Bagi brand, nostalgia bukan tujuan akhir, melainkan salah satu strategi untuk membuat pesan lebih cepat dikenali di tengah persaingan perhatian yang semakin ketat.
Namun, justru karena strategi ini semakin mudah dilakukan, keunggulannya juga semakin cepat berkurang. Estetika Y2K, filter bergaya digicam, hingga referensi visual lain kini dapat diakses dan digunakan oleh siapa saja. Ketika semakin banyak brand menggunakan kode budaya yang sama, nostalgia perlahan berubah menjadi komoditas.
Karena itu, pertanyaan strategis bagi brand bukan lagi apakah perlu memanfaatkan nostalgia, melainkan aset apa yang sebenarnya layak dihidupkan kembali. Brand yang hanya mengikuti estetika yang sedang populer akan berbagi perhatian dengan banyak kompetitor. Sebaliknya, brand yang menghidupkan kembali aset miliknya sendiri, baik berupa produk ikonik, kampanye lama, identitas visual, maupun cerita yang telah menjadi bagian dari perjalanan brand, memiliki peluang membangun hubungan yang lebih autentik dan sulit ditiru.
Dengan kata lain, keunggulan bukan lagi berasal dari masa lalu yang dipilih, melainkan dari cara brand memberi makna baru pada aset yang sebelumnya sudah ada.
Daftar Pustaka
Antara. (2023, 28 April). Kris Dayanti rilis ulang lagu hit "Mencintaimu". Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/3511224/kris-dayanti-rilis-ulang-lagu-hit-mencintaimu
Google Trends. (2026). Kueri penelusuran terkait "Y2K" dan "Frutiger Aero", Indonesia, 27 Juli 2025 sampai 27 Juli 2026 [Kumpulan data]. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://trends.google.com/
Jain, T., Mishra, V. K., & Kothari, D. (2025). Digital nostalgia marketing: How past-centric ads affect Gen Z consumption. Advances in Consumer Research, 2(4), 4279–4291. https://acr-journal.com/article/digital-nostalgia-marketing-how-past-centric-ads-affect-gen-z-consumption-1527/
KapanLagi.com. (2022, 12 Agustus). Lyodra dan Andi Rianto remake lagu "Sang Dewi", begini respon Titi DJ. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/lyodra-dan-andi-rianto-remake-lagu-sang-dewi-begini-respon-titi-dj-886f39.html
Liputan6.com. (2024, 11 Desember). Mahalini rekam ulang lagu Mencintaimu hit lawas Krisdayanti, soundtrack film 2nd Miracle in Cell No. 7. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.liputan6.com/showbiz/read/5830936/mahalini-rekam-ulang-lagu-mencintaimu-hit-lawas-krisdayanti-soundtrack-film-2nd-miracle-in-cell-no-7
Reber, R., Schwarz, N., & Winkielman, P. (2004). Processing fluency and aesthetic pleasure: Is beauty in the perceiver's processing experience? Personality and Social Psychology Review, 8(4), 364–382.
RRI. (2026). Fenomena hipdut dinilai ubah cara generasi muda mengapresiasi budaya lokal. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://rri.co.id/singaraja/hiburan/2577090/fenomena-hipdut-dinilai-ubah-cara-generasi-muda-mengapresiasi-budaya-lokal
RRI. (2026). Tren busana ala Naykilla ramai di-recreate warganet TikTok, ini ciri khas gayanya. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://rri.co.id/sorong/hiburan/2577936/tren-busana-ala-naykilla-ramai-di-recreate-warganet-tiktok-ini-ciri-khas-gayanya
Tempo.co. (2026, 26 Mei). Cerita RAN di balik remake video musik Pandangan Pertama. Diakses pada 27 Juli 2026, dari https://www.tempo.co/teroka/cerita-ran-di-balik-remake-video-musik-pandangan-pertama-2138323
Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Journal of Personality and Social Psychology, 9(2, Pt. 2), 1–27.