Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IKLK Turun, Talenta AI Naik: Apa yang Terjadi di Pasar Kerja Indonesia
ilustrasi pencari kerja (pexels.com/Ron Lach)
  • IKLK turun 8,9 poin sejak Februari hingga Juni 2026, mencerminkan pelemahan persepsi peluang kerja; kelompok non-diploma/sarjana dan usia di atas 41 tahun sudah pesimistis.
  • Data Kemnaker mencatat 32.389 PHK pada Januari–Juni 2026, sementara estimasi lain mencapai sekitar 43 ribu; manufaktur disebut sebagai salah satu penyumbang terbesar.
  • Konsentrasi talenta AI Indonesia di LinkedIn tumbuh 191% sepanjang 2016–2024, tetapi kesiapan SDM digital masih timpang antarwilayah meski investasi dan pelatihan AI meningkat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keyakinan masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja terus melemah sepanjang semester pertama 2026. Namun pada saat yang sama, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan konsentrasi talenta AI yang cukup tinggi menurut Stanford HAI.

Sekilas, kedua temuan tersebut tampak saling bertolak belakang. Di satu sisi, optimisme masyarakat terhadap peluang kerja terus menurun. Di sisi lain, talenta AI Indonesia tumbuh pesat. Namun jika dibaca secara bersamaan, keduanya mengisyaratkan bahwa perubahan di pasar kerja Indonesia tidak terjadi secara merata. Sementara peluang di banyak sektor konvensional melemah, permintaan terhadap keterampilan tertentu, termasuk AI, terus meningkat.

Persepsi Lapangan Kerja Memang Melemah

Bank Indonesia (BI) secara rutin mengukur optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi melalui Survei Konsumen. Salah satu indikator yang digunakan adalah Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), yang menggambarkan persepsi masyarakat terhadap peluang memperoleh pekerjaan. Sepanjang semester pertama 2026, pergerakan IKLK menunjukkan tren sebagai berikut.

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK)

Bulan

IKLK

Januari 2026

109,9

Februari 2026

110,7

Maret 2026

107,8

April 2026

108,8

Mei 2026

105,0

Juni 2026

101,8

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) dari Bank Indonesia (2026)

Secara teknis, nilai di atas 100 masih berada di zona optimistis. Namun, pada Juni 2026 jarak IKLK terhadap ambang batas pesimistis sudah semakin tipis. Meski pergerakannya tidak terus menurun setiap bulan, karena sempat menguat pada April 2026, arah trennya tetap menunjukkan pelemahan. Sejak mencapai puncaknya pada Februari 2026, IKLK telah turun 8,9 poin dalam kurun empat bulan (Bank Indonesia, 2026a; 2026b).

Rincian BI juga menunjukkan bahwa pelemahan persepsi ini tidak dirasakan secara merata. Pada Juni 2026, responden berpendidikan sarjana (IKLK 109,0) dan akademi/diploma (101,2) masih berada di zona optimistis. Sementara itu, kelompok pendidikan lainnya sudah memasuki zona pesimistis. Berdasarkan kelompok usia, responden berusia di atas 41 tahun juga telah menunjukkan sikap pesimistis terhadap ketersediaan lapangan kerja (Bank Indonesia, 2026b).

Temuan tersebut sejalan dengan pernyataan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, yang menilai penurunan keyakinan publik terhadap lapangan kerja merupakan kondisi yang wajar di tengah tekanan geopolitik global. Menurutnya, lonjakan harga energi dan bahan baku impor turut meningkatkan biaya produksi sehingga memengaruhi kondisi ketenagakerjaan (dikutip dalam Kompas.com, 2026).

Gambaran ini juga diperkuat oleh data ketenagakerjaan, meski terdapat beberapa angka yang perlu dibedakan berdasarkan sumbernya. Data resmi Satudata Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 32.389 pekerja terkena PHK sepanjang Januari–Juni 2026, dengan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah PHK tertinggi, yaitu 6.727 kasus atau 20,77% dari total nasional (Bisnis.com, 2026; Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, 2026). Secara bulanan, jumlah PHK dalam data resmi tersebut justru menunjukkan kecenderungan menurun, dari 7.692 kasus pada Februari menjadi 588 kasus pada Juni (Bisnis.com, 2026).

Di luar data resmi tersebut, Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker, Anwar Sanusi, menyampaikan estimasi bahwa jumlah kasus PHK hingga Juni 2026 dapat mencapai sekitar 43 ribu kasus. Ia juga menyebut sektor manufaktur sebagai salah satu penyumbang terbesar PHK secara nasional (Tempo.co, 2026). Secara terpisah, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menilai jumlah PHK yang terjadi di lapangan kemungkinan lebih tinggi daripada data resmi karena tidak semua perusahaan melaporkan kasus PHK kepada Dinas Ketenagakerjaan daerah (Detik.com, 2026).

Secara keseluruhan, berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap peluang memperoleh pekerjaan memang sedang melemah, meskipun besarnya PHK masih bergantung pada sumber data yang digunakan.

Permintaan Terhadap Keterampilan Tertentu Meningkat

Di tengah pelemahan persepsi terhadap lapangan kerja, ada sinyal berbeda jika dilihat dari sisi kebutuhan akan keterampilan tertentu, khususnya di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI).

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan tersebut berasal dari Artificial Intelligence Index Report 2025 yang diterbitkan Stanford HAI. Namun, sebelum melihat hasilnya, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, data yang digunakan berasal dari LinkedIn, bukan sensus tenaga kerja, sehingga tidak merepresentasikan seluruh angkatan kerja Indonesia. Kedua, Stanford HAI secara eksplisit mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan cakupan keanggotaan LinkedIn yang relatif rendah dibanding ukuran angkatan kerjanya, bersama Hungaria, India, dan Korea Selatan. Oleh karena itu, temuan untuk negara-negara tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati (Stanford HAI, 2025).

Berdasarkan Figure 4.2.18 dalam Artificial Intelligence Index Report 2025, konsentrasi talenta AI Indonesia tumbuh 191% sepanjang 2016–2024. Yang dimaksud dengan konsentrasi talenta AI adalah proporsi anggota LinkedIn yang mencantumkan sedikitnya dua keterampilan AI dan/atau sedang atau pernah bekerja pada pekerjaan yang berkaitan dengan AI. Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 15 negara yang ditampilkan dalam sampel 48 negara.

Artificial Intelligence Index Report 2025

Temuan ini menunjukkan bahwa proporsi anggota LinkedIn di Indonesia yang memiliki keterampilan atau pengalaman kerja di bidang AI meningkat cukup pesat selama periode tersebut. Namun, angka 191% tidak berarti jumlah pekerja AI Indonesia bertambah sebesar 191% secara absolut. Yang diukur adalah pertumbuhan konsentrasi atau proporsi talenta AI di dalam basis pengguna LinkedIn.

Catatan metodologi
Artikel ini menggunakan Artificial Intelligence Index Report 2025 karena metrik konsentrasi talenta AI berbasis LinkedIn tidak lagi disajikan dalam edisi 2026. Pada edisi terbaru, Stanford HAI beralih menggunakan data Lightcast dengan pendekatan pengukuran yang berbeda sehingga hasil kedua edisi tidak dapat dibandingkan secara langsung.

Perubahan Permintaan Tenaga Kerja

Sinyal pergeseran ini juga terlihat dari sumber lain dengan metodologi yang sama, yaitu LinkedIn Grad Guide 2025. Berdasarkan laporan tersebut, tiga jalur karier dengan pertumbuhan tercepat bagi lulusan universitas di Indonesia selama periode Januari 2022 hingga Desember 2024 adalah AI Engineer, Security Operations Center Analyst, dan Environmental Health Safety Specialist (Jakarta Globe, 2025).

Pada saat yang sama, laporan tersebut juga mencatat bahwa jumlah lowongan kerja yang tersedia per pelamar di Indonesia turun 11% dalam setahun, yakni dari Maret 2024 hingga Maret 2025 (Jakarta Globe, 2025).

Dua temuan dari sumber dan metodologi yang sama ini menunjukkan bahwa pelemahan pasar kerja tidak terjadi secara seragam. Di tengah menurunnya peluang kerja secara umum, kebutuhan terhadap keterampilan tertentu tetap tumbuh. Dengan kata lain, tantangan pasar kerja saat ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga dengan perubahan jenis kompetensi yang semakin dibutuhkan oleh industri.

Dalam konteks tersebut, pertumbuhan talenta AI tidak serta-merta bertentangan dengan pelemahan IKLK. Keduanya menggambarkan dua sisi dari perubahan yang sama: peluang kerja secara keseluruhan semakin kompetitif, sementara permintaan terhadap keterampilan tertentu, seperti AI, terus meningkat. Namun, basis lapangan kerja di sektor AI sendiri kemungkinan masih relatif kecil dibandingkan skala angkatan kerja Indonesia yang mencapai puluhan juta orang. Karena itu, pertumbuhan yang tinggi secara persentase belum tentu cukup untuk mengimbangi pelemahan lapangan kerja di sektor-sektor yang lebih besar.

Kesiapan Indonesia Menghadapi Pergeseran Ini

Jika permintaan terhadap talenta AI terus meningkat, pertanyaan berikutnya adalah apakah Indonesia sudah siap memenuhi kebutuhan tersebut. Sejauh ini, jawabannya masih belum sepenuhnya.

Laporan East Ventures-Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 yang disusun bersama Katadata Insight Center menunjukkan bahwa daya saing digital di 37 dari 38 provinsi meningkat, dengan median skor naik dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026. Di balik peningkatan tersebut, terdapat satu catatan penting. Pilar sumber daya manusia (SDM) digital menjadi satu-satunya komponen yang mengalami penurunan pada EV-DCI 2026, yakni sebesar 2,5 poin (East Ventures, 2026). Kesenjangan antardaerah juga masih cukup lebar. Skor SDM digital di Pulau Jawa tercatat sekitar 2,3 kali lebih tinggi dibanding Sumatra dan Kalimantan, serta hampir tiga kali lipat dibanding Maluku dan Papua (East Ventures, 2026).

Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan adopsi teknologi dan infrastruktur digital belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kualitas maupun pemerataan talenta digital. Kondisi tersebut tidak menjelaskan penyebab melemahnya IKLK, tetapi memberikan gambaran mengenai kesiapan Indonesia dari sisi pasokan talenta untuk menjawab perubahan kebutuhan keterampilan di pasar kerja.

Dari sisi ekosistem, investasi pada sektor AI di Indonesia juga terus bertumbuh. Berdasarkan laporan East Ventures (2025) mengenai peluang investasi startup berbasis AI, total investasi di sektor ini mencapai US$542,9 juta atau sekitar Rp8,6 triliun hingga 2024, meningkat 141,5% dibandingkan 2020.

Pemerintah dan sektor swasta juga mulai memperluas berbagai inisiatif pengembangan talenta AI. Komdigi bersama Microsoft meluncurkan elevAIte Indonesia pada Desember 2024 dengan target membekali satu juta talenta dengan keterampilan AI. Dalam delapan bulan, program tersebut telah melampaui target dengan menjangkau 1,2 juta peserta (Microsoft News Center Indonesia, 2024). Memasuki tahun kedua, program ini berganti nama menjadi Microsoft Elevate dengan target melatih 500 ribu talenta bersertifikat AI pada 2026, dengan fokus pada pengajar, pemimpin organisasi nirlaba, dan penggerak komunitas (Microsoft News Source Asia, 2026).

Selain itu, Komdigi juga menjalankan program Digital Talent Scholarship (DTS) 2025 yang menargetkan 100 ribu lulusan dari berbagai pelatihan, termasuk AI, keamanan siber, komputasi awan, dan coding sepanjang tahun (Kompas.com, 2025).

Penutup

Pelemahan IKLK tidak berarti seluruh peluang kerja di Indonesia menyusut secara merata. Sejumlah data menunjukkan bahwa permintaan terhadap keterampilan tertentu, termasuk AI, tetap meningkat meski pasar kerja secara umum sedang mengalami pengetatan. Artinya, perubahan yang terjadi bukan hanya terkait jumlah lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga jenis keterampilan yang semakin dibutuhkan oleh industri.

Ke depan, tantangan Indonesia tidak hanya terletak pada upaya mencetak lebih banyak talenta AI. Yang tidak kalah penting adalah memastikan kebutuhan terhadap keterampilan tersebut dapat berkembang secara lebih luas dan merata sehingga mampu membuka lebih banyak peluang kerja di berbagai daerah dan sektor.

Curated For You

Editorial Team