Sound horeg menunjukkan bahwa komunitas dapat melakukan jauh lebih banyak daripada sekadar mengumpulkan orang dengan minat yang sama.
Komunitas dapat menciptakan demand, dan demand tersebut melahirkan supply. Supply kemudian menciptakan transaksi. Reputasi membedakan pelaku, sementara aktivitas ekonomi membuka peluang bagi pelaku lain di sekitarnya.
Dari proses tersebut, sebuah komunitas dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi lokal.
Itulah sisi yang sering hilang ketika sound horeg hanya dibicarakan sebagai persoalan kebisingan.
Namun, sisi lainnya juga penting. Semakin besar komunitas, semakin besar aktivitasnya. Semakin besar aktivitas, semakin besar pula jejaknya terhadap ruang publik. Dan semakin besar jejak tersebut, semakin banyak orang yang memiliki kepentingan terhadap bagaimana komunitas itu tumbuh.
Karena itu, pertumbuhan komunitas pada akhirnya bukan hanya soal scale. Ia juga soal maturity.
Bagi pelaku sound horeg, kematangan dapat berarti kemampuan menjaga ruang bagi ekspresi sekaligus mengelola dampaknya terhadap masyarakat sekitar.
Bagi pemerintah, tantangannya adalah menciptakan aturan yang memungkinkan aktivitas ekonomi dan budaya lokal tetap hidup tanpa mengabaikan kepentingan publik.
Bagi brand, tantangannya adalah melihat komunitas sebagai ekosistem, bukan sekadar audience.
Dan bagi komunitas mana pun yang sedang tumbuh, ada pelajaran yang lebih luas.
Ketika sebuah komunitas masih kecil, ia dapat menentukan sendiri apa yang dianggap bernilai. Ketika ia menjadi besar, semakin banyak orang ikut menentukan apakah keberadaannya dapat diterima.
Growth membuat komunitas lebih besar. Economic value membuatnya lebih penting. Namun, legitimacy menentukan apakah ia punya ruang untuk terus tumbuh.
Sound horeg, pada akhirnya, bukan hanya cerita tentang seberapa keras sebuah sound system dapat berbunyi. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah komunitas menciptakan pasar dari bawah, menggerakkan ekonomi di sekitarnya, membangun identitasnya sendiri, lalu harus belajar bernegosiasi dengan dunia yang semakin luas.
Mungkin, di situlah tantangan terbesar community-led growth berada: bukan sekadar bagaimana membuat komunitas tumbuh, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut tetap punya tempat di tengah masyarakat yang lebih besar.
Referensi
Al Faruq, D. U. (2025, 28 Juli). Sound horeg merebak, budayakah atau gangguan sosial? Metro TV News. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.metrotvnews.com/read/b3JCpGYq-sound-horeg-merebak-budayakah-atau-gangguan-sosial
Alvirtyantoro, R. (2024, 17 Agustus). 6 fakta menarik fenomena sound horeg. Medcom.id. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.medcom.id/hiburan/indis/ZkeZwG8K-6-fakta-menarik-fenomena-sound-horeg
Atmam, A. (2024, 2 Desember). Sejarah sound horeg: Ada sejak 2000-an. Good News From Indonesia. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/infographic/sejarah-sound-horeg-ada-sejak-2000-an
Auliana, R., Sudrajat, A., & Inayah, N. (2025). Sound horeg sebagai representasi identitas sosial: Studi fenomenologis remaja di Kabupaten Lumajang. Jurnal IKADBUDI, 14(1). https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v14i1.85958
Gilbranza, R. S. (2025). Analisis yuridis penggunaan sound horeg sebagai bentuk pelanggaran ketertiban umum di masyarakat [Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur]. Repository UPN "Veteran" Jawa Timur. Diakses pada 7 September 2026, dari https://repository.upnjatim.ac.id/43683/1/21071010221_Cover.pdf
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. (Dikutip secara sekunder melalui RRI Sumenep, t.t.)
Margaretha, P. A. (2026). Etika komunikasi dalam praktik sound horeg di masyarakat Kota Malang [Skripsi, Universitas Amikom Purwokerto]. Repository Universitas Amikom Purwokerto. Diakses pada 7 September 2026, dari https://eprints.amikompurwokerto.ac.id/id/eprint/3362/3/ABSTRAK.pdf
Nugraha, M. R. (2025, 28 Juli). Potensi sanksi hukum sound horeg. Hukumonline. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.hukumonline.com/klinik/a/menggugat-perusahaan-yang-menimbulkan-polusi-suara-lt560debc23cebe/
Rohman, M. F. (2025, 1 Agustus). Komposer soroti kesalahpahaman budaya sound horeg: Keras bukan berarti jelas. NU Online. Diakses pada 7 September 2026, dari https://nu.or.id/nasional/komposer-soroti-kesalahpahaman-budaya-sound-horeg-keras-bukan-berarti-jelas-bb56S
RRI Bengkulu. (2026). Fenomena sound horeg: Antara hiburan, etika sosial, dan dampak kesehatan. Radio Republik Indonesia. Diakses pada 7 September 2026, dari https://rri.co.id/bengkulu/hiburan/2618744/fenomena-sound-horeg-antara-hiburan-etika-sosial-dan-dampak-kesehatan
RRI Malang. (2026, 28 Juli). Sound horeg, perjumpaan tradisi dan teknologi, perlu ditata bukan dimusuhi. Radio Republik Indonesia. Diakses pada 7 September 2026, dari https://rri.co.id/malang/budaya/2604797/sound-horeg-perjumpaan-tradisi-dan-teknologi-perlu-ditata-bukan-dimusuhi
RRI Sumenep. (t.t.). Kontroversi sound horeg: Antara hiburan dan kebisingan. Radio Republik Indonesia. [NEED SOURCE/DATA: nama penulis dan tanggal terbit]. Diakses pada 7 September 2026, dari https://rri.co.id/sumenep/sudut-pandang/1730284/kontroversi-sound-horeg-antara-hiburan-dan-kebisingan
Sari, P. P. (2025, 16 Juli). Sound horeg resmi dilarang di Kota Malang, ini asal usul dan kontroversinya. Metro TV News. Diakses pada 7 September 2026, dari https://www.metrotvnews.com/read/KvJCLR9W-sound-horeg-resmi-dilarang-di-kota-malang-ini-asal-usul-dan-kontroversinya
Sufa, F. A., & Pradhipta, A. Y. (2025). "Sound horeg" dan pembacaan oposisional: Analisis konten Instagram @malangraya_info dalam memaknai sound horeg. Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik, 5(2), 127–142. https://doi.org/10.20885/cantrik.vol5.iss2.art3
World Health Organization. (1999). Guidelines for community noise.