Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Anak Muda Dominasi Kredit Macet Pinjol, Lansia Rawan Pinjaman Macet
ilustrasi pinjaman online (freepik.com/freepik)
  • Kelompok usia 19–34 tahun menyumbang hampir separuh kredit macet pinjol nasional, namun proporsional dengan besarnya porsi pinjaman yang mereka pegang sekitar 50 persen dari total outstanding.
  • Sepanjang 2025, total pinjaman aktif tumbuh 14,5 persen menjadi Rp82,98 triliun, tetapi kredit macet naik lebih cepat sebesar 43,1 persen hingga mencapai Rp2,15 triliun.
  • Pertumbuhan kredit macet tertinggi terjadi pada kelompok usia di atas 54 tahun yang melonjak 112,4 persen, menunjukkan risiko gagal bayar meningkat di kalangan lansia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kelompok usia 19–34 tahun menyumbang hampir setengah dari seluruh kredit macet pinjaman online atau pinjol di Indonesia. Data Statistik Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) OJK per Desember 2025 menunjukkan, porsi kredit macet dari kelompok usia ini mencapai 48 persen.

Sekilas, angka ini bisa langsung dibaca sebagai tanda bahwa anak muda adalah kelompok paling rentan dalam urusan pinjol. Namun, kalau datanya dilihat lebih dalam, ceritanya ternyata tidak sesederhana itu. Ada kelompok lain yang justru perlu juga untuk diperhatikan jika dilihat dari sudut yang berbeda.

Kelompok usia 19–34 tahun memang menyumbang hampir setengah kredit macet. Namun, di saat yang sama, mereka juga memegang sekitar separuh dari total outstanding pinjol nasional. Artinya, angka kredit macet mereka sebenarnya cukup proporsional dengan besarnya pinjaman yang mereka pegang.

Masalah yang lebih besar justru ada di gambaran keseluruhan industri pinjol. Sepanjang 2025, total pinjaman aktif tumbuh 14,5 persen. Namun, kredit macet tumbuh jauh lebih cepat, yaitu 43,1 persen. Dengan kata lain, kualitas pinjaman memburuk lebih cepat daripada pertumbuhan pasarnya.

Separuh Pinjol Nasional Ada di Tangan Usia Produktif

Per Desember 2025, total outstanding pinjol di platform peer-to-peer lending Indonesia mencapai Rp82,98 triliun. Angka ini naik dari Rp72,48 triliun pada Desember 2024, atau tumbuh 14,5 persen dalam setahun.

Dari total tersebut, kelompok usia 19–34 tahun memegang porsi terbesar, yaitu Rp41,49 triliun atau sekitar 50 persen dari total pinjaman aktif. Kelompok usia 35–54 tahun menyusul dengan Rp37,59 triliun atau 45 persen. Sementara itu, kelompok usia di atas 54 tahun memegang Rp3,71 triliun, dan kelompok di bawah 19 tahun sebesar Rp277 miliar.

Namun, ada satu hal penting yang sering luput. Anak muda memang menjadi kelompok peminjam terbesar, tetapi bukan berarti pinjaman per orangnya paling besar.

Dari 26,1 juta rekening aktif pinjol di Indonesia, sebanyak 15,58 juta rekening berasal dari kelompok usia 19–34 tahun. Jumlah rekeningnya besar, sehingga total pinjamannya juga besar. Namun, rata-rata pinjaman per rekening di kelompok ini hanya Rp2,66 juta.

Angka tersebut lebih kecil dibandingkan dengan kelompok usia 35–54 tahun, yang rata-rata pinjamannya mencapai Rp3,98 juta per rekening. Bahkan kelompok usia di atas 54 tahun memiliki rata-rata pinjaman lebih tinggi, yaitu Rp4,27 juta per rekening.

Jadi, anak muda bukan selalu meminjam dalam jumlah besar. Mereka terlihat dominan karena jumlah peminjamnya memang sangat banyak.

Kredit Macet Tumbuh Lebih Cepat dari Total Pinjaman

Masalah utama pinjol pada 2025 bukan hanya soal siapa yang paling banyak meminjam, tetapi soal kualitas pinjaman yang memburuk.

Sepanjang 2025, total outstanding pinjol naik 14,5 persen. Namun, total kredit macet atau pinjaman yang terlambat lebih dari 90 hari naik dari Rp1,50 triliun menjadi Rp2,15 triliun. Kenaikannya mencapai 43,1 persen dalam setahun. Artinya, kualitas pinjaman memburuk tiga kali lebih cepat dari pertumbuhan pasarnya.

Jika dilihat per kelompok usia, pertumbuhan kredit macet terjadi hampir di semua kelompok, tetapi dengan kecepatan berbeda.

Pada kelompok usia 19–34 tahun, kredit macet naik dari Rp779,7 miliar menjadi Rp1,03 triliun. Kenaikannya 32,2 persen.

Pada kelompok usia 35–54 tahun, kredit macet naik dari Rp622 miliar menjadi Rp905,9 miliar. Kenaikannya lebih tinggi, yaitu 45,7 persen.

Yang paling mencolok adalah kelompok usia di atas 54 tahun. Kredit macet di kelompok ini naik dari Rp94,9 miliar menjadi Rp201,5 miliar, atau melonjak 112,4 persen dalam setahun. Ini adalah laju pertumbuhan kredit macet tertinggi di antara semua kelompok usia dewasa.

Sementara itu, kelompok di bawah 19 tahun juga mencatat kenaikan tajam, dari Rp2,65 miliar menjadi Rp6,9 miliar. Secara persentase, kenaikannya mencapai 160 persen, meski nilai nominalnya masih jauh lebih kecil dibanding kelompok usia lain.

Dari sini terlihat bahwa anak muda memang menyumbang nilai kredit macet terbesar secara nominal. Namun, pertumbuhan kredit macet tercepat justru terjadi pada kelompok usia yang lebih tua dan kelompok di bawah umur.

Dilihat dari Rasio, Lansia Justru Paling Sulit Bayar

Untuk melihat kelompok mana yang sebenarnya paling bermasalah, angka absolut saja tidak cukup. Kita perlu membandingkan kredit macet dengan total pinjaman di masing-masing kelompok usia. Inilah yang disebut rasio kredit macet atau TWP90 (Tingkat Wanprestasi lebih dari 90 hari).

Di sini, IDN Research Institute menggunakan dua metrik berbeda untuk membaca data kredit macet, karena keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda.

Metrik pertama adalah porsi dari total macet nasional, yaitu berapa persen kredit macet suatu kelompok dari keseluruhan kredit macet industri pinjol. Rumusnya:

Porsi = (Dana macet kelompok X ÷ Total macet nasional) × 100

Metrik ini digunakan OJK ketika menyatakan bahwa 48,65 persen kredit macet berasal dari peminjam usia 19–34 tahun (dari data Maret 2026, disampaikan dalam Lembar Jawaban RDK OJK April 2026). Metrik ini relevan untuk mengukur dampak sistemik: kelompok mana yang paling besar kontribusinya terhadap total beban macet industri.

Metrik kedua adalah rasio macet dalam kelompok itu sendiri (TWP90), yaitu berapa persen pinjaman dalam suatu kelompok yang sudah masuk kategori macet. Rumusnya:

Rasio = (Macet kelompok X ÷ Outstanding kelompok X) × 100

Metrik ini menjawab pertanyaan yang berbeda: kelompok mana yang proporsi pinjamannya paling bermasalah? Metrik ini lebih mencerminkan kualitas kredit per segmen, terlepas dari seberapa besar volume pinjamannya.

Kedua metrik dihitung dari Statistik LPBBTI OJK Desember 2025 yang dipublikasikan secara resmi. Hasilnya untuk Desember 2025 adalah sebagai berikut:

rasio kredit macet

Editorial Team