Temuan tersebut memberi beberapa arah yang bisa dipertimbangkan brand saat menyusun strategi untuk konsumen dengan anggaran terbatas.
1. Jelaskan manfaat produk secara konkret.
Sampaikan manfaat utama produk dengan bahasa yang mudah dipahami. Konsumen perlu tahu apa yang bisa mereka peroleh dan bagaimana produk itu memenuhi kebutuhan mereka, bukan hanya berapa harganya.
2. Sesuaikan penawaran dengan kebutuhan dan anggaran.
Ukuran kemasan, format produk, dan tingkat harga perlu disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Pilihan yang tepat memberi konsumen keleluasaan untuk menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus kemampuan belanja mereka.
3. Nilai produk dari sudut pandang konsumen.
Harga yang kompetitif belum tentu menjadi alasan yang cukup untuk memilih suatu produk. Brand perlu melihat apakah manfaat yang ditawarkan memang dibutuhkan konsumen dan apakah produk tersebut cocok untuk kebutuhan yang ingin mereka penuhi.
Ketiga pendekatan ini tidak berarti semua konsumen kelas bawah memiliki kebutuhan dan preferensi yang sama. Brand tetap perlu memahami karakteristik konsumen yang dituju agar strategi yang disusun tidak hanya bertumpu pada asumsi tentang daya beli mereka.
Merebut Belanja Dimulai dari Memahami Value
Kelompok dengan pengeluaran Rp1–2 juta per bulan menggunakan 77,2% pendapatannya untuk konsumsi, menurut Survei Konsumen Bank Indonesia September 2026 yang dikutip Hariyanto (2026). Angka ini memberi gambaran tentang besarnya porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi pada kelompok tersebut. Dalam kondisi seperti ini, brand perlu bersaing bukan hanya lewat harga, tetapi juga lewat alasan yang membuat produknya layak dipilih.
Konsumen dengan anggaran terbatas tetap mempertimbangkan fungsi dan manfaat produk. Harga murah mungkin menarik perhatian, tetapi konsumen juga perlu menilai apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka dan sepadan dengan uang yang dikeluarkan.
Memahami konsumen berarti melihat bagaimana harga, kebutuhan, dan manfaat saling dipertimbangkan dalam keputusan belanja. Dengan pemahaman itu, brand dapat merancang penawaran yang lebih relevan bagi konsumen, bukan sekadar menurunkan harga.
Referensi
Hariyanto. (2026, Oktober 9). Keyakinan konsumen RI turun tipis ke 118,1 pada September 2026, belanja justru meningkat. Industry.co.id. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://www.industry.co.id/read/157190/keyakinan-konsumen-ri-turun-tipis-ke-1181-pada-september-2026-belanja-justru-meningkat
IT Beat. (2026, Oktober 8). 61% konsumen Indonesia siap serahkan keputusan ke agentic AI, keamanan identitas jadi sorotan. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://www.itbeat.id/61-konsumen-indonesia-siap-serahkan-keputusan-ke-agentic-ai-keamanan-identitas-jadi-sorotan/
Kantar Worldpanel. (2024). FMCG Monitor Q3 2024. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://worldpanelbynumerator.com/insights/fmcg-monitor-q3-2024-2
Kementerian Komunikasi dan Informatika & Katadata Insight Center. (2021). Persepsi masyarakat atas pelindungan data pribadi: Survei nasional tahun 2021. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://cdn1.katadata.co.id/template/frontend_template_v3/images/microsites/pdp/Kominfo_Persepsi%20Masyarakat%20terhadap%20Pelindungan%20Data%20Pribadi%20(1).pdf
PwC Indonesia. (2025, July 8). Economic instability and cost of living pressures are influencing Indonesian consumer decisions and priorities, according to PwC's Voice of the Consumer 2025. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2025/english/economic-instability-and-cost-of-living-pressures-influencing-indonesian-consumer-decisions-and-priorities-according-to-pwc-voice-of-the-consumer-2025.html
Riadi, Y. (2025, Juni 19). Survei: AI membantu personalisasi tapi tidak meningkatkan kepercayaan pelanggan. Selular.ID. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://selular.id/2025/06/survei-ai-membantu-personalisasi-tapi-tidak-meningkatkan-kepercayaan-pelanggan/
Simanjuntak, M., Pratiwi, I., & Agustin, T. (2026). Dinamika personalisasi iklan dan kerentanan konsumen digital: Penguatan urgensi regulasi dan literasi digital e-commerce di Indonesia. Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika, 8(2), 1602–1606. https://doi.org/10.29244/agro-maritim.0802.1602-1606
Worldpanel by Numerator. (2026a). Indonesia FMCG Monitor Q1 2026. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://worldpanelbynumerator.com/insights/indonesia-fmcg-monitor-q1-2026
Worldpanel by Numerator. (2026b, June 8). Shoppers' quest for value and inspiration is reshaping Indonesian FMCG. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://worldpanelbynumerator.com/insights/indonesia-fmcg-outlook-2026
youngster.id. (2026, Oktober 8). Ping Identity: 61% konsumen Indonesia terbuka berikan wewenang kepada AI. Diakses pada 15 Oktober 2026, dari https://youngster.id/news/technology-news/ping-identity-61-konsumen-indonesia-terbuka-berikan-wewenang-kepada-ai/