Belanja melalui siaran langsung kini menjadi bagian dari kebiasaan belanja digital masyarakat Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar dalam Gross Merchandise Value (GMV) pada 2025, naik 14 persen dibanding tahun sebelumnya dan tetap menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. E-commerce menjadi penyumbang terbesar dengan proyeksi US$71 miliar, sementara video commerce menjadi salah satu pendorong pertumbuhannya. Volume transaksi video commerce naik 90 persen secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi, sedangkan jumlah penjual dan toko daring meningkat 75 persen menjadi 800 ribu.
Pertumbuhan tersebut juga terlihat di tingkat platform. Mengutip Fortune Indonesia, penggunaan fitur live shopping di TikTok Shop dan Tokopedia meningkat 39 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Dalam periode yang sama, jumlah pesanan naik 59 persen dan penggunaan video pendek meningkat 79 persen.
Namun, pertumbuhan penggunaan belum menjelaskan mengapa konsumen memilih menonton live shopping. Bagi brand, memahami alasan tersebut sama pentingnya dengan mengetahui seberapa besar kanal ini bertumbuh. Temuan ini menunjukkan bahwa live shopping kini tidak hanya menarik konsumen lewat promo, tetapi juga membantu mereka memperoleh informasi sebelum membeli.
Sejumlah temuan survei mengenai perilaku konsumen menunjukkan bahwa fungsi live shopping mulai bergeser. Selain menjadi tempat berburu promo, kanal ini juga dimanfaatkan untuk mencari informasi sebelum membeli. Salah satunya terlihat dalam survei Jakpat terhadap 818 responden yang berminat berbelanja melalui live shopping.
