagian konsumen membeli sementara sebagian lainnya tidak. Ada yang mungkin sekadar ingin melihat produk, sedang membandingkan pilihan, atau belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk melanjutkan transaksi. Informasi yang tersedia belum membedakan kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Bagi marketer, angka paparan dan pembelian baru memberikan gambaran awal. Untuk memahami mengapa sebuah kampanye menghasilkan transaksi atau tidak, brand perlu melihat lebih jauh dari sekadar jumlah orang yang berhasil dijangkau.
Live Shopping: Harga Menarik Perhatian, Interaksi Memberi Nilai Tambah
Berbeda dari affiliate link yang mengarahkan konsumen ke halaman produk, live shopping memungkinkan mereka melihat produk secara real time sekaligus berinteraksi langsung dengan penjual. Format ini membuka kesempatan untuk mencari informasi sambil menyaksikan produk diperagakan.
Publikasi Jakpat pada Juli 2026, yang merangkum laporan dari survei yang sama, menunjukkan bahwa 92% responden rutin menyaksikan sesi live shopping. Lebih dari separuh responden juga pernah membeli melalui format tersebut dalam enam bulan terakhir.
Untuk memahami daya tarik format ini, alasan konsumen mengikutinya perlu dilihat lebih dekat.
Mengutip IDN Research Institute, Jakpat menganalisis jawaban 818 responden yang berminat berbelanja melalui live shopping. Sebanyak 71% tertarik karena promo atau diskon, sedangkan 66% karena harga yang lebih murah.
Alasan yang berkaitan dengan informasi juga menonjol. Sebanyak 65% tertarik karena dapat bertanya atau berinteraksi langsung dengan penjual, hanya satu poin persentase di bawah alasan harga yang lebih murah. Selain itu, 56% tertarik karena dapat melihat produk secara langsung dan 55% ingin memeriksa kondisi asli produk.
Angka-angka ini memperlihatkan dua sisi daya tarik live shopping: kesempatan memperoleh harga menarik dan akses terhadap informasi produk. Konsumen tidak hanya dapat mengikuti penawaran, tetapi juga mencari penjelasan yang membantu mereka menilai produk.
Di halaman produk biasa, konsumen mengandalkan materi yang disediakan penjual. Pertanyaan mengenai ukuran sebenarnya, tekstur, atau cara penggunaan mungkin belum terjawab melalui foto dan deskripsi. Dalam siaran langsung, mereka dapat meminta penjual memperlihatkan produk dari sudut lain atau menjelaskan hal-hal yang belum jelas.
Bagi marketer, kedua aspek tersebut layak diperhatikan ketika mengevaluasi format ini. Harga dapat menarik konsumen untuk menonton, sementara interaksi memberi ruang bagi mereka untuk mencari informasi tambahan. Meski demikian, alasan seseorang tertarik mengikuti live shopping belum dengan sendirinya membuktikan bahwa interaksi tersebut mengubah pertimbangan atau menyebabkan pembelian.
Artinya, popularitas format dan efektivitasnya perlu dinilai melalui indikator yang berbeda. Jumlah penonton membantu menunjukkan kemampuan konten menarik perhatian, sedangkan peran konten dalam pertimbangan konsumen membutuhkan pengamatan lebih lanjut.
Attention, Influence, Conversion: Tiga Tahap, Tiga Kebutuhan Pengukuran
Data affiliate link dan live shopping dapat dibaca melalui tiga konsep: attention, influence, dan conversion. Kerangka ini membantu marketer membedakan jangkauan konten, perannya dalam pertimbangan konsumen, dan hasil pembelian.
Attention: Apakah konsumen terpapar?
Tahap attention berkaitan dengan kemampuan konten menjangkau audiens dan menarik perhatian. Indikator seperti reach, impresi, views, dan klik membantu brand memahami seberapa luas konten tersebar dan bagaimana audiens meresponsnya.
Angka 83% responden yang pernah melihat atau membuka affiliate link dan 92% yang rutin menonton live shopping menggambarkan paparan terhadap kedua format tersebut. Namun, keduanya mengukur perilaku yang berbeda dan perlu dibaca sesuai definisinya.
Klik, misalnya, menunjukkan bahwa konsumen mengambil tindakan untuk melihat lebih jauh. Akan tetapi, mereka bisa mengeklik tautan karena penasaran, ingin membandingkan harga, atau sekadar ingin mengetahui produk yang digunakan kreator. Klik memberi sinyal bahwa konsumen melakukan tindakan awal, tetapi belum cukup untuk menunjukkan seberapa kuat niat mereka membeli.
Influence: Apakah konten berperan dalam pertimbangan konsumen?
Pada tahap influence, perhatian berpotensi berkembang menjadi pertimbangan. Konten dapat membantu konsumen memahami manfaat produk, menjawab keraguan, atau menilai apakah suatu pilihan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Proses ini tidak selalu terlihat dalam metrik kampanye. Seorang penonton dapat menyaksikan siaran sampai selesai tanpa mengubah pertimbangannya. Sebaliknya, konsumen dapat membeli produk yang tautannya dibuka sebelumnya setelah memperoleh informasi dari sumber lain.
Karena itu, angka reach dan klik belum menjelaskan apa yang terjadi setelah konsumen berinteraksi dengan konten. Apakah mereka memperoleh informasi yang dibutuhkan, masih ragu terhadap produk, atau akhirnya memilih alternatif lain? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk memahami peran konten dalam keputusan konsumen, tetapi tidak dapat dijawab hanya melalui indikator paparan.
Live shopping memberikan salah satu konteks untuk mengamati sebagian proses tersebut. Pertanyaan di kolom komentar, permintaan untuk memperlihatkan produk dari sudut lain, atau keraguan mengenai ukuran dapat memberi petunjuk tentang informasi yang sedang dicari konsumen.
Sinyal tersebut bukan bukti langsung bahwa influence telah terjadi. Namun, jika diamati dan ditelusuri lebih lanjut, sinyal itu dapat membantu brand memahami kebutuhan informasi yang muncul selama konsumen mempertimbangkan produk.
Conversion: Apakah konsumen membeli?
Tahap conversion mengacu pada tindakan pembelian yang dapat diamati. Mengutip GoodStats, sekitar 40% responden yang pernah melihat atau membuka affiliate link melaporkan pernah membeli melalui tautan tersebut dalam enam bulan terakhir. Publikasi Jakpat tentang live shopping juga menyebut bahwa lebih dari separuh responden pernah membeli melalui format tersebut dalam periode yang sama.
Kedua temuan ini memberikan gambaran tentang pengalaman membeli melalui masing-masing format. Namun, angkanya tidak dapat langsung dibandingkan sebagai ukuran efektivitas yang setara tanpa memperhatikan basis pengukuran dan konteks masing-masing.
Angka pembelian juga belum menjelaskan proses yang mendahului transaksi. Data dapat menunjukkan apakah konsumen melaporkan pembelian, tetapi alasan mereka mengambil keputusan membutuhkan informasi tambahan.
Di sinilah celah pengukuran menjadi penting. Laporan kampanye dapat menangkap paparan di awal dan pembelian di akhir, sementara proses pertimbangan yang menghubungkan keduanya belum tentu tercatat dengan baik.
Ketika pembelian tidak terjadi, angka reach dan klik tidak dapat membedakan konsumen yang tidak pernah benar-benar mempertimbangkan produk, konsumen yang sudah mempertimbangkannya tetapi memutuskan untuk tidak membeli, dan konsumen yang masih menunda keputusan. Ketiganya bisa terlihat sama dalam laporan kampanye, padahal membutuhkan respons yang berbeda.
Tantangannya, dengan demikian, bukan sekadar menambah indikator interaksi. Brand perlu memahami indikator mana yang dapat membantu menjelaskan proses pertimbangan konsumen dan bagaimana proses tersebut berhubungan dengan pembelian.
Mengukur Influence pada Tahap Consideration
Reach dan klik tetap berguna sebagai indikator awal. Namun, untuk mengetahui apa yang terjadi setelah konsumen terpapar, brand perlu melengkapi pengukuran tersebut dengan evaluasi yang lebih sesuai terhadap setiap format dan proses pertimbangan konsumen.
Langkah pertama adalah memisahkan kinerja berdasarkan format. Affiliate, live shopping, dan konten organik mempertemukan konsumen dengan produk dalam kondisi berbeda. Ada rekomendasi singkat yang disertai tautan, siaran yang membuka ruang tanya-jawab, dan konten organik yang tidak selalu membawa tautan atau ajakan membeli.
Menggabungkan ketiganya dalam satu angka reach atau satu angka penjualan dapat menyembunyikan perbedaan tersebut. Membandingkan conversion per format dengan basis pengukuran yang konsisten dapat membantu brand mengidentifikasi pola pembelian yang berbeda dan menentukan bagian mana yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Meski begitu, perbedaan conversion baru menjelaskan hasil akhir. Angka tersebut belum mengungkap mengapa pola pembelian berbeda atau apakah suatu format membantu konsumen bergerak dari paparan menuju pertimbangan yang lebih matang.
Untuk menyelidiki tahap influence, brand dapat mulai mengamati sinyal yang berkaitan dengan kebutuhan informasi konsumen. Pertanyaan yang diajukan saat siaran, konten yang disimpan, pencarian lanjutan atas nama produk, atau perbandingan dengan produk lain dapat menjadi titik awal untuk memahami perilaku mereka.
Setiap indikator memiliki keterbatasan. Menyimpan konten, misalnya, tidak otomatis berarti konsumen berniat membeli. Begitu pula pertanyaan saat siaran belum tentu menunjukkan bahwa mereka semakin yakin terhadap produk. Nilai indikator tersebut terletak pada kemampuannya membantu brand merumuskan pertanyaan yang lebih tepat, lalu menguji hubungannya dengan pembelian yang terjadi kemudian.
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu agenda riset Indonesia Creator Marketing Report (ICMR) 2027: bagaimana influence pada tahap consideration dapat diidentifikasi dan diukur secara lebih tepat sebelum hasil akhirnya terlihat pada conversion.
Selama tahap pertimbangan belum terukur dengan memadai, evaluasi efektivitas kreator akan terus bertumpu pada paparan dan transaksi, sementara proses yang menghubungkan keduanya belum cukup dipahami.
For Brands: Jangan Berhenti pada Reach dan Conversion
Bagi brand, implikasinya bukan meninggalkan reach atau menggantinya dengan satu metrik baru. Yang perlu diperbaiki adalah cara membaca kinerja creator marketing sebagai perjalanan konsumen, bukan sekadar kumpulan angka paparan dan transaksi.
Ada dua langkah awal yang dapat dilakukan.
Pertama, evaluasi conversion per format.
Pisahkan kinerja affiliate, live shopping, dan konten organik dengan menggunakan definisi indikator serta basis pengukuran yang konsisten. Perbandingan ini membantu brand mengenali pola pembelian pada setiap format dan menentukan bagian mana yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Kedua, telusuri proses pertimbangan konsumen.
Gunakan perbedaan pola tersebut sebagai titik awal untuk mencari tahu informasi apa yang dibutuhkan konsumen, pertanyaan apa yang belum terjawab, dan interaksi apa yang berpotensi membantu mereka menilai produk. Sinyal-sinyal ini perlu diuji hubungannya dengan pembelian, bukan langsung dianggap sebagai bukti influence.
Dengan begitu, evaluasi kinerja kreator dapat menjawab dua pertanyaan yang berbeda: format mana yang menghasilkan pembelian dan apa yang dialami konsumen sebelum mengambil keputusan tersebut. Pertanyaan pertama dapat ditelusuri melalui conversion per format, sedangkan pertanyaan kedua membutuhkan pengamatan lebih lanjut terhadap proses pertimbangan.
Jangkauan yang luas menunjukkan seberapa banyak konsumen berhasil dijangkau. Untuk memahami efektivitas creator marketing secara lebih utuh, marketer juga perlu mengetahui bagaimana paparan berhubungan dengan pertimbangan dan keputusan membeli.
Artikel ini merupakan bagian dari seri Consumer Paradox, tujuh artikel yang masing-masing membongkar satu asumsi marketer. Dalam creator marketing, paradoksnya adalah akses konsumen terhadap konten dan produk dapat semakin luas, sementara perhatian yang berhasil diperoleh belum tentu berubah menjadi keputusan membeli.
Referensi
Jakpat. (2026a, 30 Juni). Live shopping & affiliate links: Demographic insights. Jakpat Insight. Diakses 19 Oktober 2026, dari https://insight.jakpat.net/live-shopping-affiliate-links-demographic-insights/
Jakpat. (2026b, 13 Juli). Live shopping vs affiliate links: Which wins consumers? Jakpat Insight. Diakses 19 Oktober 2026, dari https://insight.jakpat.net/live-shopping-vs-affiliate-links-which-wins-consumers/
Pramesthi, N. A. (2026, 19 Agustus). 7 out of 10 Indonesian consumers choose to shop via live shopping. IDN Research Institute. Diakses 19 Oktober 2026, dari https://www.idnresearchinstitute.com/english/7-out-of-10-indonesian-consumers-choose-to-shop-via-live-shopping-00-314l1-k019g8
Wafa, I. (2026, 7 Juli). Belum banyak konsumen e-commerce yang checkout lewat link affiliate. GoodStats Data. Diakses 19 Oktober 2026, dari https://data.goodstats.id/statistic/belum-banyak-konsumen-e-commerce-yang-checkout-lewat-link-affiliate-rp5lL


























