Jika konsumen menggunakan AI untuk membandingkan, mencocokkan, dan memverifikasi produk, pertanyaan berikutnya adalah: informasi seperti apa yang perlu disiapkan brand?
Dari tiga pekerjaan konsumen tersebut, ada tiga karakteristik informasi yang relevan untuk menjadi dasar evaluasi konten produk.
1. Setara: memungkinkan produk dibandingkan secara langsung
Informasi produk perlu menggunakan spesifikasi, satuan, istilah, harga, varian, dan ketentuan yang jelas sehingga dapat disandingkan dengan produk lain.
Ketika 73% responden membandingkan pilihan atau spesifikasi teknis, 65% membandingkan harga, dan 53% membandingkan fitur, klaim umum seperti “lebih hemat”, “tahan lama”, atau “performa unggul” perlu disertai penjelasan yang relevan agar konsumen dapat mengevaluasinya.
Bagi brand, implikasinya adalah menyajikan fakta produk dalam format yang eksplisit dan konsisten. Tabel spesifikasi, rincian harga per varian, serta penjelasan fitur dapat membantu menjawab pertanyaan perbandingan dengan lebih jelas.
2. Kontekstual: menjelaskan untuk siapa produk tersebut cocok
Informasi produk juga perlu menjelaskan kebutuhan yang dapat dijawab, kondisi penggunaan, serta batasan produk.
Kebutuhan ini sejalan dengan temuan bahwa 66% responden mencari produk untuk kebutuhan spesifik dan 63% mencari rekomendasi personal. Macromill juga mencatat keluhan bahwa rekomendasi AI terkadang terlalu umum dan informasinya belum mutakhir.
Bagi brand, halaman produk sebaiknya tidak hanya menjelaskan apa yang dimiliki produk, tetapi juga membantu konsumen memahami kapan fitur tersebut berguna dan dalam kondisi apa produk mungkin kurang sesuai.
Penjelasan yang kontekstual membantu konsumen menilai kecocokan, bukan sekadar mengumpulkan daftar keunggulan.
3. Dapat diperiksa: memberikan dasar untuk memverifikasi klaim
Informasi produk perlu memiliki dasar yang dapat diperiksa. Hal ini relevan dengan penggunaan AI untuk mengecek kredibilitas merek (65%), efektivitas produk (63%), kandungan atau komposisi (55%), serta merangkum ulasan (55%).
Bentuk buktinya bergantung pada kategori produk. Brand dapat menyiapkan hasil uji, izin edar, sertifikasi yang relevan, daftar kandungan, atau dokumentasi lain yang mendukung klaim sesuai ketentuan kategori.
Konsistensi juga penting. Jika informasi harga, komposisi, atau spesifikasi berbeda antara situs resmi dan marketplace, konsumen yang memeriksa ulang dapat menemukan informasi yang tidak selaras.
Mengapa sumber informasi brand penting?
Riset kualitatif BCG terhadap 367 pengguna GenAI di Amerika Serikat memberikan konteks tambahan. Konsumen menghargai AI karena dapat memberikan jawaban langsung, terasa lebih objektif saat menimbang kelebihan dan kekurangan, serta membantu mereka merumuskan kebutuhan yang sebenarnya.
BCG menyarankan brand menyiapkan penjelasan dengan bahasa sederhana, perbandingan berdampingan, dan bukti pendukung yang menjawab pertanyaan nyata konsumen.
Sementara itu, studi pracetak Kumar (2026) menganalisis lebih dari 100.000 jawaban AI atas pertanyaan mengenai lebih dari 100 brand pada Maret–Mei 2026. Sekitar 78% sumber yang dikutip mesin AI berasal dari situs perusahaan. Di luar situs perusahaan, YouTube paling sering dikutip, disusul Reddit, media editorial, dan Wikipedia. Artikel daftar peringkat atau best-of listicle menyumbang sekitar 21% dari seluruh kutipan.
Studi tersebut juga menemukan bahwa brand kecil dan niche hanya muncul dalam sekitar 11% jawaban yang relevan.
Temuan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Studi Kumar belum melalui telaah sejawat, penulisnya berafiliasi dengan Ranqo, platform pelacak visibilitas yang menjadi sumber data, dan cakupannya bersifat global. Angka-angka tersebut tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh platform AI atau perilaku konsumen Indonesia.
Meski demikian, temuan ini memberi konteks untuk satu implikasi strategis: situs resmi brand merupakan salah satu sumber penting bagi jawaban AI. Karena itu, kelengkapan, kejelasan, dan kemutakhiran informasi di situs resmi layak menjadi prioritas dalam strategi visibilitas AI.