Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonomi Persona King Nassar: Dari Nastar Bong ke Tiket Istora, Ludes
Nassar Meal yang diunggah akun arifwhy (instagram.com/arifwhy)
  • Hampir 6.000 tiket konser perdana King Nassar, Lost in the Jungle di Istora Senayan pada 7 November 2026, habis kurang dari lima menit.
  • Permintaan konser ditopang persona Nassar yang lama hadir lewat aksi panggung, meme, Nastar Bong, chant, dan parodi buatan audiens sejak 2021.
  • Penjualan eksklusif myBCA, batas empat tiket per akun, serta stok terbatas menciptakan urgensi; setelah habis, penggemar meminta tambahan hari dan venue lebih besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hampir 6.000 tiket konser tunggal King Nassar di Istora Senayan habis pada hari penjualan pertama. Angka itu mudah dibaca sebagai cerita tentang tiket yang laku keras. Namun, kecepatan penjualan hanya menunjukkan apa yang terjadi di ujung proses. Ia tidak menjelaskan dari mana pembelinya datang dengan keinginan untuk menonton.

Kasus ini menarik karena permintaan tersebut tampaknya tidak dimulai ketika tiket mulai dijual pada Agustus 2026. Jauh sebelumnya, nama Nassar sudah hidup di luar produk konser: muncul dalam meme, dibuatkan lightstick, diberi chant, dan terus dicari publik selama bertahun-tahun. Artikel ini membaca rangkaian tersebut sebagai studi kasus tentang bagaimana persona dapat membangun relevansi, bagaimana audiens ikut memperpanjangnya, dan bagaimana relevansi yang sudah terkumpul akhirnya dapat berubah menjadi permintaan ketika produk yang tepat tersedia.

Yang Perlu Dibahas dari Fenomena Tiket Nassar yang Sold Out

Konser tunggal Lost in the Jungle dijadwalkan berlangsung di Istora Senayan pada 7 November 2026, dipersembahkan Boss Creator bersama Vindes, dengan iringan langsung Erwin Gutawa. Melansir kumparan (2026), promotor menyebut hampir 6.000 tiket terjual habis dalam waktu kurang dari lima menit, dengan pembayaran seluruh transaksi rampung sekitar satu jam kemudian. Istilah fully booked merujuk pada tiket yang terkunci di keranjang pembeli, sementara konfirmasi pembayaran menyusul setelahnya.

Harga tiketnya sendiri berada di rentang Rp350.000 hingga Rp3.500.000, terbagi dalam enam kategori, menurut CNN Indonesia (2026a) dan Frame Daily (2026). Tiket Tribun 4A dan 4B dijual Rp350.000, Festival A dan B Rp600.000, Tribun 2A dan 2B Rp700.000, Tribun 1A dan 1B Rp1.000.000, VIP di Tribun A Rp2.500.000, dan VVIP Rp3.500.000 (CNA Indonesia, 2026). Istora Senayan sendiri berkapasitas 7.180 kursi dalam konfigurasi standar (Gelora Bung Karno, 2026). Namun, konser menggunakan area festival dan extension stage, sehingga kapasitas jualnya tidak bisa dibandingkan langsung dengan kapasitas standar gedung. Di sisi lain, BCA (2026) menetapkan batas maksimal empat tiket per akun myBCA, dengan penjualan berlangsung melalui kanal myBCA yang terhubung ke Tiket.com.

Dari sini, ada satu angka lain yang menarik. Jika hampir 6.000 tiket terjual dan setiap akun dibatasi maksimal empat tiket, jumlah akun pembeli secara teoritis berada di antara 1.500 dan 6.000.

Namun, angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan pasar yang mungkin tertarik pada konser ini. Tiket dijual secara eksklusif melalui aplikasi myBCA. Calon pembeli harus lebih dulu terdaftar sebagai pengguna myBCA, mengisi data pribadi sesuai KTP, lalu melakukan pembayaran melalui metode eksklusif BCA. Dengan kata lain, 1.500 sampai 6.000 akun tadi menggambarkan penyerapan di dalam kelompok konsumen yang sejak awal sudah tersaring oleh kanal penjualan. Data demografis pembeli sebenarnya berada di tangan promotor dan platform penjualan, tetapi belum tersedia untuk publik.

Sampai di sini, ceritanya masih berupa kabar hiburan. Yang membuatnya menarik sebagai studi kasus adalah pertanyaan di balik angka tersebut: mengapa konser tunggal Nassar bisa menghasilkan permintaan sebesar itu ketika tiket mulai dijual?

Jawabannya mungkin tidak berada di hari penjualan tiket. Sebelum konser ini diumumkan, nama Nassar sudah lama hadir dalam percakapan publik, dari penampilan panggung hingga meme, light stick, parodi, dan berbagai bentuk partisipasi audiens. Artinya, untuk memahami bagaimana tiket tersebut bisa terserap begitu cepat, kita perlu melihat kembali bagaimana relevansi Nassar terbentuk jauh sebelum ada produk konser yang bisa dibeli.

Persona sebagai Aset yang Ada Sebelum Produknya

Tiket memang baru dijual pada Agustus 2026, tetapi sesuatu yang membuat tiket itu menarik sudah terbentuk jauh sebelumnya. Dalam kasus Nassar, yang terakumulasi bukan sekadar popularitas, melainkan persona yang mudah dikenali dan terus muncul dalam berbagai konteks.

Persona itu terlihat dari atribut yang berulang dalam penampilannya: kostum yang berlebihan, energi tinggi, humor, dan totalitas di atas panggung. Dalam wawancara dengan Insert Live (2023), Nassar menjelaskan caranya mempersiapkan pertunjukan, termasuk kebiasaannya mengganti tampilan dan kostum di setiap acara festival agar penonton membawa kesan dari pertunjukan tersebut setelah acara selesai. Liputan6.com (2025) juga mendokumentasikan berbagai aksi panggungnya, mulai dari muncul dari properti nanas raksasa di Pestapora, memanjat tiang saat bernyanyi, hingga melempar souvenir ke arah penonton. Sementara itu, Kompas.id (2026) mencatat bagaimana penonton lintas usia ikut bergerak bersama sejak lagu pertama ketika Nassar tampil di sebuah pentas seni SMA.

Yang menarik, atribut seperti ini tidak berhenti bekerja ketika pertunjukannya selesai. Kostum, humor, cara tampil, dan aksi panggung tersebut menjadi bagian dari hal-hal yang mudah diingat dan dibicarakan ketika nama Nassar muncul, bahkan ketika ia sedang tidak menjual produk apa pun.

Selama lima tahun terakhir, publik terus menemukan Nassar di berbagai acara dan percakapan budaya. Belum ada konser tunggal berskala arena yang menjadi produk utama untuk dijual, tetapi sosok dan karakter panggungnya tetap beredar. Jadi ketika Lost in the Jungle diumumkan, promotor tidak benar-benar memperkenalkan Nassar dari awal kepada calon penonton. Mereka masuk ke pasar dengan persona yang sudah lebih dulu dikenal, dibicarakan, dan memiliki sejarah interaksi dengan audiens.

Di titik inilah konser tersebut menjadi menarik sebagai studi kasus. Yang mulai dikapitalisasi pada Agustus 2026 bukan popularitas yang muncul dalam semalam, melainkan relevansi yang sudah dikumpulkan Nassar jauh sebelum tiket tersedia.

Ketika Audiens Ikut Memproduksi Persona

Nastar Bong (tiktok.com/Mamangosa)

Titik yang paling jelas terlihat pada April 2021. Seorang pengguna TikTok memamerkan benda berbentuk bohlam berisi foto Nassar yang dipasang di atas per sehingga bisa bergoyang. Penggemar menamainya Nastar Bong, yang artinya lightstick Nastar. Dilansir Kompas.com (2021a), Nassar mengetahui keberadaan benda itu, membawanya ke studio sebuah program televisi, lalu berkomentar dengan bangga bahwa dirinya kini "kayak Korea Korea".

Liputan6.com (2021) mencatat satu detail yang membuat objek itu semakin menarik: Nastar Bong tidak menyala. Dalam kultur K-pop, lightstick berfungsi sebagai penanda kesatuan fandom di ruang konser yang gelap. Nastar Bong mengambil bentuk dan simbol tersebut, tetapi tanpa fungsi teknisnya. Yang tersisa adalah fungsi sebagai penanda bagi orang-orang yang ikut dalam lelucon dan fenomena Nassar saat itu. Cara menjualnya pun mulai menyerupai merchandise idol. WowKeren (2021) melaporkan benda itu dijual di kisaran Rp35.000, sejumlah toko daring menutup pemesanan karena kewalahan, dan sistem pre-order mulai diterapkan.

Dua bulan kemudian, pola yang sama muncul dalam skala yang lebih besar. McDonald's merilis BTS Meal di Indonesia pada 9 Juni 2021, dan mengutip Sindonews (2021), peluncuran itu memicu antrean pengemudi ojek daring yang mengular, lonjakan pesanan, hingga penutupan sementara sejumlah gerai. Wolipop (2021) melaporkan kreator digital Arif Wahyudi (@arifwhy) merancang parodi kemasan serba ungu bertuliskan "King Nassar" dan "Nassar Oppa Kiyowo", lengkap dengan logo yang menyerupai kolaborasi McDonald's dan BTS. Per 10 Juni 2021, unggahan itu mengumpulkan 26.859 likes dan 2.531 komentar, dan kreatornya mengaku tidak menduga karyanya menyebar seluas itu. Kompas.com (2021b) mencatat nama Nassar masuk trending Twitter pada 18 Juni 2021, dipicu antara lain oleh video Nassar berjoget bersama karyawan gerai KFC yang kompak membawa Nastar Bong, dengan sejumlah warganet menyatakan kesediaan mengantre andai menu khusus Nassar benar-benar dijual. Suara.com (2021) mendokumentasikan versi lain yang dibuat pengguna TikTok dengan kemasan fisik hasil rancangan sendiri. Matamata.com (2021) mencatat penggemar bahkan menyusun chant khusus untuk lagu "Gejolak Asmara".

Yang membuat rangkaian ini menarik adalah siapa yang memproduksinya. Light stick, parodi kemasan, chant, dan meme tersebut lahir dari audiens, bukan dari manajemen Nassar. Jenkins (2006) menyebut pola seperti ini sebagai participatory culture, yaitu kondisi ketika audiens media ikut memproduksi, memodifikasi, dan menyebarkan ulang materi kultural.

Setiap orang yang membuat sesuatu tentang Nassar juga membawanya ke lingkungan dan kanalnya sendiri. Satu lightstick bisa muncul di akun penggemar, parodi kemasan bisa dibagikan ulang oleh orang lain, dan chant bisa dipakai dalam konteks yang berbeda. Dari sana, Nassar punya semakin banyak bahan untuk kembali dibicarakan, tanpa semuanya harus berasal dari promosi resmi.

Itulah yang membuat percakapan tentang Nassar tidak berhenti ketika satu konten selesai beredar. Audiens terus membuat versi baru, membagikannya, lalu memberi orang lain alasan untuk ikut membuat versi mereka sendiri. Persona Nassar akhirnya tidak hanya hidup melalui apa yang dibuat oleh manajemennya, tetapi juga melalui materi yang dibuat audiens secara sukarela.

Bingkai yang lahir pada 2021 itu masih muncul bertahun-tahun kemudian. Pada September 2024, kompilasi aksi panggung Nassar di sebuah acara di Bandung beredar dengan sebutan "nassar core", dan dalam liputan yang sama ia disebut kerap disapa Oppa Nassar Kiyowo (JagoDangdut, 2024), julukan yang berasal dari periode Nastar Bong dan Nassar Meal. Pada Juli 2026, dua bulan sebelum tiket dijual, Nassar kembali ramai dibicarakan setelah memamerkan hasil dietnya, dengan pemberitaan yang mengaitkannya pada ketertarikan terhadap idol K-pop (tvOnenews, 2026). Bingkai yang dimulai audiens lima tahun sebelumnya masih digunakan untuk membaca Nassar tepat menjelang penjualan tiket.

Pilihan simbol yang digunakan audiens juga menarik. Mereka mengambil perangkat yang identik dengan fandom global, seperti light stick, chant, penamaan, dan kemasan kolaborasi, lalu memusatkannya pada figur domestik. Dalam konteks ini, Nastar Bong bukan hanya lelucon tentang Nassar. Bentuknya mengambil simbol yang sudah akrab dalam budaya K-pop, yaitu light stick, lalu menggunakannya untuk menciptakan rasa kebersamaan di antara orang-orang yang ikut dalam lelucon tersebut. Tajfel dan Turner (1979) menjelaskan bahwa simbol bersama dapat membantu orang mengenali dirinya sebagai bagian dari kelompok.

Batas antara humor dan perilaku fandom pun menjadi lebih cair. Sebagian besar pelakunya kemungkinan besar memperlakukan rangkaian ini sebagai humor. Namun, itu tidak berarti pengalaman yang terbentuk di sekitarnya sepenuhnya berbeda dari pengalaman fandom. Seseorang bisa datang karena lelucon, ikut membuat meme, membeli benda yang menjadi bagian dari lelucon tersebut, lalu merasa menjadi bagian dari kelompok yang sama. Humor dan fandom dapat berjalan bersamaan.

Lima Tahun Kemudian, yang Dicari Publik Tetap Orangnya

IDNR menelusuri Google Trends untuk wilayah Indonesia dari 1 Januari 2021 sampai 3 September 2026. Yang dibandingkan adalah topik Nassar sebagai entitas penyanyi Indonesia dengan dua istilah pencarian, yaitu "king nassar" dan "konser nassar".

Rata-rata minat pencariannya cukup berbeda: Nassar berada di angka 18, "king nassar" di angka 3, dan "konser nassar" di angka 0.

Angka ini perlu dibaca dengan sedikit hati-hati karena ketiga objeknya tidak sepenuhnya sama. "Nassar" ditelusuri sebagai topic, sehingga Google menggabungkan berbagai variasi pencarian yang berkaitan dengan Nassar. Sementara itu, "king nassar" dan "konser nassar" merupakan search term tunggal. Angka 0 pada "konser nassar" juga tidak berarti tidak ada orang yang mencarinya sama sekali. Konser baru menjadi sesuatu yang bisa dicari sejak sekitar Mei 2026, sehingga sebagian besar dari periode 68 bulan yang diamati memang terjadi sebelum konser tersebut ada.

Kalau dilihat dalam konteks itu, ada satu hal yang cukup jelas. Selama sebagian besar periode pengamatan, perhatian pencarian lebih banyak tertuju pada Nassar sebagai sosok daripada pada konser sebagai produk. Ini masuk akal karena konser baru muncul pada 2026, sementara nama Nassar sudah lebih dulu dikenal dan dicari.

Perhatian itu juga tidak muncul hanya sesekali. Minat pencarian terhadap Nassar tetap terlihat sepanjang periode, dengan beberapa lonjakan pada pertengahan 2021, sepanjang 2023, dan puncak tertinggi dalam periode tersebut sekitar awal 2024. Di antara lonjakan itu, minat pencarian tidak pernah benar-benar kembali ke titik nol.

Namun, lonjakan awal 2024 juga perlu dilihat bersama peristiwa yang terjadi pada saat itu. Pada 29 Januari 2024, kabar bohong bahwa Nassar meninggal dunia beredar luas di TikTok dan kemudian dibantah Nassar sendiri (Matamata.com, 2024). Pada 29 Maret 2024, ayah Nassar meninggal dunia. Pada periode kampanye Pemilu 2024, Nassar juga tampil di kampanye akbar di Semarang yang dihadiri Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani (Liputan6.com, 2026a). Kabar duka, hoaks kematian, dan panggung politik jelas mendorong pencarian dengan alasan yang berbeda dari meme atau aktivitas yang berkaitan dengan fandom.

Karena itu, data Google Trends tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa orang membeli tiket karena pernah melihat Nassar di media atau ikut tren Nastar Bong. Yang bisa kita lihat dari data ini lebih sederhana: jauh sebelum konser diumumkan, nama Nassar sudah memiliki perhatian publik yang bertahan dalam jangka panjang.

Kerangka teoritis bisa membantu menjelaskan mengapa perhatian seperti itu dapat bertahan. Zajonc (1968) menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap suatu stimulus dapat meningkatkan familiaritas dan preferensi. Horton dan Wohl (1956) menjelaskan bagaimana paparan berulang terhadap figur media dapat menumbuhkan rasa kedekatan yang menyerupai relasi personal. Keduanya memberi gambaran tentang bagaimana familiaritas dan kedekatan dengan seorang figur bisa terbentuk melalui paparan yang berlangsung lama.

Dalam kasus Nassar, Google Trends memberi kita gambaran tentang perhatian yang terus muncul dari waktu ke waktu. Data penjualan tiket menunjukkan apa yang terjadi ketika perhatian tersebut akhirnya bertemu dengan produk yang bisa dibeli, yaitu konser.

Tiket Terbatas Mengubah Minat Menjadi Urgensi

Setelah lima tahun perhatian publik terus muncul, konser akhirnya memberi perhatian itu sesuatu yang bisa dibeli. Begitu jumlah tiketnya terbatas, calon penonton tidak hanya punya alasan untuk tertarik. Mereka juga punya alasan untuk segera mengambil keputusan.

Di sini prinsip kelangkaan Cialdini (2009) bisa membantu menjelaskan apa yang terjadi. Ketika akses terhadap sesuatu terbatas, orang dapat menganggapnya lebih bernilai dan terdorong untuk bertindak lebih cepat. Tetapi pada kasus Nassar, kelangkaan bukan yang menciptakan ketertarikan dari awal. Sebelum tiket dibatasi, sudah ada audiens yang tertarik pada Nassar.

Relevansi itu sudah terbentuk sejak 2021 dan terus muncul selama lima tahun. Ketika konser diumumkan, yang berubah adalah aksesnya menjadi terbatas. Permintaan kemudian meledak pada hari pertama penjualan. Bahkan setelah tiket habis, permintaannya belum berhenti. CNN Indonesia (2026b) melaporkan penggemar meminta penambahan hari konser. Medcom (2026) juga mencatat sebagian penggemar meminta lokasi dipindahkan ke stadion berkapasitas lebih besar karena menilai Istora terlalu kecil.

Bagian setelah tiket habis ini penting. Kalau orang masih meminta tambahan pertunjukan atau venue yang lebih besar setelah tidak ada tiket yang bisa dibeli, berarti persoalannya bukan lagi sekadar efek "buruan sebelum kehabisan". Ada permintaan yang memang sudah ada, lalu bertemu dengan pasokan yang terbatas.

Cialdini (2009) menjelaskan bahwa keterbatasan akses dapat meningkatkan nilai yang dirasakan terhadap suatu objek. Kasus Nassar menunjukkan bahwa efek tersebut bekerja lebih kuat ketika orang memang sudah menginginkan objek tersebut sebelumnya. Kelangkaan dapat membuat orang bergerak lebih cepat, tetapi tidak dengan sendirinya membuat seorang figur menjadi relevan secara kultural.

Dalam kasus ini, kelangkaan lebih tepat dilihat sebagai pemicu tindakan. Relevansi sudah terbentuk lebih dulu, konser menyediakan produknya, lalu keterbatasan tiket menciptakan urgensi untuk membeli.

Tidak ada bukti bahwa promotor merancang rangkaian lima tahun ini sebagai eksperimen psikologis. Yang terlihat dari data adalah sesuatu yang lebih sederhana: keterbatasan akses mengubah minat yang sudah ada menjadi keputusan yang lebih mendesak dalam waktu kurang dari satu hari penjualan.

Harga tiket juga menunjukkan bahwa minat terhadap konser ini tidak terkumpul hanya pada satu tingkat harga. Enam kategori tiket, dari Rp350.000 sampai Rp3.500.000, seluruhnya terserap dalam periode penjualan yang sama. Rentang sepuluh kali lipat ini menunjukkan adanya kesediaan membayar pada beberapa tingkat harga. Namun, data publik belum menunjukkan siapa yang membeli tiap kategori atau alasan mereka memilihnya. Karena itu, struktur harga ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran rentang willingness to pay daripada bukti mengenai motif pembelian. Perlu dicatat pula bahwa format pertunjukan turut membentuk rentang itu: iringan Erwin Gutawa Orchestra memberi konser ini bingkai prestise yang menjadi penjelasan tersendiri bagi keberadaan kategori Rp2.500.000 dan Rp3.500.000.

Seberapa cepatkah "cepat" itu?

Tanpa pembanding, kecepatan penyerapan tiket memang sulit dinilai. Indonesia juga belum memiliki data penjualan tiket yang dipublikasikan secara sistematis antar-promotor. Pembanding yang tersedia karena itu hanya bersifat indikatif, karena venue, kapasitas, dan kanal penjualannya berbeda.

Penjualan tiket dalam hitungan menit sendiri bukan hal baru bagi musisi Indonesia. Pada penjualan tiket konser Sheila On 7 di Bandung pada Mei 2024, seluruh kelas tiket sudah full booked sebelum setengah jam berlalu. Pada menit ke-24, masih tersisa lebih dari 40 ribu antrean yang menunggu akses ke halaman penjualan (detikPop, 2024).

Jadi, yang menarik dari Nassar bukan semata-mata soal seberapa cepat tiketnya habis. Konser ini merupakan konser tunggal perdana, hadir dalam format arena dengan iringan orkestra yang relatif jarang digunakan dalam genre dangdut, dan melibatkan figur yang relevansinya banyak dibentuk oleh materi buatan audiens sendiri.

Menariknya, pembanding pertama juga datang dari audiens. Akun Folkative membandingkan sold out Nassar dengan tiket konser The Weeknd yang saat itu masih tersedia. Perbandingan tersebut kemudian dikutip kembali oleh CNN Indonesia (2026b).

Pilihan pembanding ini menarik karena menunjukkan bahwa sebagian publik mulai melihat Nassar di luar kategori dangdut semata. Ia mulai dibandingkan dengan nama dan produk konser yang berada di level pasar yang berbeda.

Kalau Fandom Tidak Terlihat, Bagaimana Mengukurnya?

Kasus Nassar menimbulkan satu pertanyaan lain: kalau seseorang tidak menyebut dirinya penggemar, apakah perilakunya tetap bisa menunjukkan adanya fandom?

Selama lima tahun, orang membuat lightstick, parodi, chant, dan meme tentang Nassar. Ketika konser diumumkan, mereka kemudian berebut akses untuk melihatnya secara langsung. Tidak ada bukti bahwa seluruh orang tersebut menggunakan satu nama fandom yang sama. Namun, perilakunya menunjukkan keterlibatan yang jauh lebih dalam daripada sekadar melihat satu konten viral.

Tidak semua orang yang menunjukkan perilaku fandom akan menyebut dirinya bagian dari fandom. Sepanjang lima tahun, perilaku yang terdokumentasi mencakup mengikuti persona, mengonsumsi kontennya, memproduksi konten turunan, memakai simbol dan ritual bersama, lalu berebut akses ketika akses dibatasi. Semua itu terjadi tanpa label.

Karena itu, mengukur fandom hanya dengan pertanyaan "apakah Anda penggemar X?" berisiko melewatkan sebagian audiens. Untuk industri hiburan, perilaku seperti kesediaan membayar, hadir, membuat konten, membagikan konten, atau kembali membeli bisa menjadi indikator yang lebih konkret.

Konteks: Ruang Monetisasi yang Membesar

Konser Nassar muncul ketika pasar hiburan dan pengalaman di Indonesia sedang tumbuh. Konsumen juga masih menunjukkan kemampuan membayar tiket dengan harga relatif tinggi. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa konser masih punya pasar. Tetapi, pertumbuhan pasar belum menjawab pertanyaan yang lebih spesifik: mengapa hampir 6.000 tiket konser Nassar bisa habis dalam sehari?

Rangkaian ini berlangsung di tengah ekspansi ekonomi pengalaman di Indonesia. Melansir siaran pers PwC Indonesia (2026), pasar hiburan dan media Indonesia diproyeksikan tumbuh dari US$31,7 miliar pada 2025 menjadi US$42,9 miliar pada 2030, atau setara CAGR 6,2 persen sepanjang periode proyeksi. Perilaku pembayaran juga ikut berubah. Data platform ticketing LOKET periode 2023 sampai 2025, dilansir BisnisUpdate (2025), mencatat pertumbuhan transaksi paylater sebesar 44,05 persen, penjualan tiket 51,21 persen, dan gross merchandise value 58,98 persen. Kompas.com (2026b) mencatat pandangan pelaku industri bahwa kondisi bisnis konser membaik pada 2026 setelah perlambatan tahun sebelumnya, dengan tiket berharga tinggi tetap terserap.

Namun, ketika melihat segmen musik langsung secara khusus, gambarnya tidak sebesar pertumbuhan pasar hiburan secara keseluruhan. Dalam edisi sebelumnya, PwC Indonesia (2025) mencatat pendapatan live music Indonesia naik dari US$30 juta pada 2020 menjadi US$157 juta pada 2024, tetapi memproyeksikannya hanya mencapai US$173 juta pada 2029, atau CAGR 2,0 persen. Artinya, pasar musik langsung memang pulih dan tumbuh setelah pandemi, tetapi pertumbuhannya diproyeksikan melambat setelah lonjakan tersebut. Sold out pada satu konser karena itu belum cukup untuk menunjukkan bahwa pasar konser secara keseluruhan sedang membesar.

Data tersebut membantu menjelaskan bahwa konsumen memang masih punya ruang untuk membayar hiburan, termasuk tiket konser dengan harga tinggi. Tetapi data itu tidak menjelaskan mengapa satu performer bisa menjual 6.000 tiket dalam sehari, sementara performer lain membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Di sinilah kasus Nassar menjadi menarik. Konsernya tidak muncul dari pertumbuhan pasar semata. Ada kemungkinan bahwa ketertarikan terhadap seorang performer sudah terbentuk lebih dulu melalui berbagai pengalaman dengan figur tersebut, sementara produk konser baru muncul kemudian. Karena itu, kasus Nassar bisa dibaca untuk melihat bagaimana perhatian yang sudah terbentuk di ruang budaya kemudian berubah menjadi keputusan membeli ketika sebuah produk akhirnya tersedia.

Implikasi untuk Pelaku Industri Hiburan

Demand tidak dimulai saat tiket dijual. Penjualan tiket hanya menunjukkan demand pada saat sebuah produk sudah tersedia. Kalau performa konser hanya dilihat dari periode penjualan, kita akan kehilangan proses yang membuat orang tertarik pada konser tersebut sejak jauh sebelumnya.

Konten dari audiens dapat membuat seorang performer terus dibicarakan. Nastar Bong dan Nassar Meal menunjukkan bahwa audiens tidak hanya memberi engagement pada konten tentang Nassar. Mereka juga membuat versi, lelucon, dan objek baru yang membawa persona Nassar ke percakapan mereka sendiri. Konten seperti ini dapat membuat seorang performer tetap hadir di ruang budaya tanpa selalu bergantung pada kampanye resmi.

Kelangkaan bekerja ketika memang sudah ada minat. Tiket yang terbatas bisa membuat orang mengambil keputusan lebih cepat, tetapi keterbatasan itu sendiri tidak menciptakan ketertarikan. Kalau orang memang tidak punya alasan untuk menginginkan produknya, stok yang sedikit tetap bisa tidak terserap.

Kanal penjualan ikut menentukan bagaimana sebuah penjualan dibaca. Penjualan eksklusif melalui satu aplikasi perbankan membatasi populasi yang bisa membeli sekaligus memengaruhi angka kecepatan penjualan. Karena itu, klaim seperti “sold out dalam sekian menit” perlu dibaca bersama kanal penjualan, kapasitas yang ditawarkan, dan batas pembelian yang berlaku.

Fandom lebih mudah dipahami lewat perilaku daripada label identitas. Kesediaan membayar tiket, datang ke pertunjukan, membuat konten, menyebarkannya, menempuh perjalanan, atau kembali membeli produk lain memberi petunjuk yang lebih konkret tentang keterlibatan audiens daripada sekadar menanyakan apakah seseorang menganggap dirinya sebagai bagian dari fandom.

Batas genre tidak selalu sama dengan batas relevansi seorang performer. Nassar dikenal sebagai penyanyi dangdut, tetapi berbagai simbol dan lelucon yang muncul dari audiens membuat personanya masuk ke percakapan yang lebih luas. Nastar Bong, Nassar Meal, hingga istilah “Nassar core” menunjukkan bagaimana audiens dapat membawa seorang performer ke konteks yang tidak selalu berangkat dari musiknya. Namun, sejauh mana relevansi itu meluas ke kelompok demografis tertentu tetap membutuhkan data pembeli yang saat ini belum tersedia secara publik.

Relevansi seorang performer bisa terbentuk jauh sebelum ada produk yang dijual. Sebagian perhatian terhadap Nassar sejak 2021 tidak langsung menghasilkan transaksi. Namun, perhatian tersebut membuat namanya terus muncul dalam percakapan publik sampai akhirnya konser tunggal tersedia pada 2026. Nilai ekonominya baru terlihat ketika perhatian yang sudah terkumpul bertemu dengan produk yang bisa dibeli.

Karena itu, relevansi tidak harus selalu menghasilkan penjualan dalam waktu dekat. Paparan, percakapan, dan partisipasi audiens bisa berlangsung selama bertahun-tahun sebelum berubah menjadi transaksi. Bagi brand atau performer, pertanyaannya bukan hanya apakah sebuah aktivitas langsung menghasilkan penjualan, tetapi apakah aktivitas tersebut membuat orang terus mengingat, membicarakan, dan akhirnya bersedia membayar ketika produk yang tepat tersedia.

Penutup

Sebuah lightstick yang tidak menyala pada April 2021. Parodi kemasan makanan pada Juni 2021. Chant, meme, dan berbagai lelucon yang membuat nama Nassar terus muncul dalam percakapan. Lima tahun kemudian, hampir 6.000 orang berebut tiket untuk melihatnya di satu panggung.

Hari penjualan itu bukan awal dari demand. Itu adalah saat ketika sesuatu yang sudah lama dikenal, dibicarakan, dan dimainkan oleh audiens akhirnya memiliki produk yang bisa dibeli. Konser menyediakan tempat untuk bertemu, tiket menyediakan akses yang terbatas, dan transaksi menangkap nilai dari relevansi yang sudah terbentuk sebelumnya.

Referensi

BCA. (2026, 27 Agustus). King Nassar siap guncang Istora Senayan 7 November 2026, begini cara mudah beli tiketnya di myBCA. https://www.bca.co.id/id/informasi/news-and-features/2026/08/27/07/53/king-nassar-siap-guncang-istora-senayan-7-november-2026-begini-cara-mudah-beli-tiketnya-di-mybca. Diakses pada 3 September 2026.

BisnisUpdate. (2025). Ledakan industri hiburan Indonesia didorong oleh data dan pembayaran digital. https://bisnisupdate.com/berita-populer/ledakan-industri-hiburan-indonesia-didorong-oleh-data-dan-pembayaran-digital/296340/. Diakses pada 3 September 2026.

Cialdini, R. B. (2009). Influence: Science and practice (5th ed.). Pearson.

CNA Indonesia. (2026, 19 Agustus). King Nassar siap mengguncang Istora, tiket Lost in the Jungle dijual mulai Rp350 ribu. https://www.cna.id/lifestyle/king-nassar-siap-mengguncang-istora-tiket-lost-jungle-mulai-rp350-ribu-49931. Diakses pada 3 September 2026.

CNN Indonesia. (2026a, 19 Agustus). Tiket konser King Nassar mulai dari Rp350 ribu dijual 28 Agustus 2026. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20260819081248-227-1393828/tiket-konser-king-nassar-mulai-dari-rp350-ribu-dijual-28-agustus-2026. Diakses pada 3 September 2026.

CNN Indonesia. (2026b, 31 Agustus). Tiket sold out, fan minta King Nassar tambah hari konser. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20260831114855-227-1398205/tiket-sold-out-fan-minta-king-nassar-tambah-hari-konser. Diakses pada 3 September 2026.

detikPop. (2024, 1 Mei). War tiket konser Sheila On 7 hari ini: Tunggu aku di ruang tunggu. https://www.detik.com/pop/music/d-7319306/war-tiket-konser-sheila-on-7-hari-ini-tunggu-aku-di-ruang-tunggu. Diakses pada 3 September 2026.

Frame Daily. (2026). King Nassar gelar konser tunggal 'Lost in the Jungle' di Istora Senayan November 2026. https://www.framedaily.id/terbaru/king-nassar-gelar-konser-tunggal-lost-in-the-jungle-di-istora-senayan-november-2026/. Diakses pada 3 September 2026.

Gelora Bung Karno. (2026). Istora Senayan. https://reservation.gbk.id/id/venue/id_istora-senayan. Diakses pada 3 September 2026.

Google Trends. (2026). Perbandingan minat pencarian: Nassar (topic), king nassar, konser nassar, Indonesia, 1 Januari 2021 sampai 3 September 2026. https://trends.google.com. Diakses pada 3 September 2026.

Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction: Observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215-229.

IDN Media. (2023, 17 Oktober). Boss Creator resmi bergabung dengan IDN Media. https://www.idn.media/news/303/boss-creator-resmi-bergabung-dengan-idn-media. Diakses pada 3 September 2026.

Insertlive. (2023, 26 September). 2 hal yang wajib dibawa King Nassar saat konser. https://www.insertlive.com/film-dan-musik/20230926194256-25-320102/2-hal-yang-wajib-dibawa-king-nassar-saat-konser. Diakses pada 3 September 2026.

JagoDangdut. (2024, 11 September). Viral aksi panggung King Nassar yang spektakuler hingga panjat tiang, bikin netizen terpukau!. https://www.jagodangdut.com/artikel/46842-viral-aksi-panggung-king-nassar-yang-spektakuler-hingga-panjat-tiang-bikin-netizen-terpukau. Diakses pada 3 September 2026.

Jenkins, H. (2006). Convergence culture: Where old and new media collide. New York University Press.

Kompas.com. (2021a, 24 April). Bak idol Korea, lightstick Nassar diburu hingga ludes terjual. https://www.kompas.com/hype/read/2021/04/24/074905666/bak-idol-korea-lighstick-nassar-diburu-hingga-ludes-terjual. Diakses pada 3 September 2026.

Kompas.com. (2021b, 18 Juni). Setelah BTS Meal, kini heboh video Nassar Meal. https://www.kompas.com/hype/read/2021/06/18/115507166/setelah-bts-meal-kini-heboh-video-nassar-meal. Diakses pada 3 September 2026.

Kompas.com. (2025, 27 Agustus). Bernadya dan Hindia tukar lagu, cek harga tiket Pestapora 2025 dan cara belinya. https://www.kompas.com/tren/read/2025/08/27/130000265/bernadya-dan-hindia-tukar-lagu-cek-harga-tiket-pestapora-2025-dan-cara. Diakses pada 3 September 2026.

Kompas.com. (2026b, 13 Agustus). Banyak PHK, mengapa tiket konser hingga Rp5 juta tetap ludes. https://money.kompas.com/read/2026/08/13/101724226/banyak-phk-mengapa-tiket-konser-hingga-rp-5-juta-tetap-ludes. Diakses pada 3 September 2026.

Kompas.id. (2026, 30 Juli). Itulah sebabnya King Nassar dicintai penggemar. https://www.kompas.id/artikel/itulah-sebabnya-king-nassar-dicintai-penggemar. Diakses pada 3 September 2026.

kumparan. (2026). Tiket konser King Nassar ludes terjual dalam hitungan jam. https://kumparan.com/kumparanhits/tiket-konser-king-nassar-ludes-terjual-dalam-hitungan-jam-2851tkXhKUg. Diakses pada 3 September 2026.

Liputan6.com. (2021, 26 April). Begini bentuk lightstick Nastar Bong milik Nassar buatan penggemar, bak idol K-Pop. https://www.liputan6.com/hot/read/4542534/begini-bentuk-lightstick-nastar-bong-milik-nassar-buatan-penggemar-bak-idol-k-pop. Diakses pada 3 September 2026.

Liputan6.com. (2025, 20 Desember). 6 gaya heboh King Nassar manggung, keluar dari nanas raksasa hingga nyanyi sambil panjat tiang. https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6240911/6-gaya-heboh-king-nassar-manggung-keluar-dari-nanas-raksasa-hingga-nyanyi-sambil-panjat-tiang. Diakses pada 3 September 2026.

Liputan6.com. (2026a). Berita King Nassar hari ini. https://www.liputan6.com/tag/king-nassar. Diakses pada 3 September 2026.

Matamata.com. (2021, 15 Juni). 5 gaya Nassar saat manggung, viral di kalangan K-popers!. https://www.matamata.com/dangdut/2021/06/15/174500/5-gaya-nassar-saat-manggung-viral-di-kalangan-k-popers. Diakses pada 3 September 2026.

Matamata.com. (2024, 29 Januari). Pedangdut Nassar meninggal dunia? Ini faktanya. https://pop.matamata.com/read/2024/01/29/191549/pedangdut-nassar-meninggal-dunia-ini-faktanya. Diakses pada 3 September 2026.

Medcom. (2026, 31 Agustus). Tiket konser King Nassar ludes 1 jam, fans minta tambah hari. https://www.medcom.id/hiburan/indis/0k8dOV0k-tiket-konser-king-nassar-ludes-1-jam-fans-minta-tambah-hari. Diakses pada 3 September 2026.

PwC Indonesia. (2025, 2 September). PwC proyeksikan pertumbuhan stabil industri hiburan dan media Indonesia, berdasarkan laporan Global Entertainment & Media Outlook 2025-2029. https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2025/indonesian/pwc-proyeksikan-pertumbuhan-stabil-industri-hiburan-dan-media-indonesia-global-outlook-2025-2029.html. Diakses pada 3 September 2026.

PwC Indonesia. (2026, 20 Juli). PwC Global Entertainment & Media Outlook 2026-2030. https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2026/indonesian/pwc-global-entertainment-media-outlook-2026-2030.html. Diakses pada 3 September 2026.

RRI. (2026, 28 Agustus). Tiket konser tunggal perdana King Nassar 'Lost in the Jungle' mulai dijual hari ini. https://rri.co.id/hiburan/2687179/tiket-konser-tunggal-perdana-king-nassar-lost-in-the-jungle-mulai-dijual-hari-ini. Diakses pada 3 September 2026.

Sindonews. (2021, 10 Juni). Setelah BTS Meal, netizen juga ingin ada King Nassar Meal. https://lifestyle.sindonews.com/read/452112/185/setelah-bts-meal-netizen-juga-ingin-ada-king-nassar-meal-1623333986. Diakses pada 3 September 2026.

Suara.com. (2021, 11 Juni). Tak mau kalah dari BTS Meal, netizen bikin King Nassar Meal, mau?. https://www.suara.com/lifestyle/2021/06/11/193000/tak-mau-kalah-dari-bts-meal-netizen-bikin-king-nassar-meal-mau. Diakses pada 3 September 2026.

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. Dalam W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The social psychology of intergroup relations (hlm. 33-47). Brooks/Cole.

Tempo. (2026, 19 Agustus). Daftar harga tiket konser King Nassar di Jakarta. https://www.tempo.co/hiburan/daftar-harga-tiket-konser-king-nassar-di-jakarta-2282823. Diakses pada 3 September 2026.

tvOnenews. (2026, 11 Juli). Foto-foto King Nassar kurus banget bikin pangling: Terobsesi idol K-Pop Jung Kook. https://www.tvonenews.com/lifestyle/trend/452769-foto-foto-king-nassar-kurus-banget-bikin-pangling-terobsesi-idol-k-pop-jung-kook. Diakses pada 3 September 2026.

Wolipop. (2021, 11 Juni). Viral bikin ketawa, BTS Meal diganti jadi Nassar KDI, ini kata pembuatnya. https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-5601612/viral-bikin-ketawa-bts-meal-diganti-jadi-nassar-kdi-ini-kata-pembuatnya. Diakses pada 3 September 2026.

WowKeren. (2021, 7 Mei). Bak idol Korea, Nassar punya lightstick 'Nastar Bong' hingga diburu fans habis-habisan. https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00364699.html. Diakses pada 3 September 2026.

Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Journal of Personality and Social Psychology, 9(2, Pt. 2), 1-27.

Curated For You

Editorial Team