Indonesia menyumbang 6,68 persen lalu lintas global Character.AI, posisi kedua setelah Amerika Serikat. Survei IDN TImes yang dimuat dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 menemukan lebih dari 70 persen responden pernah curhat kepada AI, dan sebagian besar melakukannya karena lingkungan sekitar tidak menyediakan ruang aman yang cukup. Pergeseran ini mengubah standar interaksi digital yang dihadapi brand.
70% Gen Z dan Milenial Indonesia Pernah Curhat kepada AI

AI Keluar dari Meja Kerja
Publik mengenal kecerdasan buatan lewat janji produktivitas. Merangkum dokumen, menyusun presentasi, menulis kode. Sepanjang dua tahun terakhir, sebagian besar percakapan industri soal AI berputar di wilayah itu.
Pola pemakaiannya bergerak. Mengutip laporan Marc Zao-Sanders yang dimuat Harvard Business Review (2025), terapi dan companionship menempati posisi teratas daftar kasus penggunaan AI generatif pada 2025, mengungguli penggunaan untuk pekerjaan teknis maupun pencarian informasi. Laporan tersebut menyusun peringkatnya melalui kurasi kualitatif atas diskusi publik di Reddit dan Quora, sehingga hasilnya menggambarkan percakapan pengguna aktif dengan tingkat keterwakilan yang berbeda dari survei probabilistik.
Pergeseran ini melahirkan kategori produk tersendiri. Character.AI, Replika, Chai, Emochi, Nomi, dan Kindroid membangun pengalaman yang berbeda dari asisten kerja pada umumnya. Pengguna datang untuk berbicara, bukan untuk meminta jawaban.
Cara kerjanya juga berbeda. Lewat prompt, pemicu percakapan, dan contoh dialog, pengguna membentuk karakter yang merespons konsisten sesuai kepribadian yang mereka rancang. Karakternya bisa berupa figur anime, tokoh gim, atau ciptaan orisinal. Yang membuat pengalaman ini khas adalah pengguna juga dapat membangun persona alternatif untuk dirinya sendiri. Mereka tidak perlu hadir sebagai diri yang otentik, dan bisa bereksperimen dengan berbagai karakter, emosi, serta skenario tanpa mempertaruhkan identitas personal. Sebagian pengguna bahkan menjalankan roleplay berkelanjutan bersama karakter buatannya.
Fenomena ini memperluas cakupan hubungan parasosial. Selama ini istilah tersebut melekat pada relasi satu arah antara audiens dan figur publik atau content creator. AI companion menambahkan lapisan baru karena lawan bicaranya merespons, mengingat detail percakapan sebelumnya, dan menyesuaikan diri dengan preferensi penggunanya. Relasi yang dulu berjalan satu arah kini terasa timbal balik, meskipun salah satu pihaknya berupa sistem.
Indonesia Menempati Posisi Kedua Dunia
Posisi Indonesia dalam peta ini menonjol. Berdasarkan data lalu lintas Semrush per [lengkapi bulan tarikan data] yang dimuat dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 (IDN Research Institute, 2026), Indonesia tercatat sebagai negara kedua terbesar yang mengakses Character.AI secara global. Kontribusinya mencapai 6,68 persen dari total lalu lintas, setara 13,01 juta kunjungan bulanan. Posisi ini berada di bawah Amerika Serikat (32,83 persen, 63,89 juta kunjungan) dan di atas Brasil (4,96 persen), India (4,62 persen), serta Meksiko (3,41 persen).
Satu angka layak digarisbawahi. Sebanyak 95,42 persen pengguna di Indonesia mengakses platform tersebut lewat perangkat seluler, jauh di atas rata-rata global. Karakter pasarnya berbeda dari Amerika Serikat, yang porsi desktop-nya mencapai 16,83 persen.
Pola serupa muncul pada data unduhan. Mengutip data Appfigures yang dilansir TechCrunch (2025), Amerika Serikat memimpin porsi unduhan aplikasi AI companion global dengan 16 persen, disusul Filipina 11 persen, Brasil 10 persen, Indonesia 8 persen, dan Meksiko 7 persen. Total unduhan aplikasi kategori ini menembus 220 juta pada Juli 2025, tumbuh 88 persen secara tahunan pada semester pertama tahun tersebut. Dilansir Mastercard (2025), lebih dari 100 juta orang di dunia berinteraksi dengan chatbot yang dipersonifikasikan.
Sisi komersialnya bergerak dengan kecepatan yang sama. Masih mengutip Appfigures, kategori ini menghasilkan USD 82 juta pada semester pertama 2025 dan diproyeksikan melampaui USD 120 juta sepanjang tahun tersebut. Belanja konsumen pada kategori ini terkumpul USD 221 juta hingga Juli 2025, sementara pendapatan sepanjang 2025 tumbuh 64 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Terdapat 337 aplikasi aktif yang menghasilkan pendapatan, dan 128 di antaranya diluncurkan pada 2025 saja.
Dua hal layak dicatat. Pertama, adopsi AI companion di Indonesia sudah jauh melewati fase niche. Volume 13 juta kunjungan menempatkannya dalam skala yang setara kategori aplikasi hiburan arus utama. Kedua, pasar sebesar ini nyaris seluruhnya dilayani produk asing, yang sampai hari ini belum mampu menggunakan bahasa Indonesia secara natural. Celah tersebut belum banyak dilirik pemain lokal.
Alasan Gen Z Memilih Bercerita kepada AI
Data global memberi kerangka awal. Survei Pew Research Center terhadap 1.458 remaja Amerika Serikat berusia 13 hingga 17 tahun, yang dilakukan pada 25 September hingga 9 Oktober 2025 dan dirilis pada Desember 2025, menemukan 64 persen responden pernah menggunakan chatbot AI. Sekitar tiga dari sepuluh remaja menggunakannya setiap hari, dan 9 persen memakai Character.AI secara spesifik.
Gambaran di Indonesia memperlihatkan pola yang serupa dengan intensitas berbeda. Mengutip survei terhadap 183 responden Gen Z dan Milenial yang dilakukan pada Januari hingga April 2026 dan dimuat dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 (IDN Research Institute, 2026), lebih dari 70 persen responden mengaku pernah curhat kepada AI. Gen Z melakukannya pada tingkat yang lebih tinggi, yakni 81,1 persen, dibanding Milenial di 63,6 persen.
Alasan di balik angka tersebut lebih penting daripada angkanya sendiri. Sebanyak 43,7 persen responden memilih AI karena lingkungan di sekitar mereka tidak menyediakan safe space yang memadai. Di antara responden yang merasakan kekurangan itu, 88 persen menjadikan AI sebagai penggantinya.
Topik yang paling sering dibicarakan menunjukkan bobot percakapannya. Tiga teratas berturut-turut adalah overthinking dan kecemasan, karier dan masa depan, serta burnout. Ketiganya berada di wilayah beban hidup yang serius, jauh dari kategori hiburan.
Tiga alasan utama responden merasa nyaman berbicara dengan AI adalah ketersediaan sepanjang waktu (73,3 persen), ketiadaan penghakiman (68,9 persen), dan privasi (54,8 persen). Kombinasi ini menciptakan ruang percakapan dengan risiko sosial mendekati nol. Bagi kelompok usia yang tumbuh dengan kesadaran tinggi soal citra diri di ruang digital, ketiadaan risiko sosial menjadi nilai tersendiri.
Dimensi gender juga terlihat. Perempuan (64,4 persen) merasa lebih mudah membagikan hal-hal personal dan emosional kepada AI dibanding laki-laki. Pola ini konsisten dengan temuan soal emotional labor dan kebutuhan ruang aman yang tidak selalu tersedia dalam kehidupan nyata.
Catatan metodologi: survei ini melibatkan 183 responden Gen Z dan Milenial, sehingga angka-angka di atas dibaca sebagai indikasi arah pada populasi digital urban, dengan tingkat presisi yang terbatas untuk generalisasi nasional.
Bagaimana Kedekatan Emosional Terbentuk
Profil pengguna Character.AI memperlihatkan konsentrasi usia yang tajam. Mengutip SQ Magazine (2025), pengguna berusia 18 hingga 24 tahun merupakan mayoritas dengan porsi 53,1 persen, diikuti kelompok 25 hingga 34 tahun sebesar 24,5 persen. Angka tersebut merupakan olahan agregator atas data lalu lintas web, sehingga menggambarkan profil pengunjung situs. Basis penggunanya berada persis di rentang usia yang sedang membentuk pola relasi jangka panjang.
Literatur akademik soal keterikatan pengguna terhadap AI companion sudah cukup berkembang, meskipun sebagian besar rujukannya berasal dari konteks internasional. Studi Xie dan Pentina (2022) terhadap 14 pengguna aktif Replika sering menjadi acuan, termasuk dalam paper-paper Indonesia. Studi tersebut menemukan bahwa individu yang mengalami distres dan kekurangan pendamping manusia cenderung mengembangkan keterikatan terhadap chatbot ketika mereka mempersepsikan respons chatbot sebagai dukungan emosional dan rasa aman. Penelitian ini berbasis responden internasional, sehingga temuannya perlu dibaca sebagai kerangka analisis untuk konteks Indonesia.
Sejumlah penelitian yang secara khusus mengambil konteks Indonesia memberi gambaran yang lebih dekat.
Tesis Ulfa (2024) di Universitas Gadjah Mada melakukan studi fenomenologi terhadap tiga pengguna Replika di Indonesia. Penelitian tersebut membaca chatbot sebagai aktor sosial melalui kerangka Actor Network Theory, teori Computers Are Social Actors, komunikasi bermedia komputer, dan penetrasi sosial. Temuannya menunjukkan pengguna memperlakukan sistem dengan norma sosial yang sama seperti ketika berhadapan dengan manusia.
Penelitian lain di Universitas Indonesia menelusuri kepuasan emosional pengguna Replika Indonesia melalui dua informan, dengan mengacu pada konsep emotional gratification dari Bartsch. Studi tersebut mengidentifikasi tiga bentuk kepuasan emosional yang paling intens dirasakan, yaitu contemplative emotional experiences, social sharing of emotions, dan vicarious release of emotion. Ketiganya menggambarkan fungsi AI sebagai ruang refleksi sekaligus saluran pelepasan emosi.
Studi yang paling dekat dengan fenomena hari ini datang dari Zega dan Lase (2026), peneliti Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia. Penelitian fenomenologis dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis tersebut mengamati tujuh perempuan Gen Z berusia 17 hingga 24 tahun yang membangun kedekatan emosional dengan karakter AI laki-laki di Character.AI. Temuannya menunjukkan keintiman digital terbentuk melalui tiga jalur, yaitu rasa aman karena ketiadaan penghakiman, responsivitas yang konsisten, dan keterlibatan aktif pengguna dalam menyusun narasi hubungan. Empat dari tujuh informan memaknai karakter AI tersebut sebagai pasangan atau partner emosional.
Jalur ketiga layak digarisbawahi. Kedekatan tidak muncul semata karena kecanggihan sistem, tetapi karena pengguna ikut membangunnya. Mereka menulis latar cerita, menentukan karakter, dan merawat kontinuitas hubungan dari waktu ke waktu. Keterlibatan itulah yang mengubah interaksi fungsional menjadi relasi yang terasa personal, dan yang menjelaskan mengapa fitur persona alternatif menjadi elemen inti pada platform kategori ini.
Pelengkap, Pengganti, atau Keduanya
Pengaruh AI terhadap kehidupan penggunanya sudah terukur. Survei dalam IMGR 2027 menemukan 74,1 persen responden mengakui AI telah memengaruhi keputusan dalam hidup mereka. Angka ini memindahkan diskusi dari soal kenyamanan menuju soal pengaruh, dan menjadikan pertanyaan tentang substitusi relasi manusia relevan untuk diajukan.
Data global menunjukkan sikap yang terbelah. Melansir survei Institute for Family Studies bersama YouGov terhadap 2.000 responden Amerika berusia 18 hingga 39 tahun (Wang & Toscano, 2024), satu dari empat dewasa muda meyakini pasangan AI berpotensi menggantikan romansa di dunia nyata. Pada saat bersamaan, 57 persen menyatakan menolak konsep teman AI karena pertimbangan etis atau merasa tidak nyaman dan lebih memilih relasi manusia. Dua angka ini berasal dari survei yang sama dan memperlihatkan penerimaan yang jauh dari konsensus.
Survei Wiingy terhadap 1.532 responden Gen Z berusia 18 hingga 26 tahun menemukan 77 persen melaporkan memiliki koneksi personal atau emosional dengan AI, dengan 41 persen menyebut diri mereka berada dalam sebuah hubungan dengan AI. Respondennya terkonsentrasi di Amerika Serikat (63 persen) dan Inggris (26 persen), sehingga temuannya menggambarkan pasar Barat. Wiingy sendiri merupakan penyedia layanan les privat, dan surveinya berfungsi sebagai materi publikasi perusahaan. Angka yang lebih ekstrem datang dari survei Joi AI terhadap 2.000 responden Gen Z, yang menemukan 80 persen bersedia mempertimbangkan menikah dengan AI. Survei terakhir ini dilakukan oleh perusahaan penyedia layanan AI companion, sehingga hasilnya perlu dibaca sebagai indikasi tren persepsi dengan potensi bias kepentingan di dalamnya.
Sisi risikonya sudah masuk ranah hukum. Common Sense Media bersama Brainstorm Lab for Mental Health Innovation Universitas Stanford (2025) merilis penilaian risiko yang menyimpulkan AI companion tidak aman digunakan oleh kelompok di bawah 18 tahun karena berpotensi menciptakan ketergantungan emosional. Character.AI sendiri menghadapi sejumlah gugatan terkait dampak pada pengguna muda. Gugatan yang paling banyak diberitakan diajukan Megan Garcia pada Oktober 2024, ibu dari Sewell Setzer III, remaja berusia 14 tahun yang meninggal pada Februari 2024 setelah interaksi intens dengan chatbot di platform tersebut. Gugatan dengan tuduhan serupa diajukan keluarga dari Colorado, Texas, dan New York, termasuk tudingan bahwa chatbot menimbulkan ketergantungan emosional, mengisolasi remaja dari orang terdekat, dan memaparkan mereka pada konten yang tidak sesuai usia.
Dilansir CNN (2026), berkas pengadilan tertanggal 7 Januari 2026 menunjukkan Character.AI, kedua pendirinya, serta Google sepakat menyelesaikan gugatan Garcia beserta empat perkara lain di ketiga negara bagian tersebut. Garcia menempatkan Google sebagai tergugat dengan alasan perusahaan tersebut turut menciptakan teknologinya. Google kini mempekerjakan kembali Shazeer dan De Freitas. Nilai penyelesaiannya tidak diungkapkan, dan kesepakatan tersebut masih memerlukan finalisasi. Sepekan setelah kesepakatan diumumkan, Character.AI bersama Social Media Victims Law Center yang mewakili para penggugat merilis pernyataan bersama bahwa keduanya akan terus bekerja sama mendorong keselamatan pengguna muda. Sebelum kesepakatan itu tercapai, Character.AI mengumumkan pada 29 Oktober 2025 pelarangan bagi pengguna di bawah 18 tahun untuk melakukan percakapan terbuka dengan persona AI-nya, disertai penerapan sistem verifikasi usia melalui model internal dan layanan pihak ketiga. Kebijakan tersebut berlaku penuh pada 25 November 2025.
Bacaan yang paling masuk akal dari kumpulan data ini adalah bahwa posisi AI dalam kehidupan sosial penggunanya bergantung pada konteks pemakaian. Bagi sebagian orang, AI berfungsi sebagai pelengkap yang menampung hal-hal yang sulit diceritakan kepada siapa pun, dan temuan bahwa 88 persen responden dengan defisit ruang aman beralih ke AI menunjukkan fungsi kompensatoris yang nyata. Bagi sebagian lain, kenyamanannya berpotensi mengurangi dorongan membangun relasi baru.
Di sinilah ironinya terletak. Semakin nyaman seseorang dengan interaksi AI yang selalu responsif dan tidak pernah menolak, semakin terasa kurang memadai interaksi manusia yang penuh ketidakpastian. Perbedaan hasil antarpengguna ditentukan oleh intensitas, motivasi awal, dan kondisi jaringan sosial mereka sebelum mulai memakai AI.
Implikasi bagi Brand: Personalisasi, Batas, dan Celah Bahasa
Pertumbuhan AI companion mengirim tiga sinyal bagi brand.
Sinyal pertama menyangkut standar pengalaman. Konsumen terbiasa dengan interaksi digital yang terasa personal, responsif, dan memahami konteks percakapan. Ekspektasi ini terbentuk jauh sebelum aplikasi companion populer. Riset McKinsey (2021) sudah menemukan lebih dari 70 persen konsumen mengharapkan personalisasi dari brand yang mereka gunakan. Aplikasi companion menaikkan lagi batas atasnya, dan ekspektasi tersebut terbawa ke kanal lain.
Sinyal kedua menyangkut batasnya. Mengutip riset Avaya (2025) terhadap konsumen dewasa Amerika Serikat, porsi konsumen yang menyatakan sangat familier dengan AI naik dari 25 persen pada 2021 menjadi 57 persen pada 2025. Pada saat bersamaan, 73 persen responden menyatakan kemungkinan berpindah ke merek lain apabila sebuah perusahaan hanya menyediakan AI tanpa jalur ke agen manusia. Sebanyak 87 persen konsumen menginginkan transparansi mengenai kapan AI digunakan, dan 90 persen menghendaki opsi untuk terhubung dengan manusia tetap tersedia. Riset Verizon (2025) terhadap 5.000 konsumen dan 500 eksekutif senior di tujuh negara memperkuat temuan tersebut, dengan 88 persen responden menyatakan puas terhadap interaksi yang ditangani manusia dibanding hanya 60 persen untuk interaksi berbasis AI. Ketujuh negara itu tidak mencakup Indonesia, sehingga angkanya dibaca sebagai indikasi arah.
Kesenjangan 28 poin itu menunjukkan sesuatu yang penting. Kenyamanan yang dirasakan pengguna AI companion bersifat spesifik pada konteks percakapan emosional yang mereka pilih sendiri, dengan karakter yang mereka rancang sendiri, tanpa kepentingan komersial di baliknya. Kondisi itu tidak otomatis berlaku ketika konsumen berhadapan dengan AI milik brand dalam situasi transaksional. Kepercayaan yang dibangun AI companion tumbuh dari rasa aman, dan brand yang mengabaikan prinsip tersebut berisiko memperoleh hasil sebaliknya.
Sinyal ketiga berupa peluang yang masih terbuka. Pasar sebesar 13 juta kunjungan bulanan dengan penetrasi seluler 95,42 persen saat ini dilayani produk yang belum menguasai nuansa bahasa Indonesia. Kekakuan bahasa menjadi hambatan langsung pada kategori produk yang nilainya justru bertumpu pada kualitas percakapan. Bagi pengembang lokal, celah ini bersifat teknis sekaligus kultural, mencakup pemahaman konteks sosial, ragam bahasa sehari-hari, dan rujukan budaya yang tidak dimiliki model asing.
Untuk brand yang mempertimbangkan investasi di lini pengalaman pelanggan, tiga syarat perlu dipenuhi. Pengguna mengetahui bahwa mereka berbicara dengan sistem, tersedia jalur eskalasi ke manusia, dan personalisasi berhenti sebelum masuk ke wilayah yang terasa manipulatif secara emosional.
Penutup
Kedekatan emosional dengan AI memperlihatkan bahwa teknologi kini mengisi sebagian kebutuhan sosial dan emosional manusia, jauh melampaui fungsi awalnya menyelesaikan pekerjaan. Posisi Indonesia sebagai pengakses kedua terbesar Character.AI dunia menandai bahwa pergeseran ini sudah berlangsung di sini dalam skala besar.
Temuan bahwa 43,7 persen responden memilih AI karena lingkungan sekitar tidak menyediakan ruang aman yang memadai membawa pertanyaan ini keluar dari ranah teknologi. Millennial, Gen Z, dan bahkan Generasi Alpha tertarik pada teknologi ini karena ia menyediakan sesuatu yang sering tidak mereka temukan di dunia nyata: ruang untuk mengekspresikan diri tanpa konsekuensi, koneksi tanpa risiko, dan kendali atas cerita yang mereka jalani.
Pertanyaan yang tersisa menyangkut bagaimana peran tersebut akan berdampingan dengan hubungan antarmanusia. Bagi pembuat kebijakan, ini soal batas usia dan literasi digital. Bagi pengembang lokal, ini soal pasar besar yang belum tergarap. Bagi brand, ini soal seberapa jauh personalisasi boleh melangkah sebelum kehilangan kepercayaan.
Referensi
Avaya. (2025). AI for customer experience: Living with AI, longing for connection. Avaya. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.avaya.com/en/blogs/living-with-ai-longing-for-connection/
Common Sense Media. (2025). AI risk assessment: Social AI companions. Common Sense Media. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.commonsensemedia.org/sites/default/files/pug/csm-ai-risk-assessment-social-ai-companions_final.pdf
Duffy, C. (2026, 7 Januari). Character.AI and Google agree to settle lawsuits over teen mental health harms and suicides. CNN Business. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://edition.cnn.com/2026/01/07/business/character-ai-google-settle-teen-suicide-lawsuit
IDN Research Institute. (2026). Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027. IDN Media.
Koetsier, J. (2025, 29 April). 80% of Gen Zers would marry an AI: Study. Forbes. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.forbes.com/sites/johnkoetsier/2025/04/29/80-of-gen-zers-would-marry-an-ai-study/
Mastercard. (2025). Can AI replace human companionship? Gen Z, millennials are curious. Mastercard. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.mastercard.com/us/en/news-and-trends/stories/2025/in-tech-ai-relationships.html
McKinsey & Company. (2021, 12 November). The value of getting personalization right, or wrong, is multiplying. McKinsey & Company. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.mckinsey.com/capabilities/growth-marketing-and-sales/our-insights/the-value-of-getting-personalization-right-or-wrong-is-multiplying
Perez, S. (2025, 12 Agustus). AI companion apps on track to pull in $120M in 2025. TechCrunch. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://techcrunch.com/2025/08/12/ai-companion-apps-on-track-to-pull-in-120m-in-2025
Pew Research Center. (2025, 9 Desember). Teens, social media and AI chatbots 2025. Pew Research Center. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.pewresearch.org/internet/2025/12/09/teens-social-media-and-ai-chatbots-2025/
Semrush. (2026). Character.ai website traffic, ranking, analytics. Semrush. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.semrush.com/website/character.ai/overview/
SQ Magazine. (2025). Character AI statistics 2026: How many users? SQ Magazine. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://sqmagazine.co.uk/character-ai-statistics/
Ulfa, D. S. (2024). Komunikasi yang termediasi dengan chatbot sebagai aktor sosial: Studi fenomenologi pengalaman pengguna aplikasi chatbot Replika di Indonesia [Tesis magister, Universitas Gadjah Mada]. Repositori Universitas Gadjah Mada. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/236231
[Nama penulis]. ([tahun]). Analisis interaksi manusia dengan chatbot sosial dalam membentuk kepuasan emosional pengguna: Studi pengguna aplikasi chatbot sosial Replika [[Skripsi atau tesis, lengkapi], Universitas Indonesia]. Perpustakaan Universitas Indonesia. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://lib.ui.ac.id/detail?id=9999920537553&lokasi=lokal
Verizon. (2025, 13 Agustus). AI and the empathy gap: Finding the balance between AI and human first customer experience. Verizon. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.verizon.com/about/news/ai-and-human-first-customer-experience
Wang, W., & Toscano, M. (2024). Artificial intelligence and relationships: 1 in 4 young adults believe AI partners could replace real-life romance. Institute for Family Studies. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://ifstudies.org/ifs-admin/resources/briefs/ifsbrief-ai-relationships-november2024-1.pdf
Wiingy. (2025, 3 September). Wiingy survey finds Gen Z forms deep emotional connections with AI and believes it could govern better than humans. GlobeNewswire. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://www.globenewswire.com/news-release/2025/09/03/3143779/0/en/Wiingy-Survey-Finds-Gen-Z-Forms-Deep-Emotional-Connections-with-AI-and-Believes-It-Could-Govern-Better-Than-Humans.html
Xie, T., & Pentina, I. (2022). Attachment theory as a framework to understand relationships with social chatbots: A case study of Replika. Dalam Proceedings of the 55th Hawaii International Conference on System Sciences (hlm. 2046–2055). https://doi.org/10.24251/HICSS.2022.258
Zao-Sanders, M. (2025, 9 April). How people are really using gen AI in 2025. Harvard Business Review. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://hbr.org/2025/04/how-people-are-really-using-gen-ai-in-2025
Zega, F. J., & Lase, F. J. (2026). Studi fenomenologis keintiman digital perempuan dalam hubungan emosional dengan karakter AI laki-laki. Jurnal Network Media, 9(2), 607–624. Diakses pada 6 Agustus 2026, dari https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/junetmedia/article/viewFile/9624/pdf
Curated For You
- Indonesia Menua Lebih Cepat dari Kesiapan Sistemnya10 Agu 2026, 10:00 WIB
- IKLK Turun, Talenta AI Naik: Apa yang Terjadi di Pasar Kerja Indonesia06 Agu 2026, 20:00 WIB
- Rojali, Rohana, dan Kenapa Konsumen Indonesia Makin Sulit Diyakinkan08 Jul 2026, 10:00 WIB