Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Doom Spending: Gen Z Indonesia Belanja untuk Lari dari Kecemasan
ilustrasi doom spending (pexels.com/Sam Lion)

  • Doom spending jadi tren di kalangan Gen Z Indonesia, muncul sebagai pelarian dari stres dan ketidakpastian ekonomi di tengah tekanan sosial serta kemudahan transaksi digital yang makin instan.
  • Data OJK dan BPS menunjukkan literasi keuangan tertinggal dibanding akses finansial, sementara penggunaan BNPL melonjak dengan rasio kredit macet tinggi di kelompok usia muda.
  • Pemerintah melalui OJK mulai mengatur layanan BNPL dan mendorong edukasi finansial agar generasi muda lebih bijak mengelola uang di era konsumsi digital cepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayangkan kamu baru saja scroll TikTok selama 20 menit, lalu tiba-tiba keranjang belanjamu sudah penuh, padahal tagihan bulan ini belum lunas. Familiar? Kamu tidak sendirian.

Fenomena ini punya nama, yaitu doom spending. Di Indonesia, perilaku ini semakin sering muncul di kalangan anak muda, terutama Gen Z, dengan dinamika yang jauh lebih kompleks daripada sekadar “boros”.

Apa Itu Doom Spending?

Doom spending adalah perilaku membelanjakan uang secara impulsif sebagai mekanisme pelarian dari stres, kecemasan, atau ketidakpastian ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini semakin populer dan banyak dibahas media psikologi maupun finansial global, termasuk Psychology Today.

Ini bukan sekadar belanja hedon biasa. Doom spending muncul ketika seseorang merasa masa depan finansialnya terasa suram atau sulit dikendalikan. Pola pikirnya kira-kira seperti ini: “Kalau masa depan terasa tidak pasti, kenapa tidak menikmati sekarang saja?”

Angka-angka yang Perlu Dicermati

Fenomena doom spending memang sulit diukur secara langsung. Namun sejumlah data ekonomi dan perilaku digital menunjukkan bahwa anak muda Indonesia hidup di tengah tekanan finansial dan godaan konsumsi yang semakin besar.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional berada di angka 66,46%, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51%. Dibanding SNLIK 2024 (literasi 65,43%, inklusi 75,02%), gap antara akses dan pemahaman justru melebar dari sekitar 9,6 poin menjadi sekitar 14 poin. Artinya, akses terhadap produk keuangan tumbuh jauh lebih cepat dibanding kemampuan menggunakannya secara bijak. 

Di saat yang sama, Indonesia juga mengalami percepatan ekonomi digital yang sangat besar. Platform e-commerce, layanan pesan-antar, hingga fitur live shopping semakin mempermudah proses transaksi hanya dalam beberapa klik. Belanja kini bukan lagi aktivitas yang membutuhkan banyak pertimbangan, melainkan keputusan instan yang bisa dilakukan kapan saja.

Mengapa Gen Z Begitu Rentan?

Setidaknya ada beberapa faktor yang membuat Gen Z begitu rentan akan doom spending. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Tekanan Ekonomi yang Nyata

Gen Z Indonesia memasuki dunia kerja di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah. Data BPS Februari 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional sebesar 4,68%. Namun untuk kelompok usia 15 sampai 24 tahun, TPT mencapai 16,36%, jauh di atas rata-rata nasional dan menjadi yang tertinggi di antara seluruh kelompok umur. Beban pengangguran di Indonesia paling besar ditanggung anak muda yang baru masuk pasar kerja. 

Di sisi lain, biaya hidup terus meningkat, persaingan kerja semakin ketat, sementara media sosial terus membentuk standar gaya hidup yang tinggi. Banyak anak muda merasa harus tetap terlihat “baik-baik saja” meski kondisi finansial sebenarnya sedang tidak stabil.

2. Ekosistem Digital yang Dirancang untuk Memicu Belanja

Platform digital modern memang dirancang untuk memperpendek jarak antara keinginan dan transaksi. Fitur checkout instan, flash sale, live shopping, hingga algoritma rekomendasi membuat proses belanja terasa sangat cepat dan minim hambatan.

Berbagai riset tentang perilaku konsumen digital juga menunjukkan bahwa live shopping dan konten influencer dapat meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif, terutama di kalangan pengguna muda yang aktif di media sosial.

3. FOMO dan Tekanan Sosial

Instagram dan TikTok membangun narasi gaya hidup yang terasa aspiratif sekaligus mudah dijangkau, selama seseorang mau checkout sekarang.

Fear of Missing Out atau FOMO bukan sekadar istilah populer di internet. Dalam banyak kasus, ia menjadi tekanan psikologis yang nyata. Anak muda merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren, nongkrong di tempat tertentu, membeli produk viral, atau ikut pengalaman yang sedang ramai dibicarakan.

Tekanan sosial semacam ini membuat konsumsi tidak lagi sekadar soal kebutuhan, tetapi juga soal validasi dan rasa diterima.

4. Kemudahan Buy Now Pay Later

Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) seperti paylater e-commerce dan cicilan digital memang menawarkan fleksibilitas. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga dapat membuat batas antara “mampu membeli” dan “mampu membayar” menjadi kabur.

Bagi sebagian anak muda yang belum memiliki fondasi finansial kuat, BNPL bisa berubah menjadi siklus utang kecil yang terus menumpuk tanpa terasa.

Skala fenomena ini terlihat dari data OJK terbaru:

  • Per Maret 2026, kelompok usia 19 sampai 34 tahun menyumbang 48,65% dari kredit macet pinjaman online.

  • Total utang BNPL nasional mencapai Rp28,3 triliun dengan 30,81 juta pengguna (Maret 2026).

  • Pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 71,13% secara tahunan menjadi Rp12,18 triliun (Januari 2026).

  • Gen Z menyumbang hampir 40% dari total pengguna BNPL, dengan rasio kredit macet paylater sekitar 4%, lebih tinggi dari kredit perbankan umum.

  • Survei APJII 2025 mencatat 86,6% peminjam online berasal dari kalangan milenial dan Gen Z.

5. Siklus yang Menjebak

Doom spending biasanya bergerak dalam pola yang berulang:

Kecemasan ekonomi → stres → belanja impulsif → kepuasan sesaat → penyesalan → kondisi finansial memburuk → kecemasan kembali meningkat.

Masalahnya, belanja hanya memberi efek lega sementara. Setelah itu, kecemasan awal sering kali kembali muncul, bahkan dalam kondisi yang lebih buruk karena tabungan berkurang atau cicilan bertambah.

Selain itu, dampak lainnya terlihat pada kemampuan menabung. Bank Indonesia mencatat sekitar 20 juta Gen Z belum memiliki tabungan di bank (November 2025).

Namun, ada sedikit tanda perbaikan: Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat porsi pendapatan untuk konsumsi turun ke 74,3% pada Desember 2025, lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya, yang berarti porsi tabungan mulai naik. 

Gen Z Paling Banyak Belanja Apa?

Pola doom spending Gen Z umumnya terkonsentrasi pada kategori yang berkaitan dengan pengalaman dan gaya hidup, seperti:

• Kuliner dan nongkrong
• Fesyen dan produk lifestyle
• Konser dan hiburan
• Gadget dan elektronik
• Langganan digital seperti streaming, game, dan aplikasi premium

Menariknya, banyak pengeluaran ini bukan semata tentang barang fisik, melainkan pengalaman sosial. Hal ini menunjukkan bahwa doom spending juga berkaitan dengan kebutuhan emosional, rasa diterima, dan pencarian kenyamanan sesaat.

Paradoks: Daya Beli Tertekan, Konsumsi Tetap Tinggi

Pada Januari 2025, BPS sempat mencatat deflasi bulanan sebesar 0,76%. Namun penurunan ini bukan tanda harga melemah secara alami, melainkan efek kebijakan diskon tarif listrik 50% yang berlaku Januari sampai Februari 2025. Sifatnya sementara. Begitu efek itu hilang, inflasi tahunan Januari 2026 justru melonjak ke 3,55%, tertinggi sejak 2023.

Yang menarik, di tengah daya beli yang tertekan dan biaya hidup yang kembali naik, dorongan konsumsi anak muda tidak ikut mengerem. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi tidak hanya ditentukan oleh harga atau pendapatan, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan rasa tidak aman terhadap masa depan.

Apakah Ini Salah Gen Z Semata?

Persoalannya tidak sesederhana itu.

Literasi keuangan yang belum merata memang menjadi bagian dari masalah. Namun faktor struktural juga memainkan peran besar. Gen Z tumbuh di tengah ekonomi digital yang sangat agresif, paparan media sosial tanpa henti, serta tekanan untuk terus terlihat produktif, relevan, dan mengikuti tren.

Di saat yang sama, akses terhadap kredit digital semakin mudah, sementara kemampuan mengelola keuangan belum tentu berkembang secepat itu.

Cara Keluar dari Jebakan Doom Spending

Mengatasi doom spending membutuhkan pendekatan psikologis sekaligus finansial.

1. Kenali Trigger Emosional

Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan pada diri sendiri: “Aku benar-benar butuh ini, atau aku sedang stres dan ingin merasa lebih baik?”

2. Terapkan Aturan 24 Jam

Untuk pembelian non-esensial, beri jeda satu hari sebelum checkout. Banyak dorongan impulsif biasanya mereda setelah ada jarak waktu.

3. Kurangi Paparan Konten Konsumtif

Batasi akun haul, live shopping, atau konten yang terus memicu keinginan belanja impulsif.

4. Evaluasi Cicilan dan Paylater

Cek kembali jumlah cicilan aktif dan pastikan pengeluaran kredit tidak lebih besar dari kemampuan bayar.

5. Siapkan Dana Hiburan yang Terencana

Menikmati hidup bukan sesuatu yang salah. Namun akan lebih sehat jika pengeluaran hiburan memang sudah dialokasikan sejak awal, bukan dilakukan secara impulsif.

6. Cari Pelampiasan Stres Selain Belanja

Olahraga, journaling, ngobrol dengan teman, atau aktivitas kreatif bisa menjadi cara yang lebih sehat untuk mengelola stres dibanding checkout impulsif.

Peran Ekosistem Juga Penting

Doom spending bukan hanya persoalan disiplin individu. Ada faktor sistemik yang ikut membentuk perilaku konsumsi generasi muda.

Pemerintah sudah mulai bergerak. Pada 2025, OJK menerbitkan POJK Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan BNPL, yang mengatur batasan usia minimum, syarat pendapatan minimum, dan rasio leverage debitur. OJK secara terbuka mengaitkan aturan ini dengan risiko over-indebtedness di kalangan anak muda, dan tengah menyiapkan aturan turunan untuk membatasi kepemilikan multi-akun paylater. 

Karena itu, beberapa langkah berikut juga penting untuk didorong:

• Edukasi finansial yang relevan dengan kehidupan digital anak muda
• Transparansi biaya dan risiko pada layanan paylater
• Regulasi kredit digital yang lebih ketat
• Literasi finansial yang terintegrasi dalam pendidikan formal
• Platform digital yang lebih bertanggung jawab dalam mendorong konsumsi impulsif

Kesimpulan

Doom spending bukan sekadar tren konsumtif atau kelemahan karakter. Ia adalah respons psikologis terhadap tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan ekosistem digital yang terus mendorong konsumsi tanpa henti.

Sebagai generasi yang tumbuh di tengah krisis ekonomi, ledakan media sosial, dan budaya digital instan, Gen Z menghadapi tekanan finansial yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Karena itu, memahami doom spending bukan berarti menghakimi cara Gen Z membelanjakan uangnya, melainkan memahami kecemasan yang ada di baliknya.

Dan mungkin, langkah pertama untuk keluar dari siklus itu dimulai dari satu hal sederhana: menyadari bahwa tidak semua rasa cemas harus diselesaikan lewat tombol checkout.

Sumber:

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2025). Profil pengguna internet Indonesia 2025. APJII. https://apjii.or.id/

Badan Pusat Statistik (BPS). (2026a, 2 Februari). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Januari 2026 sebesar 3,55 persen [Berita Resmi Statistik]. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/02/2540/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-januari-2026-sebesar-3-55-persen.html

Badan Pusat Statistik (BPS). (2026b, 5 Mei). Keadaan ketenagakerjaan Indonesia Februari 2026 [Berita Resmi Statistik]. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/

Bank Indonesia. (2025, Desember). Laporan survei konsumen Desember 2025. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Documents/SK-Desember-2025.pdf

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). (2025, 24 November). Keterangan resmi Wakil Ketua LPS Farid Azhar Nasution mengenai tabungan Generasi Z [Keterangan pers dalam acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It!)]. Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, Bali.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2025a, 2 Mei). Siaran pers bersama: Indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat meningkat — OJK dan BPS umumkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 [Siaran pers]. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-dan-BPS-Umumkan-Hasil-Survei-Nasional-Literasi-Dan-Inklusi-Keuangan-SNLIK-Tahun-2025.aspx

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2025b, 15 Desember). Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Beli Sekarang Bayar Nanti (Buy Now Pay Later/BNPL). https://ojk.go.id/id/regulasi/Pages/POJK-32-Tahun-2025-Penyelenggaraan-Beli-Sekarang-Bayar-Nanti-BNPL.aspx

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2026a, 3 Maret). Siaran pers hasil Rapat Dewan Komisioner bulanan OJK Februari 2026 [Siaran pers; memuat data pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan per Januari 2026, tumbuh 71,13% YoY menjadi Rp12,18 triliun]. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2026b, 7 Mei). Lembar jawaban Rapat Dewan Komisioner OJK April 2026 [Siaran pers; memuat data kredit macet (TWP90) pinjaman online per Maret 2026: kelompok usia 19–34 tahun menyumbang 48,65%; total utang BNPL Rp28,3 triliun dari 30,81 juta pengguna]. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/

Editorial Team