Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jakarta Kehilangan Migran, Tapi Mereka Pindah ke Mana?
ilustrasi warga kota (pexels.com/Ruyat Supriazi)
  • SUPAS 2025 mencatat Jakarta kehilangan neto 539.618 migran, terbesar nasional, tetapi laju migrasi keluarnya justru turun dari 7,62% menjadi 6,33%.
  • Jawa Tengah menjadi penerima migran risen terbesar dengan neto 638.865 orang; pangsanya sebagai tujuan migran dari Jakarta naik dari 16,7% menjadi 29,4%.
  • Data belum membuktikan reverse urbanization nasional: migran muda banyak pindah karena pendidikan dan keluarga, sementara Jabodetabekpunjur tetap menampung 3,23 juta komuter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sejak pandemi berakhir, satu narasi berulang di media sosial dan percakapan gaya hidup Indonesia: anak muda meninggalkan Jakarta. Biaya hidup naik, kantor tidak lagi mengharuskan kehadiran fisik setiap hari, sementara kota seperti Yogyakarta, Bandung, dan Malang menawarkan gaya hidup yang dianggap lebih nyaman dengan ongkos lebih ringan. Istilah reverse urbanization kemudian dipakai untuk menjelaskan gejala tersebut.

Bagi brand, asumsi ini punya konsekuensi langsung. Jika pekerja muda benar-benar memindahkan hidupnya dari Jakarta ke kota sekunder, perpindahan itu seharusnya ikut mengubah lokasi permintaan, profil konsumen, dan pasar yang perlu diperhatikan.

Pertanyaannya: apakah data migrasi Indonesia sudah menunjukkan perubahan sebesar itu?

Badan Pusat Statistik merilis hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 pada Mei 2026, dengan publikasi lengkap menyusul pada Juni 2026. Survei ini mencakup 664.640 rumah tangga dan menyediakan potret mobilitas penduduk paling mutakhir yang tersedia secara nasional. IDN Research Institute menguji klaim reverse urbanization terhadap data tersebut, sekaligus terhadap tiga edisi tahunan Profil Migran Hasil Susenas yang mengisi rentang waktu di antara dua pendataan besar itu.

Jawabannya: belum.

Jakarta Memang Kehilangan Migran. Lalu Mereka Pergi ke Mana?

SUPAS 2025 mencatat sekitar 4 juta penduduk Indonesia tinggal di provinsi yang berbeda dibanding lima tahun sebelumnya. Kelompok ini dalam istilah statistik disebut migran risen.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah migran keluar risen terbesar, yaitu 667.083 orang. Pada periode yang sama, Jakarta menerima 127.465 migran masuk risen. Selisihnya menghasilkan migrasi neto risen sebesar minus 539.618 orang, angka negatif terbesar di antara seluruh provinsi di Indonesia.

Provinsi lain dengan neto negatif terbesar berikutnya adalah Banten dengan minus 82.544 orang, Kalimantan Tengah minus 20.413 orang, Papua minus 19.020 orang, dan Bali minus 13.736 orang.

Jadi, satu bagian dari narasi populer memang terlihat dalam data: Jakarta kehilangan penduduk melalui migrasi, dan skalanya jauh lebih besar dibanding provinsi lain.

Namun bagi brand, pertanyaan berikutnya lebih penting: penduduk yang keluar itu benar-benar meninggalkan pusat ekonomi untuk membangun hidup di kota sekunder, atau sekadar berpindah ke wilayah lain yang masih terhubung dengan pusat ekonomi?

Data berikutnya memberi petunjuk.

Arus Keluar Jakarta Justru Melemah

Jika kerja jarak jauh menjadi pendorong utama perpindahan dari kota besar, tekanan migrasi keluar semestinya semakin kuat ketika kerja hibrida semakin mapan. Data menunjukkan arah yang berbeda.

Perbandingan tingkat migrasi masuk risen, yaitu proporsi penduduk usia 5 tahun ke atas yang lima tahun sebelumnya tinggal di provinsi lain, memakai rumus yang identik di kedua periode:

Wilayah

Long Form SP2020 (rujukan 2022)

SUPAS 2025

Arah

Nasional

1,80%

1,60%

Turun

DKI Jakarta

2,15%

1,27%

Turun

DI Yogyakarta

5,09%

3,85%

Turun

Jawa Tengah

2,27%

2,50%

Naik

Tingkat migrasi keluar risen Jakarta juga turun, dari 7,62 persen menjadi 6,33 persen. Perpindahan antarprovinsi di Indonesia secara keseluruhan melambat, sementara Jakarta melepas penduduk dengan laju yang lebih rendah dibanding lima tahun sebelumnya.

Satu-satunya wilayah dalam tabel di atas yang mengalami kenaikan justru Jawa Tengah.

Perlambatan ini tidak hanya terlihat dari dua titik pengamatan. Di antara Long Form SP2020 dan SUPAS 2025 terdapat tiga pembacaan tahunan dari sumber yang terpisah, yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional. Mengutip rangkaian publikasi Profil Migran Hasil Susenas (Badan Pusat Statistik, 2022, 2024, 2025), persentase penduduk berstatus migran risen antarprovinsi tercatat 2,1 persen pada Maret 2021, 1,0 persen pada Maret 2023, dan 0,9 persen pada Maret 2024.

Level angka Susenas tidak sebanding dengan SUPAS maupun Long Form karena desain sampel dan periode rujukannya berbeda. Yang dapat dibandingkan adalah arahnya, dan arahnya sama: menurun.

Artinya, data belum menunjukkan gelombang perpindahan keluar kota besar yang semakin kuat sepanjang periode ketika kerja hibrida semakin mapan.

Bagi marketer, ini berarti asumsi bahwa konsumen secara massal sedang memindahkan pusat kehidupannya dari Jakarta ke kota sekunder perlu dibaca lebih hati-hati.

Tujuan Migrasi Terbesar Bukan Yogyakarta, Bandung, atau Malang

Narasi reverse urbanization sering menempatkan Yogyakarta, Bandung, dan Malang sebagai tujuan utama orang yang meninggalkan Jakarta.

Peta migrasi nasional menunjukkan konsentrasi yang berbeda.

Jawa Tengah mencatat migran masuk risen terbanyak di Indonesia, yaitu 886.346 orang, disusul Jawa Barat 545.233 orang dan Jawa Timur 364.329 orang. Migrasi neto risen positif tertinggi juga berada di Jawa Tengah dengan 638.865 orang, jauh melampaui Jawa Timur 104.682 orang, Nusa Tenggara Barat 95.069 orang, Nusa Tenggara Timur 69.910 orang, dan Sumatera Barat 64.704 orang.

Daerah Istimewa Yogyakarta menerima 136.492 orang dan melepas 106.251 orang, menghasilkan neto positif 30.240 orang. Angka itu memang positif, tetapi setara dengan sekitar seperdua puluh neto Jawa Tengah.

Sebagai penerima neto, DIY berada jauh di bawah provinsi-provinsi besar. Tingkat migrasi neto risen DIY turun dari 2,25 persen pada Long Form SP2020 menjadi 0,86 persen pada SUPAS 2025.

Daya tarik Yogyakarta sebagai tujuan perpindahan tidak menunjukkan penguatan dalam data migrasi terbaru.

Jawa Tengah juga bukan temuan satu survei. Neto migrasi risen provinsi ini positif pada tiga edisi Susenas berturut-turut, yaitu 0,5 persen pada 2021, 0,7 persen pada 2023, dan 0,6 persen pada 2024.

Pada edisi terakhir, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi tujuan nomor satu bagi migran keluar DKI Jakarta dengan 29,4 persen, bagi migran keluar Jawa Barat dengan 41,4 persen, sekaligus bagi migran keluar Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 43,6 persen.

Jika brand ingin membaca ke mana penduduk bergerak, Jawa Tengah menjadi bagian penting dari peta yang selama ini kurang terlihat dalam narasi kota sekunder.

Yang Berubah Adalah Arah Arus Keluar Jakarta

Susenas menyimpan satu pergeseran yang tidak terlihat dari angka agregat. Dalam tiga tahun, komposisi tujuan migran keluar DKI Jakarta berubah.

Tujuan migran keluar DKI Jakarta

Susenas 2021

Susenas 2023

Susenas 2024

Jawa Barat

45,2%

40,3%

41,3%

Jawa Tengah

16,7%

29,9%

29,4%

Banten

17,6%

7,5%

6,9%

Jawa Timur

4,9%

5,8%

5,4%

Pangsa Jawa Tengah naik hampir dua kali lipat. Pangsa Banten menyusut menjadi kurang dari separuhnya. Sementara itu, Jawa Barat dan Jawa Timur relatif stabil.

Perbedaan ini penting ketika diterjemahkan ke konteks pasar.

Banten, terutama Tangerang dan Tangerang Selatan, merupakan bagian dari kawasan metropolitan Jakarta. Perpindahan ke sana masih mempertahankan keterhubungan ekonomi dengan Jabodetabek. Jawa Tengah berada di luar sistem metropolitan tersebut dan merupakan provinsi dengan migrasi neto seumur hidup paling negatif di Indonesia, yaitu minus 16,6 persen pada 2024.

Selama puluhan tahun, Jawa Tengah menjadi salah satu daerah asal migran menuju kota-kota besar Indonesia. Kini provinsi tersebut juga menjadi tujuan penting bagi penduduk yang keluar dari Jakarta.

Jadi, data tidak menunjukkan bahwa pusat permintaan sedang berpindah secara sederhana dari Jakarta ke “kota gaya hidup”. Yang terlihat adalah perubahan koridor perpindahan penduduk, terutama dari Jakarta menuju Jawa Tengah.

Bagi perusahaan yang mengikuti perpindahan konsumen, pergeseran koridor ini lebih relevan daripada sekadar mencari kota mana yang sedang populer di media sosial.

Kerja Masih Mengikat Orang ke Kota

Ada satu indikator lain yang membantu membaca hubungan antara pekerjaan dan lokasi: komuter.

SUPAS 2025 mencatat 11.038.760 komuter di Indonesia, yaitu penduduk yang secara rutin bepergian melintasi batas wilayah untuk bekerja atau bersekolah. Di sepuluh wilayah metropolitan, jumlahnya mencapai 5.779.412 orang.

Wilayah Metropolitan Jabodetabekpunjur sendiri menampung 3.232.517 komuter, atau sekitar 56 persen dari total komuter di sepuluh wilayah metropolitan tersebut.

Artinya, lebih dari tiga juta orang masih melakukan perjalanan rutin menuju kawasan metropolitan Jakarta.

Angka ini menunjukkan bahwa keterhubungan dengan pusat ekonomi belum hilang. Kerja hibrida mungkin mengurangi frekuensi perjalanan bagi sebagian pekerja, tetapi data 2025 belum menunjukkan bahwa hubungan geografis antara tempat tinggal dan pusat aktivitas ekonomi telah terputus secara struktural.

Untuk brand, ini berarti pasar berbasis mobilitas harian masih relevan, bahkan ketika pola kerja berubah.

Pekerja Remote Tetap Membutuhkan Ekosistem Kota

Temuan kuantitatif tersebut sejalan dengan riset kualitatif terbaru.

Melansir studi Muhammad Yorga Permana yang terbit di jurnal Regional Studies pada 2025, penelitian terhadap 50 pekerja platform daring di lima kota sekunder Jawa, yaitu Bandung, Yogyakarta, Malang, Semarang, dan Surakarta, menemukan bahwa pekerja jarak jauh tetap tertanam kuat dalam konteks perkotaan lokal.

Mereka mengerjakan tugas daring dengan berpindah-pindah antar beberapa lokasi kerja fisik, merawat interaksi tatap muka dalam jejaring sosial untuk bertukar pengetahuan, dan beroperasi sebagai mikro-wirausaha yang memanfaatkan kepadatan kota sebagai ekosistem bisnis.

Studi tersebut juga mencatat bahwa Bandung, Yogyakarta, dan Malang menunjukkan konsentrasi pekerja platform yang lebih tinggi dibanding Semarang dan Surakarta, dan beberapa kota sekunder memiliki konsentrasi yang melampaui perkiraan berdasarkan ukuran populasinya.

Temuan ini memberi konteks penting: kerja jarak jauh tidak otomatis berarti hidup tanpa keterikatan kota.

Sebagian pekerja remote justru tetap memilih kota yang menyediakan jejaring sosial, ruang kerja, pelanggan, dan aktivitas ekonomi.

Dengan kata lain, perubahan cara bekerja dapat mengubah cara orang menggunakan kota, tanpa otomatis menghilangkan pentingnya kota itu sendiri.

Anak Muda Memang Paling Banyak Berpindah. Alasannya Perlu Dibaca Lebih Dalam

SUPAS 2025 menyajikan migrasi internal hanya menurut provinsi dan jenis kelamin. Publikasi ini tidak memuat rincian umur, alasan perpindahan, maupun status pekerjaan migran internal.

Dimensi umur dapat dilihat dari sumber lain, dan hasilnya memang membenarkan satu bagian dari narasi populer.

Susenas mencatat struktur umur migran risen setiap tahun, dan kelompok umur 20 sampai 39 tahun konsisten menguasai lebih dari separuh arus perpindahan antarprovinsi Indonesia, yaitu 56,7 persen pada 2021, 52,2 persen pada 2023, dan 54,5 persen pada 2024 (Badan Pusat Statistik, 2022, 2024, 2025).

Pelaku migrasi antarprovinsi memang banyak berasal dari kelompok usia produktif.

Namun pertanyaan berikutnya adalah: mereka pindah karena pekerjaan, atau karena alasan lain?

Salsabila dan Mulyani dari Universitas Gadjah Mada mengolah mikrodata Long Form SP2020 dan memperoleh 7.379 catatan migran risen DIY untuk periode rujukan Juli 2017 sampai Juni 2022. Hasilnya, yang terbit di Jurnal ISO pada Desember 2025, memberi lapisan informasi yang tidak tersedia dalam SUPAS 2025.

Alasan utama perpindahan ke DIY adalah mengikuti keluarga inti sebesar 39,0 persen, pendidikan 25,4 persen, dan pekerjaan 21,0 persen. Sisanya terbagi antara perubahan status perkawinan 6,8 persen dan alasan lain 7,7 persen.

Tabulasi silang antara umur dan alasan migrasi pada studi tersebut mempersempit pertanyaan ke kelompok yang paling relevan dengan narasi pekerja muda.

Kelompok umur 20 sampai 34 tahun mencakup 3.255 orang atau 44,1 persen dari seluruh migran risen. Pada kelompok inilah pengujian hipotesis kerja jarak jauh paling relevan dilakukan.

Alasan migrasi, usia 20–34 tahun

Jumlah

Persentase

Pendidikan

1.246

38,3%

Pekerjaan dan mencari pekerjaan

783

24,1%

Mengikuti keluarga inti

777

23,9%

Perubahan status perkawinan

309

9,5%

Lainnya

140

4,3%

Bahkan pada kelompok umur yang paling mungkin bekerja secara jarak jauh, pekerjaan hanya menjelaskan sekitar seperempat perpindahan. Pendidikan tetap menjadi alasan terbesar.

Pada kelompok umur 20 sampai 24 tahun, dominasi itu semakin jelas dengan 1.146 dari 1.707 migran, atau 67,1 persen, berpindah karena pendidikan.

Ini mengubah cara kita membaca pasar kota pendidikan seperti Yogyakarta. Pertumbuhan populasi muda di kota tersebut tidak otomatis berarti masuknya pekerja remote berpenghasilan Jakarta. Sebagian besar arus yang terlihat dalam data justru terkait pendidikan.

Yogyakarta Menarik Anak Muda, Tetapi Profilnya Bukan Seperti Asumsi Awal

Mengutip Profil Migran Hasil Susenas 2024 (Badan Pusat Statistik, 2025), 61,5 persen migran risen yang masuk ke Daerah Istimewa Yogyakarta berstatus belum kawin dan 59,2 persen berpendidikan tamat SMA sederajat.

DIY adalah satu-satunya provinsi besar di Jawa yang migrannya didominasi penduduk belum kawin; di Jawa Tengah dan Jawa Barat proporsinya masing-masing hanya 23,1 persen dan 27,4 persen. BPS sendiri mengaitkan pola tersebut dengan daya tarik DIY sebagai provinsi tujuan pendidikan tinggi.

Dua sumber yang berbeda dan dua periode yang berbeda menunjukkan pola yang serupa.

Yang mengalir ke Yogyakarta banyak berasal dari kelompok pelajar dan mahasiswa, bukan semata-mata profesional yang memindahkan lokasi kerja.

Studi yang sama menempatkan Kabupaten Sleman sebagai tujuan terbesar dengan 2.682 migran atau 36,3 persen, dan mencatat 73,4 persen migran risen DIY berasal dari wilayah Jawa dan Bali.

Pengelompokan asal migran pada studi tersebut berbasis pulau, sehingga arus khusus dari DKI Jakarta menuju DIY masih belum terukur dalam jumlah orang. Susenas 2024 mempersempit celah itu dari sisi komposisi: DKI Jakarta menyumbang 6,6 persen migran risen yang masuk ke DIY, peringkat keempat setelah Jawa Tengah 38,8 persen, Jawa Timur 12,1 persen, dan Jawa Barat 11,0 persen.

Data ini tidak berarti pekerja remote tidak berpindah ke Yogyakarta. Mungkin saja sekelompok kecil pekerja remote memang meninggalkan Jakarta menuju kota sekunder.

Namun secara nasional, jumlah tersebut belum cukup besar untuk menjelaskan pola migrasi yang terlihat.

Dengan kata lain, fenomena reverse urbanization mungkin ada pada level tertentu, tetapi belum terbaca sebagai pola migrasi nasional.

For Brands: Jangan Salah Membaca Konsumen Kota Sekunder

Data migrasi memberi satu peringatan untuk brand: pertumbuhan pasar di kota sekunder tidak otomatis berasal dari perpindahan pekerja Jakarta.

Yogyakarta, misalnya, memiliki arus migrasi masuk yang besar, tetapi profil migrannya menunjukkan karakter yang kuat sebagai kota pendidikan. Pada 2024, mayoritas migran risen yang masuk DIY belum kawin dan 59,2 persen berpendidikan tamat SMA sederajat.

Artinya, brand yang membaca Yogyakarta hanya sebagai tujuan pekerja profesional dengan daya beli Jakarta berisiko menggunakan asumsi konsumen yang terlalu sempit.

Jawa Tengah menawarkan sinyal pasar yang berbeda. Provinsi ini menyerap migran risen terbanyak di Indonesia, menjadi satu-satunya wilayah besar dalam tabel yang tingkat migrasi masuknya meningkat, serta pada 2024 menjadi tujuan nomor satu bagi migran keluar Jakarta, Jawa Barat, dan Yogyakarta.

Peta ekspansi tidak cukup dibangun dari kota yang paling sering muncul dalam percakapan gaya hidup. Perpindahan penduduk menunjukkan koridor lain yang juga perlu diperhatikan.

Koridor Jakarta–Jawa Tengah layak dibaca sebagai arus tersendiri. Dalam tiga tahun, pangsanya dalam arus keluar Jakarta naik dari 16,7 menjadi 29,4 persen, sementara pangsa Banten menyusut.

Kategori yang mengikuti perpindahan rumah tangga, mulai dari logistik, perabot, layanan keuangan, hingga telekomunikasi, dapat menggunakan perubahan ini sebagai salah satu input untuk membaca ulang distribusi permintaan.

Di saat yang sama, pasar komuter Jabodetabekpunjur dengan 3,23 juta orang tetap menjadi segmen mobilitas yang besar dan terukur. Produk dan layanan yang menyasar perjalanan harian belum kehilangan basis pasarnya hanya karena pola kerja menjadi lebih fleksibel.

For Policy: Jangan Mengasumsikan Kerja Hibrida Menghapus Mobilitas

Perencanaan infrastruktur Jabodetabek tidak dapat mengasumsikan bahwa kerja hibrida dengan sendirinya akan mengurangi tekanan komuter secara struktural. Data 2025 menunjukkan volume komuter tetap besar.

Jawa Tengah membutuhkan antisipasi kapasitas layanan publik, perumahan, dan lapangan kerja yang sepadan dengan posisinya sebagai penerima migran neto terbesar di Indonesia. Provinsi yang selama puluhan tahun menjadi daerah asal migran kini juga menghadapi peran sebagai daerah tujuan.

Pergeseran tujuan arus keluar Jakarta dari Banten ke Jawa Tengah juga perlu masuk dalam asumsi perencanaan kedua provinsi. Pola perpindahan penduduk dapat berdampak pada kebutuhan perumahan, layanan publik, transportasi, dan fasilitas ekonomi di kedua wilayah.

Masih ada satu celah data yang penting untuk diisi.

Statistik migrasi nasional belum merekam lokasi kerja, moda kerja, dan keterikatan pekerja terhadap kantor fisik. Tanpa variabel tersebut, hubungan antara transformasi cara kerja dan pola perpindahan penduduk masih sulit diuji secara langsung.

Penambahan modul kerja jarak jauh pada Sakernas atau survei kependudukan berikutnya akan memberi dasar empiris bagi pertanyaan yang saat ini masih banyak dijawab melalui asumsi.

Jadi, Apakah Indonesia Sedang Mengalami Reverse Urbanization?

Empat temuan utama bertahan terhadap data.

Pertama, Jakarta memang wilayah pelepas migran terbesar di Indonesia. Kedua, arus keluar itu melemah dibanding lima tahun sebelumnya, pada periode ketika kerja hibrida semakin mapan, dan tiga edisi Susenas menunjukkan arah yang sama. Ketiga, penerima terbesar arus migrasi Indonesia adalah provinsi-provinsi besar Jawa, terutama Jawa Tengah, bukan semata-mata kota sekunder yang sering muncul dalam narasi gaya hidup. Keempat, perubahan yang paling terlihat ada pada arah arus keluar Jakarta, terutama pergeseran dari Banten menuju Jawa Tengah.

Narasi populer benar bahwa kelompok usia muda mendominasi migrasi antarprovinsi. Namun alasan perpindahannya lebih beragam. Pada kelompok umur 20 sampai 34 tahun yang menjadi inti narasi ini, pekerjaan hanya menjelaskan sekitar seperempat perpindahan ke Yogyakarta, sementara pendidikan menjelaskan hampir empat dari sepuluh.

Bagi pasar, implikasinya sederhana: jangan menganggap setiap pertumbuhan kota sekunder sebagai efek perpindahan pekerja remote dari Jakarta.

Kerja jarak jauh memang mengubah cara sebagian orang Indonesia bekerja. Namun sampai 2025, perubahan tersebut belum cukup kuat untuk membalik pola migrasi nasional.

Yang berubah bukan sekadar di mana orang tinggal, melainkan koridor mana yang mulai menerima arus penduduk dan konsumen baru.

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2022). Profil migran hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2021 (Katalog 2204009). Diakses 1 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2022/11/30/a8783422ec76253c5d735a7e/profil-migran-hasil-survei-sosial-ekonomi-nasional-2021.html

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik migrasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (Katalog 2204003.34). Badan Pusat Statistik Provinsi D.I. Yogyakarta. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://yogyakarta.bps.go.id/id/publication/2023/07/14/faaf2e40809c429f3b8935e4/statistik-migrasi-provinsi-daerah-istimewa-yogyakarta-hasil-long-form-sensus-penduduk-2020.html

Badan Pusat Statistik. (2024). Profil migran hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2023 (Katalog 2204009, No. Publikasi 04100.24020). Diakses 1 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2024/10/25/9c5b17727a3392ab179f41eb/profil-migran-hasil-survei-sosial-ekonomi-nasional-2023.html

Badan Pusat Statistik. (2025). Profil migran hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2024 (Katalog 2204009, No. Publikasi 04100.25014). Diakses 1 September 2026, dari https://www.bps.go.id/en/publication/2025/10/24/377adcf24286b49052c0fd20/profil-migran-hasil-survei-sosial-ekonomi-nasional-2024.html

Badan Pusat Statistik. (2026a). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS 2025) Provinsi DKI Jakarta [Berita Resmi Statistik]. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://jakarta.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/1339/hasil-survei-penduduk-antar-sensus--supas-2025--provinsi--dki-jakarta.html

Badan Pusat Statistik. (2026b). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS 2025) D.I. Yogyakarta [Berita Resmi Statistik]. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://yogyakarta.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/1762/hasil-survei-penduduk-antar-sensus--supas-2025--d-i--yogyakarta.html

Badan Pusat Statistik. (2026c). Penduduk dan indikator kependudukan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2026/06/30/bdc814f38edf0a941f4f9d34/penduduk-dan-indikator-kependudukan-hasil-survei-penduduk-antar-sensus-2025.html

Badan Pusat Statistik. (2026d). Persentase migran masuk risen, migran keluar risen, dan migran neto risen menurut provinsi [Tabel statistik]. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://sensus.bps.go.id/topik/tabular/sp2022/134/1/2

Permana, M. Y. (2025). Working remotely in the city? Regional embeddedness of online platform workers in Indonesia's secondary cities. Regional Studies, 59(1). https://doi.org/10.1080/00343404.2025.2506603

Salsabila, J. A., & Mulyani, W. P. (2025). Analisis migran risen Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan Sensus Penduduk Longform tahun 2020. Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 5(2), 1–15. https://doi.org/10.53697/iso.v5i2.3095

Editorial Team

Related Article