Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install

Membangun IP Brand: Investasi Jangka Panjang atau Pemborosan?

Membangun IP Brand: Investasi Jangka Panjang atau Pemborosan?
ilustrasi membuat IP (pexels.com/Kawê Rodrigues)
Intinya Sih
  • Biaya perhatian meningkat dan dampak kampanye cepat memudar, mendorong brand beralih dari strategi berbasis kampanye ke aset kreatif jangka panjang seperti komunitas, event, cerita, dan pengalaman.
  • Brand dapat membangun IP sendiri untuk kontrol serta monetisasi jangka panjang, mengakuisisi IP, atau berkolaborasi melalui lisensi demi awareness lebih cepat dan risiko lebih rendah.
  • IP tidak terbatas pada karakter; Eiger, Indomie, LEGO, dan Garuda-Tahilalats menunjukkan aset dapat berupa komunitas, makna budaya, ekosistem, atau kolaborasi yang memerlukan pengembangan berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kampanye iklan menghasilkan perhatian yang berhenti bersamaan dengan berakhirnya masa tayang. Semakin banyak brand kini mengalihkan sebagian anggaran tersebut ke aset yang nilainya terus berjalan setelah kampanye ditutup.

Setiap tim marketing pernah menghadapi persoalan yang sama. Anggaran kampanye menyusut, laporan performa ditutup dengan angka yang memuaskan, lalu beberapa bulan kemudian tim kembali menyusun rencana peluncuran berikutnya. Sebagian besar perhatian yang berhasil dibangun lewat kampanye sebelumnya perlu diperjuangkan lagi karena momentum dan percakapan mulai mereda. 

Dulu kondisi ini masih masuk akal. Kanal media lebih terbatas, biaya memperoleh perhatian relatif murah, dan mengulang pembelian perhatian setiap tahun masih dianggap efisien. 

Namun, seiring waktu, kondisinya berubah. Biaya memperoleh perhatian terus meningkat, jumlah kanal bertambah, dan umur sebuah pesan iklan semakin pendek. Ketika biaya untuk mendapatkan perhatian terus naik, sementara dampaknya semakin cepat memudar, semakin banyak brand mulai mempertanyakan apakah seluruh anggaran pemasaran masih perlu dihabiskan untuk sesuatu yang sifatnya sementara. 

Sebagian brand mulai merespons perubahan tersebut dengan memindahkan sebagian anggarannya ke sesuatu yang memiliki umur lebih panjang. Alih-alih terus mengandalkan kampanye, mereka membangun karakter, cerita, event, dan komunitas yang dapat digunakan berulang kali selama bertahun-tahun. Praktik ini dikenal sebagai membangun intellectual property (IP). Dalam artikel ini, IP tidak dibahas dari sisi hukum seperti hak cipta atau paten, melainkan sebagai aset kreatif yang dimiliki dan terus dikembangkan oleh brand, baik berupa karakter, cerita, komunitas, event, maupun pengalaman yang membuat konsumen terus kembali.

Djarum tidak menjual pelatihan bulu tangkis, Surya tidak menjual festival musik, dan Eiger tidak menjual komunitas pendaki. Namun ketiganya menginvestasikan sumber daya untuk membangun aset yang tetap hidup bahkan ketika kampanye iklan selesai. Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak brand tidak lagi hanya menjual produk, tetapi juga membangun dunia yang terus hidup melalui intellectual property. 

Fenomena ini tidak hanya terlihat pada strategi brand global, tetapi juga mulai tercermin dalam arah pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Pada 2024, ekonomi kreatif menyumbang Rp1.611,2 triliun atau 7,28 persen terhadap PDB nasional (BPS, 2025). Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong komersialisasi kekayaan intelektual sebagai salah satu program strategis nasional. Bagi marketer, sinyal yang relevan dari angka-angka tersebut sederhana: karya yang dapat dimiliki dan terus dikembangkan semakin dipandang sebagai aset ekonomi, bukan sekadar materi kampanye.

Inti perubahannya terletak di situ. Strategi branding sedang bergeser dari campaign-driven menuju asset-driven. Brand tidak lagi hanya membeli perhatian melalui kampanye, tetapi mulai membangun aset yang dapat terus menghasilkan perhatian dan nilai dalam jangka panjang.

Tidak Semua Brand Perlu Membangun IP dari Nol

Perubahan menuju strategi berbasis aset tidak berarti setiap brand harus menciptakan intellectual property (IP) sendiri. Dalam praktiknya, perusahaan memiliki beberapa pilihan untuk memanfaatkan IP sesuai tujuan bisnis, sumber daya, dan horizon investasinya. Secara umum, terdapat tiga pendekatan yang paling sering digunakan.

Pertama, membangun IP sendiri (build own IP). Strategi ini dilakukan dengan menciptakan aset yang sepenuhnya dimiliki dan dikembangkan oleh brand, seperti karakter, komunitas, program loyalitas, event, atau platform pengalaman. Pendekatan ini membutuhkan investasi waktu dan biaya yang lebih besar pada tahap awal, tetapi memberikan kontrol penuh atas pengembangan aset sekaligus membuka peluang monetisasi jangka panjang melalui lisensi, kolaborasi, maupun aktivitas turunannya. Di Indonesia, pendekatan ini terlihat pada EIGER Adventure Club dan Suryanation yang berkembang menjadi identitas merek di luar produk utamanya.

Kedua, mengakuisisi IP yang sudah ada (acquire IP). Daripada membangun dari nol, sebagian perusahaan memilih membeli IP yang telah memiliki basis penggemar dan ekosistemnya sendiri. Strategi ini lebih umum dilakukan oleh perusahaan besar karena membutuhkan investasi yang signifikan, tetapi dapat memangkas waktu yang dibutuhkan untuk membangun awareness. Akuisisi Marvel dan Lucasfilm oleh Disney menjadi contoh bagaimana perusahaan memperluas portofolio aset kreatif melalui kepemilikan IP yang sudah mapan.

Ketiga, berkolaborasi dengan IP milik pihak lain (tap existing IP). Dalam strategi ini, brand tidak memiliki aset tersebut, melainkan bekerja sama melalui lisensi atau kolaborasi. Tujuannya bukan membangun IP baru, tetapi memanfaatkan kedekatan emosional yang telah dimiliki IP tersebut dengan audiens. Di Indonesia, pendekatan ini terlihat dalam kolaborasi Garuda Indonesia dengan Tahilalats, maupun kemitraan Traveloka dan Gojek sebagai sponsor Liga 1. Bagi banyak brand, strategi ini menawarkan cara yang lebih cepat dan berisiko lebih rendah untuk memperoleh perhatian dibanding membangun IP sendiri.

Dalam praktiknya, bentuk kolaborasi ini dapat berada pada spektrum yang lebih luas. Selain lisensi untuk kampanye atau kolaborasi jangka pendek, terdapat pula lisensi jangka panjang yang memberikan hak pengelolaan dan pengembangan bisnis atas suatu IP tanpa mengalihkan kepemilikannya. Contohnya adalah pengelolaan JKT48 oleh IDN, di mana IDN memegang hak lisensi dan manajemen untuk mengembangkan JKT48 di Indonesia, sementara kepemilikan IP tetap berada pada pemegang hak di Jepang.

Pilihan di antara ketiga strategi tersebut bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Brand yang mengejar diferensiasi jangka panjang cenderung memperoleh manfaat lebih besar dari membangun aset sendiri. Sebaliknya, ketika target utama adalah mempercepat awareness atau mendukung kampanye dalam waktu singkat, bekerja sama dengan IP yang sudah mapan sering kali menjadi pilihan yang lebih efisien.

Aset Merek Punya Umur, Kampanye Punya Masa Tayang

Banyak orang mengira intellectual property identik dengan maskot atau karakter fiksi. Padahal, dalam konteks branding, IP dapat berbentuk jauh lebih luas: komunitas, format acara, pengalaman, hingga makna budaya yang melekat pada sebuah brand. Yang membedakannya bukan bentuknya, melainkan kemampuannya untuk terus menghasilkan nilai setelah sebuah kampanye berakhir. Perbedaan paling penting antara kampanye dan aset terletak pada apa yang tersisa setelah anggaran habis. Kampanye meninggalkan laporan performa. Aset meninggalkan sesuatu yang masih bisa dipakai pada peluncuran berikutnya.

Eiger memperlihatkan bentuk aset semacam itu tanpa satu pun karakter fiksi. Brand outdoor asal Bandung ini menjalankan EIGER Adventure Club sebagai program keanggotaan dengan poin, benefit eksklusif, dan undangan gathering komunitas (EIGER Adventure, 2026). Kompetisi panjat tebing EISCC juga telah berlangsung hingga edisi 2025, berakar dari papan panjat yang dibangun perusahaan di Jalan Cihampelas sejak 1993 (EIGER Adventure, 2025b). Adventure Fest 2025 berlangsung selama satu minggu dengan zona diskusi komunitas dan melibatkan brand outdoor lain (EIGER Adventure, 2025a), sementara flagship store terbarunya juga dirancang sebagai titik kumpul bagi komunitas pecinta alam (EIGER Adventure, 2025c).

Yang membuat rangkaian ini relevan bagi marketer adalah struktur biayanya. Setiap edisi EISCC berjalan di atas nama, format, dan basis peserta yang sudah terbentuk pada edisi sebelumnya, sehingga Eiger tidak perlu membangun ulang alasan orang datang. Sebuah kampanye dengan anggaran setara akan menghasilkan jangkauan yang lebih besar dalam empat minggu, lalu berhenti sepenuhnya di minggu kelima. Perbandingan itulah yang membuat perhitungan bergeser: aset merek memang tampak lebih mahal pada tahun pertama, tetapi nilainya terus bertambah setiap kali digunakan kembali. Sebaliknya, kampanye harus kembali membeli attention dari awal setiap kali campaign dimulai. 

Jika Tahilalats menunjukkan bagaimana IP dibangun secara sengaja, Indomie memperlihatkan bahwa aset merek juga dapat tumbuh melalui makna budaya yang terbentuk dalam jangka panjang. Dengan kapasitas produksi puluhan miliar bungkus per tahun dan distribusi ke lebih dari 100 negara, merek ini berkembang menjadi penanda identitas bagi banyak diaspora Indonesia. Kehadirannya tidak hanya terlihat di rak ritel, tetapi juga di acara budaya, orientasi mahasiswa, hingga berbagai kreasi resep fusion yang beredar di media sosial (Seasia, 2025). 

Meski tetap menjalankan aktivitas pemasaran dalam skala besar, posisi Indomie sebagai ikon budaya dibangun melalui akumulasi pengalaman, percakapan, dan adaptasi lokal yang terus berlangsung. Bagi marketer, pelajaran pentingnya bukan sekadar besarnya jangkauan merek, melainkan bagaimana sebuah merek dapat terus memperoleh makna baru di luar masa tayang kampanyenya. 

Kedua contoh tersebut menjawab stigma yang paling sering muncul soal IP, yaitu anggapan bahwa aset merek harus berupa karakter lucu. Aset yang dimaksud bisa berupa format event, program komunitas, ruang fisik, sampai makna kultural. Ukuran yang menentukan adalah seberapa lama aset itu tetap berguna setelah anggarannya habis, dengan daya tarik desain sebagai faktor sekunder. Pertanyaan serupa muncul ketika brand membangun identitas yang tetap hidup di kanal lain saat kampanye langsung terbatas, seperti pada praktik [surrogate marketing]. Bedanya, IP menjadikan identitas itu aset yang berdiri sendiri.

Membangun Sendiri atau Memanfaatkan IP yang Sudah Ada?

Setelah memahami bahwa IP merupakan aset jangka panjang, pertanyaan berikutnya bagi marketer bukan lagi apakah IP itu menarik, melainkan strategi mana yang paling sesuai. Tidak semua perusahaan perlu membangun IP sendiri. Dalam praktiknya, banyak brand justru memperoleh hasil yang lebih efisien dengan berkolaborasi bersama IP yang sudah memiliki basis penggemar.

Masing-masing pendekatan membawa konsekuensi yang berbeda, baik dari sisi biaya, waktu, maupun tingkat kontrol terhadap aset yang dibangun.

Visual bertema panduan dan hal-hal penting yang perlu diperhatikan sebelum membangun IP sendiri untuk karya atau bisnis.
Yang harus diperhatikan bila ingin bangun IP sendiri

Strategi membangun IP sendiri dapat dilihat pada LEGO. Selama puluhan tahun, perusahaan ini tidak hanya menjual mainan, tetapi juga mengembangkan dunia cerita yang mencakup film, serial, video game, taman hiburan, hingga berbagai karakter orisinal seperti Ninjago. Nilai yang dimiliki LEGO saat ini tidak dibangun melalui satu kampanye, melainkan akumulasi ekosistem dan pengalaman yang terus berkembang selama bertahun-tahun. 

Sebaliknya, Garuda Indonesia menunjukkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih membangun karakter sendiri, maskapai ini memilih berkolaborasi dengan Tahilalats melalui kampanye Sky Explorer. Strategi seperti ini memungkinkan brand memanfaatkan kedekatan emosional yang telah dimiliki IP tersebut tanpa harus menginvestasikan waktu bertahun-tahun untuk membangunnya dari nol. 

Tidak ada pendekatan yang secara mutlak lebih baik. Brand dengan horizon investasi panjang dapat memperoleh manfaat besar dari membangun aset sendiri, tetapi konsekuensinya adalah kebutuhan untuk terus mengembangkan IP agar tetap relevan. Sebaliknya, bekerja sama dengan IP yang sudah mapan memungkinkan brand memperoleh perhatian lebih cepat, meski manfaat jangka panjangnya terbatas karena aset tersebut tetap dimiliki pihak lain.

Dengan kata lain, biaya terbesar dalam membangun IP bukan terletak pada peluncurannya, melainkan pada komitmen untuk terus mengembangkan aset tersebut agar tetap relevan.

Tantangan Membangun Intellectual Property

Membangun IP sering dipandang sebagai investasi jangka panjang, tetapi strategi ini juga membawa sejumlah tantangan yang perlu dipertimbangkan sebelum sebuah brand mengalokasikan anggaran ke sana.

Ilustrasi bertema tantangan dalam membuat IP sendiri, dengan teks judul di atas latar grafis berwarna.
Tantangan jika buat IP

Tantangan terbesar dalam membangun IP bukan terletak pada proses peluncurannya, melainkan pada kemampuan mempertahankan relevansinya dalam jangka panjang. Aset yang tidak lagi dikembangkan akan kehilangan nilainya, sama seperti kampanye yang berhenti ketika masa tayangnya selesai. Oleh karena itu, keputusan membangun IP sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan anggaran peluncuran, tetapi juga kesiapan organisasi untuk terus mengelola dan mengembangkannya selama bertahun-tahun.

Penutup

Pergeseran menuju strategi berbasis intellectual property tidak berarti setiap brand harus membangun IP sendiri. Bagi perusahaan yang memiliki visi jangka panjang, komunitas yang kuat, dan sumber daya untuk terus mengembangkan asetnya, IP dapat menjadi investasi yang menghasilkan nilai berulang melalui berbagai touchpoint, kolaborasi, maupun peluang bisnis baru. Namun, bagi brand yang mengejar hasil jangka pendek atau memiliki keterbatasan sumber daya, bekerja sama dengan IP yang sudah mapan sering kali menjadi pilihan yang lebih efisien.

Pada akhirnya, keputusan membangun atau memanfaatkan IP bukan sekadar persoalan kreativitas, melainkan keputusan bisnis. Brand perlu mempertimbangkan tujuan pemasaran, horizon investasi, kemampuan mengelola aset, hingga potensi monetisasi jangka panjang sebelum menentukan strategi yang dipilih.

Di tengah biaya memperoleh attention yang terus meningkat dan umur kampanye yang semakin singkat, pertanyaan yang semakin relevan bagi marketer bukan lagi apakah perlu menggunakan intellectual property, melainkan kapan membangun IP sendiri dan kapan lebih tepat memanfaatkan IP yang sudah ada.

Daftar Referensi

Bisnis.com. (2025, 23 Desember). Capaian gemilang 2025: Ekonomi kreatif kini jadi tambang baru nasional. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://ekonomi.bisnis.com/read/20251223/9/1939165/capaian-gemilang-2025-ekonomi-kreatif-kini-jadi-tambang-baru-nasional

Detik Finance. (2025). Kinerja ekonomi kreatif sepanjang 2025, nilai ekspor tembus US$26,68 M. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8273387/kinerja-ekonomi-kreatif-sepanjang-2025-nilai-ekspor-tembus-us-26-68-m

Detik Jabar. (2024). Kolaborasi epik 3 brand lokal dengan One Piece x Tahilalats. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://www.detik.com/jabar/bisnis/d-7630557/kolaborasi-epik-3-brand-lokal-dengan-one-piece-x-tahilalats

EIGER Adventure. (2025a). Adventure Fest. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://www.eigeradventure.com/blog/adventure-fest/

EIGER Adventure. (2025b). EISCC 2025: Dari lead, panjat pinang, hingga kids fun climbing. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://blog.eigeradventure.com/eiscc-2025-dari-lead-panjat-pinang-hingga-kids-fun-climbing/

EIGER Adventure. (2025c, 25 Juli). EIGER Manyar. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://blog.eigeradventure.com/eiger-manyar/

EIGER Adventure. (2026). Join member EAC. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://blog.eigeradventure.com/join-member-eac/

Garuda Indonesia. (2025). Sky Explorer. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://www.garuda-indonesia.com/static/id/special-offers/sales-promotion/skyexplorer.html

Good News From Indonesia. (2026, 14 Februari). Kolaborasi UNERD, Garuda Indonesia, dan Tahilalats bangkitkan kreativitas dan produk lokal. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/02/14/kolaborasi-unerd-garuda-indonesia-dan-tahilalats-bangkitkan-kreativitas-dan-produk-lokal

Investor Trust. (2025). Tahilalats masuk stasiun, kolaborasi MRT Jakarta dukung IP lokal jadi bintang di Blok M. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://investortrust.id/business/65439/tahilalats-masuk-stasiun-kolaborasi-mrt-jakarta-dukung-ip-lokal-jadi-bintang-di-blok-m

Media Indonesia. (2024, November). Tiga brand lokal merilis produk kolaborasi bersama Tahilalats dan One Piece. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://mediaindonesia.com/jabar/berita/716385/tiga-brand-lokal-merilis-produk-kolaborasi-bersama-tahilalats-dan-one-piece

Merdeka.com. (2025). Franchise & License Expo Indonesia 2025 resmi dibuka, jadi pusat pertumbuhan kemitraan dan peluang bisnis nasional. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://www.merdeka.com/uang/franchise-license-expo-indonesia-2025-resmi-dibuka-jadi-pusat-pertumbuhan-kemitraan-dan-peluang-bisnis-nasional-479647-mvk.html

PAEDAGOGY. (2025, Juni). [Riset celebrity worship dan perilaku konsumtif penggemar JKT48]. Jurnal PAEDAGOGY. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/download/5992/4317

Project Ramen. (2026). Indomie encyclopedia. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://projectramen.com/pages/indomie-encyclopedia

Seasia. (2025, 2 Juni). From Indonesia to the world: How Indomie became such a household brand. Diakses pada 23 Juli 2026, dari https://seasia.co/2025/06/02/from-indonesia-to-the-world-how-indomie-became-such-a-household-brand

Share Article
Editorial Team