Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Religius, Digital, dan Global: Potret Identitas Gen Z Indonesia
ilustrasi generasi Z (freepik.com/freepik)
  • Sebanyak 83% Gen Z Muslim Indonesia mengaku religius, menunjukkan bahwa nilai spiritual tetap kuat meski mereka hidup di era digital dan global yang sangat terhubung.
  • Gen Z Indonesia aktif sebagai konsumen media global dengan 60% pengguna media sosial berasal dari generasi ini, namun tetap peduli isu sosial seperti ketimpangan ekonomi dan kekerasan gender.
  • Mereka memadukan identitas lokal dan global secara harmonis, mendukung brand yang sejalan dengan nilai moral serta melihat religiusitas dan solidaritas komunitas sebagai fondasi modernisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Delapan puluh tiga persen Gen Z Muslim di Indonesia mengaku religius. Di waktu yang sama, 60 persen pengguna media sosial di Indonesia berasal dari generasi yang sama. Dua angka ini sering dibaca sebagai paradoks. Padahal, keduanya sedang menggambarkan hal yang sama: Gen Z Indonesia tidak memilih antara akar dan dunia luar. Mereka membangun identitas dari keduanya.

Memahami dinamika ini bukan sekadar urusan akademik. Bagi brand, kebijakan, dan siapa pun yang ingin bicara kepada anak muda Indonesia, pertanyaan sentralnya adalah: nilai apa yang sebenarnya menggerakkan mereka?

Angka Religiusitas yang Sering Diabaikan

Mengutip studi komparatif yang diterbitkan di Jurnal Pendidikan Agama Islam (Jamilah et al., 2024), tingkat religiusitas Gen Z Muslim di Indonesia mencapai 83 persen, lebih tinggi dari 79 persen di kalangan Gen Z Muslim Inggris. Perbedaan ini, menurut studi yang sama, dipengaruhi oleh konteks pendidikan: kurikulum agama formal masih menjadi bagian wajib di sebagian besar sekolah Indonesia.

Angka ini penting karena sering hilang dari narasi tentang Gen Z. Kita terlalu sering fokus pada konsumsi digital mereka dan lupa bahwa nilai-nilai yang menggerakkan konsumsi itu tidak netral secara kultural.

Survei Jakpat 2024 melansir daftar isu sosial yang paling dipedulikan Gen Z Indonesia: peluang kerja (64 persen), ketimpangan ekonomi (64 persen), sistem pendidikan (57 persen), kekerasan terhadap perempuan dan anak (56 persen), serta korupsi (50 persen). Ini bukan agenda individualistis. Ini adalah agenda komunitas.

Tapi Mereka Juga Konsumen Global yang Aktif

Gambaran di atas tidak berarti Gen Z Indonesia menutup diri dari arus global. Justru sebaliknya.

YouGov Indonesia Media Consumption Report 2025 melaporkan bahwa 60 persen pengguna media sosial di Indonesia adalah Gen Z, dan 48 persen dari mereka mengonsumsi konten lintas platform selama satu sampai lima jam per hari. Edward Hutasoit, General Manager YouGov Indonesia, mengutarakan temuannya secara langsung: "Gen Z adalah super consumer media di negara ini."

Melansir data GlobalData 2024, 56 persen Gen Z Indonesia cenderung memilih produk dengan rasa yang trendi atau tidak biasa di kategori makanan ringan, lebih tinggi dari Milenial (54 persen) dan Gen X (41 persen). Keterbukaan terhadap hal baru bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan sudah tertanam.

Penelitian Hanifatunnisa et al. dari Universitas Padjadjaran (2025) mencatat bahwa konsumsi K-pop di kalangan anak muda Indonesia sudah merambah ke cara mereka memproses informasi politik, bukan hanya hiburan.

Di Mana Dua Dunia Ini Bertemu

Pertanyaannya bukan "mana yang lebih dominan, tradisi atau tren global?" Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana keduanya beroperasi bersamaan?

Mengutip riset Hinduan et al. (2020) tentang Gen Z di negara-negara kolektivis Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Gen Z di kawasan ini lebih beresonansi dengan nilai-nilai yang menekankan kesejahteraan komunitas dan harmoni sosial, berbeda dari Gen Z di negara Barat yang cenderung mengedepankan nilai individual. Ini bukan keterlambatan modernisasi. Ini adalah pilihan aktif.

Platform riset pemasaran Givsly melansir bahwa 64 persen konsumen muda cenderung mendukung brand yang nilai-nilainya selaras dengan nilai pribadi mereka. Jehian Panangian Sijabat, CEO Mantappu Corp, menggambarkannya langsung: "Mereka tidak membeli produknya saja, mereka membeli pesan di baliknya."

Indonesia Gen Z Report 2024 yang diterbitkan IDN Research Institute mencatat bahwa Gen Z Indonesia rela mengurangi pengeluaran untuk kesehatan (7 persen) dan makanan (6 persen) daripada mengubah gaya hidup mereka. Kondisi ini terjadi di tengah ekonomi yang menantang: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan PDB 4,87 persen secara tahunan tapi kontraksi 0,98 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2025.

Ini Bukan Paradoks, Ini Strategi Identitas

Para peneliti menyebut fenomena ini dengan beberapa nama: glocalization, hibridisasi identitas, atau digital piety. Tapi label teknisnya kurang penting dibanding apa yang sedang terjadi secara praktis.

Gen Z Indonesia menggunakan platform global untuk memperkuat identitas lokal mereka. Mereka mengonsumsi K-pop sambil aktif di komunitas pengajian digital. Mereka berbelanja di TikTok Shop sambil memilah brand berdasarkan nilai moral. Mereka fasih menggunakan bahasa internet global sambil mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim Indonesia yang bangga.

Chatrine Siswoyo, Senior Advisor ASEAN di Vero, merumuskannya dengan baik: "Gen Z adalah generasi yang vokal, kritis, dan sangat terhubung dengan isu sosial. Mereka menginginkan brand yang jalan sesuai omongan, bukan hanya hadir di momen besar, tapi juga punya kompas moral yang jelas dan konsisten."

Ini bukan segmen yang bisa didekati hanya dengan estetika global atau hanya dengan simbol-simbol tradisional. Mereka melihat kedua pendekatan itu sebagai tidak cukup kalau tidak ada substansi di baliknya.

Implikasi untuk Brand dan Kebijakan

Mengutip data IDN Research Institute, Gen Z adalah kelompok generasi terbesar di Indonesia, mencakup hampir 28 persen dari total 281 juta penduduk. Cara mereka membangun identitas punya konsekuensi langsung.

Untuk brand: pendekatan yang menempatkan "nilai global" dan "nilai lokal" sebagai dua pilihan yang berbeda sudah ketinggalan zaman. Gen Z tidak merasakan ketegangan itu. Mereka melihat dunia sebagai satu ekosistem di mana semua lapisan identitas bisa hadir bersamaan.

Untuk pembuat kebijakan: tingginya tingkat religiusitas dan orientasi kolektif bukan hambatan modernisasi. Keduanya justru bisa menjadi fondasi yang kuat untuk program pemberdayaan anak muda, selama programnya benar-benar merespons kebutuhan nyata mereka, bukan asumsi tentang siapa mereka.

Gen Z Indonesia tidak sedang bingung antara dua dunia. Mereka sudah memutuskan bahwa tidak perlu memilih.

Sumber:

Tingkat religiusitas dari Jamilah et al. (2024), Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 21 No. 2, menggunakan Centrality of Religious Scale (CRS) dan regresi EViews. Data media sosial dari YouGov Indonesia Media Consumption Report 2025, n = 1.000+ responden, April–Mei 2025. Data isu sosial dari survei Jakpat 2024. Data preferensi produk dari GlobalData 2024. Data pertumbuhan ekonomi dari BPS, Q1 2025. Data demografi dari IDN Research Institute.

Editorial Team