Traveling ke Mancanegara Turun: yang Berubah dari Cara Kita Berlibur

Perjalanan domestik naik 11,47% yoy pada Agustus 2026, sementara perjalanan ke luar negeri turun 6,02% yoy (BPS).
Pergeseran ke domestik tidak disertai melemahnya selera bepergian. Sebanyak 32% wisatawan Indonesia merencanakan 11 perjalanan atau lebih sepanjang 2026, tertinggi di Asia (Agoda).
Pertumbuhan menyebar ke luar Bali. DI Yogyakarta tumbuh 29,64% yoy, Jawa Tengah 25,80%, sementara Bali 8,01%, di bawah rata-rata nasional.
Destinasi dekat memicu lonjakan minat terbesar. Menjelang libur 17 Agustus, pencarian ke Pangandaran, Garut, dan Anyer naik 8,5 hingga lebih dari 10 kali lipat (Agoda).
Nilai perjalanan kini ditimbang dari aksesibilitas, keterjangkauan, frekuensi, dan pengalaman sekaligus. Sebanyak 54% responden menganggarkan menginap tidak lebih dari US$50 per malam.
Sepanjang 2026, orang Indonesia tetap gemar bepergian, tetapi arah perjalanannya berubah. Perjalanan di dalam negeri tumbuh dua digit, sementara perjalanan ke luar negeri menyusut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026 mencapai 104,30 juta perjalanan, naik 11,47% dibandingkan Agustus 2025 (year-on-year/yoy). Pada bulan yang sama, perjalanan penduduk Indonesia ke luar negeri tercatat 643,69 ribu perjalanan, turun 6,02% yoy (BPS, 2026a).
Keinginan untuk melihat dunia belum surut. Survei Agoda mencatat 73% wisatawan Indonesia akan lebih sering bepergian jika pembatasan visa tidak menjadi faktor, dan 80% akan mempertimbangkan destinasi baru (Agoda, 2025b). Yang bergeser adalah hitungan tentang perjalanan mana yang paling masuk akal dijalani saat ini. Alih-alih satu liburan jauh ke mancanegara, semakin banyak orang Indonesia memilih bepergian lebih sering ke tujuan yang lebih mudah dijangkau.
Bagi pelaku industri pariwisata dan marketer, pergeseran ini mengubah peta peluang. Nilai sebuah perjalanan tidak lagi diukur semata dari jarak atau prestise destinasi, melainkan dari seberapa mudah dicapai, seberapa terjangkau, dan seberapa sering bisa diulang.
Orang Indonesia Tetap Bepergian
Pola dua arah ini sudah terlihat sejak sebulan sebelumnya. Pada Juli 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 107,44 juta, naik 7,23% yoy, sementara perjalanan ke luar negeri turun 7,73% yoy menjadi 802,67 ribu (BPS, 2026b). Data kumulatif memperkuat arahnya. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, perjalanan domestik naik 4,29%, sedangkan perjalanan ke luar negeri turun 3,56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka-angka ini perlu dibaca dengan hati-hati. BPS menghitung jumlah perjalanan, dan satu orang bisa menyumbang beberapa perjalanan dalam sebulan, sehingga 104,30 juta perjalanan tidak sama dengan 104,30 juta wisatawan. Perjalanan ke luar negeri juga mencakup beragam keperluan, termasuk ibadah. Arab Saudi, misalnya, menyerap 18,58% perjalanan ke luar negeri pada Agustus 2026.
Dengan laju pertumbuhan domestik dua digit, situasinya sulit dibaca sebagai tanda orang Indonesia berhenti bepergian. Pertanyaan yang lebih menarik adalah perjalanan seperti apa yang sekarang terasa paling masuk akal bagi mereka.
Domestik Lebih dari Sekadar Pengganti
Data BPS menunjukkan apa yang terjadi. Untuk memahami apa yang diinginkan wisatawan, survei 2026 Travel Outlook dari Agoda memberi gambaran pelengkap. Survei terhadap 3.353 responden di sembilan pasar Asia, termasuk Indonesia, pada Oktober 2025 itu mencatat 57% wisatawan Indonesia berencana lebih sering bepergian di dalam negeri daripada ke luar negeri pada 2026, melonjak dari 17% pada survei tahun sebelumnya (Agoda, 2025a, 2025b).
Angka itu menonjol bahkan di tingkat regional. Di seluruh Asia, proporsi responden yang berencana memperbanyak perjalanan domestik tercatat 35%, jauh di bawah Indonesia. Data Agoda merekam rencana yang diungkapkan responden, sehingga fungsinya melengkapi catatan perjalanan aktual dari BPS.
Yang membuat temuan ini menarik, rencana bepergiannya tetap besar. Agoda mencatat 32% responden Indonesia berencana melakukan 11 perjalanan atau lebih sepanjang 2026, tertinggi di kawasan, dan 69% merencanakan perjalanan bersama keluarga. Seandainya perjalanan domestik hanya berfungsi sebagai pelarian karena orang tidak bisa ke luar negeri, selera bepergian semestinya ikut melemah. Yang terlihat adalah kombinasi berbeda: perjalanan ke luar negeri menurun, perjalanan domestik naik, dan rencana frekuensi tetap tinggi. Pergeseran ke domestik tampak lebih merupakan perubahan bentuk perjalanan yang dianggap feasible sekaligus layak dijalani.
Sering Bepergian Tidak Harus Selalu Jauh
Frekuensi perjalanan dan jarak perjalanan adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sangat gemar bepergian tanpa harus sering pergi jauh. Data BPS dan Agoda menunjukkan orang Indonesia masih sering bepergian, tetapi belum memetakan secara langsung seberapa jauh atau seberapa singkat tiap perjalanan.
Di sini data memberi sinyal yang perlu dibaca berimbang. Responden Indonesia rata-rata merencanakan perjalanan 4 hingga 7 hari, dan 14% memperkirakan bepergian 13 hari atau lebih, durasi terpanjang di kawasan. Di tingkat Asia, Agoda mencatat tren micro travel, dengan 32% responden merencanakan perjalanan 1 hingga 3 hari. Artinya, perjalanan panjang belum ditinggalkan, dan liburan singkat belum tentu menggantikannya. Keduanya dapat hidup berdampingan dalam satu tahun yang sama.
Meski begitu, arah minatnya cukup jelas. Liburan selama ini mudah diasosiasikan dengan pergi jauh, tinggal lebih lama, dan mengunjungi destinasi besar. Kini, bentuk perjalanan yang tampak semakin menarik adalah destinasi yang lebih mudah dijangkau, dengan durasi yang lebih fleksibel dan dapat diulang beberapa kali dalam setahun. Kemudahan akses membuat bepergian lebih sering dilakukan, tanpa selalu menuntut waktu dan biaya sebesar perjalanan yang lebih jauh.
Pertumbuhan yang Menyebar ke Luar Bali
Bukti paling kuat untuk pergeseran ke tujuan yang lebih dekat ada pada peta destinasi domestik. Menurut provinsi tujuan, Jawa Barat (18,71 juta perjalanan), Jawa Timur (16,44 juta), dan Jawa Tengah (13,79 juta) menjadi tujuan terbesar wisatawan nusantara pada Agustus 2026 (BPS, 2026a). Volume memang terkumpul di Jawa, tetapi cerita yang lebih menarik ada pada laju pertumbuhannya.
Di antara sepuluh provinsi tujuan terbesar, DI Yogyakarta mencatat pertumbuhan tertinggi, 29,64% yoy, disusul Jawa Tengah 25,80% dan Banten 17,61%. Sulawesi Selatan tumbuh 16,27%. Bali tetap tumbuh 8,01%, tetapi lajunya berada di bawah rata-rata nasional 11,47%. Data kumulatif menunjukkan arah yang sama. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, perjalanan ke Jawa Tengah naik 13,22% dan ke DI Yogyakarta naik 11,39%, sementara ke Bali naik 2,15%. Pertumbuhan domestik menyebar ke banyak tujuan yang, bagi sebagian besar wisatawan, relatif mudah dijangkau.
Data pencarian akomodasi Agoda menangkap pola serupa dari sisi minat. Menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan 15 hingga 17 Agustus 2026, Agoda mencatat minat perjalanan domestik naik lebih dari empat kali lipat. Lonjakan tertinggi muncul di destinasi regional seperti Pangandaran dan Garut di Jawa Barat serta Anyer di Banten, dengan kenaikan antara 8,5 hingga lebih dari 10 kali lipat (Agoda, 2026).
Pangandaran, Garut, dan Anyer mungkin tidak selalu menjadi nama pertama yang muncul ketika orang membayangkan liburan, tetapi bagi orang yang belum pernah ke sana, tempat-tempat itu tetap menawarkan rasa pergi ke tempat baru. Kebaruan (novelty) tidak selalu harus datang dari destinasi yang jauh. Ini bisa datang dari kota pesisir atau dataran tinggi yang hanya beberapa jam perjalanan darat dari kota-kota besar di Jawa.
Apa yang Membuat Liburan Terasa Layak
Jika keinginan bepergian tetap tinggi, pertanyaan berikutnya adalah apa yang membuat sebuah perjalanan terasa layak dijalani. Survei Agoda memberi beberapa petunjuk. Relaksasi dan pengalaman kuliner menjadi dua motivasi utama wisatawan Indonesia. Promo dan diskon, biaya yang lebih rendah, serta kegiatan alam dan luar ruang menjadi tiga alasan teratas memilih destinasi sekunder dibandingkan destinasi yang sudah lebih dulu populer.
Soal akomodasi, 54% responden Indonesia berencana mengalokasikan biaya menginap tidak lebih dari US$50 (sekitar Rp840 ribu) per malam (Agoda, 2025b). Angka ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa pertimbangan nilai menjadi penting dalam memilih perjalanan, terlebih ketika responden yang sama juga merencanakan frekuensi bepergian paling tinggi di kawasan.
Dari kombinasi data tersebut, nilai sebuah perjalanan tampak dibentuk oleh beberapa pertimbangan sekaligus. Seberapa mudah destinasi dicapai, berapa biaya yang perlu dikeluarkan, seberapa sering perjalanan bisa dilakukan, dan apakah pengalaman yang didapat terasa sepadan menjadi bagian dari hitungan itu. Bagi sebagian wisatawan, nilai itu juga terletak pada siapa yang ikut, mengingat 69% responden merencanakan perjalanan bersama keluarga.
Pembacaan ini merupakan interpretasi atas pola data dan tidak berasal dari satu survei tunggal. Namun, polanya cukup konsisten. Sebuah perjalanan tampak semakin dinilai dari seberapa banyak pengalaman yang diperoleh dibandingkan waktu, biaya, dan energi yang dikeluarkan, lebih dari sekadar seberapa jauh seseorang pergi.
Apa Artinya bagi Brand dan Pemasar
Peta ini membuka ruang bagi pelaku industri di luar destinasi besar. Destinasi regional yang selama ini berada di bayang-bayang Bali dan luar negeri kini menikmati pertumbuhan tercepat, sehingga daerah, pengelola akomodasi, dan penyedia aktivitas lokal punya peluang yang lebih besar untuk menangkap minat yang sedang bergerak ke arah mereka. Pesan yang menonjolkan kemudahan akses, misalnya jarak tempuh darat dari kota besar, berpotensi lebih relevan daripada menjual kemewahan atau eksklusivitas.
Pola frekuensi tinggi juga mengubah cara membaca konsumen. Wisatawan yang bepergian 11 kali atau lebih dalam setahun adalah pasar untuk perjalanan berulang, sehingga program loyalitas, penawaran untuk liburan singkat, dan paket ramah keluarga lebih sejalan dengan perilaku ini daripada kampanye yang hanya menyasar satu liburan besar tahunan. Sensitivitas terhadap nilai, yang terlihat dari anggaran menginap di bawah US$50 per malam, menegaskan bahwa promo dan transparansi harga tetap menjadi pendorong keputusan, berdampingan dengan janji pengalaman.
Satu kehati-hatian berlaku untuk semua ini. Sebagian besar sinyal minat berasal dari rencana dan pencarian, bukan transaksi. Data BPS memang mengonfirmasi arah yang sama dari perjalanan aktual, tetapi lonjakan pencarian berlipat menjelang libur panjang lebih tepat dibaca sebagai indikator minat daripada ukuran realisasi. Volume pencarian yang tinggi perlu divalidasi dengan data pemesanan sebelum dijadikan dasar keputusan belanja pemasaran.
Perjalanan Makin Dekat, Aspirasi Tidak Ikut Mengecil
Pergeseran ke destinasi domestik tidak otomatis berarti orang Indonesia kehilangan keinginan melihat dunia. Keinginan itu masih ada, terlihat dari mayoritas yang akan lebih sering bepergian seandainya visa tidak menjadi hambatan. Yang bergeser adalah hitungan tentang perjalanan mana yang paling mungkin dan paling layak dijalani saat ini.
Jika dirangkai, gambarannya cukup jelas. Minat bepergian masih tinggi, perjalanan domestik bertambah, perjalanan ke luar negeri melemah, dan destinasi yang tumbuh semakin beragam. Di tengah semua itu, konsumen menimbang aksesibilitas, keterjangkauan, frekuensi, dan pengalaman sekaligus. Keinginan untuk bepergian tetap ada, tetapi cara mendapatkannya menjadi lebih beragam.
Jika liburan tidak lagi harus jauh untuk terasa berarti, perubahan terbesar dalam cara orang Indonesia bepergian mungkin tidak terletak pada destinasi yang mereka tinggalkan. Perubahan itu ada pada apa yang mereka anggap layak dikejar dari sebuah perjalanan.
Referensi
Agoda. (2025a, 25 November). Local adventures and culinary journeys set to shape travel next year: Agoda reveals Asia's top five travel trends for 2026 [Siaran pers]. Diakses pada 6 Oktober 2026, dari https://www.agoda.com/press/id-id/local-adventures-and-culinary-journeys-set-to-shape-travel-next-year-agoda-reveals-asias-top-five-travel-trends-for-2026/
Agoda. (2025b). The Indonesian traveler in 2026: Data from the Agoda 2026 Travel Outlook Report [Lembar fakta]. Diakses pada 6 Oktober 2026, dari https://www.agoda.com/press/wp-content/uploads/2025/11/ID-Market.pdf
Agoda. (2026, 10 Agustus). Agoda: Travel interest in Indonesia more than quadruples during this year's Independence Day long weekend [Siaran pers]. Diakses pada 6 Oktober 2026, dari https://www.agoda.com/press/agoda-travel-interest-in-indonesia-more-than-quadruples-during-this-years-independence-day-long-weekend/
Badan Pusat Statistik. (2026a). Perkembangan pariwisata Agustus 2026 (Berita Resmi Statistik No. 98/10/Th. XXIX). Diakses pada 6 Oktober 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/10/01/2617/
Badan Pusat Statistik. (2026b). Bahan tayang Berita Resmi Statistik 1 Oktober 2026 [Presentasi]. Diakses pada 6 Oktober 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease

























