Setidaknya ada beberapa faktor yang membuat Gen Z begitu rentan akan doom spending. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:
1. Tekanan Ekonomi yang Nyata
Gen Z Indonesia memasuki dunia kerja di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah. Data BPS Februari 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional sebesar 4,68%. Namun untuk kelompok usia 15 sampai 24 tahun, TPT mencapai 16,36%, jauh di atas rata-rata nasional dan menjadi yang tertinggi di antara seluruh kelompok umur. Beban pengangguran di Indonesia paling besar ditanggung anak muda yang baru masuk pasar kerja.
Di sisi lain, biaya hidup terus meningkat, persaingan kerja semakin ketat, sementara media sosial terus membentuk standar gaya hidup yang tinggi. Banyak anak muda merasa harus tetap terlihat “baik-baik saja” meski kondisi finansial sebenarnya sedang tidak stabil.
2. Ekosistem Digital yang Dirancang untuk Memicu Belanja
Platform digital modern memang dirancang untuk memperpendek jarak antara keinginan dan transaksi. Fitur checkout instan, flash sale, live shopping, hingga algoritma rekomendasi membuat proses belanja terasa sangat cepat dan minim hambatan.
Berbagai riset tentang perilaku konsumen digital juga menunjukkan bahwa live shopping dan konten influencer dapat meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif, terutama di kalangan pengguna muda yang aktif di media sosial.
3. FOMO dan Tekanan Sosial
Instagram dan TikTok membangun narasi gaya hidup yang terasa aspiratif sekaligus mudah dijangkau, selama seseorang mau checkout sekarang.
Fear of Missing Out atau FOMO bukan sekadar istilah populer di internet. Dalam banyak kasus, ia menjadi tekanan psikologis yang nyata. Anak muda merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren, nongkrong di tempat tertentu, membeli produk viral, atau ikut pengalaman yang sedang ramai dibicarakan.
Tekanan sosial semacam ini membuat konsumsi tidak lagi sekadar soal kebutuhan, tetapi juga soal validasi dan rasa diterima.
4. Kemudahan Buy Now Pay Later
Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) seperti paylater e-commerce dan cicilan digital memang menawarkan fleksibilitas. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga dapat membuat batas antara “mampu membeli” dan “mampu membayar” menjadi kabur.
Bagi sebagian anak muda yang belum memiliki fondasi finansial kuat, BNPL bisa berubah menjadi siklus utang kecil yang terus menumpuk tanpa terasa.
Skala fenomena ini terlihat dari data OJK terbaru:
Per Maret 2026, kelompok usia 19 sampai 34 tahun menyumbang 48,65% dari kredit macet pinjaman online.
Total utang BNPL nasional mencapai Rp28,3 triliun dengan 30,81 juta pengguna (Maret 2026).
Pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 71,13% secara tahunan menjadi Rp12,18 triliun (Januari 2026).
Gen Z menyumbang hampir 40% dari total pengguna BNPL, dengan rasio kredit macet paylater sekitar 4%, lebih tinggi dari kredit perbankan umum.
Survei APJII 2025 mencatat 86,6% peminjam online berasal dari kalangan milenial dan Gen Z.
5. Siklus yang Menjebak
Doom spending biasanya bergerak dalam pola yang berulang:
Kecemasan ekonomi → stres → belanja impulsif → kepuasan sesaat → penyesalan → kondisi finansial memburuk → kecemasan kembali meningkat.
Masalahnya, belanja hanya memberi efek lega sementara. Setelah itu, kecemasan awal sering kali kembali muncul, bahkan dalam kondisi yang lebih buruk karena tabungan berkurang atau cicilan bertambah.
Selain itu, dampak lainnya terlihat pada kemampuan menabung. Bank Indonesia mencatat sekitar 20 juta Gen Z belum memiliki tabungan di bank (November 2025).
Namun, ada sedikit tanda perbaikan: Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat porsi pendapatan untuk konsumsi turun ke 74,3% pada Desember 2025, lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya, yang berarti porsi tabungan mulai naik.