Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
12,2 Juta Pengguna Threads di Indonesia, Apa Implikasinya untuk Brand?
ilustrasi produk Threads Meta (unsplash.com/Julio Lopez)
  • Indonesia menempati posisi keempat dunia dengan 12,2 juta pengguna Threads per April 2026, menunjukkan potensi besar bagi brand dan UMKM untuk menjangkau audiens lokal secara efektif.
  • Fitur unggulan seperti topic grouping, nuansa lokal di linimasa, dan forum UMKM organik membuat Threads berbeda dari X serta membuka peluang promosi yang lebih relevan dan terarah.
  • Brand besar hingga usaha kecil mulai aktif membangun engagement dua arah di Threads melalui interaksi real-time, karena algoritma platform ini lebih menghargai percakapan dibanding promosi satu arah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Indonesia resmi masuk empat besar negara dengan pengguna Threads terbanyak di dunia. Berdasarkan laporan We Are Social dan Manochi, per April 2026 ada 12,2 juta pengguna Threads asal Indonesia, hanya kalah dari India (41,6 juta), Amerika Serikat (33,85 juta), dan Jepang (16,85 juta). Angka ini juga menempatkan Indonesia jauh di atas negara tetangga di Asia Tenggara seperti Filipina (6,3 juta), Vietnam (6 juta), dan Malaysia (5,75 juta), yakni nyaris dua kali lipat.

Tapi yang lebih menarik dari sekadar angka adalah bagaimana platform ini mulai dilirik serius oleh pelaku usaha kecil hingga brand besar. Di balik jumlah pengguna yang terus naik, ada pergeseran perilaku yang membuat Threads terasa berbeda dari media sosial lain dan ini yang bikin pelaku bisnis mulai serius menggarapnya.

Bukan Sekadar "Twitter Tandingan"

Sejak diluncurkan Meta sebagai jawaban atas X (dulu Twitter), Threads sering dipandang sebelah mata sebagai klon semata. Soal struktur dua feed, yaitu For You yang diperingkat algoritma dan Following yang murni kronologis dari akun yang diikuti, sebenarnya kini juga sudah ada di X, sehingga ini bukan lagi pembeda yang signifikan.

Yang lebih membedakan justru ada di tiga hal berikut: cara Threads mengelompokkan topik, nuansa kelokalan yang terasa di linimasa, dan munculnya fenomena UMKM yang tumbuh organik di platform ini.

1. Topic Grouping, Bukan Sekadar Hashtag

Threads sempat diluncurkan tanpa fitur hashtag, pilihan yang terasa aneh untuk ukuran media sosial baru. Belakangan baru terlihat alasannya: Threads sedang menyiapkan sistem yang lebih besar, yaitu fitur "Add a Topic". Berbeda dari hashtag yang sifatnya bebas dan sekadar penanda, topic tags di Threads berfungsi sebagai penanda minat yang terhubung langsung ke sistem pencarian dan rekomendasi, sehingga bisa mengelompokkan percakapan di bawah kata kunci tertentu secara lebih rapi.

Bagi brand dan UMKM, ini berarti peluang ditemukan audiens baru jadi lebih besar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada jumlah follower. Cukup tempel topic yang relevan, dan postingan punya kesempatan nongol ke orang-orang yang memang tertarik pada topik itu, bukan cuma ke circle yang sudah mengikuti akunnya.

Selain topic grouping, Threads juga mulai dibekali fitur, seperti polling sederhana di dalam composer dan opsi yang tidak dimiliki X, yakni menambahkan musik ke postingan. Kombinasi fitur-fitur ini yang sebenarnya jadi pembeda paling konkret dibanding "Twitter dengan baju baru" (Buffer, 2026).

2. Nuansa Lokalisasi Linimasa yang Terasa Kuat

Karakter lain yang sering diamati pengguna adalah nuansa lokal di linimasa. Pengguna di Yogyakarta, misalnya, merasa lebih sering terpapar konten dan diskusi seputar Jogja dibanding pengguna dari kota lain.

Perlu dicatat, ini kemungkinan bukan hasil segmentasi lokasi level kota yang eksplisit dari algoritma. Pola ini lebih tepat dijelaskan sebagai efek interest graph, yaitu saat pengguna kerap berinteraksi dengan akun dan topik lokal (lewat bio yang mencantumkan kota, partisipasi di topic lokal, atau pencarian seputar daerah tertentu), sistem akan terus menyuguhkan konten serupa. Hasilnya, linimasa terasa seperti kumpulan "ruang lokal" yang saling bertautan, bukan satu linimasa raksasa yang seragam untuk semua orang di seluruh dunia.

Buat pelaku usaha dengan target pasar di kota atau daerah tertentu, karakter ini bisa jadi keunggulan tersendiri, karena jangkauan organik terasa lebih relevan secara geografis dibanding platform lain yang linimasanya lebih "acak".

3. Forum UMKM yang Tumbuh Organik

Karakteristik di atas pada akhirnya melahirkan fenomena yang cukup khas: forum-forum UMKM yang tumbuh secara organik di Threads. Berbeda dari marketplace yang membutuhkan biaya iklan atau algoritma SEO yang rumit, pelaku UMKM memanfaatkan utas (thread) komunitas dan topic tags untuk mempromosikan produk dan terhubung langsung dengan calon pembeli.

Kombinasi topic grouping dan nuansa lokal membuat strategi ini relatif efektif untuk usaha kecil. Penjual kuliner rumahan atau produk kerajinan lokal, misalnya, berpotensi lebih mudah ditemukan oleh calon pembeli di kota yang sama, tanpa harus bersaing head-to-head dengan brand nasional yang budget marketingnya jauh lebih besar.

Bonus: Soal Bobot Percakapan

Satu hal yang juga kerap disebut sebagai pembeda Threads dari X adalah soal bobot percakapan. Kepala Instagram, Adam Mosseri, pernah menyampaikan bahwa di Threads, total balasan yang diberikan seseorang kira-kira sama berharganya dengan total unggahannya, dan sistem cenderung menurunkan peringkat konten yang sekadar memancing interaksi dangkal.

Poin ini sifatnya lebih sebagai nilai tambah ketimbang pembeda utama. Gaya "siaran satu arah" memang cenderung kurang optimal di Threads, tapi brand dan UMKM yang aktif membalas komentar dan ikut diskusi tetap akan diuntungkan oleh kombinasi topic grouping dan nuansa lokal yang sudah dibahas di atas.

Brand Mulai "Farming" Engagement

Kahf memanfaatkan momentum di Threads (threads.com/kahfeveryday)

Di sisi lain, brand-brand yang lebih besar juga mulai serius menggarap Threads, terutama untuk membangun engagement organik. Strategi yang umum dilakukan termasuk membalas komentar secara aktif, melontarkan pertanyaan ringan untuk memancing diskusi, hingga ikut nimbrung di percakapan viral yang relevan dengan industri mereka. Contohnya adalah: Tzu Chi Hospital, Rumah Sakit Happy Land, Kahf, dan Somethinc.

Pendekatan ini sejalan dengan sifat algoritma Threads yang menghargai interaksi real-time. Karena linimasa cenderung menampilkan konten segar, brand yang aktif dan responsif punya peluang lebih besar untuk terus muncul di hadapan audiens, dibanding mengandalkan satu unggahan promosi yang ditinggal begitu saja.

Apa Artinya buat Pelaku Bisnis di Indonesia?

Dengan basis pengguna yang terus bertambah dan karakteristik algoritma yang khas, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan pelaku usaha maupun marketer yang ingin mulai serius di Threads:

Pertama, konsistensi lebih penting daripada satu unggahan yang "meledak". Karena linimasa cepat berganti, frekuensi posting yang stabil cenderung lebih berdampak dibanding strategi numpang viral sesekali.

Kedua, relevansi lokal jadi keunggulan tersendiri. Bagi UMKM dengan target pasar di kota atau daerah tertentu, sifat tersegmentasi dari algoritma Threads bisa dimanfaatkan untuk menjangkau calon pembeli yang secara geografis lebih dekat dan relevan. Namun, bukan berarti brand skala nasional tidak memiliki kesempatan, konsistensi Kahf bisa menjadi bukti bagaimana Brand dapat memanfaatkan algoritma dan momentum secara tepat. 

Ketiga, interaksi dua arah lebih bernilai dibanding sekadar promosi satu arah. Membalas komentar, ikut diskusi, dan merespons cepat tampaknya lebih sesuai dengan karakter platform ini dibanding pendekatan "siaran" ala iklan konvensional.

Dengan posisi Indonesia yang konsisten masuk jajaran atas pengguna platform-platform media sosial baru, dari TikTok hingga kini Threads, peluang ini kemungkinan akan terus dilirik pelaku usaha, terutama UMKM yang mencari kanal promosi dengan biaya minim namun jangkauan yang relevan dengan target pasar mereka.

Data jumlah pengguna Threads berdasarkan laporan We Are Social dan Manochi, dipublikasikan DataIndonesia.id, per April 2026. Angka merupakan estimasi jangkauan potensial dari iklan Threads dan mungkin tidak sepenuhnya merepresentasikan jumlah pengguna aktif unik.

Sumber:

Meta Transparency Center, cara kerja Threads Feed AI: https://transparency.meta.com/features/explaining-ranking/ig-threads-feed/

Meta Newsroom (konteks fitur dan pernyataan): https://about.fb.com/news/2026/02/threads-dear-algo/ 

Editorial Team