Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cowok Gen Z: Mengejar Lebih Banyak Pilihan
ilustrasi cowok Gen Z menggunakan outfit dengan aksesori saat hangout (pexels.com/Kampus Production)
  • Kelas menengah Indonesia menyusut menjadi 16,6% pada 2025, sementara aspiring middle class mencapai 50,4%; Gen Z memasuki usia produktif saat mobilitas ekonomi terasa makin tidak pasti.
  • Gaji menjadi prioritas utama Gen Z saat mencari kerja, disusul prospek karier; minat pada kerja fleksibel, freelance, dan legalitas usaha menunjukkan keinginan atas pendapatan sekaligus kendali kerja.
  • Pengembangan diri diminati 88% Gen Z dan Milenial; pada Gen Z laki-laki, game dan olahraga lebih dominan, sementara artikel melihat pola aspirasi bergeser menuju lebih banyak pilihan dan kendali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah tekanan ekonomi dan masa depan yang sulit diprediksi, sebagian laki-laki muda tetap mengejar aspirasi. Yang mereka kejar adalah lebih banyak pilihan: atas uang, pekerjaan, waktu, dan kemampuan mereka sendiri.

Sepanjang 2025, dua hal terjadi bersamaan di Indonesia. Kelas menengah menyusut, dan kelompok yang berada tepat di bawahnya membesar hingga melewati separuh jumlah penduduk. Pada periode yang sama, generasi termuda di pasar kerja menempatkan gaji sebagai prioritas tertinggi, menunjukkan minat besar pada kerja fleksibel, dan ramai-ramai mengikuti kegiatan pengembangan diri.

Temuan-temuan itu berasal dari survei yang berbeda dan selama ini dibaca terpisah. IDN Research Institute mencoba meletakkannya berdampingan untuk melihat apakah ada satu benang yang menghubungkannya. Artikel ini berangkat dari satu kemungkinan: aspirasi Gen Z laki-laki tidak menyusut karena tekanan ekonomi, dan yang bergeser adalah ukurannya, dari seberapa banyak yang bisa dimiliki menjadi seberapa besar kendali atas cara mendapatkannya.

Ketika Naik Kelas Tidak Lagi Terasa Otomatis

Sebelum berbicara tentang perilaku, kita perlu melihat konteks ekonomi yang membentuk pilihan-pilihan tersebut.

Melansir Kontan, proporsi kelas menengah Indonesia menyusut dari 21,45 persen penduduk pada 2019 menjadi 17,13 persen pada 2024, lalu turun lagi ke 16,6 persen pada 2025. Data BPS yang diolah Mandiri Institute, menunjukkan jumlah absolutnya bergerak dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Sekitar 1,2 juta orang berpindah keluar dari kategori itu dalam satu tahun.

Kelompok yang membesar adalah aspiring middle class, mereka yang sudah lepas dari garis kemiskinan tetapi belum masuk kelas menengah. Jumlahnya naik dari 137,5 juta menjadi 142 juta orang, atau 50,4 persen dari total penduduk.

Angka-angka ini berlaku untuk seluruh populasi dan tidak dipecah berdasarkan generasi. Yang bisa kita katakan dengan aman adalah soal waktu. Gen Z memasuki usia produktif pada periode ketika mobilitas ekonomi ke atas tidak lagi terasa otomatis, dan ketika posisi yang sudah diraih pun ternyata bisa bergeser turun.

Konteks ini penting supaya pembahasan berikutnya tidak terbaca sebagai deskripsi karakter generasi. Yang berubah lebih dulu adalah lingkungannya.

Gen Z Mengejar Gaji Besar

Survei Jakpat pada Desember 2024, dilansir Databoks, menemukan 69 persen Gen Z menempatkan gaji sebagai tolok ukur utama saat mencari kerja. Temuan serupa muncul di Indonesia Gen Z Report 2024 yang disusun IDN Research Institute bersama Advisia: 78 persen responden Gen Z menyebut gaji dan tunjangan sebagai hal yang paling mereka cari di tempat kerja, diikuti prospek karier (60 persen), budaya perusahaan (53 persen), dan fleksibilitas waktu kerja (32 persen).

Kedua survei menunjukkan apa yang menjadi prioritas, tetapi tidak menjelaskan alasan di baliknya. Di sinilah konteks ekonomi tadi masuk. Dalam situasi ketika posisi ekonomi bisa bergeser turun dalam setahun, gaji dapat dibaca memiliki fungsi ganda. Gaji adalah daya beli, sekaligus jarak aman terhadap hal-hal yang sulit diprediksi. Besaran gaji ikut menentukan berapa lama seseorang bisa bertahan kalau pekerjaannya hilang, seberapa besar kemampuannya menolak tawaran yang merugikan, dan seberapa cepat dia bisa berpindah kalau situasinya memburuk.

Dibaca begitu, gaji tinggi berfungsi lebih dekat ke asuransi daripada ke gaya hidup. Pembacaan ini adalah interpretasi editorial kami terhadap dua survei di atas, dan bagian berikutnya menunjukkan mengapa pembacaan tersebut masuk akal untuk diteruskan.

Fleksibilitas sebagai Bagian dari Ambisi

Bagian yang lebih menarik muncul ketika kita melihat apa yang Gen Z inginkan di luar besaran gaji.

Survei Jakpat terhadap 1.262 responden, mencatat 35 persen Gen Z memilih skema work from anywhere dan 32 persen memilih hybrid. Populix dalam laporan The Future of Work: Freelancing in Indonesia (2023) menemukan 58 persen Gen Z Indonesia tertarik pada pekerjaan freelance, dengan alasan fleksibilitas dan kemampuan mengatur ritme kerja sendiri.

Satu temuan lain melengkapi gambar ini. Survei Jakpat bertajuk Trends in Modern Entrepreneurship 2026, menemukan 48 persen Gen Z mengutamakan legalitas usaha saat merintis bisnis. Angka itu lebih tinggi daripada Milenial (34 persen) dan Gen X (36 persen).

Temuan ini menunjukkan bahwa fleksibilitas tidak selalu berarti menolak struktur. Sebagian Gen Z tampaknya juga tertarik membangun bentuk kerja atau usaha yang memberi mereka ruang untuk menentukan cara kerjanya sendiri.

Perlu dicatat, fleksibilitas waktu kerja menempati posisi terendah (32 persen) di antara empat faktor dalam Indonesia Gen Z Report 2024, di bawah gaji, karier, dan budaya perusahaan. Fleksibilitas tampil sebagai pelengkap ambisi, dan tidak menggantikannya. Yang muncul dari kombinasi keduanya adalah gambaran generasi yang menginginkan hasil sekaligus ruang gerak untuk menentukan cara meraihnya.

Pengembangan Diri: Investasi yang Bisa Dimulai Sendiri

Survei Jakpat pada Maret 2025 terhadap 1.549 responden, menemukan 88 persen Gen Z dan Milenial tertarik mengikuti kegiatan pengembangan diri.

Rinciannya layak dibaca pelan-pelan, karena isinya tidak seluruhnya berupa peningkatan keterampilan profesional. Sebanyak 61 persen menyebut memperbanyak ibadah, 56 persen mempraktikkan rasa syukur, 51 persen menata hidup agar lebih rapi, dan 41 persen mengikuti kursus.

Artinya, hipotesis bahwa modal manusia sedang menggantikan modal finansial hanya didukung sebagian oleh data ini. Kursus berada di urutan terbawah dari empat kegiatan yang paling banyak disebut.

Keempatnya tetap memiliki satu kesamaan yang menarik. Semuanya dapat dilakukan pada level individu, tanpa modal besar, dan hasilnya bergantung terutama pada usaha sendiri. Ketika banyak faktor ekonomi berada di luar jangkauan seseorang, aktivitas yang bisa dimulai dan diatur sendiri menjadi salah satu wilayah yang masih terasa bisa diatur. Ibadah dan rasa syukur mengurus cara seseorang menghadapi keadaan; menata hidup dan mengikuti kursus mengurus kemampuannya untuk berpindah ketika keadaan berubah.

Game dan Olahraga: Titik Ketika Data Mulai Terpisah Berdasarkan Gender

Sampai di sini, semua data yang kita bahas bersifat generasional. Survei Jakpat yang dipublikasikan GoodStats pada Desember 2025, dengan 1.158 responden, adalah titik pertama tempat perbedaan gender terlihat jelas dalam kebiasaan sehari-hari Gen Z.

Sebanyak 64 persen laki-laki Gen Z bermain game, dibandingkan 39 persen perempuan. Sebanyak 42 persen berolahraga, dibandingkan 23 persen perempuan. Untuk berkumpul bersama teman, angkanya 43 persen berbanding 34 persen.

Dua aktivitas dengan selisih terbesar punya satu kesamaan: keduanya menuntut partisipasi aktif, menghadirkan tantangan bertahap, dan memberi tanda kemajuan yang relatif mudah dilihat. Di game, kemajuan terbaca sebagai level, rank, dan pencapaian. Di olahraga, kemajuan terbaca sebagai target, latihan, dan perubahan yang bisa dirasakan dan diukur pada tubuh sendiri.

Bandingkan dengan bagaimana kemajuan terasa di tempat kerja atau dalam kondisi ekonomi yang lebih luas. Di sana, umpan baliknya lebih lambat, lebih kabur, dan sering ditentukan oleh faktor di luar usaha personal.

Apakah itu sebabnya aktivitas dengan umpan balik yang jelas terasa menarik?

Pertanyaan ini sengaja kami biarkan terbuka. Survei GoodStats mengukur apa yang dilakukan, tidak mengukur alasannya. Yang bisa kami tawarkan adalah satu kemungkinan pembacaan: aktivitas yang memberi rasa kemajuan yang terlihat mungkin punya daya tarik tersendiri bagi gen Z pada periode ketika kemajuan di bidang lain terasa lambat.

Angka berkumpul bersama teman juga lebih tinggi pada laki-laki, dan itu memperjelas bentuk polanya. Yang menonjol pada kelompok ini adalah aktivitas partisipatif secara umum, aktivitas yang menuntut seseorang ikut mengerjakan sesuatu.

Riset IDN Research Institute yang dilakukan pada Januari hingga April 2026 terhadap 183 responden, dan dimuat dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027, menemukan 81,1 persen Gen Z Indonesia pernah curhat kepada kecerdasan buatan, dibandingkan 63,6 persen Milenial. Topik yang paling sering muncul adalah overthinking dan kecemasan, karier dan masa depan, serta burnout. Ketiganya berhubungan langsung dengan ketidakpastian yang kita bahas sejak awal artikel ini.

Apa yang Sebenarnya Dijual Brand Ketika Kendali Menjadi Aspirasi

Kalau kita mundur dan melihat seluruh datanya sekaligus, satu kesamaan muncul.

Gaji yang lebih besar memberi jarak aman. Freelance dan kerja fleksibel memberi kendali atas waktu. Legalitas usaha memberi perlindungan atas sesuatu yang dibangun sendiri. Kursus, ibadah, penataan hidup, dan olahraga adalah kegiatan yang hasilnya bergantung pada usaha sendiri. Game memberi umpan balik yang segera dan terukur.

Semuanya adalah wilayah tempat tindakan personal masih terasa berpengaruh. Survei-survei ini dikerjakan terpisah, dengan responden dan tujuan yang berbeda, sehingga yang bisa kami tunjukkan adalah polanya. Pola itu cukup konsisten untuk layak diperhatikan.

Kalau interpretasi ini mendekati kenyataan, narasi bahwa Gen Z menurunkan ambisinya perlu ditinjau ulang. Aspirasinya tidak mengecil. Yang berubah adalah definisi kekayaannya, dari memiliki lebih banyak menjadi memiliki lebih banyak pilihan.

Perbedaannya terlihat pada apa yang dijanjikan. Nilai yang paling relevan mungkin terletak pada kemampuan menghemat waktu, memperluas pilihan, menambah kemampuan, mengurangi ketergantungan pada satu sumber penghasilan, dan memudahkan konsumen berpindah ketika keadaan berubah. Semuanya adalah versi komersial dari pola yang sama: memperbesar wilayah tempat tindakan seseorang masih terasa berpengaruh.

Dan bagi brand, peluangnya terletak pada hal yang sama. Pada periode ketika pilihan terasa semakin mahal, membantu konsumen mempertahankan atau memperluas pilihan mereka mungkin bernilai lebih besar daripada menawarkan satu barang lagi untuk dimiliki.

Konsekuensinya untuk komunikasi cukup jelas. Pesan yang menunjukkan apa yang bisa dilakukan konsumen dengan sebuah produk berpeluang bekerja lebih baik daripada pesan yang menunjukkan apa arti produk itu tentang diri mereka. Ini adalah hipotesis yang bisa diuji melalui pengujian pesan, dan artikel ini menawarkannya sebagai arah, bukan sebagai kesimpulan.

Referensi

Databoks. (2024, 31 Desember). Salary is the top consideration for Gen Z in job hunting. https://databoks.katadata.co.id/en/employment/statistics/67737d2797a4f/salary-is-the-top-consideration-for-gen-z-in-job-hunting. Diakses pada 7 September 2026.

Databoks. (2024). Gaji jadi hal yang paling disorot Gen Z saat mencari tempat kerja. https://databoks.katadata.co.id/ketenagakerjaan/statistik/4f16e3ace510432/gaji-jadi-hal-yang-paling-disorot-gen-z-saat-mencari-tempat-kerja. Diakses pada 7 September 2026.

GoodStats. (2025, Desember). Media sosial hingga game: Ini perbedaan kebiasaan Gen Z laki-laki dan perempuan. https://data.goodstats.id/statistic/media-sosial-hingga-game-ini-perbedaan-kebiasaan-gen-z-laki-laki-dan-perempuan-4zXrn. Diakses pada 7 September 2026.

IDN Research Institute. (2026). Gen Z dan Milenial Indonesia pernah curhat kepada AI. https://www.idnresearchinstitute.com/society/gen-z-dan-milenial-indonesia-pernah-curhat-kepada-ai-00-314l1-2lcp65. Diakses pada 7 September 2026.

Indotelko. (2024, 19 Maret). Ini karakteristik dan preferensi Gen Z di dunia kerja ala Jakpat. https://www.indotelko.com/read/1710858255/ini-karakteristik-dan-preferensi-gen-z-di-dunia-kerja-ala-jakpat. Diakses pada 7 September 2026.

Kabar Makassar. (2026). Survei Jakpat ungkap legalitas jadi senjata Gen Z bangun bisnis. https://kabarmakassar.com/news/survei-jakpat-ungkap-legalitas-jadi-senjata-gen-z-bangun-bisnis. Diakses pada 7 September 2026.

Kompas. (2026, 19 Agustus). Membangun kembali kelas menengah Indonesia. https://money.kompas.com/read/2026/08/19/093000826/membangun-kembali-kelas-menengah-indonesia. Diakses pada 7 September 2026.

Kontan. (2026). Jumlah kelas menengah turun lebih dalam di 2025, tertekan daya beli dan konsumsi. https://nasional.kontan.co.id/news/jumlah-kelas-menengah-turun-lebih-dalam-di-2025-tertekan-daya-beli-dan-konsumsi. Diakses pada 7 September 2026.

Media Indonesia. (2025). Survei: 88 persen Gen Z dan milenial tertarik ikut kegiatan pengembangan diri. https://mediaindonesia.com/humaniora/753492/survei-88-persen-gen-z-dan-milenial-tertarik-ikut-kegiatan-pengembangan-diri. Diakses pada 7 September 2026.

Populix. (2023). The future of work: Freelancing in Indonesia. Dikutip dari https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1832-gig-economy-dan-self-leadership-strategi-gen-z-mewujudkan-kesehatan-mental-dan-daya-juang. Diakses pada 7 September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article