Dulu, melakukan sesuatu sendirian sering terasa seperti sesuatu yang perlu dijelaskan. Makan sendiri di restoran, pergi ke bioskop sendiri, traveling sendiri, bahkan sekadar duduk di kafe tanpa teman bisa memunculkan pertanyaan: “Memangnya nggak ada yang bisa diajak?”
Kini, semakin banyak aktivitas yang tidak lagi membutuhkan kehadiran orang lain untuk dianggap wajar.
Namun, perubahan ini tidak serta-merta berarti konsumen menjadi semakin individualistis atau tidak membutuhkan orang lain. Seseorang yang pergi makan sendirian hari ini tetap bisa menghabiskan malam bersama teman, berkumpul dengan keluarga di akhir pekan, atau aktif dalam komunitas.
Yang mungkin berubah adalah hal yang lebih mendasar: seberapa penting kehadiran orang lain sebagai syarat untuk menikmati sebuah pengalaman.
Di sinilah solo travel menjadi menarik. Perjalanan seorang diri bukan hanya tentang pergi tanpa teman. Ia menunjukkan bahwa konsumen semakin nyaman menentukan sendiri bagaimana sebuah pengalaman dijalani: kapan berangkat, ke mana pergi, apa yang dilakukan, berapa lama tinggal, dan kapan ingin berhenti.
Dengan kata lain, nilai yang semakin dicari bukan sekadar solitude, tetapi autonomy: kemampuan untuk memilih.
Jika pola ini meluas dari perjalanan ke berbagai bentuk konsumsi, solo consumption bukan sekadar peluang membuat produk untuk orang yang datang sendirian. Ia menjadi pertanyaan yang lebih besar bagi brand: seberapa besar kendali yang diberikan kepada konsumen untuk menentukan sendiri bagaimana mereka ingin mengalami sebuah brand?