Tekanan terhadap konsumsi terjadi di tengah perubahan kondisi ekonomi kelas menengah. Indeks penjualan ritel Indonesia tumbuh 13,3% pada 2015, melambat menjadi 3,0% pada 2025, dan tercatat tumbuh 0,5% pada semester I 2026, menurut Krungsri Research. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa porsi pengeluaran kelompok berpendapatan menengah terhadap konsumsi domestik turun dari 45,4% pada 2019 menjadi 38,3% pada 2024.
Sementara itu, Mandiri Institute memperkirakan 1,2 juta orang keluar dari kelas menengah sepanjang 2025. Bisnis.com mengaitkan perubahan tersebut dengan perpindahan sebagian penduduk ke kelompok calon kelas menengah atau kelompok rentan, tanpa berarti mereka jatuh miskin. Angka dari Mandiri Institute dan Krungsri menggunakan definisi kelompok ekonomi yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung. Data tersebut memberi konteks tentang perubahan posisi ekonomi dan konsumsi, bukan bukti perpindahan merek.
Dalam situasi ini, downtrading bisa menjadi peluang bagi brand yang menawarkan harga lebih terjangkau. Namun, penjualan yang meningkat belum tentu berarti brand memperoleh pelanggan yang bertahan, apalagi keuntungan yang lebih besar.
Setidaknya, ada empat situasi yang perlu dibedakan:
Situasi | Apa yang mungkin terjadi | Indikator yang perlu diperiksa |
Konsumen membeli lebih sedikit | Pelanggan masih membeli, tetapi frekuensi atau jumlahnya turun | Frekuensi dan ukuran pembelian per pelanggan |
Konsumen beralih ke merek lain | Brand kehilangan pelanggan yang mungkin tidak kembali | Proporsi pelanggan lama yang kembali membeli setelah kondisi harga berubah |
Brand mendapat pembeli dari alternatif yang lebih mahal | Pembeli baru mencoba produk, tetapi belum tentu menjadi pelanggan tetap | Tingkat pembelian ulang tanpa promosi |
Penjualan naik melalui diskon | Volume bertambah, tetapi keuntungan belum tentu meningkat | Margin per unit dan porsi penjualan saat diskon |
Perbedaan antara mendapatkan pembeli dan mempertahankan pelanggan terlihat ketika promosi berakhir. Kenaikan penjualan selama periode diskon belum membuktikan bahwa konsumen memilih produk karena kualitas atau manfaatnya. Mereka mungkin hanya memanfaatkan harga yang lebih rendah.
Hal serupa berlaku untuk program loyalitas. Data KIMCI menunjukkan bahwa kualitas, daya tahan, dan manfaat produk lebih banyak diprioritaskan responden daripada reward, poin, atau bonus. Temuan ini tidak membuktikan bahwa program loyalitas hanya efektif untuk pembelian pertama. Namun, data tersebut mengingatkan bahwa insentif bukan satu-satunya pertimbangan konsumen, sehingga efektivitas program terhadap pembelian ulang perlu diperiksa melalui data transaksi.
Bagi brand yang menawarkan produk lebih terjangkau, downtrading berpotensi menguntungkan ketika produk mampu memenuhi kebutuhan konsumen, pembeli kembali tanpa harus terus didorong diskon, dan margin tetap memadai. Sebaliknya, jika penjualan hanya meningkat selama promosi, brand mungkin memperoleh volume tambahan tanpa membangun basis pelanggan yang bertahan.
Data publik yang tersedia belum menunjukkan berapa banyak brand di Indonesia yang memenuhi kondisi tersebut. Untuk mengetahuinya, diperlukan data panel pembelian per merek dan kategori yang dapat memperlihatkan siapa yang berpindah, apakah mereka membeli lagi, serta bagaimana perubahan harga memengaruhi volume dan margin.