Bagi brand, perubahan yang terjadi bukan hanya perpindahan dari satu platform ke platform lain. Yang berubah adalah pola kepercayaan audiens. Semakin banyak orang mendapatkan informasi melalui figur personal yang mereka ikuti sehari-hari, mulai dari kreator konten hingga influencer yang dianggap dekat dengan pengalaman mereka.
Kondisi ini membuat kreator tidak lagi berperan semata sebagai saluran promosi. Dalam banyak kasus, mereka juga berfungsi sebagai penyampai informasi dan pembentuk opini. Karena itu, pertanyaan bagi brand bukan lagi apakah perlu bekerja sama dengan kreator, melainkan bagaimana memastikan informasi yang disampaikan tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi industri media, tantangannya berbeda. Data menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap informasi yang terverifikasi masih ada, tetapi perhatian audiens semakin tersebar ke berbagai platform dan format. Persaingan tidak hanya terjadi antarorganisasi media, melainkan juga dengan kreator independen, algoritma rekomendasi, dan berbagai bentuk konten yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.
Sementara itu, bagi pembuat kebijakan, perkembangan ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital perlu bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Indeks Literasi Digital Indonesia memang meningkat dari 3,49 pada 2021 menjadi 3,54 pada 2022. Namun, dalam periode yang sama, pola konsumsi informasi masyarakat berubah jauh lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan kemampuan untuk menilai kualitas informasi tersebut.
Ketika sebagian besar masyarakat memperoleh informasi melalui platform yang sangat dipengaruhi algoritma, kemampuan membedakan informasi yang akurat, menyesatkan, atau sengaja dimanipulasi menjadi semakin penting. Tantangannya bukan hanya memastikan akses terhadap informasi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk menilai informasi yang mereka terima.
Pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan lagi apakah TikTok akan menjadi sumber berita yang semakin dominan. Data menunjukkan proses itu sudah berlangsung. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kemampuan masyarakat untuk memverifikasi informasi dapat berkembang secepat perubahan cara mereka mengonsumsinya.
Sumber:
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) & Katadata Insight Center. Status Literasi Digital Indonesia 2022. Dipublikasikan 1 Februari 2023. Metodologi: survei nasional. Dilaporkan oleh Asia News Network / The Jakarta Post.
Park, Sora, Fisher, Caroline & Mardjianto, Lilik. "Social media dominates news consumption in Indonesia as TikTok surges." 360info, 16 Juli 2025. Berdasarkan Reuters Institute Digital News Report 2025, dianalisis oleh News and Media Research Centre, Universitas Canberra. Metodologi: survei YouGov, Januari–Februari 2025.
Aranditio, Stephanus. "Young People Now Trust Content Creators More Than Media Analytics." Kompas.id, 14 Mei 2026. Berdasarkan diskusi online Reuters Institute, "From Creators to Newsrooms: How Young Audiences Interact with News," 14 Mei 2026, dan Reuters Institute Digital News Report 2026.
Jalli, Nuurrianti, Unggraini, Ika Ningtyas & Setianto, Yearry Panji. "How TikTok's Visual Politics Shaped Indonesia's 2024 Election." ISEAS Perspective, No. 52, 21 Juli 2025. Institut Southeast Asian Studies, Singapura.
Newman, Nic et al. Digital News Report 2025: Overview and Key Findings. Reuters Institute for the Study of Journalism, Universitas Oxford.