Empat temuan utama bertahan terhadap data.
Pertama, Jakarta memang wilayah pelepas migran terbesar di Indonesia. Kedua, arus keluar itu melemah dibanding lima tahun sebelumnya, pada periode ketika kerja hibrida semakin mapan, dan tiga edisi Susenas menunjukkan arah yang sama. Ketiga, penerima terbesar arus migrasi Indonesia adalah provinsi-provinsi besar Jawa, terutama Jawa Tengah, bukan semata-mata kota sekunder yang sering muncul dalam narasi gaya hidup. Keempat, perubahan yang paling terlihat ada pada arah arus keluar Jakarta, terutama pergeseran dari Banten menuju Jawa Tengah.
Narasi populer benar bahwa kelompok usia muda mendominasi migrasi antarprovinsi. Namun alasan perpindahannya lebih beragam. Pada kelompok umur 20 sampai 34 tahun yang menjadi inti narasi ini, pekerjaan hanya menjelaskan sekitar seperempat perpindahan ke Yogyakarta, sementara pendidikan menjelaskan hampir empat dari sepuluh.
Bagi pasar, implikasinya sederhana: jangan menganggap setiap pertumbuhan kota sekunder sebagai efek perpindahan pekerja remote dari Jakarta.
Kerja jarak jauh memang mengubah cara sebagian orang Indonesia bekerja. Namun sampai 2025, perubahan tersebut belum cukup kuat untuk membalik pola migrasi nasional.
Yang berubah bukan sekadar di mana orang tinggal, melainkan koridor mana yang mulai menerima arus penduduk dan konsumen baru.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2022). Profil migran hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2021 (Katalog 2204009). Diakses 1 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2022/11/30/a8783422ec76253c5d735a7e/profil-migran-hasil-survei-sosial-ekonomi-nasional-2021.html
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik migrasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (Katalog 2204003.34). Badan Pusat Statistik Provinsi D.I. Yogyakarta. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://yogyakarta.bps.go.id/id/publication/2023/07/14/faaf2e40809c429f3b8935e4/statistik-migrasi-provinsi-daerah-istimewa-yogyakarta-hasil-long-form-sensus-penduduk-2020.html
Badan Pusat Statistik. (2024). Profil migran hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2023 (Katalog 2204009, No. Publikasi 04100.24020). Diakses 1 September 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2024/10/25/9c5b17727a3392ab179f41eb/profil-migran-hasil-survei-sosial-ekonomi-nasional-2023.html
Badan Pusat Statistik. (2025). Profil migran hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2024 (Katalog 2204009, No. Publikasi 04100.25014). Diakses 1 September 2026, dari https://www.bps.go.id/en/publication/2025/10/24/377adcf24286b49052c0fd20/profil-migran-hasil-survei-sosial-ekonomi-nasional-2024.html
Badan Pusat Statistik. (2026a). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS 2025) Provinsi DKI Jakarta [Berita Resmi Statistik]. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://jakarta.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/1339/hasil-survei-penduduk-antar-sensus--supas-2025--provinsi--dki-jakarta.html
Badan Pusat Statistik. (2026b). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS 2025) D.I. Yogyakarta [Berita Resmi Statistik]. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://yogyakarta.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/1762/hasil-survei-penduduk-antar-sensus--supas-2025--d-i--yogyakarta.html
Badan Pusat Statistik. (2026c). Penduduk dan indikator kependudukan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2026/06/30/bdc814f38edf0a941f4f9d34/penduduk-dan-indikator-kependudukan-hasil-survei-penduduk-antar-sensus-2025.html
Badan Pusat Statistik. (2026d). Persentase migran masuk risen, migran keluar risen, dan migran neto risen menurut provinsi [Tabel statistik]. Diakses 27 Agustus 2026, dari https://sensus.bps.go.id/topik/tabular/sp2022/134/1/2
Permana, M. Y. (2025). Working remotely in the city? Regional embeddedness of online platform workers in Indonesia's secondary cities. Regional Studies, 59(1). https://doi.org/10.1080/00343404.2025.2506603
Salsabila, J. A., & Mulyani, W. P. (2025). Analisis migran risen Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan Sensus Penduduk Longform tahun 2020. Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 5(2), 1–15. https://doi.org/10.53697/iso.v5i2.3095