Jika kemudahan menjadi salah satu sumber nilai produk wellness, brand perlu mengenali hambatan yang muncul dalam konteks penggunaan yang berbeda. Dalam artikel ini, health friction merujuk pada hal-hal yang membuat pilihan sehat terasa seperti pekerjaan tambahan.
FMCG: Perbaiki Pilihan yang Sudah Dibeli
Dalam produk FMCG, rasa dan kebiasaan menjadi pertimbangan penting. Costlow dkk. (2026) mencatat bahwa konsumsi makanan diskresioner yang didominasi gula dan makanan manis ditemukan di seluruh kelompok pendapatan. Pilihan yang lebih sehat harus bersaing dengan produk yang sudah dikenal dan disukai konsumen.
Brand dapat menguji reformulasi bertahap, pilihan porsi yang lebih kecil, atau substitusi bahan dalam produk yang sudah rutin dibeli. Pendekatan ini memungkinkan perubahan tanpa selalu meminta konsumen mengubah kebiasaan belanjanya.
Dua hal yang perlu diperiksa adalah apakah varian reformulasi dibeli ulang pada tingkat yang sebanding dengan varian asli dan apakah perubahan rasa mendorong konsumen menambahkan gula atau porsi lain saat mengonsumsinya di rumah.
Food & Beverage: Sehat Tanpa Mengasingkan Selera
Pada kategori makanan dan minuman, pilihan sehat perlu tetap sesuai dengan selera dan kebiasaan makan konsumen. Data Costlow dkk. (2026) menunjukkan bahwa hidangan campuran, termasuk olahan nasi dan mi, menyumbang porsi energi yang besar di berbagai kelompok pendapatan. Konsumsi kacang-kacangan juga masih rendah, meskipun tempe dan tahu merupakan sumber utama energi dari kelompok pangan tersebut.
Salah satu pendekatan yang dapat diuji adalah menambah porsi sayur, tempe, atau tahu dalam menu yang sudah familier. Bahan-bahan ini dapat menjadi bagian dari pilihan standar, bukan hanya menu khusus bagi konsumen yang sedang diet.
Brand perlu mengamati apakah menu yang dimodifikasi tetap dipesan ulang dan apakah tambahan bahan menggantikan sebagian porsi lain atau justru menambah total kalori. Pembelian ulang saja belum cukup untuk memastikan bahwa perubahan menu menghasilkan pola konsumsi yang lebih sehat.
Beauty & Health: Kurangi Beban Mengingat
Perawatan preventif dapat terasa seperti tugas tambahan ketika konsumen harus mengingat banyak langkah, memahami beragam klaim, dan memilah informasi yang saling bertentangan.
Menurut PwC Indonesia (2026a), 59% responden mengonsumsi suplemen dan 35% menggunakan aplikasi untuk mengingatkan jadwal obat atau suplemen. Pada saat yang sama, 42% merasa kewalahan menghadapi informasi kesehatan yang terlalu banyak atau saling bertentangan.
Brand dapat mempertimbangkan cara menghubungkan penggunaan produk dengan rutinitas yang sudah ada, misalnya sarapan atau perawatan kulit malam hari. Petunjuk pemakaian yang sederhana dapat membantu mengurangi beban mengingat langkah tambahan. Pendekatan ini perlu disertai klaim manfaat yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebanyak 78% responden mengharapkan informasi yang jelas tentang produk dan cara kerjanya.
Indikator yang dapat dipantau meliputi tingkat penggunaan setelah 30, 60, dan 90 hari serta proporsi konsumen yang membeli isi ulang. Metrik tersebut dapat menunjukkan keberlanjutan penggunaan, meskipun belum membuktikan hasil kesehatan yang dicapai.
Digital Health: Dari Tracking ke Action
Aplikasi kesehatan dan wearable dapat mengumpulkan banyak data, tetapi data tersebut belum tentu membantu pengguna menentukan langkah berikutnya.
Sebanyak 71% responden menyatakan akan bertanya kepada AI terlebih dahulu ketika memiliki pertanyaan kesehatan. Namun, hanya sekitar 20% menempatkan percakapan atau perangkat AI di antara lima pengaruh terkuat terhadap tindakan kesehatan mereka. Teman dan keluarga (56%) serta tenaga kesehatan (57%) memiliki pengaruh yang lebih besar (PwC Indonesia, 2026a; 2026b).
Perbedaan ini penting bagi pengembangan produk digital. Kemudahan memperoleh jawaban tidak otomatis membuat seseorang mengubah perilakunya.
Nilai produk dapat dikembangkan melalui urutan tracking, understanding, guidance, lalu action: mengumpulkan data, membantu pengguna memahaminya, memberikan arahan yang relevan, hingga mendukung langkah yang dapat dilakukan.
Sebanyak 77% dari 434 pengguna aplikasi atau wearable bersedia membayar lebih untuk perangkat yang datanya bisa ditinjau tenaga kesehatan. Temuan ini menunjukkan minat terhadap dukungan profesional dalam penggunaan data kesehatan, meskipun kesediaan membayar yang dilaporkan belum tentu menjadi transaksi aktual.
Untuk mengevaluasi produk, brand dapat memantau proporsi pengguna yang menjalankan rekomendasi aplikasi, tahap ketika mereka berhenti membuka aplikasi, dan tingkat penonaktifan notifikasi. Pengukuran ini membantu menunjukkan apakah teknologi menjadi bagian dari rutinitas atau justru menambah beban bagi pengguna.