Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Demografi Pengguna TikTok Indonesia: 4 dari 10 Berusia 35 Tahun ke Atas
ilustrasi TikTok (unsplash.com/Swello)
  • Empat dari sepuluh pengguna TikTok Indonesia berusia 35 tahun ke atas, menandakan pergeseran besar demografi dan menantang asumsi bahwa platform ini hanya didominasi anak muda.
  • Total pengguna media sosial Indonesia mencapai 191,3 juta orang dengan rata-rata penggunaan 3,5 jam per hari, menunjukkan keterlibatan lintas generasi di berbagai platform seperti TikTok, Facebook, WhatsApp, dan YouTube.
  • Brand perlu menyesuaikan strategi karena daya beli terbesar kini berada pada kelompok usia 25–44 tahun; kampanye berbasis asumsi lama berisiko melewatkan segmen pasar yang lebih luas dan potensial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Framing "media sosial hanya untuk anak muda" sudah tidak akurat untuk pasar Indonesia. Empat dari sepuluh pengguna TikTok Indonesia berusia 35 tahun ke atas. Ini artinya ada sekitar 43 juta pengguna TikTok di rentang usia tersebut, dan angka itu lebih besar dari seluruh populasi Malaysia.

Selama satu dekade terakhir, menarget pengguna media sosial Indonesia hampir selalu berarti menarget anak muda. Asumsi itu kini sudah tertinggal data. Brand yang masih merancang kampanye berdasarkan persamaan lama tersebut sedang menyasar pasar yang jauh lebih kecil dari yang sebenarnya tersedia.

Konteks: Skala Media Sosial Indonesia

Untuk memahami mengapa temuan demografis ini penting, ada baiknya kita melihat gambaran besarnya terlebih dahulu.

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 32 menit setiap hari di media sosial, menurut Hashmeta (2025). Digital 2026: Indonesia yang dirilis We Are Social pada November 2025 mencatat angka yang sedikit berbeda, yaitu 21 jam 50 menit per minggu. Perbedaan ini wajar karena metodologi survei dan app tracking tidak selalu menghasilkan angka yang identik. Yang konsisten di antara keduanya adalah skalanya: Indonesia termasuk negara dengan waktu penggunaan media sosial tertinggi di dunia.

Total pengguna aktif media sosial Indonesia sendiri mencapai 191,3 juta orang per awal 2025, dengan penetrasi 68,7 persen dari total populasi dan pertumbuhan 7,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, satu pengguna aktif rata-rata mengakses 7,7 platform berbeda setiap bulan, yang menunjukkan bahwa perhatian pengguna tidak terkonsentrasi di satu tempat saja.

Namun 3,5 jam per hari itu bukan satu blok perhatian yang homogen. Waktu tersebut terpecah ke platform berbeda, pada jam berbeda, dan oleh kelompok usia yang jauh lebih beragam dari yang sering diasumsikan. Di sinilah asumsi lama mulai retak.

Siapa yang Sebenarnya Ada di TikTok Indonesia

TikTok Indonesia mencatat 108 juta pengguna berusia 18 tahun ke atas per awal 2025, menurut The Global Statistics (April 2025). Jika kita lihat pembagiannya per kelompok usia, gambarannya adalah sebagai berikut.

  • Kelompok 18 sampai 24 tahun: 32,83 juta

  • Kelompok 25 sampai 34 tahun: 32,08 juta

  • Kelompok 35 sampai 44 tahun: 24,3 juta

  • Kelompok 45 sampai 54 tahun: 10,69 juta

  • Kelompok 55 tahun ke atas: 8,1 juta

Ada tiga angka dari data di atas yang perlu mendapat perhatian lebih.

Pertama, kelompok 18 sampai 24 tahun yang sering dianggap sebagai inti audiens TikTok ternyata hanya menyumbang 30 persen dari total pengguna. Ini artinya hanya tiga dari sepuluh pengguna TikTok Indonesia berasal dari kelompok tersebut, bukan delapan dari sepuluh seperti yang sering muncul dalam asumsi perencanaan media.

Kedua, jika kita menjumlahkan semua pengguna berusia 35 tahun ke atas, angkanya mencapai sekitar 43 juta orang atau 40 persen dari total basis pengguna. Angka ini lebih besar dari kelompok 18 sampai 24 tahun dan lebih besar dari kelompok 25 sampai 34 tahun secara terpisah. Yang perlu dicatat secara khusus adalah kelompok 35 sampai 44 tahun yang berjumlah 24,3 juta, karena kelompok ini memiliki daya beli rumah tangga paling stabil di Indonesia. Mereka adalah kepala keluarga, orang tua dari anak usia sekolah, dan pengambil keputusan finansial.

Ketiga, kelompok 55 tahun ke atas menyumbang 8,1 juta pengguna aktif. Untuk memahami skala angka ini, 8,1 juta lebih besar dari seluruh populasi Singapura. Dengan kata lain, kelompok yang biasanya tidak masuk radar kampanye TikTok mana pun ternyata berukuran setara satu negara kota.

Facebook Menunjukkan Pola yang Serupa

TikTok bukan satu-satunya platform yang mengalami pergeseran demografis. Facebook adalah contoh paling awal dan paling jelas dari bagaimana komposisi usia pengguna sebuah platform bisa berubah drastis dari waktu ke waktu.

Pengguna Android Indonesia menghabiskan rata-rata 12 jam 50 menit per bulan di Facebook pada November 2024, menurut Statista. Durasi itu terbilang besar, dan kini sebagian besarnya didorong oleh kelompok usia yang berbeda dari satu dekade lalu. 

Anak muda Indonesia memang sudah lama meninggalkan Facebook sebagai platform utama, tetapi hal itu tidak menjadikan Facebook sepi. Yang tersisa adalah ekosistem aktif untuk komunitas keagamaan, grup alumni, marketplace lokal, dan konsumsi berita daerah, dengan kelompok usia 35 sampai 55 tahun sebagai penggerak utamanya.

WhatsApp dan YouTube: Pengikat Lintas Generasi

Tidak semua platform mengalami pergeseran demografi. Beberapa memang lintas-generasi sejak awal.

Sembilan dari sepuluh pengguna internet Indonesia aktif di WhatsApp setiap bulan. Lintas usia, lintas wilayah, lintas pendapatan. Rata-rata waktu harian di WhatsApp mencapai 1 jam 52 menit, hanya satu menit lebih rendah dari TikTok (1 jam 53 menit), menurut Digital 2026: Indonesia yang dirilis We Are Social pada November 2025.

YouTube menunjukkan pola berbeda. Rata-rata sesi YouTube mencapai 16 menit 49 detik, tertinggi di antara semua platform di Indonesia, diikuti Snack Video di posisi kedua. Ini platform lean-back (audiens menonton dengan posisi pasif dan durasi panjang) yang banyak dipakai semua kelompok usia produktif.

Pola yang konsisten muncul di semua platform: anak muda cenderung membuka aplikasi dengan frekuensi tinggi dan sesi pendek; kelompok 35 ke atas membuka lebih jarang tapi tinggal lebih lama setiap kali masuk..

Tiga Generasi dengan Tiga Cara Mengonsumsi Konten

Meskipun total waktu hariannya serupa, kelompok usia yang berbeda mengisi 3,5 jam itu dengan cara yang berbeda pula.

TikTok dibuka rata-rata 12,7 kali sehari per pengguna aktif, jauh lebih tinggi dibandingkan Instagram yang dibuka 7,8 kali dan Facebook yang dibuka 5,3 kali, menurut Hashmeta (2025). Namun rata-rata ini menyembunyikan variasi besar antar kelompok usia. Kelompok muda berusia 18 sampai 24 tahun cenderung membuka TikTok dalam sesi-sesi singkat yang tersebar di sela aktivitas sehari-hari, sehingga frekuensi pembukaannya tinggi tetapi durasi setiap sesinya pendek. Sebaliknya, pengguna berusia 35 tahun ke atas membuka aplikasi lebih jarang, tetapi menghabiskan lebih banyak waktu setiap kali masuk.

Perbedaan antar kelompok usia juga terlihat dari sisi waktu aktifnya. Lalu lintas media sosial Indonesia memuncak dua kali sehari: pertama antara pukul 07.00 sampai 09.00, dan kedua antara pukul 18.00 sampai 21.00, menurut Jakpat (2024). Yang berbeda antar kelompok usia bukan jamnya, melainkan platform dan konteksnya. Di pagi hari, kelompok muda cenderung scroll TikTok dan Instagram sebelum berangkat kerja atau kuliah, sementara kelompok 35 tahun ke atas lebih banyak memeriksa grup WhatsApp keluarga dan Facebook. Di malam hari, kelompok muda beralih ke TikTok dan YouTube Shorts, sedangkan kelompok 35 tahun ke atas lebih banyak mengonsumsi YouTube format panjang dan konten komunitas di Facebook.

Dari sisi format konten, 78 persen waktu di media sosial Indonesia diisi oleh konten video, menurut Hashmeta (2025). Ini menunjukkan bahwa video bukan sekadar opsi dalam strategi konten, melainkan sudah menjadi format default. Namun jenis video yang dikonsumsi berbeda antar platform. Sebanyak 42 persen responden dalam survei Jakpat 2024 bertajuk Indonesia Mobile Entertainment & Social Media Trends menganggap TikTok sebagai platform yang paling menghibur, sementara satu dari empat responden memilih Instagram sebagai yang paling informatif. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna sudah memiliki ekspektasi yang berbeda untuk setiap platform, dan mereka sudah tahu ke mana harus pergi untuk kebutuhan yang berbeda.

Apa Artinya Bagi Brand

Ada tiga implikasi langsung dari pergeseran demografis ini yang perlu diperhatikan oleh brand.

Pertama, "menyasar Gen Z di TikTok" sudah bukan strategi yang cukup tajam. Dari 108 juta pengguna TikTok Indonesia, 43 juta atau 40 persennya berusia 35 tahun ke atas. Artinya, kampanye yang menyamakan TikTok dengan Gen Z secara otomatis melewatkan kelompok yang justru memegang daya beli rumah tangga terbesar.

Kedua, Facebook tidak boleh dicoret begitu saja dari rencana media. Untuk kategori produk seperti consumer goods, fintech, asuransi, dan pendidikan yang menargetkan kepala keluarga, Facebook masih merupakan platform dengan jangkauan yang tinggi. Yang berubah bukan relevansi Facebook secara absolut, melainkan profil audiensnya.

Ketiga, social commerce bukan hanya cerita tentang anak muda. Social commerce Indonesia mencapai 14,8 miliar dolar AS pada 2024 dan tumbuh 34 persen per tahun, dengan TikTok Shop memimpin pangsa pasar sebesar 43 persen, menurut Hashmeta (2025). Yang penting untuk dicatat adalah bahwa sebagian besar daya beli berada di kelompok 25 sampai 44 tahun, yaitu kelompok yang dalam narasi sehari-hari justru jarang disebut sebagai "pasar media sosial." Selain itu, 72 persen konsumen Indonesia lebih mempercayai konten buatan pengguna dibandingkan konten yang dibuat langsung oleh brand, sehingga strategi yang mengandalkan kreator dari kelompok usia yang relevan menjadi semakin penting.

Hal ini juga sejalan dengan data brand discovery. Iklan di media sosial (37,3 persen) dan komentar di media sosial (32,6 persen) sudah menjadi sumber penemuan brand terbesar kedua dan ketiga, hanya di bawah mesin pencari (38,3 persen), menurut Digital 2026: Indonesia. Dengan kata lain, media sosial sudah menjadi titik awal perjalanan pembelian, dan titik awal itu kini dilewati oleh semua kelompok usia.

Penutup

Framing "media sosial untuk anak muda" sudah berusia lebih dari satu dekade, dan datanya sudah berubah.

3,5 jam per hari di media sosial kini dibagi hampir merata oleh semua kelompok usia produktif Indonesia, dengan platform dan pola konsumsi yang berbeda-beda. Karena itu, pertanyaan yang lebih tajam untuk brand bukan lagi "bagaimana menjangkau anak muda di media sosial," melainkan "kelompok usia mana, di platform mana, yang paling relevan untuk produk kami, dan bagaimana cara berbicara kepada masing-masing secara efektif." Anggaran iklan yang masih berpijak pada asumsi lama pada akhirnya akan menyasar segmen yang jauh lebih kecil dari yang sebenarnya tersedia di pasar.

Sumber data: We Are Social, Digital 2026: Indonesia (November 2025); Jakpat, Indonesia Mobile Entertainment & Social Media Trends H1 2024; Hashmeta, Social Media Landscape Indonesia (2025); The Global Statistics, Indonesia TikTok Statistics 2025 (April 2025); Statista, Facebook monthly time spent Indonesia (November 2024); Meltwater, Social Media Trends Indonesia (2024).

Editorial Team