Perencanaan makanan merupakan salah satu sinyal bahwa konsumen semakin aktif mengatur pengeluaran sebelum berbelanja. Data PwC menunjukkan bahwa intensi tersebut muncul sebagai respons terhadap tekanan biaya hidup. Data NIQ dan Worldpanel melengkapi gambaran itu melalui pola pengelolaan keranjang, penyempitan pilihan merek di sejumlah kategori, perpindahan kanal, dan meningkatnya peran promosi dalam keputusan pembelian.
Kombinasi temuan tersebut menunjukkan bahwa persaingan FMCG semakin ditentukan oleh kemampuan merek menjadi bagian dari kebutuhan yang sudah direncanakan konsumen. Ketika rumah tangga mempertahankan keragaman kategori tetapi membatasi jumlah merek yang dibeli, mempertahankan permintaan kategori saja tidak cukup. Brand juga harus mempertahankan tempat dalam pilihan rumah tangga dan memastikan produk tersedia ketika kebutuhan tersebut dipenuhi.
Pertanyaan strategis bagi marketer bukan lagi sekadar berapa banyak volume yang berhasil dibangun melalui promosi dan bundling, melainkan berapa bagian dari volume tersebut yang menghasilkan pembelian berulang. Pertumbuhan yang berasal dari produk yang masuk ke daftar belanja rutin memiliki dasar yang berbeda dibandingkan pertumbuhan yang hanya bergantung pada dorongan promosi sesaat. Pembedaan ini penting ketika brand mengevaluasi efektivitas promosi, pengembangan kemasan, dan investasi distribusi.
Ke depan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah apakah peningkatan volume per transaksi yang dicatat Worldpanel pada kuartal pertama 2026 akan bertahan pada kuartal tanpa momen hari raya. Jika pola tersebut berlanjut, konsolidasi belanja dapat menjadi karakteristik yang semakin penting dalam strategi FMCG, terutama untuk pengembangan kemasan stok, bundling berbasis kebutuhan, dan ketersediaan produk di kanal utama. Sebaliknya, jika volume per transaksi melemah dan frekuensi belanja kembali meningkat, strategi pengisian ulang, kemasan yang lebih fleksibel, dan distribusi lintas kanal akan semakin menentukan.
Dalam kedua kondisi tersebut, kemampuan membaca bagaimana konsumen merencanakan makanan, mengatur kebutuhan, dan memilih produk akan menjadi dasar bagi brand untuk mempertahankan relevansi. Meal planning bukan sekadar perubahan cara konsumen menyusun menu. Bagi industri FMCG, praktik ini memperlihatkan bagaimana keputusan pembelian semakin terbentuk sebelum transaksi terjadi, sehingga persaingan untuk mendapatkan tempat dalam keranjang belanja juga dimulai lebih awal.
Referensi
Access to Nutrition initiative. (2025). Indonesia retail assessment 2025: Country report. Diakses pada 2 November 2026, dari https://accesstonutrition.org/app/uploads/2025/11/20251127_Indonesia_Retail_Assessment_Country_Report_1.pdf
NielsenIQ. (2024). Indonesia's consumer outlook: A guide to 2025. Diakses pada 2 November 2026, dari https://nielseniq.com/global/en/wp-content/uploads/sites/4/2024/11/indonesia-mid-year-consumer-outlook-guide-to-2025.pdf
PwC Indonesia. (2025a, 8 Juli). Ketidakstabilan ekonomi dan tekanan biaya hidup pengaruhi keputusan dan prioritas konsumen Indonesia, menurut survei Voice of the Consumer 2025 dari PwC [Siaran pers]. Diakses pada 2 November 2026, dari https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2025/indonesian/ketidakstabilan-ekonomi-dan-tekanan-biaya-hidup-pengaruhi-keputusan-dan-prioritas-konsumen-indonesia-menurut-survei-voice-of-the-consumer-2025-dari-pwc.html
PwC Indonesia. (2025b). PwC's Voice of the Consumer 2025: Indonesian consumer key takeaways [Infografis]. Diakses pada 2 November 2026, dari https://www.pwc.com/id/en/consumer-industrial-products-services/voice-of-the-consumer-2025-indonesia.pdf
Worldpanel by Numerator. (2026a, 11 Juni). Indonesia FMCG Monitor Q1 2026. Diakses pada 2 November 2026, dari https://worldpanelbynumerator.com/insights/indonesia-fmcg-monitor-q1-2026
Worldpanel by Numerator. (2026b, 8 Juni). Shoppers' quest for value and inspiration is reshaping Indonesian FMCG. Diakses pada 2 November 2026, dari https://worldpanelbynumerator.com/insights/indonesia-fmcg-outlook-2026