Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Merek Menguasai Pasar Mobil Listrik, Apa Artinya bagi Pendatang Baru
ilustrasi sebuah mobil listrik yang sedang diisi daya (pexels.com/Mike Bird)
  • Distribusi BEV Juni 2026 mencapai sekitar 12.653 unit, naik 36,2% bulanan dan menyumbang 16% wholesales nasional, tetapi belum mencerminkan pembelian konsumen akhir.
  • Lonjakan distribusi dipengaruhi basis rendah 2025, pengisian stok diler, serta pemulihan BYD; insentif fiskal baru belum berlaku pada Juni 2026.
  • Empat merek—BYD, Jaecoo, Geely, dan Wuling—menguasai 77,17% distribusi BEV Juni, sehingga pendatang baru menghadapi tantangan jaringan, layanan purnajual, dan kepercayaan konsumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Distribusi mobil listrik di Indonesia kembali meningkat tajam. Mengutip Dataindonesia.id (2026), distribusi mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) dari pabrik ke diler mencapai 12.695 unit pada Juni 2026, naik 35,76% dibandingkan bulan sebelumnya dan 84,87% dibandingkan Juni 2025. Angka yang sedikit berbeda dilansir Kompas Otomotif (2026a) berdasarkan data Gaikindo, yaitu 12.653 unit atau naik 36,2% secara bulanan.

Perlu dicatat bahwa kedua angka tersebut mengukur wholesales, yakni distribusi dari pabrik ke diler. Angka ini belum tentu mencerminkan pembelian oleh konsumen akhir. Perbedaan keduanya menjadi penting untuk membaca apa yang sebenarnya terjadi pada Juni 2026.

Meski demikian, lonjakan tersebut belum berarti mobil listrik telah menjadi arus utama di Indonesia. Dari total wholesales mobil nasional yang mencapai 77.550 unit pada Juni 2026, mobil listrik menyumbang sekitar 16%. Angka tersebut merupakan perhitungan penulis dengan membagi volume BEV versi Gaikindo yang dilansir Kompas Otomotif (2026a), yaitu 12.653 unit, terhadap total wholesales nasional pada bulan yang sama. 

Sebagai pembanding, Kompas Otomotif (2026b) melansir kontribusi BEV sepanjang Januari hingga Juni 2026 berada di angka 15,9% dari total pasar nasional, dengan volume kumulatif 69.739 unit. Dengan kata lain, pasar kendaraan listrik memang sedang bertumbuh pesat, tetapi tingkat adopsinya masih relatif dini jika dibandingkan dengan keseluruhan pasar otomotif.

Setidaknya tiga hal memengaruhi besaran pertumbuhannya: basis pembanding yang rendah pada 2025, karakter data yang mengukur distribusi alih-alih pembelian, serta pemulihan volume satu produsen dengan pangsa besar. Lalu, seberapa jauh angka Juni 2026 dapat dibaca sebagai sinyal meningkatnya permintaan konsumen?

Mobil Listrik Tumbuh Lebih Cepat, tetapi dari Basis yang Rendah 

Kenaikan distribusi mobil listrik pada Juni 2026 terjadi ketika industri otomotif nasional juga menunjukkan tren positif. Dilansir Kompas Otomotif (2026c), data Gaikindo menunjukkan wholesales mobil nasional mencapai 77.550 unit pada Juni 2026 atau naik 32,9% dibandingkan Juni 2025 yang tercatat 58.363 unit. Pada periode yang sama, penjualan ritel dari diler ke konsumen tercatat 74.507 unit atau tumbuh 19,6% secara tahunan. Secara bulanan, jarak keduanya lebih lebar lagi. Wholesales naik 12% dibandingkan Mei 2026, sementara ritel hanya naik 3,6%.

Selisih antara pertumbuhan wholesales dan ritel ini menjadi catatan penting. Angka distribusi tumbuh jauh lebih cepat daripada angka pembelian konsumen, yang mengindikasikan sebagian kenaikan berasal dari pengisian stok di jaringan diler. Secara kumulatif, wholesales sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 436.564 unit atau tumbuh 15,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Besaran pertumbuhan tahunan pada Juni 2026 juga perlu dibaca bersama kondisi tahun sebelumnya. Menurut Stockbit Snips (2026), pertumbuhan wholesales yang solid sepanjang paruh pertama 2026 didorong oleh efek basis rendah, mengingat penjualan mobil pada paruh pertama 2025 tergolong lemah. Stockbit mencatat wholesales Juni 2025 merupakan angka penjualan bulanan terendah pada 2025 di luar periode Ramadan dan Lebaran. Rata-rata penjualan bulanan sepanjang paruh pertama 2025 berada di kisaran 62.800 unit, sedangkan pada periode yang sama 2026 mencapai sekitar 72.800 unit.

Dengan basis pembanding serendah itu, angka pertumbuhan 84,87% pada segmen mobil listrik maupun 32,9% pada pasar nasional menggambarkan pemulihan dari titik terendah, dan belum tentu menggambarkan percepatan permintaan.

Stockbit Snips (2026) menilai kenaikan wholesales mobil nasional secara bulanan lebih disebabkan oleh pemulihan penjualan BYD ke level sekitar 5.000 unit, setelah sempat turun ke sekitar 1.100 unit pada Mei 2026. Angka tersebut merujuk pada volume merek BYD secara keseluruhan. Khusus segmen BEV, Dataindonesia.id (2026) mencatat BYD memimpin pasar dengan 3.439 unit pada Juni 2026.

Pola pemulihan ini terlihat paling jelas pada level model. Mengutip Uzone (2026), distribusi BYD Atto 1 melonjak dari 26 unit pada Mei 2026 menjadi 2.249 unit pada Juni 2026. Lonjakan sebesar itu dalam satu bulan lebih menggambarkan siklus pasokan dan distribusi daripada perubahan minat konsumen.

Faktor yang Sering Disebut, dan Kapan Sebenarnya Berlaku 

Sejumlah faktor kerap disebut sebagai pendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik, mulai dari insentif fiskal, bertambahnya pilihan model, hingga harga yang semakin terjangkau. Memeriksa kapan masing-masing faktor benar-benar berlaku membantu memisahkan pendorong yang sudah bekerja pada Juni 2026 dari yang efeknya baru akan muncul kemudian. 

Peran insentif fiskal. Salah satu faktor yang patut diperhatikan adalah perubahan kebijakan insentif pemerintah. Program PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dan pembebasan bea masuk untuk mobil listrik completely built up (CBU) berakhir pada 31 Desember 2025 dan tidak langsung diperpanjang pada awal 2026 (AstraOtoshop, 2026). 

Tidak lama setelah masa insentif berakhir, distribusi mobil listrik pada Januari 2026 turun tajam. Dataindonesia.id (2026) mencatat penurunan 52,97% dibandingkan bulan sebelumnya, sementara Kompas Otomotif (2026e) mencatat sekitar 52,1% dari basis Desember 2025 yang mencapai 21.021 unit. Selisih keduanya berasal dari perbedaan potongan data yang dipakai masing-masing sumber. Dengan besaran mana pun, Januari 2026 menjadi penurunan bulanan terdalam sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026 berdasarkan perhitungan penulis atas seri data Gaikindo. 

Pemerintah memang menyiapkan skema PPN DTP baru untuk kendaraan listrik murni sebesar 40% hingga 100%, bergantung pada jenis baterai yang digunakan, dengan kuota 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit motor listrik. Menurut Pajakku (2026), skema ini semula direncanakan berlaku pada Juni 2026.

Rencana tersebut tidak terlaksana. Dilansir JPNN (2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan penundaan selama satu bulan pada 26 Mei 2026 karena perhitungan skema belum rampung. Kompas.com (2026d) kemudian melansir bahwa Peraturan Menteri Keuangan yang menjadi dasar insentif baru ditargetkan terbit pada Juli 2026. Menjelang akhir Juni, kepastiannya masih terbuka. Dilansir Bloomberg Technoz (2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pada 23 Juni 2026 bahwa insentif kendaraan listrik kembali diundur satu bulan ke Agustus 2026 dan masih dikaji pemerintah. Airlangga belum memastikan penyebab penundaan berulang tersebut, sehingga target implementasi Agustus 2026 pun belum final. 

Artinya, kenaikan distribusi mobil listrik pada Juni 2026 terjadi ketika insentif fiskal belum berlaku. Temuan ini justru memperkuat bacaan bahwa lonjakan Juni lebih berkaitan dengan siklus distribusi dan basis pembanding yang rendah.

Sensitivitas pasar terhadap kebijakan fiskal tetap terlihat pada periode sebelumnya. Program PPN DTP dan pembebasan bea masuk untuk mobil listrik completely built up (CBU) berakhir pada 31 Desember 2025 dan tidak langsung diperpanjang (AstraOtoshop, 2026). Mengutip Kompas Otomotif (2026e), distribusi mobil listrik pada Januari 2026 turun sekitar 52,1% dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 21.021 unit. Sebagian penurunan itu merupakan normalisasi setelah konsumen dan diler mempercepat transaksi menjelang berakhirnya insentif.

Pilihan kendaraan yang semakin beragam. Sejumlah perkembangan yang kerap disebut sebagai pendorong pasar kendaraan listrik justru terjadi setelah Juni 2026, sehingga pengaruhnya baru dapat diukur pada paruh kedua tahun ini.

Menurut Gaikindo (2026), GIIAS 2026 berlangsung pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026 di ICE BSD City dan diikuti lebih dari 65 merek, termasuk 10 merek yang baru pertama kali berpartisipasi serta 43 merek di kategori mobil penumpang. Ajang ini menjadi panggung peluncuran sejumlah model listrik baru.

Dilansir Kompas Otomotif (2026f), Wuling resmi meluncurkan Aira EV pada 29 Juli 2026 dengan harga Rp155 juta untuk varian Standard Range dan Rp175 juta untuk Long Range. Pada hari yang sama, Honda memperkenalkan Super One. Mengutip Kompas Otomotif (2026g), Honda mengumumkan harga Super One pada 5 Agustus 2026 sebesar Rp438 juta on the road Jakarta, dengan alokasi terbatas 100 unit untuk 2026 yang habis dipesan sebelum harga resmi keluar. Posisi harga tersebut menegaskan bahwa gelombang model baru pascaGIIAS mengisi rentang harga yang berbeda-beda, sehingga bertambahnya pilihan produk belum otomatis berarti harga masuk pasar terus menurun. 

Karena seluruh peristiwa ini berlangsung pada penghujung Juli, kontribusinya terhadap volume pasar baru akan terlihat pada data Agustus dan seterusnya. Bertambahnya pilihan produk berpotensi memperluas pasar, tetapi efeknya baru dapat diukur setelah data paruh kedua tersedia.

Harga yang semakin mudah dijangkau. Perubahan harga juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Ketika Wuling Air ev diperkenalkan pada 2022, harga awalnya berada di kisaran Rp238 juta untuk varian Standard Range (Wuling.id, 2022). Setahun kemudian, dilansir Kompas Otomotif (2023), Wuling menghadirkan Air ev Lite dengan harga Rp206 juta on the road Jakarta, yang turun menjadi Rp188,9 juta setelah insentif PPN.

Perbandingan harga antarperiode ini perlu dibaca dengan dua catatan. Pertama, harga pada 2023 masih menikmati insentif PPN, sedangkan harga pada Juli 2026 berlaku tanpa insentif karena skema baru belum terbit. Kedua, perbandingan nominal lintas tahun mengabaikan inflasi, sehingga penurunan harga riil sebenarnya lebih besar daripada yang terlihat dari angka nominalnya. Penurunan harga masuk ini membuat mobil listrik semakin terjangkau bagi kelompok konsumen yang sebelumnya belum mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai pilihan.

Pasar Semakin Ramai, Distribusi Masih Terkonsentrasi pada Empat Merek 

Meningkatnya volume distribusi tidak serta-merta membuat seluruh produsen menikmati pertumbuhan yang sama. Menurut Dataindonesia.id (2026), BYD mendistribusikan 3.439 unit, Jaecoo 3.041 unit, Geely 1.966 unit, dan Wuling 1.351 unit pada Juni 2026. Gabungan keempatnya mencapai 9.797 unit atau 77,17% dari total distribusi mobil listrik nasional bulan itu.

Dominasi ini juga terbaca pada level model. Kompas Otomotif (2026a) melansir seluruh penghuni sepuluh besar mobil listrik terlaris Juni 2026 berasal dari merek China, dipimpin Jaecoo J5 dengan 3.041 unit, BYD Atto 1 dengan 2.249 unit, dan Geely EX2 dengan 1.618 unit. Pada periode yang sama, Hyundai Ioniq 5 mencatat 91 unit dan Toyota bZ4X mencatat 10 unit.

Konsentrasi sebesar itu menunjukkan bahwa bertambahnya jumlah merek di pasar belum otomatis membuat volume tersebar lebih merata. Sisa 22,83% distribusi Juni 2026 terbagi ke seluruh merek lain, termasuk pemain Jepang dan Korea Selatan yang belum menembus sepuluh besar. 

Bagi merek yang baru memasuki pasar, tantangannya bukan hanya menghadirkan produk baru. Mereka juga perlu membangun kepercayaan konsumen, memperluas jaringan layanan, serta memastikan produknya mudah diakses di berbagai daerah. Proses tersebut membutuhkan waktu sebelum dapat diterjemahkan menjadi volume penjualan yang besar.

Sementara itu, produsen yang telah memiliki pangsa pasar lebih besar berpeluang memperkuat posisinya melalui skala produksi, jaringan distribusi, maupun loyalitas pelanggan. Dengan demikian, pasar mobil listrik Indonesia memang semakin ramai, tetapi manfaat pertumbuhannya masih terkonsentrasi pada sejumlah pemain utama.

Implikasi untuk Brand

Bagi brand, temuan utama dari data Juni 2026 terletak pada cara membaca angkanya, bukan pada besaran angkanya.

Pertama, indikator yang beredar luas di pemberitaan adalah wholesales. Angka ini mengukur keputusan produsen mengisi jaringan diler, sementara indikator ritel lebih dekat menggambarkan keputusan konsumen. Tim yang menyusun proyeksi pasar atau menilai potensi kategori sebaiknya memisahkan keduanya.

Kedua, angka pertumbuhan tahunan pada 2026 mengandung efek basis rendah dari 2025. Membandingkan performa merek terhadap rata-rata industri tanpa mengoreksi efek ini berisiko melahirkan kesimpulan yang terlalu optimistis.

Ketiga, struktur pasar tetap terkonsentrasi meski jumlah merek bertambah. Bagi pendatang baru, pekerjaan terberat berada pada jaringan distribusi, layanan purnajual, dan pembentukan kepercayaan konsumen. Ketiganya membutuhkan waktu sebelum berubah menjadi volume.

Menentukan harga yang kompetitif, memilih waktu peluncuran yang tepat, serta memanfaatkan momentum pasar dapat menjadi faktor yang sama pentingnya dalam mendorong adopsi. Di sisi lain, membangun jaringan distribusi, layanan purnajual, dan kepercayaan konsumen juga menjadi investasi jangka panjang yang dapat menentukan daya saing ketika pasar semakin matang.

Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya bergantung pada meningkatnya minat konsumen, tetapi juga pada perkembangan ekosistem yang mendukung proses adopsi tersebut.

Penutup

Bagi pelaku industri, lonjakan penjualan pada Juni 2026 menjadi pengingat bahwa membangun kategori baru membutuhkan lebih dari sekadar menghadirkan produk. Harga yang kompetitif, waktu peluncuran yang tepat, dukungan kebijakan, hingga kepercayaan konsumen sama-sama berperan dalam mendorong adopsi. Uji sebenarnya bagi pasar mobil listrik Indonesia akan berlangsung pada paruh kedua 2026, ketika efek basis rendah mulai memudar, model-model baru dari GIIAS 2026 masuk ke pasar, dan kejelasan skema insentif mulai terbentuk.

Stockbit Snips (2026) mencatat dua faktor risiko yang perlu diperhatikan, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi menaikkan biaya komponen dan harga jual, serta kenaikan suku bunga. Keduanya bekerja berlawanan arah dengan tren penurunan harga yang selama ini mendorong adopsi. Data Agustus hingga Oktober 2026 akan memberi gambaran yang lebih bersih tentang seberapa jauh permintaan konsumen benar-benar tumbuh.

Catatan pembaruan per 14 Agustus 2026. Skema insentif bergerak cukup jauh setelah periode data artikel ini. Melansir DDTCNews (2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan di sela GIIAS 2026 pada 4 Agustus 2026 bahwa Presiden akan meluncurkan stimulus kendaraan listrik dalam dua hingga tiga pekan, dengan cakupan sekitar 500.000 unit motor listrik serta PPN DTP sebesar 40% dan 100% untuk mobil listrik kategori tertentu. Cakupan tersebut jauh lebih besar daripada rencana awal yang disiapkan pada Mei 2026, yaitu 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit motor listrik. Berikutnya, dilansir ANTARA (2026), Presiden Prabowo Subianto meluncurkan motor listrik nasional di Cikarang pada 13 Agustus 2026 dan menjanjikan skema kredit berbunga rendah tanpa uang muka melalui Danantara serta mekanisme tukar tambah bagi pemilik motor berbahan bakar minyak. Hingga naskah ini disusun, Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur PPN DTP mobil listrik belum terbit. Argumen utama artikel ini karena itu tetap berlaku: lonjakan distribusi pada Juni 2026 berlangsung sebelum insentif baru bekerja, sehingga uji sesungguhnya atas permintaan konsumen justru berpindah ke data Agustus hingga Oktober 2026. 

Referensi

ANTARA. (2026, Agustus 13). Prabowo janjikan insentif kredit ringan tanpa DP untuk motor listrik. Diakses pada 14 Agustus 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/5692916/prabowo-janjikan-insentif-kredit-ringan-tanpa-dp-untuk-motor-listrik 

AstraOtoshop. (2026, Februari 23). Insentif mobil listrik 2026: Nasib insentif EV, PPN, dan kepastian kebijakan Kementerian Keuangan terbaru. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://astraotoshop.com/article/insentif-mobil-listrik-2026

Bisnis.com. (2026, Juni 30). Insentif kendaraan listrik diundur lagi, Menkeu Purbaya bilang begini. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://otomotif.bisnis.com/read/20260630/46/1984364/insentif-kendaraan-listrik-diundur-lagi-menkeu-purbaya-bilang-begini

Bloomberg Technoz. (2026, Juni 23). Insentif kendaraan listrik kembali diundur jadi Agustus 2026. Diakses pada 14 Agustus 2026, dari https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/112692/insentif-kendaraan-listrik-kembali-diundur-jadi-agustus-2026 

Dataindonesia.id. (2026, Juli 16). Penjualan mobil listrik Indonesia naik 35,76% pada Juni 2026, BYD mendominasi (R. K. Perdana, Penulis). Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://dataindonesia.id/otomotif-transportasi/detail/penjualan-mobil-listrik-indonesia-naik-3576-pada-juni-2026-byd-mendominasi

detikOto. (2026, Juli 30). Honda Super One meluncur, berapa harganya? Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://oto.detik.com/mobil/d-8596663/honda-super-one-meluncur-berapa-harganya

DDTCNews. (2026, Agustus 5). Subsidi dan PPN DTP untuk kendaraan listrik akan segera diluncurkan. Diakses pada 14 Agustus 2026, dari https://news.ddtc.co.id/berita/nasional/1821393/subsidi-dan-ppn-dtp-untuk-kendaraan-listrik-akan-segera-diluncurkan 

Gaikindo. (2026, Juli). GIIAS 2026 menjadi pameran otomotif dengan jumlah merek peserta terbanyak. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://www.gaikindo.or.id/giias-2026-menjadi-pameran-otomotif-dengan-jumlah-merek-peserta-terbanyak/

JPNN. (2026, Mei 27). Pengumuman, insentif kendaraan listrik ditunda hingga Juli 2026, ini penyebabnya. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://www.jpnn.com/news/pengumuman-insentif-kendaraan-listrik-ditunda-hingga-juli-2026-ini-penyebabnya

Kompas.com. (2026d, Juni 18). Aturan insentif EV terbit Juli 2026, motor listrik dapat bantuan Rp 5 juta. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://money.kompas.com/read/2026/06/18/143320026/aturan-insentif-ev-terbit-juli-2026-motor-listrik-dapat-bantuan-rp-5-juta

Kompas Otomotif. (2023, Agustus 14). Wuling Air EV Lite meluncur, harga Rp 188,9 juta. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://otomotif.kompas.com/read/2023/08/14/160913715/wuling-air-ev-lite-meluncur-harga-rp-1889-juta

Kompas Otomotif. (2026a, Juli 15). Daftar mobil listrik terlaris Juni 2026: Jaecoo J5 tekuk BYD Atto 1. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://otomotif.kompas.com/read/2026/07/15/070200615/daftar-mobil-listrik-terlaris-juni-2026--jaecoo-j5-tekuk-byd-atto-1

Kompas Otomotif. (2026b, Juli 14). Pangsa pasar mobil listrik tembus 26,8 persen Semester I/2026. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://otomotif.kompas.com/read/2026/07/14/100200215/pangsa-pasar-mobil-listrik-tembus-26-8-persen-semester-i-2026

Kompas Otomotif. (2026c, Juli 9). Penjualan mobil Juni 2026 tumbuh hingga 32 persen. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://otomotif.kompas.com/read/2026/07/09/070200415/penjualan-mobil-juni-2026-tumbuh-hingga-32-persen

Kompas Otomotif. (2026e, Februari 14). Top 10 mobil listrik terlaris di Indonesia Januari 2026. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://otomotif.kompas.com/read/2026/02/14/070200615/top-10-mobil-listrik-terlaris-di-indonesia-januari-2026

Kompas Otomotif. (2026f, Juli 29). Wuling Aira EV resmi meluncur: Harga mulai Rp 155 juta. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://otomotif.kompas.com/read/2026/07/29/124524815/wuling-aira-ev-resmi-meluncur-harga-mulai-rp-155-juta

Pajakku. (2026, Mei 8). Pemerintah kembali siapkan PPN DTP untuk kendaraan listrik mulai Juni 2026. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://pajakku.com/artikel/pemerintah-kembali-siapkan-ppn-dtp-untuk-kendaraan-listrik-mulai-juni-2026

Stockbit Snips. (2026, Juli 10). Penjualan mobil naik +16% YoY selama 1H26, didorong efek low-base. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-penjualan-mobil-naik-16-yoy-selama-1h26-didorong-efek-lowbase

Uzone. (2026, Juli). 10 mobil listrik terlaris di RI Juni 2026, BYD Atto 1 melesat. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://uzone.id/10-mobil-listrik-terlaris-di-ri-juni-2026-byd-atto-1-melesat

Wuling.id. (2022, Agustus 11). Kendaraan listrik pertama Wuling untuk Indonesia, Air ev, diluncurkan secara global [Siaran pers]. Diakses pada 31 Juli 2026, dari https://wuling.id/id/blog/press-release/kendaraan-listrik-pertama-wuling-untuk-indonesia-air-ev-diluncurkan-secara-global

Curated For You

Editorial Team

Related Article