Bagi konsumen Indonesia, wellness semakin bergeser dari aspirasi menjadi bagian dari keputusan sehari-hari. Menu yang dimasak di rumah, vitamin yang diminum setiap pagi, olahraga yang dibayar, hingga aplikasi kesehatan di ponsel menunjukkan bahwa kesehatan kini hadir di lebih banyak titik konsumsi.
Namun, ada satu hal yang sering luput ketika pertumbuhan wellness dibaca hanya sebagai peluang pasar: semakin penting sebuah kebutuhan, bukan berarti semakin longgar willingness to pay untuk memenuhinya.
Data PwC Indonesia memperlihatkan dua sisi ini sekaligus. Dalam Voice of the Consumer 2026, dari 503 responden Indonesia yang disurvei pada Februari–Maret 2026, 59% memprioritaskan hidup lebih panjang dan sehat, sementara 51% mengutamakan pengurangan stres dan peningkatan mental wellbeing. Dalam perilaku sehari-hari, 58% rutin berolahraga, 59% mengonsumsi vitamin, mineral, atau suplemen, dan 86% menggunakan aplikasi kesehatan atau wearable.
Tetapi ketika wellness masuk ke keranjang belanja, konsumen tidak berhenti pada pertanyaan “apakah ini baik untuk kesehatan?”. Mereka juga bertanya: manfaatnya apa, seberapa relevan, dapat dipercaya atau tidak, dan apakah harganya sepadan?
Di situlah peluang wellness sebenarnya berada. Bukan sekadar membuat konsumen lebih peduli pada kesehatan, tetapi membuat manfaat kesehatan cukup jelas, kredibel, dan relevan sehingga layak diprioritaskan dalam anggaran.
