Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sound Horeg: Ketika Community-Led Growth Berhadapan dengan Publik
Sound horeg di Pasuruan (Facebook.com/Konco Horeg)
  • Sound horeg berkembang dari hiburan kampung menjadi ekosistem komunitas yang membentuk permintaan, reputasi, jasa sewa, modifikasi perangkat, dan peluang ekonomi bagi pelaku lokal.
  • Bagi komunitas, sound horeg menjadi ruang ekspresi, solidaritas, dan identitas; namun penggunaan ruang publik memicu friksi karena kebisingan berdampak pada ketenangan serta kesehatan warga.
  • Pertumbuhan sound horeg membutuhkan tata kelola melalui izin, pengaturan lokasi, waktu, dan tingkat kebisingan agar aktivitas ekonomi-komunitas dapat berjalan tanpa mengabaikan kepentingan publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di banyak kampung di Jawa Timur, hiburan datang dengan cara diangkut.

Perangkat pengeras suara berdaya besar diturunkan ke halaman hajatan, dibawa dalam pawai, mengisi pasar malam, dan menjadi pusat perayaan 17-an. Sound horeg, yang namanya lahir dari efek suaranya sendiri, selama ini lebih sering dikenal publik karena satu hal: bising.

Cara pandang tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun, jika sound horeg hanya dilihat dari persoalan kebisingan, ada bagian lain dari fenomena ini yang terlewat.

Di balik suara yang keras, telah terbentuk komunitas, jaringan pelaku, identitas, reputasi, dan transaksi. Ada orang yang membeli perangkat, merakit dan memodifikasinya, menyewakannya, mengoperasikannya, mendatangkannya ke berbagai acara, membuat konten, hingga datang sebagai penonton.

Sound horeg pada akhirnya berkembang menjadi lebih dari sekadar sistem suara. Ia menjadi ekosistem yang menciptakan hiburan, identitas, sekaligus aktivitas ekonomi di tingkat lokal.

Yang menarik, ekosistem ini tidak tumbuh karena industri hiburan besar lebih dulu menciptakan pasarnya. Kebutuhan muncul dari komunitas, perangkat dikembangkan oleh pelaku di dalamnya, penyedia jasa tumbuh mengikuti permintaan, sementara reputasi dibentuk melalui pengalaman, penggunaan, dan percakapan di dalam komunitas.

Dalam satu dekade, sound horeg menunjukkan bagaimana sebuah komunitas dapat melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan industri: menciptakan demand, membangun supply, menentukan standar kualitas, membentuk reputasi, dan menghasilkan transaksi.

Namun, ketika sebuah komunitas tumbuh, aktivitasnya juga semakin sulit berlangsung hanya di dalam lingkarannya sendiri. Apa yang awalnya menjadi hiburan bagi anggota komunitas dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi, menggunakan ruang publik, dan akhirnya berhadapan dengan orang-orang yang tidak pernah memilih untuk menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Di sinilah community-led growth mulai berhadapan dengan public legitimacy.

Dari Perangkat Pendukung Menjadi Bagian dari Hiburan

Melansir Metro TV News, sound horeg merujuk pada sistem suara rakitan berdaya tinggi yang digunakan pada acara informal seperti hajatan, pawai, konvoi, pasar malam, dan acara komunitas. Ciri utamanya adalah bas yang sangat keras dengan musik yang beragam, mulai dari koplo dan dangdut hingga EDM (2025).

Sejarahnya relatif pendek. Mengutip Good News From Indonesia, istilah horeg berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bergerak, sementara Metro TV News mencatat makna bergerak atau bergetar menurut Kamus Bahasa Jawa-Indonesia terbitan Kemendikbud (2025). Fenomena sound horeg mencuat di Malang sekitar 2014 melalui pawai dan kemudian berkembang ke berbagai bentuk acara komunitas.

Pada awalnya, sound system berfungsi sebagai perangkat pendukung acara. Dalam perkembangannya, perangkat tersebut justru menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri.

Orang datang bukan hanya karena ada hajatan atau pawai. Mereka datang untuk melihat sistem suara, merasakan getaran bas, memperhatikan tata cahaya, membandingkan perangkat, dan melihat hasil modifikasi.

Pengalaman tersebut membuat sound system memiliki nilai hiburan tersendiri.

Nilainya juga tidak lagi hanya ditentukan oleh spesifikasi teknis. Komunitas ikut menentukan sistem mana yang dianggap bagus, siapa yang memiliki reputasi, modifikasi apa yang dianggap menarik, dan penyedia mana yang layak dipilih.

Di sinilah pasar mulai terbentuk dari dalam komunitas. Preferensi menciptakan demand. Demand mendorong orang membuat dan menyediakan produk. Produk kemudian dibandingkan, diberi reputasi, dan menghasilkan willingness to pay.

Komunitas tidak hanya mengonsumsi produk. Mereka juga ikut menentukan seperti apa produk tersebut seharusnya.

Ketika Hobi Berkembang Menjadi Pasar

Skalanya menunjukkan bahwa sound horeg telah melampaui aktivitas hobi.

Dilansir Medcom.id, komunitas Sound Malang Bersatu berdiri pada 2017 dengan 11 anggota dan berkembang menjadi sekitar 1.200 anggota pada 2024, terdiri atas penggiat serta penyedia jasa sewa. Biaya menyewa satu unit dapat mencapai puluhan juta rupiah, bergantung pada reputasi penyedianya (2024).

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan jaringan sekaligus terbentuknya willingness to pay. Orang tidak hanya membutuhkan sound system. Mereka bersedia membayar untuk mendapatkan pengalaman tertentu.

Dalam kondisi seperti ini, reputasi menjadi penting.

Penyedia yang lebih dikenal dapat memiliki posisi berbeda dari penyedia lainnya. Orang memilih bukan sekadar berdasarkan ketersediaan perangkat, tetapi juga kualitas yang dipersepsikan, pengalaman sebelumnya, dan reputasi pemiliknya.

Mekanisme tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dari pasar lain. Ketika reputasi menjadi sinyal kualitas, reputasi dapat menjadi pembeda. Ketika perbedaan tersebut dianggap bernilai, konsumen dapat bersedia membayar lebih.

Yang membuat sound horeg menarik adalah mekanisme tersebut berkembang dari dalam komunitas sendiri.

Tidak ada industri besar yang terlebih dahulu menentukan apa yang dianggap keren. Komunitas membentuk standarnya sendiri. Nama penyedia dan sistem sound beredar melalui pengalaman, percakapan, konten, dan rekomendasi.

Pasarnya terbentuk dari bawah. Ketika pasar mulai terbentuk, aktivitas ekonomi ikut muncul di sekitarnya.

Dampak Ekonomi Meluas ke Pelaku Lokal Lain

Sound horeg tidak hanya menghasilkan transaksi antara penyedia sound dan pemesan.

Sebuah acara membutuhkan lebih banyak hal: kru, operator, transportasi, perawatan dan modifikasi perangkat, dokumentasi, konsumsi, dekorasi, hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya.

Belum ada data agregat yang cukup untuk menyatakan berapa besar omzet keseluruhan industri sound horeg, berapa banyak tenaga kerja yang bergantung padanya, atau seberapa besar multiplier effect-nya terhadap ekonomi daerah.

Namun, pola ekonominya terlihat.

Ketika sebuah komunitas menciptakan demand, pelaku lokal memiliki insentif untuk menyediakan supply. Ketika aktivitas semakin ramai, kebutuhan terhadap jasa dan barang pendukung ikut tumbuh.

Dengan begitu, uang yang dikeluarkan untuk sebuah acara tidak selalu berhenti pada pemilik sound system. Uang tersebut dapat bergerak ke teknisi, kru, penyedia transportasi, pedagang makanan, dokumentasi, dan pelaku usaha lain di sekitar kegiatan tersebut.

Di sinilah sound horeg menjadi lebih dari sekadar fenomena hiburan. Cultural demand dapat berkembang menjadi economic demand.

Bagi sebagian pelaku, sound horeg bukan hanya ekspresi atau hobi. Ia juga menjadi sumber penghasilan. Perangkat yang dibeli merupakan aset. Modifikasi menciptakan nilai tambah. Reputasi membuka peluang mendapatkan pesanan. Sementara itu, komunitas menjadi tempat bertemunya orang yang memiliki perangkat dengan orang yang membutuhkan jasa tersebut.

Ekosistem semacam ini menunjukkan bentuk ekonomi yang sering luput dari radar industri formal: ekonomi yang tumbuh dari preferensi komunitas.

Namun, semakin besar ekonomi tersebut, semakin besar pula ruang yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Di titik ini, persoalan sound horeg mulai melibatkan pihak di luar komunitas.

Identitas Komunitas Tidak Selalu Berarti Penerimaan Publik

Pertumbuhan pasar berjalan bersamaan dengan terbentuknya identitas.

Penelitian fenomenologis terhadap remaja di Kabupaten Lumajang menemukan bahwa sound horeg berfungsi sebagai sarana simbolik untuk mengekspresikan diri. Komunitas sound horeg juga berperan dalam membentuk identitas kolektif melalui solidaritas, simbol budaya, dan batas sosial. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa praktik ini dapat dipahami sebagai praktik budaya dan tidak berhenti pada kategori gangguan (Auliana dkk., 2025).

Penelitian lain menggunakan kerangka Pierre Bourdieu untuk membaca produksi dan konsumsi sound horeg di Kota Malang sebagai arena produksi budaya lokal yang melibatkan relasi kuasa, distribusi modal, dan negosiasi legitimasi. Penelitian tersebut juga mencatat kontribusi sosial-ekonomi sekaligus ketegangan yang muncul akibat perbedaan kebiasaan dan persepsi masyarakat terhadap penggunaan ruang publik (Margaretha, 2026).

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sound horeg tidak hanya menghasilkan transaksi. Ia juga menghasilkan makna bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Bagi anggota komunitas, sound horeg dapat menjadi simbol kreativitas, ekspresi diri, solidaritas, hiburan, bahkan posisi sosial. Nilai tersebut mungkin tidak mudah terlihat dari luar komunitas.

Namun, identitas yang kuat di dalam komunitas tidak otomatis menghasilkan penerimaan di luar komunitas.

Pandangan berbeda datang dari Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya Malang, Didid Haryadi. Ia menilai sound horeg lebih tepat disebut hiburan sesaat yang lahir dari makin sempitnya akses masyarakat terhadap ruang publik yang ramah, seperti taman kota, ruang bermain anak, dan tempat hiburan rakyat. Ia menolak menempatkannya sebagai budaya dengan alasan budaya menuntut sesuatu yang dipelajari, dimiliki bersama, dan dipraktikkan terus-menerus dalam keseharian (Al Faruq, 2025).

Pendapat tersebut merupakan pandangan seorang ahli, bukan temuan empiris yang mewakili keseluruhan fenomena. Namun, perbedaan perspektif ini tetap memperlihatkan hal penting: satu praktik yang sama dapat memiliki nilai budaya yang tinggi bagi komunitas sekaligus memperoleh tingkat penerimaan sosial yang berbeda di luar komunitas.

Keduanya dapat terjadi secara bersamaan, dan ketika sebuah komunitas tumbuh, perbedaan tersebut semakin sulit diabaikan.

Ketika Manfaat bagi Komunitas Menjadi Dampak bagi Warga Sekitar

Sound horeg tidak berlangsung di ruang yang sepenuhnya dimiliki komunitas.

Suara yang bagi peserta merupakan energi dan hiburan dapat berarti kehilangan ketenangan bagi warga sekitar. Perangkat yang bagi komunitas merupakan simbol kreativitas dapat dipersepsikan sebagai gangguan oleh orang yang tidak terlibat.

Persoalannya kemudian tidak lagi sekadar soal selera.

Dilansir RRI Sumenep, level suara sound horeg dapat mencapai 120 hingga 135 desibel, jauh melampaui ambang batas kebisingan kawasan permukiman sebesar 55 desibel pada siang hari sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996.

WHO Guidelines for Community Noise menyebut paparan suara di atas 85 desibel dalam durasi panjang dapat merusak pendengaran secara permanen serta berkaitan dengan stres, gangguan tidur, dan tekanan darah tinggi (WHO, 1999).

Penolakan publik juga telah terekam dalam penelitian. Studi resepsi khalayak terhadap komentar pengguna Instagram pada tiga unggahan akun @malangraya_info sepanjang 2024 menemukan pembacaan oposisional sebagai posisi yang paling menonjol. Komentar dengan interaksi tertinggi mempertanyakan legitimasi sound horeg sebagai budaya dan menyoroti dampaknya terhadap kesehatan warga (Sufa & Pradhipta, 2025).

Penelitian tersebut hanya menganalisis sembilan komentar terpilih, sehingga temuannya tidak dapat digunakan untuk menyatakan proporsi opini publik secara keseluruhan. Namun, temuan tersebut cukup untuk menunjukkan adanya friksi antara komunitas dan sebagian publik di luarnya.

Di satu sisi ada identitas, hiburan, solidaritas, dan aktivitas ekonomi. Di sisi lain ada ketenangan, kesehatan, dan hak atas ruang publik.

Karena itu, persoalannya tidak sesederhana menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Satu aktivitas dapat menghasilkan value bagi satu kelompok sekaligus menciptakan externality bagi kelompok lain.

Bagi komunitas, suara keras merupakan bagian dari pengalaman. Bagi warga sekitar, suara yang sama dapat menjadi biaya sosial.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana value yang diciptakan komunitas dapat dipertahankan tanpa seluruh social cost-nya ditanggung oleh orang yang berada di luar komunitas.

Saat Pertumbuhan Membutuhkan Tata Kelola

Pertumbuhan juga mengubah siapa saja yang memiliki kepentingan.

Ketika aktivitas masih berada di dalam lingkaran komunitas, aturan informal mungkin cukup untuk mengaturnya. Namun ketika aktivitas menggunakan ruang publik dan berdampak kepada non-member, keputusan tidak lagi sepenuhnya berada di tangan komunitas.

Warga masuk. Pemerintah masuk. Regulator masuk.

Kerangka hukum untuk mengatur aktivitas di ruang publik sebenarnya sudah tersedia. Hukumonline menjelaskan bahwa acara di ruang terbuka seperti pesta pernikahan, karnaval, dan arak-arakan memerlukan izin keramaian dari kepolisian, sementara penyelenggaraan tanpa izin dapat dikenai ketentuan hukum yang berlaku. Kajian hukum normatif di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur juga menempatkan penggunaan sound horeg yang mengabaikan ambang kebisingan dan izin otoritas setempat sebagai persoalan ketertiban umum (Nugraha, 2025; Gilbranza, 2025).

Penindakan pun telah terjadi. Polresta Malang Kota melarang kegiatan sound horeg di wilayah hukumnya pada Juli 2025 setelah menerima aduan warga mengenai gangguan terhadap lansia, anak-anak, kegiatan belajar, ibadah, dan waktu istirahat (Sari, 2025).

Namun, fenomena ini tidak harus berhenti pada pilihan antara pelarangan dan pembiaran.

Dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Teguh Tri Wahyudi, melihat sound horeg sebagai perjumpaan antara tradisi lokal seperti bersih desa dan karnaval dengan teknologi audio yang semakin canggih. Ia mendorong praktik tersebut menjadi momentum untuk menyusun tata kelola hiburan rakyat yang lebih sehat dan aman, alih-alih sekadar dimusuhi (RRI Malang, 2026).

Komposer Embie C Noer juga menyoroti persoalan teknis-kultural dalam perdebatan tersebut dengan membedakan antara keras dan jelas: amplifikasi yang tinggi tidak otomatis menghasilkan artikulasi suara yang lebih baik (Rohman, 2025).

Perspektif ini membuka kemungkinan lain: tata kelola.

Lokasi dapat diatur. Waktu dapat dibatasi. Tingkat kebisingan dapat diukur. Izin dapat diperjelas. Mekanisme pengaduan dapat dibuat. Penyelenggara dapat memiliki tanggung jawab yang lebih jelas terhadap warga sekitar.

Pendekatan semacam ini tidak harus berarti menghilangkan ruang bagi komunitas. Aturan yang jelas justru dapat membantu memastikan bahwa aktivitas ekonomi dan hiburan yang telah tumbuh tidak terus-menerus berhadapan dengan konflik yang sama.

Ketika sebuah ekosistem semakin besar, kemampuan mengelola dampaknya menjadi bagian dari kemampuan untuk bertahan.

Apa yang Perlu Dipertimbangkan Brand?

Bagi brand, sound horeg memiliki karakteristik yang menarik.

Komunitasnya memiliki identitas. Aktivitasnya memiliki cultural relevance. Audience-nya terbentuk secara organik. Engagement tidak hanya terjadi secara digital, tetapi juga melalui pengalaman offline. Yang tidak kalah penting, aktivitas ekonominya sudah berjalan sebelum brand datang.

Artinya, brand tidak sedang memasuki ruang kosong.

Brand masuk ke dalam ekosistem yang sudah memiliki sejarah, reputasi, hierarki informal, nilai, dan batas autentisitasnya sendiri.

Karena itu, komunitas tidak cukup dilihat sebagai kumpulan audience. Pertanyaan yang perlu dijawab juga menyangkut bagaimana komunitas tersebut dipersepsikan oleh orang di luar komunitas, siapa saja yang terdampak oleh aktivitasnya, apakah terdapat isu regulasi yang perlu diperhatikan, dan ketika brand masuk, reputasi siapa yang ikut terbawa.

Ini penting karena community relevance tidak selalu sama dengan public legitimacy.

Sebuah komunitas dapat sangat relevan bagi target audience tertentu, tetapi tetap memiliki friksi sosial di luar komunitasnya.

Bukan berarti komunitas tersebut tidak layak didekati. Justru komunitas dengan cultural energy yang tinggi sering kali memiliki potensi untuk menciptakan kedekatan yang sulit dibangun melalui iklan biasa.

Namun, semakin kuat cultural relevance sebuah komunitas, semakin penting pula bagi brand untuk memahami konteks di sekitarnya.

Keputusan untuk masuk seharusnya tidak hanya mempertimbangkan apa yang bisa diperoleh dari komunitas, tetapi juga asosiasi yang ikut terbawa ketika brand menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Pada akhirnya, brand tidak hanya membeli akses kepada audience. Brand juga ikut masuk ke dalam cerita komunitas.

Community Growth Juga Membutuhkan Community Maturity

Sound horeg menunjukkan bahwa komunitas dapat melakukan jauh lebih banyak daripada sekadar mengumpulkan orang dengan minat yang sama.

Komunitas dapat menciptakan demand, dan demand tersebut melahirkan supply. Supply kemudian menciptakan transaksi. Reputasi membedakan pelaku, sementara aktivitas ekonomi membuka peluang bagi pelaku lain di sekitarnya.

Dari proses tersebut, sebuah komunitas dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi lokal.

Itulah sisi yang sering hilang ketika sound horeg hanya dibicarakan sebagai persoalan kebisingan.

Namun, sisi lainnya juga penting. Semakin besar komunitas, semakin besar aktivitasnya. Semakin besar aktivitas, semakin besar pula jejaknya terhadap ruang publik. Dan semakin besar jejak tersebut, semakin banyak orang yang memiliki kepentingan terhadap bagaimana komunitas itu tumbuh.

Karena itu, pertumbuhan komunitas pada akhirnya bukan hanya soal scale. Ia juga soal maturity.

Bagi pelaku sound horeg, kematangan dapat berarti kemampuan menjaga ruang bagi ekspresi sekaligus mengelola dampaknya terhadap masyarakat sekitar.

Bagi pemerintah, tantangannya adalah menciptakan aturan yang memungkinkan aktivitas ekonomi dan budaya lokal tetap hidup tanpa mengabaikan kepentingan publik.

Bagi brand, tantangannya adalah melihat komunitas sebagai ekosistem, bukan sekadar audience.

Dan bagi komunitas mana pun yang sedang tumbuh, ada pelajaran yang lebih luas.

Ketika sebuah komunitas masih kecil, ia dapat menentukan sendiri apa yang dianggap bernilai. Ketika ia menjadi besar, semakin banyak orang ikut menentukan apakah keberadaannya dapat diterima.

Growth membuat komunitas lebih besar. Economic value membuatnya lebih penting. Namun, legitimacy menentukan apakah ia punya ruang untuk terus tumbuh.

Sound horeg, pada akhirnya, bukan hanya cerita tentang seberapa keras sebuah sound system dapat berbunyi. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah komunitas menciptakan pasar dari bawah, menggerakkan ekonomi di sekitarnya, membangun identitasnya sendiri, lalu harus belajar bernegosiasi dengan dunia yang semakin luas.

Mungkin, di situlah tantangan terbesar community-led growth berada: bukan sekadar bagaimana membuat komunitas tumbuh, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut tetap punya tempat di tengah masyarakat yang lebih besar.

Referensi

Al Faruq, D. U. (2025, 28 Juli). Sound horeg merebak, budayakah atau gangguan sosial? Metro TV News. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.metrotvnews.com/read/b3JCpGYq-sound-horeg-merebak-budayakah-atau-gangguan-sosial

Alvirtyantoro, R. (2024, 17 Agustus). 6 fakta menarik fenomena sound horeg. Medcom.id. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.medcom.id/hiburan/indis/ZkeZwG8K-6-fakta-menarik-fenomena-sound-horeg

Atmam, A. (2024, 2 Desember). Sejarah sound horeg: Ada sejak 2000-an. Good News From Indonesia. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/infographic/sejarah-sound-horeg-ada-sejak-2000-an

Auliana, R., Sudrajat, A., & Inayah, N. (2025). Sound horeg sebagai representasi identitas sosial: Studi fenomenologis remaja di Kabupaten Lumajang. Jurnal IKADBUDI, 14(1). https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v14i1.85958

Gilbranza, R. S. (2025). Analisis yuridis penggunaan sound horeg sebagai bentuk pelanggaran ketertiban umum di masyarakat [Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur]. Repository UPN "Veteran" Jawa Timur. Diakses pada 7 September 2026, dari https://repository.upnjatim.ac.id/43683/1/21071010221_Cover.pdf

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. (Dikutip secara sekunder melalui RRI Sumenep, t.t.)

Margaretha, P. A. (2026). Etika komunikasi dalam praktik sound horeg di masyarakat Kota Malang [Skripsi, Universitas Amikom Purwokerto]. Repository Universitas Amikom Purwokerto. Diakses pada 7 September 2026, dari https://eprints.amikompurwokerto.ac.id/id/eprint/3362/3/ABSTRAK.pdf

Nugraha, M. R. (2025, 28 Juli). Potensi sanksi hukum sound horeg. Hukumonline. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.hukumonline.com/klinik/a/menggugat-perusahaan-yang-menimbulkan-polusi-suara-lt560debc23cebe/

Rohman, M. F. (2025, 1 Agustus). Komposer soroti kesalahpahaman budaya sound horeg: Keras bukan berarti jelas. NU Online. Diakses pada 7 September 2026, dari https://nu.or.id/nasional/komposer-soroti-kesalahpahaman-budaya-sound-horeg-keras-bukan-berarti-jelas-bb56S

RRI Bengkulu. (2026). Fenomena sound horeg: Antara hiburan, etika sosial, dan dampak kesehatan. Radio Republik Indonesia. Diakses pada 7 September 2026, dari https://rri.co.id/bengkulu/hiburan/2618744/fenomena-sound-horeg-antara-hiburan-etika-sosial-dan-dampak-kesehatan

RRI Malang. (2026, 28 Juli). Sound horeg, perjumpaan tradisi dan teknologi, perlu ditata bukan dimusuhi. Radio Republik Indonesia. Diakses pada 7 September 2026, dari https://rri.co.id/malang/budaya/2604797/sound-horeg-perjumpaan-tradisi-dan-teknologi-perlu-ditata-bukan-dimusuhi

RRI Sumenep. (t.t.). Kontroversi sound horeg: Antara hiburan dan kebisingan. Radio Republik Indonesia. [NEED SOURCE/DATA: nama penulis dan tanggal terbit]. Diakses pada 7 September 2026, dari https://rri.co.id/sumenep/sudut-pandang/1730284/kontroversi-sound-horeg-antara-hiburan-dan-kebisingan

Sari, P. P. (2025, 16 Juli). Sound horeg resmi dilarang di Kota Malang, ini asal usul dan kontroversinya. Metro TV News. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.metrotvnews.com/read/KvJCLR9W-sound-horeg-resmi-dilarang-di-kota-malang-ini-asal-usul-dan-kontroversinya

Sufa, F. A., & Pradhipta, A. Y. (2025). "Sound horeg" dan pembacaan oposisional: Analisis konten Instagram @malangraya_info dalam memaknai sound horeg. Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik, 5(2), 127–142. https://doi.org/10.20885/cantrik.vol5.iss2.art3

World Health Organization. (1999). Guidelines for community noise.

Curated For You

Editorial Team