Sepanjang 2026, orang Indonesia tetap gemar bepergian, tetapi arah perjalanannya berubah. Perjalanan di dalam negeri tumbuh dua digit, sementara perjalanan ke luar negeri menyusut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026 mencapai 104,30 juta perjalanan, naik 11,47% dibandingkan Agustus 2025 (year-on-year/yoy). Pada bulan yang sama, perjalanan penduduk Indonesia ke luar negeri tercatat 643,69 ribu perjalanan, turun 6,02% yoy (BPS, 2026a).
Keinginan untuk melihat dunia belum surut. Survei Agoda mencatat 73% wisatawan Indonesia akan lebih sering bepergian jika pembatasan visa tidak menjadi faktor, dan 80% akan mempertimbangkan destinasi baru (Agoda, 2025b). Yang bergeser adalah hitungan tentang perjalanan mana yang paling masuk akal dijalani saat ini. Alih-alih satu liburan jauh ke mancanegara, semakin banyak orang Indonesia memilih bepergian lebih sering ke tujuan yang lebih mudah dijangkau.
Bagi pelaku industri pariwisata dan marketer, pergeseran ini mengubah peta peluang. Nilai sebuah perjalanan tidak lagi diukur semata dari jarak atau prestise destinasi, melainkan dari seberapa mudah dicapai, seberapa terjangkau, dan seberapa sering bisa diulang.
